Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Perhatian Pertama
Malam itu, suasana rumah keluarga Wijaya terlihat kembali tenang di permukaan, seolah semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya tanpa gangguan berarti. Lampu-lampu menyala dengan terang yang sama, pelayan tetap bergerak rapi tanpa suara, dan setiap sudut rumah tampak teratur seperti tidak pernah ada ketegangan yang sempat mengisi ruang-ruangnya.
Namun ketenangan itu hanya terlihat dari luar, karena di baliknya ada sesuatu yang perlahan berubah dan tidak bisa lagi diabaikan begitu saja. Ada jarak yang tidak kasat mata, ada suasana yang tidak lagi sepenuhnya sama, meski tidak ada yang membicarakannya secara langsung.
Alyssa terbaring di kamarnya dengan tubuh yang masih terasa berat, setelah akhirnya dibawa ke sana oleh pelayan usai kejadian di ruang makan. Ia tidak benar-benar sadar saat dipindahkan, hanya samar-samar mengingat suara dan langkah di sekelilingnya sebelum semuanya kembali gelap.
Tubuhnya belum pulih sepenuhnya, bahkan untuk menggerakkan kepala saja terasa seperti membutuhkan usaha yang lebih dari biasanya. Napasnya berjalan pelan dan teratur, tetapi ada jeda-jeda kecil yang menunjukkan bahwa ia masih dalam kondisi lemah.
Kesadarannya beberapa kali naik dan turun, membuatnya sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Ia ingin membuka mata lebih lama, tetapi kelopak matanya terasa berat, seolah tubuhnya sendiri menolak untuk dipaksa bangun.
Di dalam kamar itu, tidak ada suara selain napasnya sendiri yang terdengar pelan. Tidak ada yang datang menjenguk, tidak ada tanda perhatian yang menunjukkan bahwa kondisinya dianggap penting.
Keadaan itu terasa sunyi dengan cara yang berbeda, bukan sekadar tanpa suara, tetapi juga tanpa kehadiran siapa pun yang benar-benar peduli. Seolah apa yang terjadi padanya hanyalah sesuatu yang akan berlalu dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan.
Di luar pintu, langkah kaki terdengar pelan menyusuri lorong, berhenti tepat di depan kamar Alyssa. Suara itu tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu, seperti seseorang yang sudah tahu ke mana harus pergi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum gagang pintu bergerak perlahan, membuka celah kecil yang cukup untuk melihat ke dalam ruangan. Cahaya dari lorong masuk tipis, menyentuh sebagian tempat tidur tempat Alyssa berbaring.
Daren berdiri di sana tanpa segera masuk, hanya menatap dari ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pandangannya jatuh pada Alyssa yang tidak banyak bergerak, memperhatikan wajah pucat dan tubuh yang terlihat lebih rapuh dari biasanya.
Rambut Alyssa sedikit berantakan, dan selimut yang menutup tubuhnya tampak terlalu besar, membuatnya terlihat semakin kecil di atas tempat tidur. Tidak ada reaksi dari wanita itu, hanya napas pelan yang menjadi tanda bahwa ia masih sadar meski tidak sepenuhnya.
Daren tidak langsung melangkah masuk, seolah ada sesuatu yang menahannya di tempat. Ia hanya berdiri beberapa saat, mencoba memahami apa yang ia lihat tanpa benar-benar yakin dengan pikirannya sendiri.
Setelah beberapa detik, ia menutup pintu kembali dengan gerakan yang tidak menimbulkan suara, lalu berbalik tanpa menoleh lagi. Langkahnya kali ini lebih cepat, terarah, seolah ia sudah mengambil keputusan tanpa ingin mengubahnya.
Ia menuju ruang kerja dengan langkah yang tetap tenang, mengambil ponselnya dari meja, lalu berhenti sejenak sebelum menekan nomor yang sudah ia hafal. Nada sambung terdengar beberapa kali, cukup singkat sebelum akhirnya diangkat.
“Halo?”
“Aku butuh dokter,” kata Daren dengan suara rendah yang terkontrol.
“Ada kondisi darurat?” tanya suara di seberang dengan nada profesional.
“Tidak,” jawab Daren singkat. “Tapi aku ingin pemeriksaan dilakukan malam ini.”
“Baik, Tuan.”
“Masuk dari pintu belakang,” tambahnya. “Dan jangan ada yang tahu.”
