NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pura-pura Sempurna

Lampu-lampu kristal di lobi teater bioskop itu memantulkan cahaya yang gemerlap, menciptakan suasana romantis yang bagi sebagian besar pasangan adalah puncak dari malam minggu yang sempurna. Di tengah kerumunan orang yang mengantre popcorn dan minuman, Denzel Shaquille berdiri dengan tenang. Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru tua yang pas di tubuhnya, lengannya digulung hingga siku—sebuah tampilan yang jauh lebih santai dari jas formal yang biasa ia kenakan, namun tetap memancarkan aura wibawa yang tak bisa disembunyikan.

Di sampingnya, Seraphina tampak sangat bahagia. Ia mengenakan gaun musim panas berwarna kuning cerah, jemarinya melingkar di lengan Denzel seolah tidak ingin melepaskan pria itu sedetik pun. Bagi Seraphina, malam ini adalah bukti bahwa mimpinya menjadi kenyataan. Pria misterius, tangguh, dan sangat sopan ini akhirnya menjadi miliknya.

"Denzel, apa kau suka film yang tadi kita pilih?" tanya Seraphina sambil menatap wajah Denzel dengan binar pemujaan.

Denzel menoleh, memberikan senyuman tipis yang sudah ia latih di depan cermin paviliunnya pagi tadi. Senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup meyakinkan bagi siapa pun yang tidak benar-benar mengenalnya. "Pilihanmu selalu bagus, Sera. Ceritanya cukup menarik."

"Aku suka bagian di mana pria itu rela melepaskan segalanya demi keselamatan wanita yang dia cintai," bisik Seraphina, ia menyandarkan kepalanya di bahu Denzel saat mereka berjalan menuju pintu keluar. "Itu sangat heroik. Seperti kau."

Denzel terdiam sejenak. Heroik? batinnya pahit. Jika Seraphina tahu bahwa setiap langkah yang ia ambil bersamanya malam ini adalah bagian dari "protokol keamanan" untuk melindungi wanita lain, apakah Seraphina masih akan menganggapnya pahlawan? Denzel merasa seperti seorang penipu ulung yang sedang memainkan peran panggung paling melelahkan dalam sejarah hidupnya.

"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Sera," jawab Denzel pelan.

Mereka melanjutkan malam itu dengan makan malam di sebuah restoran Italia yang tenang. Denzel melakukan segalanya dengan presisi yang menakjubkan. Ia menarikkan kursi untuk Seraphina, menuangkan air mineral dengan gerakan yang elegan, dan mendengarkan setiap cerita Seraphina tentang tugas-tugas kuliahnya dengan anggukan yang tepat. Ia adalah definisi dari pacar ideal—perhatian, protektif, dan selalu ada.

Namun, di balik topeng kesempurnaan itu, jiwa Denzel sedang berteriak.

Setiap kali ia melihat Seraphina tertawa, ingatannya justru memutar rekaman suara tawa Leah yang lebih renyah. Setiap kali ia mencium aroma parfum bunga mawar milik Seraphina, indra penciumannya justru merindukan aroma sabun mandi bayi yang lembut yang biasa tercium dari rambut Leah saat mereka berada di dalam mobil. Denzel sedang makan bersama Seraphina, namun pikirannya sedang berada di meja makan kediaman Ramiro, membayangkan apakah Leah sudah makan malam atau apakah Jeff sedang mengganggunya lagi.

"Denzel? Kau melamun?" suara Seraphina memecah lamunannya.

Denzel tersentak kecil, namun segera menguasai diri. Ia menyesap anggur merahnya perlahan. "Maaf, Sera. Hanya memikirkan beberapa laporan audit yang harus kuselesaikan untuk Tuan Zefan besok pagi."

"Kau ini kerja terus," Seraphina mengerucutkan bibirnya, namun kemudian ia tersenyum lagi. "Tapi tidak apa-apa. Aku suka pria yang berdedikasi. Itu membuatku merasa... aman."

Aman. Kata itu kembali menghantam Denzel. Ia memberikan rasa aman yang palsu kepada Seraphina, sementara ia membiarkan dirinya sendiri hancur dalam ketidakpastian.

Setelah makan malam, mereka berjalan santai menuju area parkir mal yang luas. Udara malam Jakarta yang lembap tidak menyurutkan semangat Seraphina. Saat mereka melewati sebuah butik pakaian wanita, langkah Denzel tiba-tiba terhenti.

Matanya terpaku pada sosok mahasiswi yang sedang berdiri di depan pintu masuk butik, memunggungi mereka. Gadis itu memiliki postur tubuh yang hampir identik dengan Leah. Rambutnya hitam panjang, bergelombang sedikit di bagian ujungnya, dan ia mengenakan kardigan berwarna krem—warna favorit Leah jika sedang merasa kedinginan.

Jantung Denzel berdegup kencang secara tidak sadar. Leah? Sedang apa dia di sini sendirian? Bukankah dia bilang ingin tidur awal?

Secara refleks, tangan Denzel yang tadinya digenggam oleh Seraphina sedikit mengendur. Matanya tidak berkedip, memantau setiap gerak-gerik gadis itu. Insting protektifnya bangkit dalam hitungan detik. Ia hampir saja melangkah maju, hampir saja memanggil nama itu, sebelum gadis tersebut berbalik untuk bicara pada temannya.

