Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Lampu jalanan Jakarta Timur mulai menyala satu per satu, berpendar kuning di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas matahari. Di antara deretan bus kota yang berasap hitam dan kepungan motor bebek keluarga yang melaju santai, Kawasaki Ninja 150RR warna hijau milik Sandi membelah kemacetan bagaikan sebilah pisau tajam. Suara mesinnya yang khas—lengkingan logam yang menderu merdu—menjadi pusat perhatian para pejalan kaki di trotoar dan pengendara lain yang menoleh iri melihat motor "kencang" itu melintas.
Di jok belakang yang nungging, Saskia merasakan adrenalin yang campur aduk dengan rasa ngeri. Setiap kali Sandi menarik tuas gas dan motor itu melompat maju mendahului kendaraan di depannya, jantung Saskia seolah tertinggal di belakang. Ia mempererat kaitan jemarinya di perut Sandi, memeluknya begitu kuat seolah-olah jika ia melonggarkan satu senti saja, ia akan terlempar tertiup angin sore. Wajahnya tidak lagi hanya bersandar, tapi menekan dalam-dalam ke punggung Sandi, mencari perlindungan di balik kain kaos olahraga yang kini terasa lembap oleh keringat.
Sandi, yang insting berkendaranya sangat tajam, menyadari perubahan ketegangan pada tubuh Saskia yang menempel padanya. Ia merasakan tangan kecil itu sedikit gemetar di perutnya. Perlahan, ia mengendurkan genggaman pada selongsong gas, membiarkan raungan mesinnya merendah menjadi gumaman halus. Sambil tetap menjaga fokus pada kendaraan di depannya, Sandi memiringkan kepala sedikit ke samping.
"Sas?" panggilnya, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di balik helm.
Saskia perlahan mengangkat wajahnya dari punggung Sandi, menempelkan pipinya di bahu laki-laki itu agar suaranya bisa terdengar. "Iya, San?"
"Lo kenapa? Kok pelukannya kenceng banget kayak mau ngeremes perut gue?" tanya Sandi, mencoba mencairkan suasana dengan nada tengilnya yang biasa.
Saskia menggelengkan kepalanya pelan, rambut panjangnya yang tergerai menari-nari tertiup angin dari celah bahu Sandi. "Gapapa, San... aku cuma takut liat jalanan. Semuanya lewat cepet banget."
Sandi melirik spion, melihat wajah Saskia yang tampak pucat di balik bahunya. "Eh, kekencengan ya gue bawa motornya? Sori, sori, gue kebiasaan narik kalau jalanan agak lowong."
"Iya, agak takut..." aku Saskia jujur. "Tapi gapapa kok, aku bisa merem terus supaya nggak pusing liat kendaraan lain yang kita salip."
Tawa renyah Sandi pecah, terdengar tulus di telinga Saskia. "Ya elah, kalau lo merem terus yang ada malah makin pusing, Sas. Yaudah, gue bawa santai aja dah kalau gitu, biar lo nggak jantungan."
Saskia kembali menggeleng, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya yang masih menempel di bahu Sandi. "Nggak usah, San. Gapapa kok. Aku... aku mempercayai nyawaku ke kamu hari ini. Jadi, aku nggak akan protes mau kamu bawa kayak gimana juga."
Kalimat itu—"Aku mempercayai nyawaku ke kamu"—menghantam Sandi lebih telak daripada tinju siswa SMA di Velodrome tadi. Ada rasa tanggung jawab besar yang tiba-tiba menetap di dadanya. Ia menoleh sedikit, menatap mata Saskia sekilas sebelum kembali menatap jalan.
"Yaudah, kalau gitu pegangan yang kuat, oke?" ujar Sandi, suaranya kini terdengar lebih mantap dan protektif. "Gue bakal anter lo sampai depan rumah lebih cepet, biar lo bisa buru-buru turun dan nggak perlu ketakutan lagi."
Saskia mengangguk patuh. Ia kembali membenamkan wajahnya di punggung Sandi, memeluk perut laki-laki itu dengan erat, seolah-olah punggung atletis itu adalah satu-satunya tempat paling aman di seluruh Jakarta sore itu.
Mendapat "restu" dari penumpangnya, Sandi menarik tuas gas lebih dalam. Mesin 2-tak itu kembali meraung jantan, menyemburkan tenaga maksimal yang membuat ban belakangnya menggigit aspal dengan liar. Motor hijau itu melesat, membelah kemacetan sore Jakarta menuju wilayah perumahan elit, meninggalkan jejak asap putih tipis yang menghilang ditelan senja.
