Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Tanpa Suara Adzan
"Mbok, Mas Bayu dipindahin ke kamar saja—ya," pinta Alawiyah. Ia sedang membantu Ratih yang sedang memasak ikan asam pedas, sedangkan ia kebagian untuk memetik kangkung.
Kelontang
Kelontang
Suara anak batu gilingan saling beradu dengan induknya, saat menghaluskan cabai dan rempah lainnya.
Ratih mendadak menghentikan pekerjaannya, lalu menatap menantunya masih dengan wajah tak ramah.
"Biar apa?" dagunya sedikit terangkat saat bertanya.
Tentu saja membuat Alawiyah sedikit merasa ketar-ketir.
"Ya, tidak ada apa-apa, Bu. Cuma saja, kalau saat mengganti pakaian Mas Bayu, tepat ada tamu yang datang, kasihan saja," ungkap Alawiyah, sembari terus memetik kangkung, tanpa berani menatap mata Ratih, sebab itu lebih menakutkan dari rupa Genderuwo.
Ratih menarik nafasnya yang terasa berat. Sejenak ia berfikir, mungkin apa yang dikatakan oleh menantunya ada benarnya, dan ia tak lagi juga ikut tidur diruangan itu.
"Heeemmm .... Baiklah, nanti kalau Bagas datang, akan aku minta ia untuk memindahkannya," kali ini, Ratih memcoba menurut.
"Terimakasih, Bu." sahut Alawiyah dengan cukup senang.
"Tetapi, siapa Bagas—Bu?" kali ini Alawiyah kembali bertanya, sebab bagaimanapun, ia harus tau tentang siapa keluarga suaminya, agar tau bertutur kata.
"Dia kakak tertua Bayu, semalam dia menginap di kebun Juragan Tresno, karena panen padi belum diangkut pengepul, takutnya hilang, atau dimakan tikus." Ratih memasukkan bumbu yang sudah halus ke dalam belanga yang sudah berisi air mendidih.
Alawiyah menanggapinya dengan manggut-manggut. "Mas Bayu awal sakitnya kenapa ya—Bu? Dan aku merasa, jika didesa ini, ada banyak kejanggalan yang tak biasa,"
Alawiyah mengungkapkan isi hatinya, sebab apa yang dirasakannya sejak kehadirannya, semua sangat tak wajar.
Ratih mengaduk masakannya, menyiramkan kuah bumbu ke daging ikan di dalam belanga.
Ia mematikan api kayu bakarnya, lalu menatap Alawiyah, kali ini tatapannya tampak berbeda, lebih sedikit ramah dari biasanya.
Nafasnya tampak begitu berat. Raut wajahnya, menyimpan rasa trauma yang cukup dalam.
"Bayu mengalami lumpuh saat pertama kli menyantap krengsengan kambing dari salah satu warga disini." Ratih menatap nanar, ia kembali mengenang peristiwa sekutar tiga bulan yang lalu.
"Aku tak sempat mencegahnya, dan sejaka saat itu, ia tak sadarkan diri, hingga saat ini—tak juga membuka matanya," rasa penyesalan tergambar jelas dimatanya.
"Apakah ada dengan makhluk-makhluk aneh itu? Apakah mereka peliharaan para warga?" cecar Alawiyah. Ia meletakkan kangkung yang sudah selesai dipetiknya, didepan ibu mertuanya.
Alawiyah mengatur duduknya, mencari posisi yang nyaman, karena perutnya yang cukup begah.
Ratih membeliakkan kedua matanya. Ia menatap Alawiyah dengan tatapan penuh tanya. "Kau bisa meliht mereka?" ia seakan tak percaya dengan apa yng dikatakan oleh menantunya.
Alawiyah menganggukkan keplanya. "Ya,"
Ratih tampak semakin gemetar. "Apakah kau termasuk tulang wangi?"
Nafas Ratih sangat tersengal, dadanya memburu, sehingga membuat ia mendadak tremor.
"Apa itu tulang wangi, Mbok?" Alawiyah bertanya dengan rasa penasaran.
"Tidak apa-apa, hanya perkuat saja dirimu dengan penjagaan bathin yang lebih besar." jawab Ratih, dan ia menumis kangkung yang sudah disipakan.
Alawiyah semakin bingung, dan sikap ibu mertuanya sangat sulit ditebak.
"Mbok ...." suara Bagas memecah keheningan yang terjadi.
"Ya," jawab Ratih dengan datar, suaranya tampak tenang, tetapi Alawiyah dapat menebak, ada kegelisahan yang sedang dialami oleh sang ibu mertua.
"Masak apa? Bagas lapar," seorang pemuda bertubuh tinggi, dan wajahnya mirip dengan Ratih.
