Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emas di Balik Badai
Udara di depan pondok kayu itu mendadak statis. Rambut Arkan berdiri tegak saat gelombang elektromagnetik murni memancar dari tubuh Liana. Warna emas yang menyilaukan di matanya bukan lagi sekadar pendaran data; itu adalah energi kinetik yang membelah kabut Karst.
Cyborg Varo berhenti melangkah. Sensor analog di dadanya berderik hebat. Hendra, yang mengendalikan dari jauh, mencoba menstabilkan sinyal.
"Liana... apa yang kau lakukan? Kau akan menghancurkan sel sarafmu sendiri!" suara Hendra terdengar panik dari speaker mekanis itu.
Liana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat telapak tangannya ke arah Unit Scorpion.
BOOM!
Bukan ledakan mesiu, melainkan ledakan tekanan udara. Sepuluh prajurit taktis terlempar ke belakang seolah dihantam gada raksasa yang tak terlihat. Senjata-senjata mereka bengkok seketika, sirkuit kacamata penglihatan malam mereka meledak, membutakan mereka dalam kegelapan.
"Liana, hentikan! Kau berdarah!" Arkan berteriak, melihat darah segar mengalir dari hidung dan telinga Liana.
Liana menoleh sekilas, tatapannya asing namun penuh duka.
"Arkan... Ayahmu tidak menciptakan Phoenix sebagai senjata. Dia menciptakannya sebagai cermin. Dan sekarang... aku akan menunjukkan pada Hendra apa yang dia lihat di cermin itu."
Duel Frekuensi
Varo (Cyborg) menerjang maju dengan kecepatan mesin. Lengan bajanya mengayun, namun Liana hanya menggeser kakinya sedikit. Dengan satu sentuhan jari di dahi logam cyborg itu, Liana mengirimkan lonjakan data mentah—seluruh penderitaan warga Sektor Selatan, memori kematian Elena, dan tangisan anak-anak yang kehilangan rumah mereka.
Sinyal Hendra di pusat kendali terputus-putus. "Hentikan! Otakku... sirkuitnya... akh!" Hendra meraung dari kejauhan karena koneksi sarafnya dengan cyborg itu mengalami feedback balik yang menyiksa.
Logam di tubuh Varo mulai memerah, lalu meleleh. Cyborg itu berlutut, mengeluarkan asap hitam, hingga akhirnya meledak dalam kehampaan. Liana berdiri di tengah sisa-sisa logam yang membara, napasnya tersengal-sengal. Warna emas di matanya perlahan meredup, namun ia tidak jatuh pingsan.
Ia berbalik ke arah Arkan, tangannya yang gemetar memegang buku harian Baskoro yang tadi sempat Arkan ambil.
"Arkan... bacalah halaman terakhir," bisik Liana.
Warisan Terakhir
Arkan membuka buku harian ayahnya dengan tangan gemetar di bawah cahaya bulan yang masuk dari atap pondok yang hancur. Di halaman terakhir, tulisan tangan Baskoro tampak terburu-buru, bercampur bercak tinta kering.
"Jika kau membaca ini, Arkan, artinya Hendra telah melampaui batas. Phoenix bukan sekadar AI. Ia adalah entitas yang bisa menampung kesadaran manusia.
Aku telah menyembunyikan 'Inti Murni' di bawah Danau Karst, tepat di bawah pondok ini. Hendra mengira keping mikro itu adalah segalanya, padahal itu hanyalah kunci. Pemicunya adalah darahmu dan cinta Liana. Jangan biarkan dia mengambil Inti itu, atau dia akan hidup selamanya sebagai hantu digital yang tak terkalahkan."
Arkan menatap lantai pondok. Di bawah meja jati itu, terdapat sebuah palka besi tua yang tertutup tanah.
"Dia belum selesai, Arkan," Liana menunjuk ke arah tebing.
"Hendra... dia tidak lagi menggunakan bidak. Dia datang sendiri."
Dari balik bayang-bayang tebing, sebuah helikopter siluman tanpa lampu mendarat dengan senyap. Pintu terbuka, dan Hendra melangkah keluar. Ia tidak lagi mengenakan jas rahasia, melainkan baju zirah medis yang menopang tubuhnya yang mulai menua. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung vakum kosong.
"Liana, Arkan... terima kasih telah membawaku ke lokasi 'Inti Murni',"
Hendra tersenyum penuh kemenangan, meski sudut matanya berdarah akibat feedback tadi. "Baskoro selalu terlalu sentimentil. Dia pikir cinta bisa menghentikan kemajuan. Padahal cinta hanyalah bahan bakar untuk evolusi yang lebih besar."
Hendra menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya. Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar hebat. Pondok kayu itu mulai runtuh, mengungkapkan sebuah ruang bawah tanah raksasa yang bercahaya keemasan di bawah danau.
"Itu dia..." mata Hendra berbinar rakus. "Kesadaran abadi."