Lampu-lampu jalan di sepanjang arteri Pondok Indah mulai berpendar, menyinari deretan pohon palem botol yang berdiri angkuh di atas trotoar yang bersih. Perjalanan sejauh 15 kilometer dari Jakarta Timur menuju Jakarta Selatan itu terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda. Jika di Rawamangun tadi Sandi masih mencium bau asap knalpot kopaja dan debu jalanan yang pekat, di sini udara terasa lebih dingin dan sunyi.
Hampir satu jam mereka bertarung dengan kemacetan sore Jakarta yang legendaris di tahun 2002. Sandi melonggarkan tarikan gas Ninjanya saat ban motornya mulai menggilas aspal halus di dalam perumahan elit tersebut. Rumah-rumah di sini tidak memiliki pagar kawat berduri atau dinding kusam; semuanya megah dengan pilar-pilar tinggi bergaya Mediterania.
"Sas?" panggil Sandi, suaranya kini terdengar lebih jelas karena suasana yang sepi.
Saskia yang sejak tadi seperti menempel permanen di punggung Sandi perlahan mengangkat wajahnya. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu taman yang mewah. "Udah nyampe ya, San?"
Sandi mengangguk, helmnya bergerak naik turun. "Iya, udah masuk komplek lo nih. Rumah lo yang mana? Gue nggak mau nyasar di perumahan orang kaya, ntar dikira begal lagi."
Saskia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba mengenali deretan gerbang besi yang tampak serupa. "Nanti di depan belok kiri, San... terus nanti..." Saskia menggantung kalimatnya, wajahnya tampak berpikir keras sebelum akhirnya meringis kecil. "Aku lupa, San."
Ciiiittt!
Sandi menarik rem depan mendadak hingga ban depan motornya sedikit berdecit. Ia menoleh ke belakang dengan tatapan tidak percaya. "Eh, rumah lo sendiri kagak inget? Wah, kacau lo, Sas! Masa gue musti keliling Pondok Indah sampe bensin gue abis?"
Saskia tertunduk malu, memainkan ujung jaket birunya. "Aku kan biasanya diantar jemput Mama pake mobil, San. Aku nggak pernah perhatiin jalan, biasanya cuma dengerin lagu atau tidur di kursi belakang."
Sandi menghela napas panjang, mencoba sabar menghadapi kepolosan—atau keteledoran—teman lamanya ini. "Mana alamat yang tadi? Sini biar gue liat sendiri. Percaya sama ingatan lo bisa-bisa kita nyasar sampe Depok."
Saskia merogoh kantong jaketnya, menyerahkan carikan kertas lecek itu. Sandi membacanya ulang, matanya bergerak lincah menatap plang nama jalan di setiap persimpangan. "Metro Alam, Alam Segar, Alam Permai... Kartika Alam..." gumamnya pelan sambil mencocokkan nomor rumah. Setelah yakin, ia kembali menyerahkan kertas itu. "Nih, pegang lagi. Jangan ilang, itu harta karun lo biar nggak jadi gelandangan di komplek sendiri."
Sandi menyusuri jalanan yang lebar dan asri itu dengan kecepatan rendah. Suara teng-teng-teng dari mesin 2-taknya seolah memecah kesunyian lingkungan yang teratur itu. Tak lama, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat luas. Pagar besinya tinggi menjulang, dicat warna hitam dengan aksen emas, menunjukkan kemapanan pemiliknya.
"Ini rumah lo? Bener nggak?" tanya Sandi, memandangi kemegahan bangunan di depannya.
Saskia tersenyum lebar, matanya berbinar. "Iya, San! Ini rumah aku. Bener, itu ada pohon mangga yang pendek."
"Yaudah, turun kalo udah bener. Tugas gue selesai," ujar Sandi sambil menurunkan standar samping motornya.
Saskia turun dengan gerakan canggung, lalu merapikan rambut panjangnya yang berantakan karena terpaan angin selama perjalanan. "Ayo masuk dulu, San. Mama pasti seneng ketemu kamu lagi."
Sandi menggeleng cepat. "Nggak usah, Sas. Gue langsung balik aja."
Saskia cemberut, bibirnya mengerucut kecewa. "Minimal minum dulu kek, San. Kamu udah jauh-jauh anterin aku, pasti haus kan?"
Sandi tersenyum tipis, tatapannya melembut. "Udah terlalu sore, Sas. Bentar lagi malam. Gue harus balik ke rumah sebelum jalanan makin macet parah. Nyokap pasti nyariin. Dia itu paling khawatir kalau gue bawa motor peninggalan Bokap. Pikirannya pasti aneh-aneh, takut gue di-begal atau kecelakaan. Gue nggak mau bikin dia jantungan nungguin gue."
Mendengar alasan Sandi tentang ibunya, Saskia tidak tega untuk memaksa. Ia tahu betapa berartinya keluarga bagi Sandi sejak ayahnya meninggal. Saskia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk sembari memainkan ujung sepatunya di atas aspal.
