Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Pesta
Dan, hari pernikahan itu tiba. Kota dipenuhi sorotan. Ballroom megah dipenuhi tamu penting. Lampu kristal berkilau. Dekorasi putih dan emas menyatu sempurna.
"Hari ini, kita akan menyaksikan momen bahagia." Suara MC menggema, menghadap ke kamera, menyiarkan acara sakral secara live.
Rahman duduk di depan penghulu dengan setelan jasnya sempurna. Wajahnya tenang, saat sorot kamera mengarah padanya.
Di ujung sana, Camila berjalan perlahan. Gaun pengantin menjuntai panjang. Senyumnya penuh kemenangan.
Semua mata tertuju pada mereka, menyaksikan pernikahan impian yang akan segera di laksanakan.
Di saat yang sama, di desa Morana. Tidak ada lampu kristal. Tidak ada karpet merah. Yang ada hanya matahari yang terik, tanah yang basah, aroma menyengat dari pupuk dan suara cangkul yang beradu dengan tanah.
"Yang ini jangan lupa dipisah!" teriak Mela. "Soalnya, kualitasnya beda!"
Tangannya bergerak cepat, memilih sayur, mengikatnya dengan rapi, lalu menyusunnya di kotak.
"Mel, istirahat dulu," ujar Yati.
Mela menggeleng. "Nanti, mbak, nanggung. Soalnya, sayuran ini mau di ambil nanti sore."
Begitu pesanan siap, ia berpindah ke sisi lain lahan untuk memeriksa tanaman.
"Airnya cukup?" tanyanya.
"Cukup, Mel! Lancar jaya."
Darmi berdiri di kejauhan, terus memperhatikan. Sejak pernikahan mantan suami Mela di umumkan, Ia merasa Mela tidak berhenti bekerja. Dan, hari ini acara sakral itu berlangsung, di siarkan secara Live. Dan, tentu saja hal itu pasti mengganggu pikiran Mela. Meski, wanita itu tidak mengatakan apapun.
Darmi menghela napas pelan. "Dia lari kesana kemari, apa gak capek?"gumamnya.
Yati mengangguk. "Iya, tapi ... Dia tidak hanya lari untuk bekerja, tapi juga lari dari pikirannya sendiri."
"Aku merasa, sejak beli lahan baru, dia jadi super sibuk. Padahal, pekerjaan tidak terlalu berat karena tambah pekerja juga," timpal Surti.
"Ya, mau gimana lagi. Pasti, Mela pengen mengalihkan pikirannya dari hal-hal negatif," seru Darmi.
Mereka saling pandang. Lalu, menoleh ke arah satu orang.
Dino.
Pria itu sejak tadi membantu. Namun jelas, diam-diam juga memperhatikan Mela.
"Dino!" panggil Darmi pelan.
Dino menegakkan tubuhnya, lalu mendekat. "Ada apa, mbak?" tanyanya.
"Kamu, kan temen Mela. Dia itu keras kepala. Tolong, ingetin dia, jangan bekerja terlalu keras," bisik Darmi.
Dino menoleh ke arah Mela. Wanita itu masih bergerak tanpa henti, mengecek pekerjaan para pekerjanya.
Dino terdiam sejenak, lalu beralih pada Darmi dan yang lain dan mengangguk pelan.
Sore harinya, matahari mulai turun. Mela masih sibuk saat Dino mendekat.
"Mel!" panggilnya.
Mela menoleh. "Iya?"
"Istirahat dulu."
Mela menggeleng. "Masih banyak yang harus diselesaikan."
Dino tidak langsung menjawab. Dia menarik Mela, mengajaknya duduk di tempat yang teduh.
"Kalau kamu terus seperti ini, pekerjaan selesai, kamu yang tumbang." Dino menyodorkan botol minum padanya.
Mela menghela napas. "Aku baik-baik saja, mana mungkin tumbang." Meski menggerutu, Mela tetap menerima botol dari tangan Dino dan meneguknya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kita berkumpul," ucap Dino tiba-tiba.
Mela mengernyit. "Berkumpul?"
"Iya," jawab Dino. "Di rumahmu."
Mela langsung menggeleng. "Tidak usah. Aku capek. Lagian, buat apa kita kumpul di rumahku?"
"Justru itu," jawab Dino cepat. "Sekali saja, kita berhenti kerja. Bukan hanya untuk orang lain, tapi untuk kamu juga."
Dino ikut duduk di samping Mela. "Anggap saja, kita kumpul untuk syukuran."
"Syukuran?"
"Ya, Sejak pertama kamu membeli lahan, memulai usaha menanam sayuran, sampai sekarang sudah berjalan lancar, itu bukan hal kecil," seru Dino. "Kita patut bersyukur."
Mela terdiam. "Tapi... Ini terlalu mendadak. Lagipula, bukan aku tidak bersyukur. Dengan berbagi dengan yang lain, itu juga bentuk rasa bersyukur ku atas apa yang aku dapat saat ini."
"Aku tahu," seru Dino. "Tapi, kau tidak boleh menghilangkan tradisi desa. Ayolah, Mel. Kita kumpul-kumpul, ya. Tenang saja, aku yang siapkan semuanya.
Mela menghela napas panjang. "Dino... "
Dino sudah tersenyum, seolah tidak memberi ruang untuk ditolak. "Sekali ini saja."
