NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

"Bukan aku yang menyalakannya." Kata Nyonya Desi sambil melihat ke arah sang suami.

" Sejak Yuna pergi, tiap hari aku berharap bisa mati menemani Yuna. Heri melihatku terlalu menderita, jadi dia membakar dupa dan berdoa. Lalu mendapatkan dupa ini, dia bilang selama dinyalakan, aku terus bisa melihat Yuna." Kata Nyonya Desi sambil terus menerus melihat ke arah belakang.

"Nggak mungkin. Nona Nadira, aku sudah menyelidiki Keluarga Hutama. Heri nggak pernah keluar dari rumah, bagaimana mungkin dia pergi ke kuil untuk menyalakan Dupa?" Kata Adrian sambil menceritakan apa yang ia ketahui tentang keluarga Hutama. Saat Adrian berbicara Nadira melihat ke arah Adrian.

"Dengar nggak ?" Kata Nadira.

Sedangkan Nyonya Desi dan Tuan Heri saling menoleh seakan-akan mereka saling bertanya satu sama lain.

" Kau membohongiku?" Tanya Nyonya Desi.

"Desi, maaf. Aku melihatmu terlalu sedih. Jadi, aku ingin menghiburmu, jadi asal sembarang menyalakan sebatang Dupa. Ternyata kau menganggapnya itu serius." Kata Tuan Heri.

" Benarkah begitu ? Jadi, apapun yang kulakukan, aku nggak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Yuna." Kata Nyonya Desi.

" Omong kosong !. Aku berani menjamin bahwa dupa Roh ini asli." Bantah Pendeta Axel. Sehingga membuat sepasang suami istri itu terkejut, dan Nyonya Desi langsung menoleh kebelakang.

"Apa ? Mungkinkah Heri secara kebetulan mendapatkan Dupa yang asli ?" Kata Nyonya Desi, dia sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang dia pikirkan. Sementara itu tangan Nyonya Desi masih dipegang oleh suaminya, Heri. Sedangkan Nyonya Rania tidak tahu berbicara apa hingga akhirnya dia menoleh ke arah anaknya itu.

"Aku juga nggak tahu." Kata Tuan Heri yang mana tangannya masih memegang tangan istrinya. Sedangkan Nyonya Desi langsung menoleh ke arah suaminya.

"Eh, nggak benar. Terlepas dari apakah dupa ini asli atau palsu, berdasarkan penyelidikan ku, sejak Yuna meninggal, kau sama sekali nggak pernah keluar rumah, kecuali dupa ini sudah kau siapkan sejak lama." Kata Adrian sambil bersedekap dada, dan langsung melihat ke arah depan dimana dupa tersebut berada, kemudian diapun menoleh ke arah Heri, untuk menyatakan kecurigaannya tersebut.

Sementara Pendeta Axel, langsung melihat ke arah Adrian, karena dia pun merasakan hal yang sama jikalau Dupa ini memang sudah di persiapkan lebih dulu.

Nyonya Desi yang mendengarnya, langsung menoleh ke arah sang suami, lalu berakhir lagi ke arah Adrian, seakan dia meminta penjelasan lebih.

"Kau."Kata Nyonya Desi sambil melihat ke arah Nadira dan Adrian. Sedangkan Nyonya Rania hanya bisa diam melongo melihat apa yang terjadi.

"Apa maksud kalian ?" Tanya Nyonya Desi.

Sedangkan Nadira langsung melihat ke arah Nyonya Desi.

"Kau mencurigai suamiku ?" Tanya Nyonya Desi kesal.

"Aku nggak mencurigainya. Semua tindakan dia sudah...." Bantah Adrian

"Nggak mungkin." Potong Nyonya Desi sambil menggelengkan cepat.

"Semua salahku. Aku nggak seharusnya memohon pada kalian. Kau sama sekali nggak tahu perasaan Heri padaku. Kau juga nggak tahu." Kata Nyonya Desi, sementara Nadira hanya menghela nafas pelan sambil menutup matanya. Seakan-akan dia sudah muak dengan drama hari ini.

"Heri sangat mencintai Yuna. Boleh mencurigai siapapun, tapi aku nggak akan mencurigainya." Lanjut Nyonya Desi sementara Nyonya Rania hanya mengangguk setuju apa yang dikatakan oleh menantunya.

"Nyonya Desi, apa maksudmu ? Nona Nadira nggak akan memfitnah orang baik." Kata Adrian kesal.

"Berarti..... Berarti..... Ada konflik apa kalian dengan suamiku ?" Nyonya Desi dengan menunjuk ke arah Nadira, sehingga Nadira melihat ke arahnya dan langsung lagi Nadira melihat kedepan. Nyonya Desi yang dilihat seperti itu mundur selangkah karena dia seakan takut akan tatapan matanya dari Nadira.

Saat Nadira akan pergi, dia mendengar suara dari pendeta Axel karena dia terkejut melihat sebuah boneka beruang yang ada di pundak Nadira.