"Kalau gitu gue cabut ya. Salam buat nyokap bokap lo," pamit Sandi. Ia sudah bersiap menginjak kick starter.
Namun, saat mesin hendak meraung, Saskia tiba-tiba menarik ujung baju olahraga Sandi dengan cepat. "Kenapa lagi, Sas?" tanya Sandi heran.
"Aku... anu... gimana caraku untuk menghubungi kamu lagi, San? Aku nggak mau kita kehilangan kontak lagi," ucap Saskia lirih, matanya menatap Sandi penuh harap.
Sandi menghela napas, ia menyadari perbedaan kasta di antara mereka sekali lagi. "Gue nggak punya telepon rumah, Sas. Apalagi ponsel kayak punya lo itu. Gue belum mampu beli."
Wajah Saskia langsung layu. "Yah... aku nggak bakal ketemu kamu lagi dong kalau gitu?"
Melihat kesedihan di wajah Saskia, Sandi merasa tidak tega. Ia berpikir sejenak lalu memberikan solusi. "Gini aja deh. Kasih gue nomor telepon rumah lo dan nomor ponsel lo. Kalau gue ada waktu dan ada uang receh, gue coba hubungi lo lewat Wartel atau telepon koin. Gimana?"
Mendengar itu, wajah Saskia langsung berubah cerah. Ia bergegas merogoh tasnya, mencari pulpen dan selembar kertas kecil untuk mencatat nomornya. "Ini, San! Yang atas nomor ponselku, yang bawah nomor rumah. Janji ya, hubungi aku!"
Sandi mengambil kertas itu, melipatnya rapi, lalu menyimpannya di bagian paling aman dalam dompetnya. "Iya, gue usahain. Gue cabut ya."
"San!" Saskia kembali menahan tangan Sandi. "Kapan-kapan main ke Bhayangkara dong. Aku pengen main istana pasir bareng kamu kayak dulu waktu SD."
Sandi tertawa lepas, suaranya menggema di jalanan yang sepi. "Sas, kita udah SMP! Masa lo mau ngajakin gue main pasir-pasiran lagi?"
Saskia ikut terkekeh, namun matanya tetap berbinar nostalgia. "Abis kamu jago banget bikin istana dari pasir. Dulu tiap jam istirahat kamu selalu buatin istana buat aku, terus kamunya pergi main bola sama temen-temen cowok. Aku suka banget istana buatan kamu."
Sandi menarik napas panjang, mengenang masa-masa polos itu. "Iya, nanti kapan-kapan gue usahain mampir ke sana kalau gue lewat."
Kegembiraan Saskia memuncak. Tanpa sadar karena terlalu senang, ia meraih tangan Sandi dan mencium punggung tangan laki-laki itu—sebuah gestur terima kasih yang sangat tulus. "Makasih ya, San. Makasih banget buat hari ini!"
Sandi tertegun sejenak, merasakan sentuhan lembut itu, lalu ia terkekeh untuk menutupi rasa canggungnya yang mendadak muncul lagi. "Yaudah, masuk sana. Gue cabut ya!"
Saskia mengangguk mantap. "Iya, hati-hati ya, San! Dadah, Sansan!"
Saskia berlari kecil menuju gerbang rumahnya yang besar sambil terus melambaikan tangan hingga sosoknya menghilang di balik pintu kayu jati yang megah. Sandi tersenyum di balik helmnya, lalu menendang kick starter motornya kuat-kuat. Suara Ninja itu kembali meraung, membawa Sandi pergi meninggalkan Pondok Indah, kembali menuju realitas hidupnya yang sederhana di Jakarta Timur, dengan satu nomor telepon baru yang tersimpan di dompetnya.
Ninja hijau itu kini membelah keremangan Jatinegara, area yang jauh lebih riuh dan sesak dibandingkan kesunyian aristokrat di Pondok Indah tadi. Bau sate ayam yang terbakar di pinggir jalan dan suara klakson angkot yang saling bersahutan menyambut kepulangan Sandi. Di mulut gang yang sempit, cahaya lampu merkuri temaram menyinari sosok wanita paruh baya yang berjalan perlahan sambil mendekap kantong plastik hitam berukuran besar.
Sandi segera mengenali postur tubuh yang sedikit membungkuk itu. Ia menurunkan putaran mesinnya, membuat suara knalpot 2-taknya mendesis halus sebelum berhenti tepat di samping wanita itu.
"Ayo, Bu, naik," ajak Sandi lembut.
Ibu Sandi, dengan peluh yang menghiasi dahi namun tetap menyunggingkan senyum tulus, segera berpegangan pada bahu putranya dan naik ke jok belakang. Kantong plastik besar itu ia pangku dengan hati-hati.
