NovelToon NovelToon
Dalang Di Balik Pembunuhan

Dalang Di Balik Pembunuhan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: Dian umar

Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Disisi lain...

Seorang pemuda berpakaian serba hitam beserta topeng yang bewarna silver, sedang memasuki sebuah markas yang tidak terlalu besar.

Begitu dia masuk... Semua orang-orang di dalamnya langsung menunduk, kecuali sepasang saudara kembar yang menjadi sandera.

"Bagaimana kabar kalian?" Tanya pemuda itu seraya tersenyum, pandangannya mengarah pada kedua saudara kembar ini.

Topeng yang ia gunakan hanya menutupi mata dan hidung saja. Sehingga ketika ia tersenyum, akan tampak sangat jelas.

Ariana dan Ariani menatap sosok itu dengan wajah yang dingin dan tatapan yang sangat tajam. Namun respon yang mereka dapatkan justru malah membuat mereka semakin takut.

"Aku akan melepaskan kalian kalau kalian nurut. Kalau kalian nurut dan mau bekerja sama dengan baik, maka aku akan hadiahkan nyawa untuk kalian." Ucapnya serius.

Lalu pengawalnya memberikan sebuah dokumen yang berisi tentang kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. Disitu juga tertulis banyak sekali yang menjadi korban mereka dan yang paling bikin sedih itu, korbannya rata-rata adalah anak-anak.

"Hehehe... Sepertinya aku akan menarik kata-kataku kali ini!" Ucapnya sembari tertawa . Tawanya itu bukan tawa biasa, melainkan tawa yang menunjukan kekesalan luar biasa.

"Master Si?" Tanya Ariana dan Ariani secara bersamaan.

Pemuda itu memakai papan nama yang tertulis dengan nama Master Si. Mereka mengingat dengan baik nama itu, agar setelah berhasil keluar dari tempat ini, mereka bisa menyerang balik.

"Ya, itu namaku. Kalian bisa mengingatnya agar ketika kalian bertemu dengan dewa, tolong sampaikan salamku." Jawab Master Si dengan santai.

"Masukan mereka berdua ke dalam ruang eksekusi! Aku akan memberikan hukuman yang keras kepada mereka malam ini!" Perintah Master Si dengan suara yang tegas, dingin dan terdengar sangat menyeramkan.

"Baik, Tuan." Para pengawal segera menyeret mereka berdua dengan cara menarik rantai yang terpasang erat di leher mereka.

"Kamu akan menyesal kalau tahu siapa ayahku dan organisasinya!" Teriak Ariana dengan suara yang keras dan penuh perlawanan.

"Aku sudah tahu, dan aku nggak perduli." Jawab Master Si dengan santai.

"Tolong lepaskan kami... Kami akan melakukan apa saja yang kau perintahkan." Ucap Ariani dengan suara yang memohon dan linangan air mata.

Ariani terlihat sedikit berbeda dengan sang kakak, dia terlihat lebih penakut ketimbang kakaknya yang sombong itu. Dia juga tahu, menakuti pria itu tidak ada gunanya. Lagian dia bukan orang sembarangan.

"Saat anak-anak itu memohon apakah kalian melepaskan mereka? Saat mereka yang sudah terlihat lemah tak berdaya apakah kalian berbaik hati? Nggak usah dijawab! Aku sudah tahu jawabannya." Ucap Master Si.

Dia ingin mengingatkan kembali betapa kejamnya perilaku mereka terhadap anak-anak yang bahkan masih terlihat lemah tak berdaya. Mereka tak melepaskannya, mereka membuat anak-anak itu seperti mainan. Menyakiti, menyiksa, dan membunuh mereka dengan cara yang paling kejam.

"Kalian harus ingat! Setelah masuk ruang eksekusi, tak ada kata selamat." Ucapnya memperingati mereka.

"Cepat seret mereka! Mulutku sudah lelah, kini giliran tangan yang bertindak." Perintah Master Si seraya meregangkan jari-jarinya.

Seorang pria paruh baya menyentuh bahu Master Si dengan lembut." Apakah kau ada masalah? Bolehkah hamba mengetahuinya?"

"Walaupun ku ceritakan padamu, tetap tidak bisa membantu masalahku." Ucap Master Si dengan ketus.

"Katanya kau akan datang minggu depan? Kenapa malah datang hari ini?" Tanya Tuan Sam kepada Master Si.

"Hatiku sedang tidak baik, aku ingin menghilangkan rasa tidak enak di hati." Jawab Master Si sambil memegangi dadanya.

"Habis ini mau kau apakan mereka?" Tanya Tuan Sam penasaran.

"Aku tidak suka menyiksa mahluk hidup, paling hanya akan aku masukan ke dalam ruangan intropeksi, lalu mengambil nyawa mereka dengan satu kali senapan." Ujar si Master Si.

..........................

Tok...Tok...Tok...

Terdengar suara ketukan dari pintu luar. Suaranya terdengar sangat berat dan lambat, seperti seseorang yang sedang mengetuk dengan sisa-sisa tenaganya, atau seperti seseorang yang sangat lemah dan hampir jatuh pingsan.

Pasti dia lagi! Batin Kayla kesal. Kali ini aku tidak akan tertipu lagi! Aku bukan Kayla yang dulu, yang gampang kau tipu! Tegasnya dalam hati.

