"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PEMBURU CAHAYA DI BALIK BAYANGAN
"Sialan! Wanita gila itu benar-benar menghinaku di depan umum!" Jayden menggeram, dadanya kembang-kempis. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik—mungkin efek 'rantai kabut hitam' yang dikatakan Alurra tadi.
Seorang asisten kepercayaannya, Bram, berdiri mematung di sudut ruangan. "Tuan Jayden, video dari restoran The Obsidian sudah saya amankan. Anda ingin melihatnya lagi?"
Jayden menyambar tablet dari tangan Bram. Ia memutar video amatir itu berulang-ulang. Di sana, Alurra menjentikkan jari dengan santai, lalu blaar! Petir menyambar tepat di atas kepala Tuan Broto tanpa ada kabel atau alat listrik di sekitarnya.
"Kau lihat ini, Bram?" Jayden menunjuk layar dengan telunjuk yang gemetar. "Ini bukan sulap. Tidak ada asap, tidak ada alat. Dan tadi di pesta... dia bilang dia bisa melihat 'kabut hitam' di wajahku? Dia bilang hatiku busuk?"
Jayden tertawa sinis, tawa yang terdengar kering dan penuh kebencian. "Nael si bisu itu... dia tidak mungkin menemukan wanita biasa. Wanita ini punya sesuatu yang... ilegal. Sesuatu yang jika terungkap, akan menghancurkan nama baik Nael selamanya."
"Apa rencana Anda, Tuan?" tanya Bram pelan.
"Panggil Ki Gendeng," perintah Jayden pendek.
Bram tertegun. "Maksud Anda... ahli supranatural yang biasa menangani 'pembersihan' saingan bisnis itu?"
"Bukan cuma ahli, Bram. Dia adalah pemburu. Dia bisa mencium bau makhluk halus, jin, atau apa pun itu dari jarak satu kilometer," Jayden menyeringai licik. "Aku ingin tahu apakah Alurra itu manusia yang pakai susuk, atau jangan-jangan dia adalah siluman yang dipelihara Nael untuk melindunginya."
Dua jam kemudian, seorang pria tua berpakaian serba hitam dengan sorban kumal masuk ke ruangan Jayden. Aromanya campuran antara kemenyan dan tembakau murah. Matanya yang juling tampak tajam, seolah bisa menembus dinding.
"Tuan Jayden... Anda mengusik sesuatu yang terang," suara Ki Gendeng parau, seperti gesekan amplas.
Jayden menyodorkan tabletnya. "Lihat video ini, Ki. Wanita ini bisa memanggil petir. Dan tadi, dia bisa melihat aura. Dia bilang wajah saya penuh kabut hitam. Apa dia dukun kiriman saingan saya?"
Ki Gendeng menatap layar tablet itu tanpa berkedip. Perlahan, wajah tuanya berubah pucat. Jemarinya yang keriput menyentuh layar, tepat di wajah Alurra yang sedang tertawa.
"Ini..." Ki Gendeng berbisik, suaranya bergetar. "Ini bukan aura manusia, Tuan. Kabut hitam yang dia lihat di wajah Anda... itu adalah refleksi dari busuknya niat. Manusia biasa, sehebat apa pun dukunnya, tidak akan bisa melihat kejujuran aura sedetail itu."
"Lalu dia apa?! Siluman?" bentak Jayden tidak sabar.
Ki Gendeng menggeleng perlahan. "Lebih murni dari siluman. Lebih menyilaukan dari jin. Baunya... baunya seperti langit setelah hujan. Sangat wangi, sangat suci. Jika dia benar-benar bisa melihat kabut hitam, artinya dia adalah Pembawa Cahaya. Makhluk seperti ini sangat langka di Bumi yang sudah kotor ini."
Jayden berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap kota. "Pembawa Cahaya? Aku tidak peduli dia bidadari atau peri gigi! Yang aku ingin tahu, bagaimana cara melumpuhkannya? Bagaimana cara membuktikan pada keluarga Ryker bahwa Nael menggunakan 'sihir' untuk berkuasa?"
Ki Gendeng terdiam sejenak, lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah pekat seperti darah kering.
"Bawa ini ke dekatnya, Tuan. Ini adalah minyak 'Gagak Pemakan Bangkai'. Minyak ini dibuat dari tujuh lapis bumi yang paling gelap," jelas Ki Gendeng dengan senyum mengerikan. "Makhluk cahaya sangat membenci bau busuk yang murni. Jika dia menghirup ini, kekuatannya akan meredup. Dia akan menjadi lemah, sakit, dan auranya akan terlihat berantakan di depan semua orang."
Jayden menerima botol itu dengan mata berbinar penuh kemenangan. "Jadi, kalau dia menghirup ini, dia akan terlihat seperti wanita gila yang sakit-sakitan di depan dewan direksi?"
"Lebih dari itu, Tuan. Dia akan kehilangan pelindungnya. Dan saat itulah, Anda bisa menangkapnya... atau melenyapkannya bersama Nael."
Jayden menggenggam botol itu erat-erat. "Bagus. Sangat bagus. Nael... kau pikir kau aman dengan bidadarimu itu? Kita lihat saja, saat cahayanya padam, siapa yang akan menyelamatkanmu dari lubang hitam yang sudah kusiapkan."
Jayden tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di ruangan yang kini terasa semakin dingin dan sesak oleh aura jahat yang semakin pekat—persis seperti 'kabut hitam' yang dilihat Alurra sebelumnya.
...****************...
aku suka namanya Nael ....