Ia memutus sambungan tanpa menunggu balasan lebih lanjut, lalu tetap berdiri beberapa detik dengan ponsel di tangannya. Pikirannya tampak berjalan lebih cepat dari biasanya, tetapi tidak ada tanda bahwa ia akan mengubah keputusan yang sudah dibuat.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, seorang pria paruh baya masuk melalui pintu belakang rumah dengan langkah yang terukur. Ia mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas medis yang sudah cukup menunjukkan tujuannya datang ke tempat itu.
Seorang pelayan menyambutnya tanpa banyak bicara, lalu mengarahkannya melalui jalur yang jarang dilalui penghuni rumah. Semua berjalan dengan tenang dan teratur, tanpa menarik perhatian siapa pun yang tidak perlu tahu.
Daren sudah menunggu di dekat lorong kamar dengan posisi yang tidak mencolok, tetapi cukup jelas bagi orang yang datang. Tatapannya langsung tertuju pada dokter itu saat mereka bertemu.
“Di dalam,” katanya pelan sambil mengangguk ke arah pintu.
Dokter itu mengangguk kembali, lalu mengikuti arah yang ditunjukkan tanpa bertanya lebih lanjut. Pintu kamar dibuka dengan hati-hati, memperlihatkan Alyssa yang masih terbaring dalam posisi yang hampir sama seperti sebelumnya.
Tidak banyak perubahan yang terlihat dari luar, kecuali napasnya yang sedikit lebih teratur dibandingkan beberapa waktu lalu. Dokter itu mendekat dan mulai memeriksa dengan gerakan yang tenang, memastikan setiap langkah dilakukan tanpa mengganggu kondisi Alyssa.
Ia memeriksa suhu tubuh, nadi, dan pernapasan dengan teliti, sesekali mengamati respons kecil dari tubuh Alyssa. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya diisi oleh suara alat medis yang digunakan secara sederhana.
Daren tetap berdiri di dekat pintu tanpa mendekat, tetapi tidak juga pergi, memperhatikan setiap gerakan dengan perhatian yang tidak ia tunjukkan secara terbuka.
“Apa kondisinya?” tanyanya akhirnya.
“Keletihan,” jawab dokter itu tanpa ragu. “Kurang asupan makanan, ditambah tekanan fisik dan mental.”
Daren tidak langsung merespons, hanya menatap ke arah Alyssa dengan ekspresi yang tidak berubah.
“Apakah berbahaya?”
“Jika dibiarkan, bisa,” jawab dokter itu. “Tubuhnya sudah cukup melemah, ia butuh istirahat dan asupan yang cukup.”
Daren mengangguk pelan, seolah sudah memperkirakan jawaban itu.
“Berikan apa yang diperlukan.”
Dokter itu membuka tasnya dan mulai menyiapkan perawatan sederhana yang bisa dilakukan saat itu juga. Ia memberikan cairan dan memastikan kondisi Alyssa sedikit lebih stabil, meski prosesnya tidak bisa langsung mengembalikan semuanya seperti semula.
Alyssa sempat bergerak sedikit di atas tempat tidur, alisnya berkerut seolah merespons sesuatu yang ia rasakan. Matanya tidak benar-benar terbuka, tetapi bibirnya bergerak pelan.
“Air…” bisiknya lemah.
Dokter itu hendak mengambil gelas di meja, tetapi sebelum ia melangkah, Daren sudah bergerak lebih dulu. Ia mengambil gelas tersebut dan mendekat dengan langkah yang tidak terlalu cepat, tetapi cukup mantap.
“Alyssa,” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban jelas, hanya sedikit gerakan dari bibir yang menunjukkan bahwa Alyssa masih bisa merespons meski dalam keadaan setengah sadar. Daren menahan gelas itu dengan hati-hati, membantu beberapa tetes air masuk ke mulutnya.
Gerakannya tidak sempurna, tetapi cukup untuk memastikan Alyssa tidak tersedak. Setelah itu, ia meletakkan gelas kembali dan mundur satu langkah, seolah baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Dokter itu memperhatikan sebentar, tetapi memilih untuk tidak berkomentar, lalu melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.
“Biarkan dia beristirahat,” katanya setelah merapikan alat. “Kondisinya akan membaik jika tidak ada tekanan tambahan.”
Daren tidak menjawab langsung, hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.
“Tidak ada yang perlu tahu soal ini.”
Dokter itu mengangguk.
“Saya paham.”
Beberapa menit kemudian, pria itu sudah meninggalkan rumah melalui jalur yang sama saat ia datang, tanpa suara dan tanpa menarik perhatian. Semuanya kembali seperti semula, seolah tidak pernah ada kunjungan di malam itu.
