Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Malam itu setelah Jihan pulang dari kantor. Dia duduk termenung di sofa rumahnya, pandangannya kosong menatap lantai.
Wajahnya tampak pucat dan penuh kekhawatiran, pikirannya terjebak pada semua kejadian yang telah dan akan terjadi. Memikirkan apa yang terjadi selanjutnya.
Jihan berpikir sejenak, apakah dia harus kabur dari Hendrick dan Regina dan pergi dari sejauh mungkin agar terhindar dari takdir kejam yang akan menimpa dirinya?.
Tangannya menggenggam selimut di pangkuannya erat, kuku hampir menusuk kulitnya karena ketakutan yang luar biasa.
"Apa sebaiknya aku berhenti kerja dan kabur sejauh mungkin dari mereka...?" gumam Jihan dengan suara yang lembut namun juga merasa bingung, badannya sedikit menggigil saat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun itu tidak mungkin, uang yang pensiun dari perusahaan dan yang dia miliki saat ini tidak cukup untuk membiayai hidupnya. Jihan tahu bahwa kabur dari mereka adalah keputusan yang tidak mungkin, dia menghela napas panjang dengan suara berat.
Mata nya menatap ke arah langit malam dengan rasa putus asa. Walaupun dia pergi sejauh mungkin takdir akan tetap membawa dirinya kembali menemui takdir yang sangat tragis.
"Akh... Betul! Saat itu Hendrick memaksa ku untuk menikah dengannya tahun ini Karena dia bangkrut sehabis membeli saham...!" ucap Jihan dengan suara yang sedikit meninggi dan penuh kemarahan.
Sejenak Jihan terdiam mengingat alasan Hendrick untuk menikah dengan dirinya, wajahnya memerah karena kesal saat mengingat bagaimana dia dipergunakan oleh Hendrick pada saat itu.
Saat itu Hendrick yang membeli saham crypto di perusahaan A, dengan seluruh uang yang dia miliki. Namun sayang perusahaan itu bangkrut. Seluruh uangnya di bawa kabur ke luar negeri. Saat itu kebetulan Jihan mendapatkan warisan dari ayahnya. Dengan uang itu Jihan melunasi hutang Hendrick.
Namun sayang setelah mereka berdua menikah Hendrick memutuskan untuk berhenti berkerja dan dirinya yang harus membiayai kebutuhan sehari-hari. Jihan menutup matanya sebentar, rasa sakit masa lalu kembali menghantui dirinya.
Karena terlalu lelah berkerja dan kurangnya istirahat, dan juga Jihan akhirnya tahu sifat Hendrick yang sebenarnya yang sangat manja dan kekanak-kanakan.
Hal itu yang membuat dirinya menjadi stres dan akhirnya terkena kanker perut, Jihan menggigil sejenak, tangan nya kemudian menyentuh perutnya saat mengingat penyakit yang pernah menimpanya.
Jihan kemudian melihat ke arah jam dinding waktu menunjukkan pukul 22:30. Saat itu Jihan ingat bahwa di kehidupan sebelumnya ayahnya mengalami kecelakaan mobil pukul 23:00 lebih. Waktunya tinggal 30 menit lagi, jantungnya berdebar kencang, keringat dingin muncul di dahinya karena rasa takut yang luar biasa.
Jihan yang sangat khawatir akhirnya memutuskan untuk menghubungi ayahnya. Dengan perasaan yang sangat khawatir dengan ayahnya Jihan mengambil ponselnya lalu menghubungi sang ayah, tangan nya gemetar saat menekan nomor ayahnya, matanya berkaca-kaca sudah terbayang kecelakaan yang akan terjadi.
📲 Tut...! Tut...!
"Ayah tolong angkat...!" ucap Jihan dengan suara yang bergetar dan penuh harapan, sambil menggigit ujung jarinya hingga hampir merah, setiap detik yang berlalu membuatnya semakin gelisah.
