Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 Bayi naga
"Pagi kak" ucap vanya baru bangun tidur.
"Aku akan berbelanja bahan makanan karena di kulkas sudah habis. Alina akan kesini karena aku mengabaikan pesan nya" ujar voltra sudah rapih. "Oh iya jaga benda itu" Lanjutnya menujuk sebuah telur merah bersisik hitam.
"Telur apa ini?" Tanya vanya menoel pelan.
"Telur naga" Jawab voltra santai.
"Bercanda kan kakak" ucap vanya melotot.
"Ku temukan saat di Jepang. Aku sudah memberikan mana ku semalaman pada telur itu, entah kapan dia akan menetas" Balas voltra mengambil kunci motor. "Sembunyikan telur itu dari Alina, naga betina itu akan mengomeli ku jika tau. Aku mengandalkan mu vanya" Lanjutnya berjalan keluar ruangan.
Vanya menelan ludah menatap telur itu, bahkan rencana untuk mandi pagi hari tidak ia lakukan karena terpaku menatap telur itu. Baru sepuluh menit kakaknya keluar, suara bel berbunyi keras dan ada suara wanita yang tidak salah lagi adalah Alina. Vanya buru-buru menyembunyikan telur itu.
Vanya dengan panik menyambar bantal sofa dan menutupi telur merah bersisik hitam itu, lalu ia berlari menuju pintu dengan rambut yang masih agak acak-acakan. Saat pintu terbuka, Alina berdiri di sana dengan setelan jas kantor yang sangat rapi, memegang tumpukan map kontrak, dan wajahnya tampak siap untuk meledak.
"Vanya! Di mana kakakmu yang tidak tahu sopan santun itu?!" tanya Alina langsung masuk ke dalam apartemen. "Dia mematikan GPS-nya, mengabaikan pesanku, dan sekarang dia menghilang di hari penandatanganan kontrak terpenting dalam sejarah ISG!" Lanjutnya menahan amarah.
Vanya tertawa canggung, mencoba menghalangi pandangan Alina dari arah sofa. Kakaknya menyuruh untuk menyembunyikan telur itu, jadi vanya akan melakukan tugasnya.
"Eh, Kak Alina... Kak Voltra sedang... anu, sedang belanja bahan makanan! Katanya kulkas kosong" ujar vanya tertawa hambar.
"Belanja? Di hari seperti ini? Dia benar-benar Hunter paling tidak bisa diatur yang pernah kutemui" Kesal Alina kemudian berjalan menuju sofa dan hendak duduk di sana.
"JANGAN DUDUK DI SITU!" teriak Vanya histeris.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Alina kaget.
"I-itu... ada... ada tumpahan sirup! Iya, sirup yang sangat lengket! Vanya belum sempat membersihkannya!" Jawab Vanya segera berlari dan berdiri di depan bantal yang menutupi telur naga tersebut.
Alina menyipitkan mata, menatap Vanya dengan penuh kecurigaan. Sebagai Hunter Rank S, instingnya sangat tajam. Ia merasakan ada sisa-sisa energi Mana yang sangat murni di ruangan ini—energi yang terasa purba dan panas, mirip dengan aura Voltra tapi lebih... liar.
"Vanya, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu yang ilegal dari Jepang kan?" tanya Alina perlahan, mulai berjalan mendekat. "Voltra membawa barang aneh ke rumah ini?" Lanjutnya menatap serius.
"N-nggak kok! Kak Voltra cuma bawa oleh-oleh gantungan kunci!" jawab Vanya gugup, keringat dingin mulai mengucur. "Aku tidak merahasiakan apapun, nona alina ini memalukan karena sofa sedang basah oleh sirup" Lanjutnya berusaha meyakinkan.
Tiba-tiba, dari balik bantal, terdengar suara pelan: Krak... Krak...
Mata Alina membelalak. Ia segera menyingkirkan Vanya dengan lembut dan mengangkat bantal tersebut. Di sana, telur merah bersisik hitam itu mulai bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul, mengeluarkan cahaya oranye terang yang sangat panas.
"Ini... energi hewan murni?!" gumam Alina tidak percaya. "VOLTRAAAA!! APA YANG KAU BAWA KE DALAM APARTEMEN INI?!" Lanjutnya berteriak kencang.
