ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8--Strategi Kembang Api dan harga selangit
Suasana di ruangan itu mendadak hening. Pak Hendra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Rahmat dengan tatapan tajam, mencoba mencari celah keraguan di mata pemuda itu. Tiga ratus juta untuk sebuah galeri yang bahkan belum buka resmi? Itu angka yang berani.
Maya di pojokan sudah hampir pingsan. Tangannya gemetar memegang nampan teh yang baru saja ia siapkan. ‘Tiga ratus juta? Kak Rahmat sinting! Itu kan cuma keris!’ teriak Maya dalam hati.
"Tiga ratus juta..." Pak Hendra bergumam, suaranya berat. "Anak muda, Anda tahu harga pasar keris meteorit biasanya tidak setinggi itu kecuali punya silsilah sejarah yang jelas?"
Rahmat tetap tenang. Ia melirik Bella, memberi kode "lampu hijau".
Bella langsung beraksi. Ia mendekat ke arah meja dengan gaya lincah, meletakkan cangkir teh di depan Pak Hendra dengan gerakan yang sangat sopan tapi tetap ceria.
"Aduh, Om Hendra... Om kan pakar nih, pasti tahu dong kalau nilai seni itu nggak cuma soal silsilah kertas," ucap Bella sambil memiringkan kepalanya, telinga kucing di topinya ikut bergoyang. "Keris ini tuh beda! Pas Kak Rahmat dapetinnya, auranya itu lho ... bener-bener kayak naga hidup. Om tahu nggak? Logam meteoritnya itu punya pola yang kalau kena cahaya bulan bisa kayak kedip-kedip gitu!"
Bella melebih-lebihkan dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan, seolah-olah dia adalah saksi mata kejadian mistis.
Padahal dia cuma ngawur cerita untuk membuat dia tertarik, lihat barang yang dimaksud keris saja kagak
"Ditambah lagi," Bella merendahkan suaranya, berbisik seolah membocorkan rahasia negara. "Kak Rahmat ini sebenarnya nggak mau lepas barang ini. Katanya buat 'penjaga' galeri. Kalau bukan karena Om dari Museum Nasional yang dateng mungkin kak Rahmat sudah usir om!"
Pak Hendra tertawa kecil. Aura kaku dari kurator senior itu perlahan mencair karena ocehan Bella yang penuh energi. "Kamu benar-benar punya sales marketing yang berbahaya, Nak."
Rahmat menyeringai. "Jadi, Pak Hendra? Tiga ratus juta adalah harga yang adil untuk benda yang jatuh dari langit, secara harfiah."
Pak Hendra menghela napas, ia membuka katalognya lagi. "Baiklah. Saya akui, barang ini memang langka. Tapi Museum Nasional punya prosedur budget. Saya bisa kasih dua ratus lima puluh juta tunai sekarang, atau tiga ratus juta tapi dengan syarat Anda harus memberikan dokumen kepemilikan yang sah."
[DING!]
[Kemampuan analisis tren sosial aktif!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM NOTIFIKASI]
Tuan Rumah mendeteksi keraguan Target.
Saran: Tolak tawarannya. Tunjukkan bahwa Tuan tidak butuh uangnya.
Coba naikkan harga lagi untuk membuat pelanggan terdesak dan terpaksa beli.
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menyandarkan punggungnya di kursi jati. Ia menyesap tehnya perlahan.
"Maaf, Pak Hendra. Saya rasa saya berubah pikiran."
Maya dan Bella serentak menoleh. "Eh?"
'kak Rahmat maksudnya gimana? Kok gak brifing bella dulu?' batin gadis bertopi telinga kucing itu.
"Harganya naik jadi Lima Ratus Juta," ucap Rahmat santai.
"Apa?!" Pak Hendra terlonjak. "Tadi Anda bilang tiga ratus! Kenapa malah naik?"
"Karena barusan saya baru sadar," Rahmat menatap jam tangannya yang mahal.
"Bahwa dalam lima menit bicara dengan Anda, nilai seni keris itu di mata saya bertambah karena saya menyadari betapa sangat menginginkannya Anda. Dan sebagai pemilik ruko ini... saya tidak sedang butuh uang."