Jihan berjalan mondar-mandir di tempat. Akhirnya telponnya tersambung. Sang ayah mengangkat panggilan telepon dari dirinya.
"Hallo nak!" ucap sang ayah lewat telepon dengan suara yang hangat.
"Hallo, ayah! Ayah sekarang di mana...?" tanya Jihan dengan suara yang cepat dan penuh kekhawatiran.
Saat itu Jihan takut ayahnya akan pulang melewati jalur jembatan, tempatnya mengalami kecelakaan, napasnya terengah-engah karena ketegangan yang luar biasa.
"Ada apa kamu menghubungi ayah malam-malam? Ayah saat ini sedang dalam perjalanan pulang!" jawab sang ayah dengan nada yang sedikit heran.
Jihan kemudian bertanya kepada ayahnya apakah dirinya pulang lewat jalur jembatan. Suaranya sedikit gelisah, setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan ketakutan akan kembali kehilangan sang ayah yang sangat ia cintai.
"Ayah! Apakah ayah sekarang sedang menuju jembatan...?" tanya Jihan, dengan suara yang serak dan rasa khawatir yang luar biasa.
" Tidak! Ayah tidak lewat sana, seperti yang kamu bilang sebelumnya, ayah akhirnya tidak lewat jembatan... Ada apa sebenarnya...?" ucap sang ayah lewat telepon, kembali bertanya apa sebenarnya maksud dari Jihan melarang dirinya lewat jembatan.
"Tidak apa-apa ayah! Ayah hati-hati bawa mobilnya" ucap Jihan dengan suara yang tiba-tiba menjadi lega, wajahnya sedikit tenang dan lega setelah mendengar jawaban dari sang ayah, Jihan menghela napas panjang yang sudah lama tertahan, rasa lega mengalir dalam dirinya.
Namun tepat saat pukul 23:00 lebih. Terdengar bunyi klakson mobil yang keras dan menusuk telinga. Dan bunyi sebuah tabrakan yang sangat keras di ponsel Jihan.
Toot..! Toot...!
Bunyi klakson mobil terdengar dengan jelas dari ujung telepon. Saat itu sebuah mobil truk besar melaju dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi. Kemudian menghantam mobil sang ayah dari depan.
__!
____!
BRUGGG!
Suara tabrakan mobil terdengar sangat jelas di telinga Jihan. Seketika Jihan membeku sepenuhnya, tangan dan tubuhnya gemetar hebat, matanya membesar dengan tidak percaya, air mata langsung membanjiri pipinya.
Jihan tanpa sadar menjatuhkan ponsel yang dia pegang, bagaikan petir di siang hari, hatinya hancur berkeping-keping dengan duka yang mendalam, ponselnya jatuh ke lantai dengan suara kecil namun terdengar seperti guntur di dalam kepalanya.
Brak!
"A... Yah...!" ujar Jihan dengan suara yang tercekik, tubuhnya kemudian goyah dan terjatuh ke lantai dengan keras, matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena bercucuran air mata.
"Hiks! Hiks! Ayah!" teriak Jihan dengan sangat kencang, suaranya penuh dengan kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa, tangannya menggenggam lantai seperti ingin meraih sesuatu yang tidak bisa diraih.
Panggilannya kemudian terputus. Apa yang dia takuti akhirnya terulang kembali. Ayahnya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, Jihan duduk lemas di lantai, tubuhnya menggigil hebat sambil menangis dengan suara teredam penuh kesedihan dan luka yang amat dalam.
"Ayah! Ayah! Tidak...!" ucap Jihan dengan penuh kesedihan, suaranya sudah mulai serak karena menangis terlalu keras. Air mata mengalir deras membasahi pipinya dan lantai di sekitarnya.
Dirinya yang gemetar tidak sanggup lagi menahan luka dan kesedihan atas kehilangan sang ayah. Jihan akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri di tempat, badannya terbaring lemah di lantai, mata nya menutup perlahan dengan wajah yang penuh dengan kesedihan yang mendalam.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