Alawiyah mendongakkan kepalanya, menatap jelas wajah pria tersebut. jika di banding dengan Bayu, maka lebih tinggi Bagas, hanya saja, kulit Bayu sedikit lebih cerah, sedangkan Bagas cenderung kecoklatan, sebab lebih banyak terjemur matahari.
"Eh, adik ipar." sapa Bagas, saat melihat Alawiyah menatapnya dari atas lantai.
"Alawiyah hanya mengulas senyum datar. Lalu menatap kembali pada Ratih yang sibuk memasak.
"Gas, tolong kamu pindahkan Bayu ke kamarnya, karena adik iparmu yang akan merawatnya," titah Ratih, sembari mengangkat kangkung yang sudah matang ke atas piring.
"Baik, Mbok." jawab Bagas, tanpa bantahan.
****
"Mbok, Bagas balik ke sawah, dan kata Juragan Tresno, dia ada hal penting yang ingin ditanyakannya," pemuda berusia tiga puluh tahun itu beranjak dari tempatnya. Ia sangat kenyang sekali saat ini.
"Hati-hati," pesan Ratih. Dan etiap katanya, tersirat sebuah makna yang cukup dalam.
"Iya, Mbok." Bagas menyalim tangan Ratih, lalu melirik ke arah Alawiyah yang sibuk mengemas wadah kotor bekas makan siang mereka.
Pemuda itu kembali ke sawah, sebab hari ini, ia sedang menunggu mobil pengangkut yang akan membeli gabah mereka.
Sementara itu, Alawiyah baru saja tiba dari arah belakang dapur. "Mbok, perasaan, kenapa gak ada suara adzan—ya?"
Ratih yang sedang duduk dikursi rotan, membenahi posisi duduknya. "Apakah para setan menyukai kalimat itu?" wanita itu balik bertanya.
"Hanya setan yang tidak menyukai suara adzan, serta kalimat-kalimat suci kalammullah,"
"Jika kau tahu jawabannya, lalu mengapa kau bertanya?" Ratih beranjak bangkit dari duduknya. Seolah-olah ia sedang menghindari segala pertanyaan menantunya.
Alawiyah diam membeku, menatap punggung ibu mertuanya yang menghilang dibalik pintu depan.
Ia mencoba menahan semua rasa penasarannya. "Bagaimana bisa mereka hidup tanpa suara adzan? Kecuali mereka hidup tanpa agama, atau juga bukan beragama Muslim,"
Alawiyah baru menyadari, jika sepanjang jalan semalam sore, ia tak menemukan satupun mesjid atau mushola di desa ini.
Jika membangun mesjid karena tak mampu biaya, maka itu hal yang mustahil. Sebab warganya kaya-raya semuanya.
"Setan takut dengan suara adzan? Siapa setan yang dimaksud oleh si Mbok?" Alawiyah semakin bingung.
"Apakah makhluk-makhluk aneh yang ada di setiap rumah warga? Untuk apa mereka memeliharanya?"
Karena tak mendapatkan jawaban yang pasti, ia lalu memilih untuk memasuki kamar, dan berniat untuk shalat.
Sedangkan Ratih, pergi ke warung, dengan mengendarai sepeda yang selama ini menjadi satu-satunya yang ia punya.
Ia membawa berbagai sayuran untuk ia jual sebagai jalan mendapatkan uang. Dibagian boncengan bepakang, ada ember yang cukup besar, dan ia gunakan sebagai wadah ikan Mas.
Sebuah rumah berukuran cukup besar, dan memiliki, ruko yang di isi dengan berbagai bahan pokok dan serba ada—menjadi tumpuan bagi warga sekitarnya.
"Nem, ini pesanan, kamu. Kacang panjang lima kilo, kangkung, dan juga ikan masnya lima kilo." Ratih meletakkan barang yang akan dijualnya dimeja yang disediakan.
Warung sembako milik Inem, selalu saja ramai, tidak berhenti orang datang membeli.
"Iya, Ra. Saya totalin dulu, ya." tangan Inem sibuk menekan papan calculator, dan mengambil uang dari dalam laci.
"Ra, uangnya dua ratus ribu," Inem menyerahkan uang dua lembar ratusan ribu.
"Iya, makasih, Nem. saya beli minyak goreng, gula, kopi, dan juga telur," Ratih menyerahkan barang yang akan di bayarnya.
"Iya, Ra." Inem menghitung barang tersebut. "Ra, kamu gak capek hidup miskin terus? Gak mau seperti kita?" tiba-tiba Inem kembali menanyakan hal yang sama—setiap kali mereka bertemu.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