Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pintu kamar terbuka, menampakkan ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana.
Aroma mawar putih dan lilin aromaterapi yang menenangkan menyambut mereka.
"Lelah, Sayang?" tanya Baskara pelan saat mereka sudah berada di tengah kamar.
Ambar tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Sedikit, tapi aku bahagia, Bas."
Seperti rutinitas yang mulai ia jalani dengan penuh ketulusan, Ambar berlutut di depan kursi roda Baskara.
Dengan gerakan yang sangat telaten, ia mulai melepas sepatu pantofel suaminya satu per satu.
Tidak ada kecanggungan; jemari Ambar bergerak dengan kasih sayang yang murni.
Ia kemudian membantu Baskara membuka jas tuksedonya, menyampirkannya dengan rapi, lalu perlahan membuka kancing kemeja suaminya.
Baskara hanya diam, matanya terus terkunci pada wajah Ambar yang tampak begitu fokus dan lembut.
Pria itu bisa merasakan jemari hangat Ambar sesekali bersentuhan dengan kulit dadanya, mengirimkan getaran yang tak biasa ke seluruh tubuhnya.
"Selesai," bisik Ambar setelah mengganti pakaian Baskara dengan piyama sutra yang nyaman.
Kini tiba saat yang paling krusial. Ambar berdiri, merangkul bahu lebar Baskara dan melingkarkan lengan suaminya ke lehernya.
Dengan kekuatan yang ia kumpulkan, Ambar membantu Baskara berpindah dari kursi roda ke atas ranjang king size yang empuk.
Ia mengatur posisi bantal agar Baskara bisa bersandar dengan nyaman, lalu menyelimuti kaki suaminya dengan selimut bulu yang hangat.
Baskara meraih tangan Ambar tepat saat wanita itu hendak beranjak untuk mengganti pakaiannya sendiri.
Ia menarik Ambar lembut hingga istrinya itu terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya.
"Terima kasih, Ambar," ucap Baskara dengan suara bariton yang dalam dan tulus.
"Selama ini, banyak orang yang melayaniku karena uang atau kewajiban. Tapi caramu menyentuhku, aku bisa merasakan bahwa kau melakukannya karena kau benar-benar peduli."
Baskara mengelus pipi Ambar, jemarinya bergerak ke belakang telinga istrinya.
"Malam ini, di kamar ini, tidak ada Mahendra yang lumpuh atau Ambar yang terbuang. Hanya ada aku dan kamu."
Ambar menunduk sejenak, wajahnya merona merah di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.
"Aku istrimu, Bas. Sudah kewajibanku untuk menjagamu, seperti kamu menjagaku di depan mereka semua tadi."
Baskara tersenyum penuh arti, lalu mengecup kening Ambar dengan durasi yang lama, seolah sedang menyegel janji baru di antara mereka.
Ambar baru saja selesai membantu Baskara naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti kaki suaminya dengan selimut bulu yang hangat.
Ia berdiri di sisi ranjang, bersiap untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti gaun pengantinnya yang berat.
Namun, sebelum Ambar sempat melangkah, Baskara menahan pergelangan tangannya lembut.
Ambar menoleh, menatap mata suaminya yang bersinar penuh arti di bawah cahaya temaram.
Baskara tersenyum tipis, sebuah senyum yang belum pernah Ambar lihat sebelumnya—senyum yang penuh misteri dan gairah.
Dengan tangan kirinya, ia meraih map cokelat tipis yang tergeletak di atas nakas, map yang berisi surat kontrak pernikahan mereka yang ditandatangani beberapa hari lalu.
Ambar mengerutkan kening, bingung. "Ada apa, Bas? Kenapa surat kontrak itu ada di sini?"
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Baskara membuka map itu dan mengambil sebuah pena hitam. I
a membolak-balik halaman hingga menemukan poin ke-3, poin yang menyatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah sebatas kontrak tanpa hubungan suami istri yang sesungguhnya.