Rahmat menunjukkan ponselnya yang memperlihatkan notifikasi belanja ratusan nuta di mal tadi. Pak Hendra tertegun melihat angka transaksi yang baru saja dilakukan Rahmat. Pemuda di depannya ini bukan pedagang kecil yang butuh modal, tapi "Sultan" yang sedang bermain-main.
Dasar anak muda gila!
Bella yang melihat situasi makin panas, langsung menimpali dengan gaya polosnya. Naluri bacotnya mengatakan bahwa ini adalah momen yang pas, untuk bicara. Ada sebuah celah untuk memanas manasi.
"Wah, Om! Mending ambil sekarang deh! Kak Rahmat kalau udah bilang naik, biasanya semenit lagi bisa jadi satu miliar lho. Kak Rahmat itu orangnya... impulsif banget kalau soal koleksi!"
Pak Hendra berkeringat dingin. Ia tahu jika ia kehilangan keris ini, ia akan menyesal seumur hidup sebagai kurator.
"Ini lebih ke arah licik dan berhati iblis alih alih impulsif."
Lalu ruangan hening, mendadak sunyi. Dia Melihat keris yang sudah di taruh di depan matanya. Sebagai kurator dia akui ini bernilai tinggi, dan asli.
Namun harga 500 juta itu kebangetan walau memang barang ini super langka dan dia cari di satu Indonesia pun baru ketemu ini.
"Hmm, gawat nih. Setelah kupikir lagi ini kan barang super langka, di Indonesia aku yakin cuma ada di tempatku. Kurasa aku harus menaikan harga—'
Bajingan dasar bocah licik! Dia tahu bahwa hanya dia yang punya barang ini dang menggunakan sebagai trik Penaikan harga. Sungguh pikiran iblis.
Dia tidak menyangka anak semuda ini punya pikiran nista begini, dunia kali sudah gila.
"Cukup! Cukup! Lima ratus juta... saya ambil! Jangan dinaikkan lagi!"
Rahmat tersenyum dalam diam. "Nah gini dong, baru asik."
Setelah melakukan pengecekan lebih dalam, pak Hendra yakin. Barang ini gak diragukan lagi asli, dia langsung melakukan pembayaran.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[TRANSAKSI BERHASIL!]
Penjualan: Keris Nogo Siluman (Item Gacha).
Harga Jual: Rp500.000.000.
Bonus Sistem: 10x Lipat Keuntungan Diaktifkan!
[Selamat! Rp5.000.000.000 telah masuk ke saldo Anda!]
━━━━━━━━━━━━━━━
Maya yang sedang membawa nampan langsung lemas. Kakinya gemetar. 'tadi tiga ratus juta! Sekarang lima ratus juta! Orang pada gila!'
Pak Hendra segera menandatangani berkas kesepakatan dengan tangan gemetar, sementara Bella bersorak kegirangan sambil melompat kecil.
"Yeee! Kak Rahmat hoki banget hari ini! Selamat ya kak!"
Rahmat tertawa lepas, merangkul bahu Bella dengan akrab.
Sontak gadis itu merona karena malu sementara Rahmat merangkul bahu lebih erat.
Bella memang sangat menggemaskan! Super imut dan bisa diandalkan. Dia ini orang yang menginginkan adik cewek sejak kecil, Melihat bella yang selisih setahun membuat naluri itu kambuh.
Terlebih Melihat kehebatan bella dalam negosiasi, ternyata selain pintar bahasa inggris dia pintar ngomong juga, mungkin efek dari sering ketemu klien luar negeri.
Dia seperti Melihat adik cewek yang dia fantasikan sejak kecil muncul di kehidupannya, maka dari itu dia jadi sangat gemas.
"Bella kamu pinter banget yaampun ... Anak pintar - anak pintar!" Ucapan gemas seperti Melihat adik kecilnya sendiri.
"K-kak. Geli ... Juga malu, hentikan!" Ucapnya malu tapi mau.
Setelah beberapa saat dia melepaskan rangkulannya.
Lalu menatap Bella. "Makasih ya Bel, kalau kamu gak ikut nyerocos pak tua itu pasti akan merepotkan."
Bella tersenyum, dipuji seperti ini enak banget, dia jadi ketagihan. Lalu sebuah pikiran terlintas ide beberapa saat.
"Kalau begitu kak." Ucap bella. "Izinin aku jadi karyawan kakak! Aku mau balas budi dengan semua yang kakak lakuin ke aku!"
"Ha!?”