Bukan Leah.

Wajah gadis itu berbeda. Sorot matanya berbeda. Senyumnya... tidak memiliki lesung pipit yang biasa menghiasi wajah Leah.

Denzel merasakan kekecewaan yang luar biasa dingin menjalar di punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang tadi sempat menggila. Ia menyadari betapa menyedihkannya dirinya saat ini. Bahkan di tengah kencannya dengan wanita lain, radarnya tetap terkunci pada bayangan seorang gadis yang secara sadar telah mengusirnya.

"Denzel? Ada apa? Kau melihat hantu?" Seraphina memperhatikan perubahan ekspresi Denzel yang sempat menegang.

"Bukan apa-apa, Sera. Aku hanya... mengira melihat seseorang yang kukenal," jawab Denzel, suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia segera menarik kembali tangan Seraphina, meremasnya sedikit lebih erat—bukan karena cinta, tapi karena rasa bersalah yang tiba-tiba membuncah.

"Kau sepertinya sangat lelah hari ini. Apa kita sebaiknya pulang saja?" tanya Seraphina dengan nada cemas yang tulus.

"Ya, mungkin itu ide yang bagus. Maafkan aku, Sera. Seharusnya malam ini lebih menyenangkan bagimu."

Di dalam mobil selama perjalanan pulang, Denzel tetap memaksakan diri untuk bersikap manis. Ia memutar musik yang disukai Seraphina, ia menanyakan rencana akhir pekan gadis itu berikutnya, dan ia bahkan sempat mengelus punggung tangan Seraphina saat mereka berhenti di lampu merah. Ia melakukan semua itu seperti robot yang telah diprogram untuk menjadi "pacar sempurna". Ia memberikan Seraphina apa yang ia inginkan, namun ia menahan satu-satunya hal yang sebenarnya diinginkan oleh setiap pasangan: jiwanya.

Pikirannya terus melayang. Ia membayangkan Leah sedang duduk di balkon kamarnya sekarang, mungkin menatap bintang-bintang sambil bertanya-tanya apakah keputusannya untuk mendorong Denzel pergi adalah benar. Denzel merasa seperti pengkhianat. Ia mengkhianati Seraphina dengan memberikan harapan palsu, dan ia mengkhianati dirinya sendiri dengan berpura-pura telah berpindah hati.

Sesampainya di depan rumah Seraphina, Denzel turun dan membukakan pintu mobil dengan gerakan yang sangat sopan. Ia berdiri di sana, menatap Seraphina yang tampak enggan untuk berpisah.

"Terima kasih untuk malam yang indah ini, Denzel," ucap Seraphina lembut. Ia berjinjit dan mencium pipi Denzel singkat. "Kau benar-benar sempurna. Aku merasa sangat beruntung."

Denzel hanya bisa tersenyum tipis. "Selamat malam, Sera. Istirahatlah yang cukup."

Saat mobil sedan hitam itu meluncur pergi meninggalkan kediaman keluarga Aeru, Denzel segera melonggarkan dasinya dengan kasar. Ia menurunkan kaca jendela, membiarkan angin malam yang dingin menghantam wajahnya, mencoba membuang sisa-sisa aroma parfum Seraphina dari indranya. Ia merasa sangat lelah—kelelahan yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur delapan jam.

Ia memacu mobilnya kembali ke kediaman Ramiro. Saat melewati gerbang besar rumah utama, matanya secara otomatis mendongak ke arah lantai dua. Kamar Leah. Lampunya masih menyala.

Denzel menghentikan mobil di paviliunnya, namun ia tidak segera turun. Ia bersandar di kursi pengemudi, menatap langit-langit mobil yang gelap. Ia teringat bagaimana ia hampir memanggil nama Leah di mal tadi hanya karena melihat punggung seseorang yang mirip dengannya. Ia menyadari bahwa ia sedang membangun sebuah istana megah untuk Seraphina, namun pondasinya hanyalah debu dan kebohongan.

Aku bisa berpura-pura sempurna di depan dunia, Leah, batin Denzel pedih. Aku bisa menjadi pria yang kau inginkan untuk Sera. Tapi bagaimana caranya aku berhenti mencari bayanganmu di setiap kerumunan? Bagaimana caranya aku berhenti merasa bahwa setiap detik yang kuhabiskan tanpamu adalah sebuah pemborosan nyawa?

Malam itu, Denzel Shaquille tidur dengan rasa bersalah yang bertumpuk. Ia telah berhasil memerankan pacar ideal. Ia telah memuaskan keinginan majikannya. Ia telah membuat Seraphina terbang tinggi ke awan. Namun, ia menyadari bahwa semakin tinggi ia menerbangkan Seraphina dengan harapan palsunya, maka akan semakin hancur gadis itu saat kebenaran akhirnya terungkap.

Dan yang paling menyakitkan adalah, ia melakukan semua kepura-puraan ini hanya agar ia bisa tetap berada cukup dekat untuk melihat Leah dari kejauhan. Sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah kesetiaan yang tak pernah diminta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!