Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.
Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.
Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.
Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 19
Lapangan barak itu kini telah berubah menjadi pemandangan yang menyedihkan. Mayat-mayat hidup dalam rupa anak-anak bangsawan tergeletak tumpang tindih, menyisakan segelintir orang yang masih memiliki kesadaran.
Di tengah abu-abunya tekanan aura Gilios, pendaran biru dari tubuh Ilwa tampak seperti permata yang bersinar di dasar samudera yang gelap.
Leo, yang wajahnya sudah bercucuran keringat dan air mata akibat menahan sakit, menoleh ke arah Ilwa.
Giginya bergemeletuk, bukan hanya karena tekanan mana, tapi karena rasa cemburu yang membakar hatinya.
"Dia... dia curang!" teriak Leo dengan suara parau yang nyaris habis.
Ia menunjuk Ilwa dengan tangan yang gemetar hebat. "Instruktur! Ilwa menggunakan sihir! Ini tidak adil! Dia pengecut yang bersembunyi di balik mantra!"
Suara Leo memicu gumaman lemah dari beberapa kadet yang masih sadar.
Mereka menatap Ilwa dengan tatapan benci. Bagaimana bisa anak yang selama ini mereka anggap cacat bisa terlihat begitu tenang sementara mereka merasa jantung mereka akan meledak?
Gilios, tanpa menghentikan tekanan auranya, melirik Leo dengan tatapan yang menghina. "Curang? Sejak kapan seorang ksatria mengeluh tentang alat yang digunakan lawannya untuk bertahan hidup?" suara Gilios menggelegar di tengah badai mana.
"Aku tidak pernah melarang kalian menggunakan sihir, teknik pedang, atau ramuan sekalipun! Jika kau punya kemampuan untuk menggunakan sihir dalam kondisi terdesak seperti ini, maka lakukanlah! Jika tidak bisa, maka tutup mulutmu dan hadapi beban ini dengan dagingmu sendiri!"
Leo terbungkam. Ia ingin merapal sihir, namun tekanan aura Gilios membuat fokusnya hancur berkeping-keping.
Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: ia tidak mampu melakukannya.
---
Teknik yang digunakan Ilwa, yang secara resmi dikenal di kalangan penyihir tingkat tinggi sebagai **Blue Veil: Aethel-Barrier**, bukanlah sihir perlindungan biasa.
Ini adalah teknik pertahanan sirkuit tingkat menengah yang sangat kompleks.
Inti dari **Blue Veil** bukanlah menciptakan perisai fisik untuk menahan serangan, melainkan menciptakan "Zona Netralisir Mana".
Pengguna harus mampu memancarkan mana mereka keluar melalui pori-pori kulit secara konstan dan dengan frekuensi getaran yang sangat spesifik untuk membatalkan tekanan dari luar.
Efisiensi Sirkuit Teknik ini membutuhkan kendali mana yang luar biasa halus. Jika pancaran mana terlalu kuat, pengguna akan kehabisan energi dalam hitungan detik. Jika terlalu lemah, perisai itu akan hancur oleh tekanan lawan.
Isolasi Frekuensi Pengguna harus mampu membaca "frekuensi" mana lawan (dalam hal ini, aura Gilios) dan menciptakan getaran lawan yang berlawanan (*Anti-Mana Frequency*). Ini membutuhkan kecerdasan otak yang luar biasa untuk melakukan kalkulasi instan di tengah rasa sakit.
Fokus Ganda Pengguna harus membagi konsentrasi antara mempertahankan sirkuit internal agar tidak meledak dan menjaga lapisan tipis biru di luar kulit tetap stabil.
Bagi seorang anak berusia delapan tahun, menguasai teknik ini dianggap mustahil. Ini seperti meminta seorang balita untuk memecahkan persamaan matematika rumit sambil dipukuli.
Namun, Ilwa melakukannya dengan presisi yang mengerikan.
---
Dua jam berlalu.
Bagi para kadet, waktu itu terasa seperti dua abad di neraka. Tiba-tiba, tekanan udara yang berat itu menghilang seketika. Gilios menarik kembali auranya.
