NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Bab 10

Pesawat kapsul yang dinaiki Bumi dan Pam melintas di langit yang berwarna ungu. Mata Bumi membesar melihat warna senja yang tidak biasa.

“Apa warna senja selalu seperti ini?” tanya Bumi pada Pam yang duduk di sebelahnya sambil melihat ke bagian belakang pesawat.

“Iya.”

“Kamu nyari apa?” tanya Bumi lagi.

Pam mengusap lehernya, “Aku haus. Apa tidak ada minuman di sini.”

“Oh, aku tidak tahu…,” Bumi ikut melihat ke sekeliling.

“Ada. Di bagian bawah kursi kalian ada laci. Di sana ada bahan makanan yang sudah disiapkan ayah dan ibu kamu Bumi,” suara Emma menggema di pesawat.

Bumi dan Pam membuka laci di bawah kursi mereka masing-masing dengan menekan sebuah bagian yang lunak ke dalam, lalu tiba tiba laci tersebut menyembul keluar. Di dalam laci ada minuman dan snack yang seperti untuk para astronot.

“Untunglah! Aku boleh minta satu?” tanya Pam pada Bumi.

“Ya, ambil lah.”

Pam mengambil pouch bertuliskan water lalu meminumnya dengan semangat. Sementara Bumi memasukkan lacinya kembali. “Kamu nggak minum?”

Bumi menggelengkan kepala, “Tidak haus. Lagi pula, kita harus berhemat.”

“Oh, maaf.”

“Nggak apa-apa, aku tahu kamu pasti sudah lama belum minum.”

“Yap! Sejak mereka mengambil jiwa mudaku,” Pam menggulung pouch bekas air minumnya. “Aku buang ini ke mana?” tanya Pam sambil melihat ke langit pesawat.

“Buang di sisi kanan mu, ada tempat bertuliskan recycle. Barang yang direcycle akan menjadi bahan bakar,” jelas Emma.

“Pesawat ini praktis sekali,” Pam memuji Bumi sambil membuang sampah.

“Tentu saja, yang membuatnya sangat ahli!” sahut Emma.

“Kamu pintar ya?” tanya Pam pada Bumi.

Bumi menggelengkan kepala, sambil mengangkat bahunya, “Aku tidak tahu.” Ia menunjuk bajunya, “Mungkin Bumi yang ini, iya, pintar.” Ia menunjuk dadanya, “tapi yang ini, tidak juga sih.”

Pam mengangguk, lalu kembali memperhatikan langit. “Menurut kamu kita harus ke mana?”

“Entah lah. Aku nggak tahu di mana tempat yang aman yang dibilang ayah dan ibuku. Menurut kamu kita harus ke mana?” tanya Bumi sambil memperahatikan semua tulisan di monitor yang ada di sana.

“Aku tidak tahu juga dimana tempat yang aman itu. Teman-teman ku mengira di daerah timur selatan. Tapi persisnya di mana, aku tidak tahu.”

Bumi mengangguk, lalu menguap dan menggelengkan kepalanya. Badannya terasa mulai berat dan lelah.

“Tapi aku nggak yakin kita bisa membuat kamu kembali ke masa kamu, kalau mau ke tempat itu.”

“Jadi?” Bumi bingung.

“Aku sepertinya tahu tempat yang bisa membuat kamu kembali.”

“Di mana?” tanya Bumi antusias.

“Di tempat asal aku,” Pam menjawab datar. “Itu berarti aku harus kembali ke titik nol.”

“Tunggu. Tempat asal kamu di mana?”

“Aku besar dan tinggal di California. Tapi mungkin aku keturunan Korea atau Jepang.”

“Pantas saja,” gumam Bumi.

“Kenapa?” tanya Pam.

“Tidak. Ya maksud aku, kamu kelihatan dari asia.”

Pam ketawa, “Sudah lama tidak mendengar kata kata asia.”

“Kenapa?”

“Dunia sudah melebur di tahun 2090. Tidak ada lagi benua. Setidaknya itu yang dicatat sejarah.”

“Oh,” Bumi menghela napas, kepalanya kembali berat. Ia tidak tahu apa-apa tentang dunia yang sekarang ia tinggali ini. “Jadi kita harus ke California?”

“Iya. Meski itu berarti membuat aku kembali ke titik nol.”

“Maksudnya?”

“Aku dan teman-teman sudah merencanakan kabur dari sana, mencari tempat yang aman, meski harus dengan susah payah kabur dari kejaran pasukan koloni.”

“Aku tidak mengerti.”

“Oke. California merupakan tempat yang paling maju di bumi saat ini. Semua teknologi masih berkembang dan berjalan dengan baik di sana. Semua orang di bumi diharapkan tinggal di sana, untuk meneruskan generasi bumi. Jadi…,”

Bumi memotong Pam, “Mereka melarang orang keluar?”

“Dan memaksa orang di luar untuk tinggal sama mereka.”

“Bukannya bagus?”

