NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24: Pembebasan Massal

Portal emas itu berderit, mengeluarkan suara seperti logam yang dipaksa patah di bawah tekanan gravitasi yang luar biasa. Li Chen melangkah keluar dari pusaran dimensi, mendarat di atas lantai kristal bening yang memancarkan cahaya putih murni yang menyakitkan mata. Di belakangnya, Kahn dan seribu prajurit elit Sekte Iblis Bintang muncul dengan senjata terhunus, napas mereka memburu saat berhadapan dengan atmosfir yang begitu padat dengan energi suci.

​Mereka tidak lagi berada di Benua Utara. Mereka berada di Penjara Cahaya Abadi, sebuah dimensi saku yang melayang di antara Langit Atas dan kehampaan. Di tempat ini, tidak ada malam. Hanya ada cahaya abadi yang dirancang untuk membakar perlahan jiwa-jiwa yang dianggap berdosa oleh Kuil Matahari.

​"Bau ini..." Li Chen mengendus udara. "Bau keputusasaan yang dibungkus dengan kesucian."

​Di hadapan mereka membentang labirin raksasa yang terdiri dari ribuan pilar cahaya. Di dalam setiap pilar, terdapat sesosok bayangan yang terperangkap—merintih, berteriak tanpa suara, esensi mereka diperas tetes demi tetes untuk memberi makan kemewahan para Dewa di atas sana.

Siapa yang berani menodai kesucian Penjara Cahaya?!" sebuah suara menggelegar dari puncak labirin.

​Sesosok pria tua dengan jubah putih yang sangat panjang turun dari langit. Di tangannya, ia memegang sebuah timbangan emas dan pedang lebar yang memancarkan hukum "Kehancuran". Ia adalah Hakim Agung Kael, salah satu dari empat penjaga gerbang tertinggi Langit Atas.

​"Ranah Transformasi Dewa Puncak..." Kahn berbisik, memegang kapaknya lebih erat. "Tuanku, orang ini... auranya berbeda dari Pembersih yang kita hadapi tadi."

​Li Chen maju selangkah, rambut peraknya melambai ditiup angin energi yang kacau. "Kael. Aku mengenal namamu dari ingatan para pecundang yang kutelan. Kau adalah orang yang menandatangani vonis mati untuk klanku sepuluh ribu tahun yang lalu."

​Hakim Kael menyipitkan mata, menatap tanda bintang di dahi Li Chen. "Jadi, kau adalah benih sisa itu. Kau seharusnya sudah mati di dalam rahim ibumu. Keberadaanmu adalah pelanggaran terhadap hukum semesta."

​"Hukummu hanyalah rantai untuk mereka yang lemah," balas Li Chen dingin. "Hari ini, aku akan mematahkan timbanganmu."

​Kael mengangkat pedang kehancurannya. "Hukum Pertama: Kehancuran Fisik!"

​Seketika, ruang di sekitar Li Chen mulai runtuh. Molekul udara berubah menjadi belati cahaya yang mencoba merobek sel-sel tubuhnya. Namun, Li Chen yang kini telah menyatu dengan Jantung Bintang hanya berdiri diam.

​"Seni Penelan Bintang: Domain Void!"

​Sebuah lingkaran kegelapan murni melebar dari kaki Li Chen. Segala bentuk hukum "Kehancuran" yang menyentuh domain itu seketika kehilangan massanya, tersedot ke dalam ketiadaan. Li Chen melesat maju, pedang Takdir Sembilan Bintang miliknya beradu dengan pedang emas Kael.

​CLANG!

​Getaran dari benturan itu menghancurkan ratusan pilar cahaya di sekitar mereka. Bayangan-bayangan di dalamnya mulai terjatuh ke lantai kristal.

​Bangkitnya Para Terbuang

​Li Chen menyadari sesuatu saat ia melihat para tawanan yang terlepas. Mereka bukan hanya kultivator biasa. Banyak dari mereka memiliki tanda bintang yang sama dengannya, meski sudah sangat redup. Mereka adalah sisa-sisa klan Iblis Bintang yang ditangkap selama ribuan tahun.

​"Kahn! Jangan fokus padaku!" teriak Li Chen sambil menahan tekanan pedang Kael. "Hancurkan semua pilar! Berikan mereka esensi darah dari musuh yang kita bawa! Bangunkan saudaramu!"

​Kahn mengerti. Ia memimpin pasukan Sekte Iblis Bintang untuk menyerbu para penjaga penjara yang mulai bermunculan dari balik cahaya. "Anak-anak Iblis Bintang! Hancurkan penjara ini! Bebaskan leluhur kita!"

​Pertempuran pecah di seluruh dimensi penjara. Prajurit Sekte Iblis Bintang bertarung seperti serigala lapar, sementara para penjaga cahaya mencoba mempertahankan ketertiban dengan sihir matahari mereka. Setiap kali seorang penjaga jatuh, Kahn akan mengalirkan energi darah musuh itu ke dalam pilar-pilar cahaya.