"Ini.... Ini.... Apa ini ?" Tanya Pendeta Axel kaget, sambil menunjuk ke arah bahu Nadira, karena dia melihat boneka beruang milik Yuna. Sementara Nadira langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Pendeta Axel.

"Pendeta Axel, ada apa ?" Tanya Nyonya Rania ketakutan, begitu pula dengan yang lainnya.

"Apa kalian nggak bisa lihat ? Di bahunya......" Kata pendeta Axel yang ketakutan, hingga ngomongnya pun jadi terbata-bata.

"Aku tahu. Pasti wanita tua sialan ini yang mengundangmu. Agar kau bisa merusak hubungan kami berdua." Teriak Nyonya Desi kepada Nadira, sehingga Nadira berbalik dan berhadapan langsung dengan Nyonya Desi.

"Apa kau tahu fungsi sebenarnya dari Dupa Roh ini ?" Tanya Nadira kepada Nyonya Desi, hingga membuat Nyonya Desi terdiam karena memang dia tidak tahu fungsi sebenarnya dari Dupa Roh tersebut.

"Sebenarnya nggak ada yang namanya hantu didunia ini. Yang di sebut Dupa Roh itu, yang diundang adalah energi jahat yang ditinggalkan arwah sebelum kematiannya. Dan energi jahat ini akan menargetkan pelaku yang membunuh orang tersebut." Kata Nadira kepada Nyonya Desi.

Sementara yang lain hanya diam membisu, karena memang pada awalnya ada sebagian orang yang tidak tahu tentang apa itu dupa Roh. Saat Nadira berbicara, Adrian langsung bersedekap dada, sambil menyimak apa yang dikatakan oleh nadira, seakan-akan ini ilmu baru baginya dalam memahami tentang per-Dupaan.

Pendeta Axel dan juga Nyonya Rania pun, terdiam karena Nadira menjelaskan tentang maksud dan kegunaan dari Dupa Roh tersebut.

"Apa maksudmu ?" Tanya Nyonya Desi sambil mundur selangkah seakan ketakutan.

"Masih belum mengerti juga ? Maksudnya, jika ibu mertuamu benar-benar adalah pelaku pembunuhan putri dan cucunya sendiri, maka energi jahat di tempat kejadian pasti sudah mencelakainya." Jawab Adrian dengan singkat, jelas dan padat dan juga mudah dipahami oleh orang lain, agar tak lagi memfitnah orang lain, karena dituduh bersalah padahal dia tak bersalah.

Sedangkan Nadira, sangat puas dengan apa yang di maksud oleh Adrian, sehingga dirinya tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar lagi ke Nyonya Desi.

"Jelas, apa yang kau dengar belum tentu kebenarannya." Kata Nadira kepada Nyonya Desi, dan pada akhirnya Nadira pun langsung pergi dari sana, disusul oleh Adrian, Pendeta Axel dan juga lainnya. Kecuali Nyonya Desi dan Heri yang masih ada disana.

"Desi, sudah jangan terlalu pikirkan berlebihan. Aku papah kau untuk kembali ke kamar untuk istirahat. Oke ?" Kata Heri sambil mengajak Nyonya Desi karena, dia melihat tatapan mata dari Nyonya Desi seakan kosong, dan juga wajah Nyonya Desi pucat sekali. Heri mengajak istrinya kembali karena dia ingin, istrinya itu istirahat tanpa harus memikirkan hal ini untuk sementara dulu, karena dia tak ingin istrinya jadi semakin sakit.

Pada saat akan di papah oleh Heri keluar dari ruang bawah tanah, Nyonya Desi langsung melihat ke arah Heri.

"Heri, di mana kau di hari kematian Yuna ?" Tanya Nyonya Desi sambil memegang tangan suaminya itu.

"Aku sudah bilang beberapa kali. Malam itu aku mabuk dan kau sendiri yang menyuapiku sup penghilang mabuk. Lalu aku istirahat di kamar." kata Tuan Heri kepada istrinya yang mungkin masih tidak percaya.

"Benarkah ? Benarkah begitu ?" Tanya Nyonya Desi sambil menatap ke arah mata Tuan Heri.

Setalah keluar dari ruang bawah tanah, mereka pun berhenti, sehingga pendeta Axel maju kedepan Nadira sambil membungkukkan badannya dengan penuh hormat, begitu pula Adrian dan yang lainnya. Sementara Nadira hanya diam saja tidak bergerak. Dan mereka pun langsung pergi dari sana.

"Nona Nadira, selanjutnya ?" Tanya Adrian.

"Masalahnya belum terpecahkan. Selidiki dimana jenazahnya." Jawab Nadira kepada Adrian.

Adrian mengangguk patuh dan langsung mengeluarkan handphone dari saku jasnya, menghubungi seseorang yang bisa dia mintai tolong.

Hingga pada akhirnya ada balasan dari seberang sana.

"Ada kabar. Nona Nadira, Jenazahnya ada di....." Adrian menjadi kaget saat mengetahui lokasinya, hingga ia melihat ke arah Nadira seakan memastikan apa yang dia lihat tidaklah salah.

" ini nggak mungkin." Kata Adrian sambil terus memandangi handphone tersebut.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!