Dengan gerakan lambat namun pasti, Baskara mencoret poin ke-3 itu dengan tinta hitam tebal, menghapusnya selamanya dari perjanjian mereka.
Kemudian ia menatap Ambar lurus ke dalam mata, tatapannya membakar keheningan di antara mereka.
"Mulai malam ini, Ambar Mahendra..." ucap Baskara dengan suara bariton yang rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Ambar.
"...kontrak itu tidak lagi berlaku. Kamu bukan lagi bidak catur ku, tapi istriku yang sesungguhnya."
Ambar tertegun, jantungnya berpacu kencang. Ia bisa merasakan kehangatan menjalar dari pergelangan tangannya yang masih digenggam Baskara, menyebar ke seluruh tubuhnya.
Baskara menarik tangan Ambar lembut, memaksanya untuk duduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya.
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Ambar, hingga napas hangat mereka saling beradu.
"Aku tahu kakiku belum bisa berjalan, Ambar," bisik Baskara tepat di depan bibir Ambar.
"Tapi aku memiliki cara lain untuk menunjukkan padamu, seberapa besar aku menginginkanmu. Seberapa besar aku menghargaimu sebagai seorang wanita."
Tanpa menunggu jawaban Ambar, Baskara mencium bibir istrinya dengan sangat posesif dan penuh gairah.
Ciuman itu tidak lagi seperti ciuman sandiwara di pelaminan tadi; ciuman ini penuh dengan perasaan yang selama ini Baskara pendam, perasaan yang perlahan tumbuh sejak ia melihat Ambar berdiri di jembatan malam itu.
Ambar tersentak kaget, namun ia tidak menolak. Rasa cemburu dan terhina yang sempat ia rasakan di pesta tadi menguap, digantikan oleh gelombang gairah yang tak terbendung.
Ia melingkarkan lengannya di leher Baskara, membalas ciuman suaminya dengan ciuman yang sama panasnya.
Tangan Baskara mulai bergerak nakal, menjelajahi lekuk tubuh Ambar di balik gaun pengantinnya yang indah.
Ia membuka ritsleting gaun itu perlahan, membiarkan kain sutra itu merosot jatuh ke lantai, menyingkapkan kulit mulus Ambar yang berkilau di bawah cahaya temaram.
Ambar mendesah pelan saat sentuhan tangan Baskara mendarat di kulitnya yang sensitif.
Suara desahannya terdengar jelas di dalam kamar yang sunyi, memicu api gairah di dada Baskara.
Meskipun kakinya lumpuh, Baskara menunjukkan kekuatan dan keahlian yang luar biasa dengan tangan dan bibirnya.
Ia memanjakan setiap inci tubuh Ambar dengan ciuman dan sentuhan yang memabukkan, membuat Ambar melupakan segalanya, melupakan dunia di luar kamar ini.
Ambar tak mau tinggal diam dan hanya menerima pelayanan dari suaminya.
Ia ingin menunjukkan pada Baskara bahwa ia juga menginginkannya, bahwa ia juga mencintainya.
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Ambar melepaskan pelukannya, lalu dengan gerakan anggun namun berani, ia naik ke atas tubuh suaminya.
Ia duduk di pangkuan Baskara, menatap mata suaminya dengan binar gairah yang menyala-nyala.
Baskara tertegun melihat keberanian Ambar. Sebuah senyum bangga dan puas muncul di wajahnya.
Ia mencengkeram pinggang Ambar erat-erat, menuntun gerakan istrinya dengan sabar dan penuh kasih sayang.
Malam pertama mereka di hotel mewah itu menjadi malam yang sangat menggairahkan dan tak terlupakan.
Di bawah cahaya temaram dan aroma mawar putih, Baskara dan Ambar menyatukan jiwa dan raga mereka, menghapus masa lalu mereka yang kelam dengan api cinta yang baru tumbuh.
Suara desahan dan erangan kenikmatan saling bersahutan di dalam kamar, menjadi saksi bisu dari penyatuan dua jiwa yang terluka namun berhasil menemukan kesembuhan dalam pelukan satu sama lain.