*Zruuuut!*
Suara embusan napas serentak terdengar di seluruh lapangan. Para kadet yang tersisa langsung lemas.
Mereka jatuh berdebam ke tanah, tidak lagi memiliki kekuatan bahkan untuk merangkak. Ilwa, yang baru saja mematikan **Blue Veil** miliknya, merasakan serangan balik yang dahsyat.
Tubuhnya bergetar hebat, dan rasa sakit dari *Aura-Lock* kini menyerangnya dua kali lipat lebih kejam karena sisa-sisa paksaan sihir tadi.
Ia jatuh bertumpu pada kedua tangannya, terengah-engah dengan wajah yang benar-benar pucat.
"Selamat," ucap Gilios datar sambil menatap para kadet yang masih sadar.
"Kalian yang tetap berada di lapangan ini sampai detik ini dinyatakan lolos seleksi kualifikasi. Kalian adalah benih yang layak untuk ditanam kembali lima tahun lagi. Untuk sisanya... yang pingsan atau menyerah, urusan kalian denganku selesai. Pergilah dari pandanganku."
Gilios berbalik tanpa menunggu jawaban, jubah hitamnya berkibar saat ia melangkah meninggalkan lapangan, diikuti oleh Aris yang masih tampak tertegun.
---
Saat mereka berjalan menyusuri lorong batu yang sepi menuju ruang instruktur, Aris akhirnya tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Gilios, jujurlah padaku," Aris mendekat, suaranya berbisik penuh antusiasme.
"Bagaimana menurutmu tentang bocah itu? Ilwa... dia benar-benar melakukannya. Dia menggunakan **Blue Veil** di depan mata kita!"
Gilios berhenti melangkah, menatap dinding batu di depannya dengan pandangan yang dalam.
"Aku mengakuinya. Bocah itu bukan sekadar bertahan dari auraku. Dia membedah auraku dan menciptakan penawarnya secara instan. Itu bukan keberuntungan, Aris. Itu adalah penguasaan teknik tingkat menengah yang sempurna."
"Tapi bagaimana bisa?!" Aris mengusap wajahnya, bingung.
"Dia baru delapan tahun! Bahkan jenius di Akademi Sihir Pusat butuh waktu sepuluh tahun latihan hanya untuk memahami konsep *Anti-Mana Frequency*."
Gilios menghela napas, ia teringat penjelasan tentang *Omni-Overlord* yang ia berikan di pondok kayu. "Aku melupakan satu detail penting tentang pemegang gelar *Omni-Overlord*. Gelar itu bukan hanya soal kekuatan fisik atau jumlah mana. Ada peningkatan kapasitas kognitif yang drastis pada penggunanya. Otak mereka bekerja pada frekuensi yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan belajar yang mengerikan—apa pun yang mereka pelajari, otak mereka akan memprosesnya sepuluh kali lebih cepat dari manusia normal."
Aris terbelalak. "Jadi maksudmu... dia mempelajari teknik itu hanya dengan membaca atau melihat?"
"Bukankah kau bilang ibunya, Elara, adalah salah satu penyihir pedang jenius di klan ini?" Gilios kembali berjalan.
"Aku berani bertaruh bocah itu diam-diam menghabiskan waktunya di perpustakaan Elara, membaca buku-buku sihir tingkat tinggi yang seharusnya dilarang untuk anak seusianya. Dan dengan otak *Omni-Overlord*-nya, dia menyerap semua itu seperti spons."
Aris terdiam, mencoba membayangkan Ilwa kecil yang duduk di pojok perpustakaan berdebu, memahami rahasia alam semesta yang bahkan orang dewasa pun kesulitan memahaminya. "Masuk akal... sangat masuk akal. Jika itu benar, maka kita tidak hanya sedang melatih seorang ksatria."
"Benar," sela Gilios dengan nada dingin namun penuh antisipasi.