"Itu pakaian, Bu?" tanya Sandi sambil mulai menjalankan motornya perlahan masuk ke dalam gang.
Ibunya mengangguk, suaranya terdengar agak lelah namun tenang. "Iya, ini pakaian keluarga Pak Haji Romli. Ibu ambil untuk dicuci besok pagi. Kamu kok baru pulang jam segini, San? Ibu tadi sempat khawatir liat langit sudah gelap begini."
Sandi menatap jalanan di depannya yang hanya diterangi lampu motor. "Tadi pas ujian praktek di Velodrome, Sandi nggak sengaja ketemu Saskia, Bu."
"Saskia?" Ibunya mengernyitkan dahi, mencoba menggali memori dari tumpukan ingatan lama. "Saskia mana?"
"Itu lho, Bu... teman Sandi di SD Bhayangkara. Yang dulu sering Sandi ceritain ke Ibu, si 'Oneng' yang hobinya kejedot pintu kelas mulu kalau di sekolah."
Tawa kecil pecah dari bibir ibunya. "Oh, yang itu! Yang ayahnya pengusaha sukses dan kakeknya purnawirawan polisi, sama seperti almarhum kakekmu itu? Terus, kenapa dia ada di Velodrome?"
"Kayaknya dia juga lagi praktek lari dari sekolahnya, Bu. Tapi tadi pas Sandi lihat, dia lagi dikerjain sama anak-anak SMA. Tampangnya ketakutan banget, ya sudah Sandi tolongin," jawab Sandi dengan nada datar, berusaha menyembunyikan aksi heroiknya yang melibatkan baku hantam tadi.
Ibunya manggut-manggut. "Terus, apa hubungannya sama kamu yang pulang telat begini?"
Sandi menghela napas, teringat wajah panik Saskia di parkiran. "Dia itu bareng teman-temannya ke sana, tapi dasar dia emang agak pelupa, dia nggak sadar kalau ditinggal. Pas mau pulang, dia panik karena nggak ada yang jemput. Sandi nggak tega, Bu, masa ditinggal sendirian di tempat ramai gitu. Jadi Sandi antar sampai rumahnya."
"Memangnya rumahnya di mana?"
"Di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Bu. Elit banget rumahnya."
Ibunya tampak terkejut, pegangannya pada plastik baju sedikit mengerat. "Wah, jauh juga ya dia main sampai ke Velodrome. Pantas kamu pulangnya sampai malam begini, macetnya pasti luar biasa lewat jalur sana jam pulang kantor."
Sandi mengangguk mantap. "Iya, Bu. Makanya tadi Sandi buru-buru anterin biar dia nggak makin dicariin orang tuanya."
Ibunya mengelap keringat di pelipisnya dengan ujung jilbab, lalu berbisik pelan, "Kamu memang persis ayahmu, San. Orangnya nggak pernah tegaan kalau lihat orang lain kesusahan. Apalagi kalau itu teman sendiri."
Mendengar nama 'Ayah' disebut, ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam ulu hati Sandi. Kenangan tentang sosok pria yang dulu mengajarinya merawat motor Ninja ini kembali berputar. Ibunya masih begitu setia menyimpan kenangan itu, dan Sandi hanya bisa mengangguk kecil, menahan gejolak emosi di dadanya hingga mereka tiba di depan rumah kontrakan sederhana mereka.
Begitu motor berhenti dan standar diturunkan, ibunya turun sambil membawa beban cuciannya. "Sudah, sana mandi dulu. Bau matahari banget badan kamu itu. Si Saskia nggak protes apa di jalan tadi kalau kamu bau keringat?" goda ibunya sambil terkekeh.
Sandi cengengesan. Ia teringat bagaimana Saskia justru tidur pulas di punggungnya, menghirup aroma yang justru menurut ibunya 'bau matahari' itu. "Yah, nggak tahu juga, Bu. Mungkin dia ngerasain juga, tapi nggak berani komentar. Takut Sandi turunin di pinggir jalan kali," seloroh Sandi asal.
Ibunya tertawa renyah, tawa yang selalu berhasil menghangatkan rumah mungil mereka. "Mandi yang bersih, terus langsung makan ya. Ibu buatin mi rebus pakai telur dulu. Maaf ya, Ibu nggak sempat masak nasi karena tadi banyak pesanan jahitan dan cucian."
"Iya, Bu. Mi rebus aja sudah enak banget," jawab Sandi patuh. Ia bergegas masuk ke kamar, melepas kaos olahraganya yang lembap, lalu mengambil handuk. Sambil melangkah menuju kamar mandi, ia sempat melirik dompetnya yang tergeletak di atas meja belajar—di dalamnya tersimpan secarik kertas berisi nomor telepon seorang gadis dari masa lalu yang baru saja kembali masuk ke dalam simfoni hidupnya.