“Ya, kalau tidak perlu kerja rodi!” Pam menghela napas. “Lagi pula semuanya dijatah, makanan dan minuman, diatur seperti komunis. Bagus, tapi tidak begitu bagus kalau pemimpinnya adalah dictator.”

“Siapa pemimpinnya?”

“Led Hamlich. Kamu tidak mau tahu bagaimana dia terpilih. Tapi dia yang terbaik yang mungkin terpilih.”

“Ternyata dari dulu sampai sekarang belum berubah. Masih sulit cari pemimpin yang baik.”

“Tentu saja! Kalau pemimpin baik mudah ditemukan, bumi tidak akan seperti sekarang.”

“Kalau begitu, kita ke California?” tanya Bumi ragu.

Pam terdiam, berat rasanya untuk menyetujui Bumi, tapi ia sudah terlanjur janji untuk membuat Bumi kembali ke masanya.

“Atau tidak usah. Kita terus ke timur, selatan?”

Pam masih berpikir.

“Kita harus cari tempat mendarat dengan segera,” tiba tiba suara Emma memecah keheningan.

“Kenapa?” tanya Bumi melihat ke monitor, baru sadar bahan bakar hampir habis. “Astaga bahan bakar mau habis!”

“Hah! Kok bisa bahan bakar habis?” Pam melihat monitor yang ada petunjuk bahan bakarnya, sudah mencapai hampir garis bawah.

“Karena pesawat ini memakai bahan bakar singkong,” jelas Emma.

“Astaga! Kamu membuat pesawat yang ramah lingkungan?” tanya Pam pada Bumi. “Kenapa nggak pakai energi ini bumi?”

Bumi melotot dan memutar matanya, “Oh ya, tentu saja aku melakukan itu. Bodoh sekali aku!”

“Sori,” Pam menghela napas, sadar kalau Bumi tidak tahu apa apa soal energi inti bumi. Pam melihat ke monitor peta. “Kalau tidak salah.”

“Iya, kita memasuki daerah yang ada inti buminya,” jawab Emma.

“Berarti, ayah menyuruh aku ke timur untuk mengganti bahan bakar?” tanya Bumi pada Emma.

“Kemungkinan besar begitu,” jawab Emma.

“Ya udah, kita ke sana sekarang juga!” pinta Bumi.

“Tunggu!” Pam melihat ke luar jendela. “Tidak mungkin, kita tidak bisa langsung ke sana.”

“Kenapa?”

“Itu tempat kerajaan Amazon! Penguasa inti bumi. Kita bisa habis dibakar, dikira mata-mata koloni Hamlich kalau ke sana tiba tiba begini!”

“Jadi kita harus gimana?” Bumi bingung.

“Turun di sini. Kita ke sana jalan kaki,” Pam melihat baju astronot yang masih baru ada di bagian belakang pesawat.

“Jalan kaki?”

“Iya. Kita diam diam mengambil inti bumi, seperlunya saja. Satu potong kecil begini, cukup,” Pam menujukkan ujung jari jempolnya.

“Menurut mu gimana, Emma?” tanya Bumi ke langit pesawat.

“Menurut ku itu strategi yang sangat bijak,” Emma menjawab dengan cepat.

Pam menatap Bumi, senyum sambil mengangkat kedua alisnya.

“Oke. Cari tempat mendarat yang aman sekarang,” pinta Bumi.

Langit perlahan menjadi gelap, seiring pesawat kapsul Bumi mendarat di sebuah pedesaan yang sudah menjadi reruntuhan. Perlahan lampu pesawat mati. Pintu pesawat terbuka. Bumi dan Pam yang memakai baju astronot ketat, dengan lampu di bagian dada, dan belati di bagian paha kanan dan pistol di paha kiri mereka, keluar dari pesawat dan melangkah dengan hati-hati.

Tiba tiba ada suara semak-semak bergemuruh. Seekor anjing berkepala singa lari ke arah Bumi dan Pam. Pam menarik pistol dan menembak langsung tepat di kepala singa berbadan anjing itu.

“Kamu harus belajar pakai ini,” kata Pam sambil menunjukkan pistol ke arah Bumi.

“Apa nggak sebaiknya kita jalan pas siang?” tanya Bumi ketakutan, mengikuti Pam mendekati singa yang sudah mati itu.

“Jalan malam adalah yang paling tepat. Kita bisa mengambil inti bumi tanpa ketahuan. Kamu takut?” Pam menoleh sehingga rambutnya yang panjang berkibar.

“Apa boleh buat?” Bumi mengangkat kedua tangannya.

“Cuma ada satu singa seperti ini di satu wilayah. Sekarang aman, tidak akan ada singa yang lain.” Pam berjalan ke arah timur.

“Tapi kenapa kamu tetap memegang pistol?” tanya Bumi heran.

“Karena kita telah membunuh singa, berarti akan ada hewan yang bisa bebas mencari mangsa,” kata Pam sambil terus melangkah dengan membawa pistol dalam keadaan siaga.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!