"Kita sedang melatih seseorang yang akan melampaui sejarah itu sendiri. Jika dia bisa bertahan selama lima tahun ke depan dengan penyakit itu, dunia akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada."
Di lapangan yang kini mulai sepi, Ilwa perlahan bangkit.
Ia menatap telapak tangannya yang masih bergetar, lalu menatap ke arah lorong di mana Gilios menghilang.
Sebuah senyum tipis yang penuh arti muncul di bibirnya yang pucat.
"Lima tahun... waktu yang cukup untuk menghancurkan kunci ini sepenuhnya," batin Ilwa.
-----
Lampu kristal di ruang kerja Patriak Robert Eldersheath berpendar redup, menerangi tumpukan dokumen perkamen yang menggunung di atas meja mahoni besar miliknya.
Robert, pria dengan garis wajah tegas yang memancarkan otoritas mutlak, sedang memijat pelipisnya saat pintu kayu jati yang tebal itu terbuka tanpa ketukan yang semestinya.
Aris melangkah masuk dengan santai, tangan di saku, dan senyum tipis yang selalu tampak misterius menghiasi wajahnya.
"Selamat siang, Patriak. Sepertinya dokumen-dokumen itu lebih membosankan daripada tontonan di lapangan barak pagi tadi," sapanya dengan nada ringan yang hanya berani dilakukan oleh sedikit orang di klan ini.
Robert mengangkat wajahnya, menatap Aris dengan mata dingin. "Aris. Kau tahu aku tidak suka interupsi tanpa alasan penting. Ada apa?"
"Laporan akhir kualifikasi, Tuan," jawab Aris sambil menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam. "Gilios meminta saya untuk segera menyampaikannya agar administrasi kepulangan para kadet bisa segera diproses."
Robert menerima map itu, membukanya dengan gerakan tenang, namun saat matanya mulai menyisir daftar nama yang tertera, keningnya berkerut dalam.
Ia menghela napas panjang, sebuah desahan yang penuh dengan kekecewaan yang tertahan.
"Hanya tiga puluh orang?" suara Robert terdengar berat.
"Dari ratusan anak berbakat klan Eldersheath, hanya segelintir yang bisa menahan aura Gilios? Ini benar-benar memalukan. Generasi ini jauh lebih lemah dari yang kubayangkan."
Ia terus membalik halaman. "Leo lolos... Clara lolos... Tentu saja, itu sudah seharusnya." Namun, saat jarinya mencapai baris terakhir pada halaman kedua, gerakan tangan Robert membeku.
Matanya terpaku pada satu nama yang ditulis dengan tinta hitam tebal oleh tangan Gilios sendiri: **Ilwa Eldersheath.**
Robert tersentak, ia menegakkan punggungnya dan menatap Aris dengan pandangan tidak percaya.
"Apa ini? Ilwa... lolos? Bagaimana mungkin anak yang bahkan kesulitan bernapas karena *Aura-Lock* bisa bertahan dari tekanan aura seorang ksatria tingkat tinggi seperti Gilios?"
Aris sudah menduga reaksi ini. Ia menyandarkan bahunya ke dinding, menjaga raut wajahnya agar tidak membocorkan rahasia tentang *Omni-Overlord*.
"Sudah kukatakan sejak sebulan lalu, Tuan. Ada sesuatu yang berbeda pada anak itu. Sesuatu yang melampaui logika medis yang kita pahami selama ini."
Aris melanjutkan dengan nada yang lebih serius, "Dia tidak lolos karena belas kasihan Gilios. Dia benar-benar bertahan dengan kekuatannya sendiri, menggunakan cara yang bahkan membuat Gilios terdiam sejenak. Dia memiliki kemauan yang... tidak normal untuk anak seusianya."
Robert terdiam, matanya kembali menatap nama Ilwa di atas kertas. Keraguan terpancar jelas di wajahnya, namun ia adalah pria yang pragmatis.
Jika instruktur sekeras Gilios menyatakan lolos, maka itu adalah fakta.
"Terserah saja," ucap Robert akhirnya, menutup map tersebut dengan bantingan pelan.