Dengan santai ia mendengarkan ketukan pintu, seolah sedang mendengar irama lagu yang menenangkan. Ia terlihat sama sekali tidak terganggu, malahan dia menganggap ganguan itu sebagai hiburan semata.

Tok...Tok...Tok...

Suara ketukan semakin lama semakin lambat, membuat hatinya berdesir. Kayla mencoba menenangkan hatinya yang ingin sekali membuka pintu.

"Jangan tertipu! Ingat! Kau sudah tertipu satu kali! Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama!" Tegas Kayla pada hatinya yang terlalu lembut.

 Saat ini Kayla sedang berperang batin, antara mengikuti perintah hati yang terlalu lembut, atau perintah otak yang sudah terlanjur kecewa dan sakit hati.

"Tolong... Aku..." Ucap Alfian dengan suara yang pelan dan terdengar lemah.

"Oke, kali ini saja. Kau melakukan ini bukan karena masih perduli, tapi karena aku masih manusia normal." Ucap Kayla sebelum memutuskan untuk membuka pintu.

Klik!

Begitu Kayla membuka pintu, tubuh Alfian ambruk. Kayla yang belum ada persiapan itu langsung terkejut, namun responnya sangat cepat. Sebelum tubuh Alfian Ambruk ke lantai, ia dengan sigap memeluk Alfian dengan erat.

Dengan berat dia membuka matanya, Memperhatikan wajah Kayla yang terlihat sangat Khawatir. Alfian tersenyum manis lalu berkata, "Terima kasih... Dan maafkan aku...,"

Setelah mengucapkan dua kata itu, Alfian menutup matanya sempurna. Kayla segera mengangkat tubuh Alfian dengan kedua tangannya.

Kayla membaringkan tubuh Alfian dengan sangat hati-hati di atas kasur. Ia segera menarik selimut, lalu menyelimuti tubuh Alfian dengan selimut yang hangat dan tebal.

Kayla menatap Alfian dengan tatapan sinis, ia sangat jengkel sekaligus sedih dengan situasi ini.

"Terus kalau seperti ini siapa yang akan disalahkan? Kamu atau aku?" Tanya Kayla sembari memutar bola matanya malas.

Kayla duduk di tepi kasur, tangannya bergerak memeriksa suhu tubuh Alfian, apakah beneran sakit atau hanya berpura-pura saja.

Di tengah pemeriksaan, Kayla tidak sengaja menyentuh selimut yang sudah basah. Saat tangannya diangkat, sesuatu berwarna merah dan lengket menempel disana.

"Darah?" Tanya Kayla sembari mencium tangannya, memastikan apakah beneran darah atau tidak.

Tidak salah lagi, ini beneran darah. Batin Kayla.

Wajahnya seketika berubah menjadi panik, jantungnya berdegup kencang seakan mau keluar dari dadanya, sementara matanya sibuk melirik kesana kemari. Terlihat jelas kepanikan itu di wajahnya.

Dengan cepat Kayla langsung membuka selimut dan mencari asal dari cairan itu. Saat selimut disingkirkan, terlihat jelas baju di bagian perutnya basah. Mungkin darah itu berasal dari sana.

Padahal tadi Kayla tidak melihat terluka, kenapa sekarang terluka? Mungkin karena dia tidak memperhatikan dengan jelas. Sehingga ia tidak melihat kalau Alfian terluka.

"Kalau sedang terluka itu harusnya cari dokter! Bukan cari aku! Emang aku dokter!" Omel Kayla sambil melepaskan kancing baju Alfian satu persatu.

Kayla beranjak dari kasur menuju lemari yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kayla mengambil kotak P3K yang lumayan besar dari dalam lemari tersebut. Lalu kembali ke tempat dimana Alfian dibaringkan.

Saat Kayla berbalik badan, matanya terbelalak melihat pemandangan di depan sana. Bagaimana tidak? Orang yang tadi tidak sadarkan diri kini telah duduk menyandar pada tumpukan bantal di kepala ranjang.

Yang bikin kesalnya lagi, pria itu hanya tersenyum dengan mata yang berbinar-binar. Seolah-olah tidak melakukan kesalahan sama sekali.

"Kalau saja kau tidak terluka, pasti sudah ku tendang jauh-jauh!" Ucap Kayla dengan nada ketus.

"Bolehkah aku menjelaskan kepadamu terkait sikapku kemarin?" Tanya Alfian dengan sangat hati-hati. Ia memperhatikan wajah Kayla dengan seksama.

"Hmmm..."

Tak ada penolakan, Kayla hanya berdehem pelan sambil membersihkan darah agar bisa mengobati lukanya dengan baik.

"Sebenarnya...Aku mendorongmu bukan karena aku menyukai Naya... Aduh!" Alfian tidak sempat melanjutkan perkataannya, karena Kayla menekan lukanya dengan kuat saat mendengar nama wanita itu.

"Lanjut." Ucap Kayla dengan nada yang datar dan dingin seolah tidak memiliki perasaan sama sekali.

Tapi walaupun sikapnya begitu, hatinya berharap bahwa penjelasan Alfian kali ini masuk akal dan memiliki harapan.

"Sebenarnya Aku..." Alfian berhenti sejenak, dia sedang memikirkan apa yang akan ia ucapkan, dan bagaimana dampaknya. Alfian hanya bisa berharap penjelasannya ini aku merobohkan tembok yang telah memisahkannya dengan Kayla.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!