Daren kembali berdiri di depan kamar Alyssa, kali ini tanpa membuka pintu sepenuhnya. Ia hanya melihat dari celah kecil, memastikan kondisi di dalam tanpa harus masuk.
Alyssa terlihat lebih tenang, napasnya lebih stabil meski wajahnya masih pucat. Tidak ada perubahan besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa kondisinya tidak semakin memburuk.
Daren menutup pintu perlahan dan berjalan pergi, namun langkahnya tidak secepat biasanya. Ada bagian dari pikirannya yang tertinggal di dalam ruangan itu, membuatnya tidak sepenuhnya fokus pada langkah yang ia ambil.
Keesokan harinya, Alyssa terbangun dengan kondisi yang sedikit lebih baik meski tubuhnya masih terasa lemah. Ia mengerjap perlahan, membiarkan pandangannya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke dalam kamar.
Kamar itu terasa sama seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang berbeda yang tidak langsung bisa ia jelaskan. Ia memandang ke sekeliling, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran.
Di meja samping tempat tidur, ia melihat segelas air dan beberapa obat yang tidak ia ingat pernah ada sebelumnya. Alisnya sedikit berkerut, mencoba memahami dari mana semua itu berasal.
Ia berusaha duduk perlahan dengan menahan beban tubuhnya menggunakan tangan, gerakannya tidak cepat tetapi cukup stabil. Setelah berhasil duduk, ia meraih gelas tersebut dan minum sedikit, membiarkan air itu membantu mengurangi rasa kering di tenggorokannya.
“Siapa…” bisiknya pelan tanpa benar-benar mengharapkan jawaban.
Di luar kamar, aktivitas rumah kembali berjalan seperti biasa, tidak ada tanda bahwa sesuatu yang berbeda terjadi di dalam salah satu ruangan. Cassandra berdiri di lorong, berbicara dengan pelayan dengan nada yang tetap tenang.
“Dia sudah bangun?” tanyanya.
“Sepertinya begitu, Nona.”
Cassandra mengangguk, tetapi sorot matanya berubah sedikit saat ia mengalihkan pandangan ke arah kamar Alyssa. Ada sesuatu yang terasa tidak sesuai dengan perkiraannya.
Kondisi Alyssa yang membaik tidak sejalan dengan tekanan yang diberikan sebelumnya, dan hal itu membuat pikirannya mulai bergerak mencari kemungkinan lain. Ia tidak langsung menyimpulkan apa pun, tetapi cukup untuk membuatnya waspada.
Di ujung lorong yang lain, Daren berdiri tanpa mendekat, hanya memperhatikan dari kejauhan. Pintu kamar Alyssa terbuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan sosok yang duduk di dalam.
Ia melihat Alyssa memegang gelas air dengan gerakan yang masih pelan, tetapi lebih hidup dibandingkan kemarin. Perubahan itu tidak besar, tetapi cukup untuk menarik perhatiannya.
Daren menghela napas pelan, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan mudah. Perasaan itu tidak sederhana, tidak bisa langsung ia beri nama, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Ia berbalik dan berjalan pergi, tetapi langkahnya tidak secepat biasanya, seolah ada bagian dari dirinya yang tidak sepenuhnya ingin meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain lorong, Cassandra memperhatikan semuanya tanpa terlihat mencolok. Ia melihat cara Daren berdiri, cara ia menatap ke arah kamar Alyssa, dan cara ia pergi tanpa masuk.
Senyum tipis yang sempat muncul di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang lebih tajam dan penuh pertimbangan. Ia tidak menyukai arah perubahan ini, karena itu berarti ada sesuatu yang mulai keluar dari kendalinya.
Tangannya mengepal sedikit, menahan reaksi yang tidak ingin ia tunjukkan secara terbuka.
“Sepertinya…” gumamnya pelan.
Matanya kembali tertuju pada pintu kamar Alyssa dengan fokus yang berbeda dari sebelumnya.
“Kamu mulai mengganggu rencanaku.”
Suaranya hampir tidak terdengar, tetapi cukup jelas bagi dirinya sendiri. Di dalam pikirannya, sebuah keputusan mulai terbentuk dengan perlahan, karena ia tidak berniat membiarkan keadaan berubah tanpa perlawanan.
Ia tahu jika semuanya dibiarkan berjalan seperti ini, maka posisi yang selama ini ia jaga dengan hati-hati bisa mulai bergeser. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan ia biarkan terjadi begitu saja.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