Beberapa detik Mela diam, akhirnya ia mengangguk pelan.
"Ya sudah."
"Yes! Kalau begitu, aku beritahu yang lain dulu." Dino bangkit, berlari menghampiri Darmi, dan mengatakan acara nanti malam. Dia juga meminta Darmi memberitahu yang lain, mengundang tetangga dekat Mela. Setelah itu, dia menghubungi seseorang, memintanya menyiapkan bahan yang akan di gunakan berpesta nanti malam.
***
Dan malam pun tiba. Suasana terasa berbeda di halaman rumah Mela. Lampu sederhana dipasang, api dinyalakan. Jagung sudah di bakar, ayam dan ikan mulai dipanggang.
"Ayo sini!"
"Kopinya sudah jadi!"
"Tunggu, ini belum matang!"
Suara tawa memenuhi udara. Tidak hanya pekerja, tetangga juga datang.
Darmi, Yati, Asih, Surti bahkan warga lain yang dulu hanya melihat dari jauh, kini ikut duduk bersama.
Mela berdiri, melihat keramaian di depan rumahnya. Orang-orang berkumpul, tertawa, bercanda, membuat suasana terasa hangat. Sesuatu yang sudah lama, tidak ia rasakan.
"Mel, sini!" panggil Yati.
Mela tersenyum. Ia mendekat, lalu duduk di dekat Darmi dan yang lain.
"Kau mau makan jagung gak? Enak, lho," seru Asih.
"Boleh," jawab Mela.
Asih menghampiri tetangga yang sedang membakar jagung. Dia mengambil satu yang sudah matang dan memberikannya pada Mela.
"Ini, Mel." Asih menyodorkannya pada Mela.
"Makasih."
"Wah, aku gak nyangka, Dino niat banget nyiapin ini semua," ujar Surti. "Lihat! Ada ayam, ikan, terus itu ada sate dan gorengan. Wah, bakal kenyang aku."
"Untung aku ajak suami dan anak. Lumayan, makan gratis," timpal Yati.
Mereka tertawa mendengarnya. Tidak berapa lama, Ayam dan ikan sudah matang. Sebagian warga meletakkan beberapa daun pisang utuh, lalu menaruh nasi, sambal dan lauknya. Setelahnya, mereka duduk melingkar.
"Sebelumnya, saya sebagai ketua RT mengucapkan banyak terimakasih pada mbak Mela atas undangan makan malam hari ini. Semoga, usaha Mbak Mela semakin lancar... "
"AMIIIN!" sahut yang lain.
"Semakin sukses... "
"AMIIIN!"
"Pokoknya, semua doa-doa yang terbaik buat mbak Mela," seru Pak RT.
Mela tersenyum. "Terimakasih banyak, pak RT, bapak ibu semuanya. Karena sudah mendukung saya."
"SAMA-SAMA MBAK MELA!" jawab mereka serempak.
Acara berlanjut, mereka menikmati makan malam besar, sambil bercerita dan tertawa bersama.
Mela tersenyum melihat mereka dan, untuk sesaat ia tidak memikirkan apa pun. Tidak tentang masa lalu. Tidak tentang pernikahan itu.
Setelah acara makan malam selesai, mereka tidak langsung pulang. Mereka masih duduk di halaman Mela, menikmati kopi panas dan camilan yang tersedia.
Di sela keramaian itu, Dino menghampiri Mela dan duduk di samping Mela.
"Capek?" tanyanya pelan.
Mela tersenyum kecil. "Sedikit."
Hening sejenak.
"Mel!" panggil Dino pelan. "Ada yang mau aku lurusin."
Mela mengernyit. "Apa?"
Dino menarik napas. "Dulu... Aku sebenarnya mau ngomong sesuatu ke kamu. Tapi, sebelum itu Rahman datang."
Nama itu membuat suasana di antara mereka berubah.
"Rahman?"
"Ya," jawab Dino. "Dia bilang, kamu malu sama aku. Katanya, kamu nggak mau sama orang yang nggak punya apa-apa."
Mela membeku.
"Dan, dia juga bilang, kamu sengaja ke Jakarta buat ninggalin semua itu. Makanya aku mundur."
Mela menunduk, tangannya perlahan mengepal. "Itu tidak benar." Mela menggeleng pelan. "Aku nggak pernah berpikir seperti itu."
Mela menoleh dengan kedua mata yang mulai berembun. "Aku bahkan nggak tahu kamu mau ngomong apa waktu itu. Dan, aku nggak pernah lihat kamu dari apa yang kamu punya."
"Maaf." Mela menunduk dalam.
Dino menatapnya lama. Lalu, menghela napas pelan. "Bukan salahmu. Cuma, waktunya saja yang tidak tepat."
Mela tidak menjawab. Kedua tangannya saling menggenggam erat. "Memangnya, kamu mau ngomong apa waktu itu?"
Dino tertegun. Jantungnya berdebar kencang. Bibirnya terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu namun, tidak ada kata yang keluar.
"I-itu... A-aku... "
Mela memicingkan matanya. "Kenapa kamu jadi gagap begitu?"
Dino menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. "A-aku sebenarnya... Suka sama kamu, Mel. Apa... Aku masih ada kesempatan?"
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??