​Satu per satu, pilar itu pecah.

​Dari dalam pilar pertama, keluar seorang pria tua kurus kering dengan mata yang masih memancarkan api ungu. "Berapa lama... sudah berapa lama aku di sini?"

​"Sepuluh ribu tahun, Tetua!" teriak Kahn. "Pewaris Bintang telah kembali! Makanlah ini!" Kahn melemparkan kristal energi hasil jarahan di Istana Es.

​Pria tua itu menelan kristal itu, dan seketika auranya meledak. Ia adalah seorang ahli ranah Transformasi Dewa dari zaman purba yang jiwanya telah dipadatkan oleh penderitaan.

​"Matahari... aku akan meredupkan matahari mereka!" raung sang tetua purba, tangannya berubah menjadi cakar bayangan yang langsung merobek lima penjaga cahaya sekaligus.

​Fenomena ini terjadi berulang kali. Ribuan tawanan—prajurit bintang, alkemis terlarang, hingga jenderal iblis—bangkit dari tidur panjang mereka. Mereka yang tadinya adalah "baterai" bagi Langit Atas, kini menjadi mimpi buruk yang paling nyata.

​Kehancuran Sang Hakim

​Hakim Kael melihat situasi yang berbalik dengan cepat. Wajahnya yang tenang berubah menjadi penuh kepanikan. "Berhenti! Jika kau membebaskan mereka semua, keseimbangan Langit akan hancur! Dunia bawah akan ditelan kegelapan!"

​"Bagus," desis Li Chen. "Biarkan kegelapan menguasai dunia, karena setidaknya di dalam gelap, kita semua setara."

​Li Chen melepaskan kekuatan penuh Jantung Bintang di dalam tubuhnya.

​"Gerbang Ketigabelas: Kiamat Sembilan Bintang!"

​Sembilan bintang di belakang Li Chen menyatu menjadi satu bola hitam raksasa di ujung pedangnya. Ia menusukkan pedang itu ke arah jantung Kael.

​Kael mencoba menangkis dengan timbangan emasnya, namun timbangan itu hancur berkeping-keping. Pedang Li Chen menembus dadanya, dan lubang hitam kecil di ujung pedang itu mulai melahap jiwa sang Hakim Agung.

​"Kau... kau bukan lagi manusia..." rintih Kael saat tubuhnya mulai terhisap ke dalam pedang Li Chen.

​"Aku adalah pembalasan yang kau tulis sendiri sepuluh ribu tahun lalu," jawab Li Chen.

​Dengan suara SLURP yang mengerikan, Hakim Agung Kael menghilang sepenuhnya, kekuatannya diserap oleh Li Chen untuk menstabilkan ranah Kenaikan (Ascension) miliknya.

​Reuni di Tengah Puing

​Setelah Kael jatuh, perlawanan para penjaga cahaya runtuh. Ribuan tawanan kini berdiri di aula besar penjara yang sudah hancur. Mereka berlutut di hadapan Li Chen—pasukan yang terdiri dari lima ribu ahli ranah Jiwa Baru dan ratusan ahli Transformasi Dewa dari masa lalu.

​Li Chen berjalan menuju pilar pusat yang paling besar, tempat ibunya, Li Xue'er, kembali dipenjara setelah pelarian singkat di Kuil Matahari.

​"Ibu," Li Chen membelah pilar itu dengan satu tebasan lembut.

​Li Xue'er jatuh ke pelukannya. Ia menatap ribuan orang yang berlutut dan kemudian menatap anaknya. "Chen'er... kau telah mengumpulkan kembali pecahan-pecahan bintang kita."

​"Ini baru permulaan, Ibu," kata Li Chen, suaranya mantap. "Kita punya pasukan sekarang. Kita punya kekuatan."

​Li Chen berbalik menghadap pasukannya yang baru. "Kalian semua telah menderita di bawah cahaya palsu mereka! Hari ini, kita tidak akan lari ke dunia bawah! Kita akan naik ke puncak Kuil Matahari! Kita akan mengambil kembali tahta yang menjadi milik kita!"

​"HIDUP PENGUASA BINTANG! HIDUP SEinternal IBLIS BINTANG!"

​Teriakan itu mengguncang dimensi penjara hingga retak. Li Chen mengangkat pedangnya ke atas, menunjuk ke arah celah dimensi yang menuju langsung ke jantung Langit Atas.

​"Kahn, pimpin barisan depan. Tetua Purba, jaga sisi sayap. Ibu... pimpin kami dengan cahayamu yang murni."

​Li Chen melangkah maju ke arah celah itu. Ia tahu bahwa di luar sana, sisa tiga Hakim Agung dan Dewa Tertinggi sudah menunggu. Namun kali ini, ia tidak lagi membawa dendam seorang diri. Ia membawa amarah dari sebuah ras yang telah ditindas selama sepuluh ribu tahun.

​Pembebasan massal telah selesai. Sekarang, invasi total dimulai.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!