Sementara itu, di lorong bahan makanan, Voltra sedang dengan santai memilih satu pak besar ceker ayam. Tiba-tiba ia merasakan koneksi mananya dengan telur itu bergejolak hebat.
"Oh," gumam Voltra sambil melihat jam di tangannya. "Sepertinya si kecil itu lahir lebih cepat dari dugaanku. Dan sepertinya si Naga Betina sedang berteriak sekarang" Lanjutnya begitu santai.
Ia menoleh ke arah kasir, mengabaikan tatapan beberapa orang yang mengenalinya sebagai Hunter Rank S. Hunter jelas S itu seperti seorang artis terkenal, semua tindakan akan masuk ke berita
"Mungkin aku harus beli susu formula... ah tidak, naga biasanya makan daging mentah dan baja" ucap voltra mengambil lebih banyak daging ke keranjang.
Baru saja ingin mengantri ke kasir, orang orang sudah mempersilahkan untuk duluan. Voltra tersenyum tipis, dia jadi teringat saat masih menjadi raja naga, beginilah para naga memperlakukan raja mereka.
**********
Di apartemen, ia Memarkir motornya. Menaiki tangga karena ia tidak suka lift, saat membuka pintu terlihat Alina dan vanya tengah berlindung di balik sofa sementara bayi naga masih berusaha melepaskan sisa cangkang telur yang menempel.
"Ternyata naga merah" Gumam voltra mengambil bayi naga itu. "Kupikir kau seekor drake (naga tanpa sayap)" Lanjutnya membantu melepaskan cangkang telur.
"Dimana kau mendapatkan makhluk itu?" Tanya alina waspada sambil melindungi vanya, takut monster itu menyerang.
"Aku menemukan di Jepang. Salah satu monster membawanya" Jawab voltra santai. "Bayi naga tidak berbeda dengan bayi manusia, kecuali bentuk mereka" Lanjutnya bergumam.
"Singkirkan itu" Teriak Alina.
Voltra menatap bayi naga itu, Mereka seperti memiliki pemikiran yang sama. Alina dan vanya berteriak panik saat bayi naga itu terbang mengejar mereka, sementara voltra menahan tawa karena melihat sesuatu yang ia anggap sangat lucu.
"Tolong" Teriak vanya.
"Pergi sana monster" Teriak Alina.
Bayi naga menabrak dada Alina, membuat hunter rank S tersebut jatuh. Untuk sesaat Alina ingin melemparkan makhluk itu sangat jauh, namun melihatmu lebih jelas lagi dan ternyata bayi naga itu lumayan imut, naga kecil mengeluarkan suara seperti bayi hanya lebih kasar.
"Dia bilang ibu" ucap voltra. "Mungkin dia menganggap mu naga betina seperti diriku" Lanjutnya meledek.
"Diam" Kesal Alina memegang naga itu.
Lihat, wajahnya mirip sekali denganmu saat sedang marah," ledek Voltra sambil meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan.
Alina mendengus, tapi tangannya yang tadi gemetar kini perlahan mulai mengelus kepala kecil bayi naga itu. Sisiknya terasa hangat dan keras, namun tekstur kulit di bawah lehernya sangat lembut. Bayi naga itu mengeluarkan suara mendengkur halus suatu fenomena yang mustahil terjadi jika itu adalah monster Gate biasa.
"Voltra, ini gila. Memelihara monster di apartemen adalah pelanggaran berat hukum Asosiasi" ucap Alina, meski nada bicaranya sudah tidak setegang tadi. "Jika mereka tahu kau membawa entitas naga hidup dari Jepang ke Jakarta, mereka akan menganggapnya sebagai ancaman bio-hazard tingkat tinggi" Lanjutnya menatap tajam.
"Dia bukan monster" sahut Voltra sambil mengeluarkan sebungkus daging wagyu mentah yang ia beli tadi. "Dia adalah Flame Drake Bloodline. Di duniaku, mereka adalah kawan yang paling setia. Dan soal Asosiasi... kau kan pemilik guild tempatku bergabung. Urus saja surat izinnya sebagai 'Hewan Pendamping Hunter' atau semacamnya" Lanjutnya tidak begitu peduli konsekuensi.
"kau pikir aku asisten mu" kesal Alina disuruh.
"bukankah itu tugas ketua guild" seru voltra santai.