"Mungkin dia hanya beruntung, atau mungkin penyakitnya sedang mereda saat itu. Tapi Aris, dengarkan aku. Persiapkan latihan untuk lima tahun ke depan dengan sangat matang. Aku tidak ingin melihat kegagalan massal seperti ini lagi saat mereka kembali ke barak nanti."
"Tentu, Patriak. Semuanya akan diatur sesuai rencana," jawab Aris singkat.
Ia membungkuk hormat, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Robert yang masih termenung sendirian, menatap kosong ke arah jendela yang menghadap ke halaman luas klan.
---
Sementara itu, suasana di asrama kadet berubah menjadi hiruk-pikuk.
Suara tawa, tangis lega, dan denting koper yang diseret memenuhi koridor yang biasanya sunyi.
Setelah tiga bulan berada dalam tekanan maut, hari ini mereka diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing sebelum panggilan latihan inti lima tahun mendatang tiba.
Ilwa melangkah masuk ke kamarnya yang sempit.
Tubuhnya terasa remuk. Di balik seragam latihannya, beberapa bagian kulitnya terbalut perban putih yang baru saja dipasang oleh tim medis barak.
Luka-luka memar dan pecahnya pembuluh darah kapiler akibat tekanan aura tadi pagi masih terasa berdenyut pedih.
Dengan gerakan lambat karena menahan sakit di dadanya, Ilwa memasukkan pakaiannya ke dalam koper kayu kecil.
Ia menyentuh kalung ibunya yang masih melingkar di leher, memastikan benda itu aman.
Setelah semuanya rapi, ia mengenakan mantel perjalanannya dan meraih pegangan koper.
Namun, baru saja jemarinya menyentuh daun pintu untuk keluar, sebuah suara yang penuh dengan nada permusuhan dan ketidaksenangan menghentikannya.
"Bagaimana kau melakukannya?"
Ilwa berhenti. Ia tidak segera berbalik, hanya menatap pintu kayu di depannya dengan tatapan datar.
"Bagaimana mungkin pecundang sepertimu bisa menggunakan sihir pertahanan tingkat menengah seperti itu?" Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan penuh penekanan.
Ilwa akhirnya memutar tubuhnya perlahan. Di sana, berdiri **Leo**. Putra dari garis keturunan pertama itu tampak berantakan; rambutnya tidak serapi biasanya, dan matanya memerah karena amarah yang dipendam.
Leo menatap Ilwa seolah ingin menembus kulitnya untuk mencari rahasia yang disembunyikan.
"Semua orang tahu kau itu cacat, Ilwa," desis Leo, melangkah maju satu langkah ke dalam ambang pintu kamar Ilwa.
"Keluarga mengatakan kau tidak punya masa depan karena sirkuit manamu terkunci. Tapi tadi... pendaran biru itu. Jangan coba-coba membodohiku dengan mengatakan itu hanya keberuntungan. Di mana kau mempelajari teknik *Blue Veil*?"
Ilwa hanya menatap Leo dengan pandangan dingin yang kosong.
Tidak ada rasa takut, tidak ada kebencian, hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Di mata Ilwa, kemarahan Leo hanyalah rengekan seorang anak kecil yang dunianya baru saja diguncang oleh kenyataan yang tidak ia sukai.
"Bicaralah, bisu!" bentak Leo, tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya.
Ilwa menghela napas pendek, sebuah helaan napas yang membuat dadanya sedikit nyeri. "Apakah itu penting bagimu, Leo?" suaranya terdengar sangat tenang, hampir seperti bisikan angin di malam hari.
Leo tertegun sejenak mendengarnya, namun sebelum ia sempat membalas, Ilwa sudah kembali membalikkan tubuhnya dan menarik kopernya keluar,
melewati Leo seolah-olah sepupu besarnya itu hanyalah bagian dari dekorasi asrama yang tidak penting.
Perjalanan pulang baru saja dimulai, namun benih-benih persaingan yang mematikan telah tertanam kuat di antara dinding-dinding barak tersebut.
bersambung...