Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4. Bensin Habis dan Tawaran yang Tidak Dapat Ditolak
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Setelah perkuliahan selesai, Aisyah langsung menuju parkiran kampus untuk mengambil mobilnya. Dia sudah terburu-buru karena harus menjemput Shuka dari sekolah jam satu siang, dan Mama Laras sudah keluar untuk janji temu.
Namun ketika mencoba menghidupkan mesin mobil, hanya terdengar suara klik tanpa ada respons dari mesin. Aisyah coba beberapa kali lagi, namun hasilnya sama. Setelah memeriksa indikator, dia melihat bahwa jarum bensin sudah berada di titik nol.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Saya benar-benar lupa isi bensin kemarin malam," gumam Aisyah dengan sedikit panik. Dia segera keluar dari mobil dan melihat jam – sudah pukul sebelas empat puluh lima. Jika tidak segera berangkat, pasti terlambat menjemput Shuka.
Tanpa banyak berpikir, Aisyah membuka aplikasi Grab di ponselnya. Dia mencoba memesan kendaraan berkali-kali, namun setiap kali ada sopir yang menerima, tak lama kemudian langsung dicancel tanpa alasan jelas. Bahkan ada yang memberikan pesan bahwa jalan menuju sekolah Shuka sedang macet parah sehingga mereka tidak bisa menjemputnya.
Saat dia sedang frustasi mencoba mencari opsi lain, terdengar suara dari belakang. "Nona Aisyah, ada apa saja? Mengapa Anda tampak kesusahan?"
Aisyah menoleh dan melihat Gus Aqlan sedang menuju arahnya dengan membawa tasnya, mobilnya yang bersih dan rapi sudah siap di tempat parkir tidak jauh dari sana.
"Ah, pak Aqlan... Maaf, mobil saya kehabisan bensin, dan saya tidak bisa memesan kendaraan sama sekali. Saya harus cepat menjemput adik saya dari sekolah tapi sekarang tidak tahu harus bagaimana," ujar Aisyah dengan nada sedikit cemas.
Gus Aqlan langsung mendekat dan melihat mobil Aisyah sebentar. "Sayang sekali ya. Kalau begitu, izinkan saya mengantar Anda saja. Saya tidak punya jadwal lain setelah ini, dan bisa membantu Anda tidak terlambat."
Aisyah segera menggeleng. "Tidak usah, terima kasih banyak atas tawarannya. Saya tidak mau mengganggu waktu Anda. Mungkin saya bisa menelepon teman untuk meminta tolong saja."
Namun Gus Aqlan menggeleng dan menarik pintu mobilnya terbuka. "Teman Anda pasti juga sibuk dengan urusan masing-masing kan? Selain itu, saya melihat Anda sudah mencoba berkali-kali dan tidak ada yang mau menerima pesanan Anda. Silakan saja masuk, saya sungguh tidak keberatan. Bahkan kalau perlu, saya bisa mengantar Anda ke bengkel atau tempat isi bensin setelah menjemput adik Anda."
Aisyah melihat jam lagi – sudah hampir pukul dua belas. Dia tahu tidak punya banyak waktu lagi. Dengan berat hati, dia akhirnya mengangguk. "Baiklah, saya terima tawaran Anda. Saya sangat berterima kasih, pak Aqlan. Maafkan saya karena mengganggu Anda."
"Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Ini adalah hal yang wajar untuk membantu teman," ujar Gus Aqlan dengan senyum hangat. "Silakan masuk saja, kita harus segera berangkat kalau tidak mau terlambat."
Setelah Aisyah masuk ke dalam mobil, Gus Aqlan segera mengemudi dengan aman namun tetap memperhatikan kecepatan. Di dalam mobil, suasana awalnya agak sunyi hingga Gus Aqlan membuka pembicaraan.
"Kapan Anda terakhir mengisi bensin untuk mobil Anda?" tanyanya dengan suara lembut.
"Kemarin pagi, tapi sepertinya tangki sudah mulai sedikit bocor atau indikatornya tidak akurat. Saya benar-benar tidak menyadari bahwa bensin sudah hampir habis," jawab Aisyah dengan sedikit malu.
"Jangan khawatir, kadang hal seperti itu bisa saja terjadi. Nanti setelah menjemput adik Anda, saya bisa antar Anda ke pom bensin terdekat saja ya. Biar mobil Anda bisa digunakan lagi nanti," ujar Gus Aqlan dengan senyum.
Aisyah melihat Gus Aqlan yang sedang mengemudi dengan fokus. Dia merasa sangat bersyukur bisa bertemu orang baik seperti dia, dan mulai menyadari bahwa pria ini memiliki hati yang hangat meskipun penampilannya terlihat sangat tegas dan serius.
Saat mereka hampir sampai di sekolah Shuka, mereka melihat anak kecil itu sudah berdiri di depan gerbang sekolah bersama dengan gurunya. Shuka tampak sedikit khawatir karena biasanya Aisyah sudah datang menjemputnya lebih awal. Namun ketika melihat mobil Gus Aqlan, wajahnya langsung bersinar ceria dan berlari ke arah mereka.
"Kakak! Saya sudah menunggu kamu nih!" teriak Shuka sambil melompat-lompat. Namun ketika melihat Gus Aqlan, dia sedikit berhenti dan melihat ke arah kakaknya dengan tatapan penasaran.
Aisyah segera membuka pintu mobil dan menjelaskan kepada Shuka. "Ini pak Aqlan, teman dari kampus. Mobil kakak kehabisan bensin jadi beliau mau mengantar kita."
Shuka langsung tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih banyak ya Pak! Kakak saya pasti sangat capek kalau harus jalan kaki."
Gus Aqlan pun tersenyum melihat keceriaan anak kecil itu. "Sama-sama ya Shuka. Kamu sudah selesai sekolah ya? Sudah makan siang belum?"
Belum sempat Shuka menjawab, Aisyah melihat jam dan berkata, "Kita harus segera pulang saja ya. Nanti kita makan siang di rumah saja. Terima kasih lagi ya, Gus Aqlan."
"Tidak apa-apa. Mari kita pergi saja, agar kalian bisa segera makan siang dengan nyaman," ujar Gus Aqlan sambil memutar mobil untuk menuju arah rumah Aisyah. Perjalanan pulang berlanjut dengan cerita lucu dari Shuka tentang kegiatan sekolahnya, yang membuat kedua orang dewasa itu tidak bisa tidak tertawa.
BERSAMBUNG....