NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lo Telat

Tap! Tap! Tap!

Suara derap langkah kaki berdebam kencang memecah suasana sunyi di lantai bawah.

Dari lantai atas, seorang gadis dengan rambut acak-acakan serta piyama warna putih yang masih menempel di tubuhnya, terlihat lari terbirit-birit menuruni tangga rumah.

Semua orang langsung dibuat menoleh.

Dan setibanya gadis itu di ruang tamu, rupanya itu Almika—yang sambil ngos-ngosan ia langsung berteriak sekencang-kencangnya saat langkahnya sudah terhenti.

"Stop! Jangan ada yang bergerak, tahan!" pekiknya dengan wajah panik.

Suara teriakan Almika membuat Alvaro reflek mengangkat sebelah alis. Sedangkan Mama Nita dibuat tertawa lirih, sementara Dena—hanya menatap bingung ke arah Mika.

Dena menyipitkan mata, "Nih anak kenapa baru nongol? Bukannya dia tinggal di sini juga? "

"Lo baru bangun?" tanya Alvaro kepada sang adik.

Mika mengangguk-angguk sambil mengatur napas, menyeka keringat, "Iya, Kak."

"Dari tadi sore baru bangun sekarang?!" Alvaro menggeleng-geleng, tidak paham lagi dengan pola tidur Mika yang bahkan jauh lebih berantakan dari keadaan rambut warna-warni gadis berwajah manis itu.

Mika spontan nyengir, mau beralasan terlalu kecapekan juga percuma. Yang ada ia malah semakin diledek habis-habisan oleh sang kakak, "Gue ketiduran, Kak. Tapi?"

Mika lalu mengangkat sebelah tangannya ke arah depan, seperti menahan agar acara lamaran itu jangan dilanjutkan dulu.

"Tunggu! Tetap diam di tempat dan jangan ada yang bergerak sebelum gue kembali!" ujar Mika seraya terburu-buru melangkah menghampiri lemari putih yang berada di bawah anak tangga, lalu membuka kabinetnya satu-persatu, seperti sibuk mencari-cari sesuatu tapi tak kunjung ketemu.

"Aduh, tadi dimana ya? Kok nggak ada?" gumam Mika sedikit panik.

"Lo nyari apa?" tanya Alvaro terheran-heran.

"Buket bunga!" jawab Mika tanpa menoleh sembari masih sibuk mengobrak-abrik lemari.

"Buat?" Alvaro tersenyum—jahil.

Kali ini Mika refleks menoleh dengan wajahnya yang membesengut, "Ya buat Dena lah! Lo gimana sih Kak? Kan biar estetik!" dengusnya.

"Lamaran masak nggak ada bunganya, ini zaman modern, Kak, bukan zaman showa!" gerutu Mika sambil masih sibuk berkutat di depan lemari, tapi benda yang ia cari-cari tak kunjung ketemu juga.

Hingga Mika akhirnya berpindah ke kabinet almari yang berada di sebelah pintu lift. Siapa tau buket yang sudah ia siapkan ternyata nyempil di sana. Dan benar saja!

"Aha! Ketemu juga lo!" seru Mika, lega.

Tapi, belum juga buket itu Mika pegang. Suara Alvaro sudah lebih dulu terdengar.

"Lo telat!" sergah Alvaro, dan di detik yang sama Mama Nita langsung cekikikan.

Mika mematung, tak lama begitu buket bunga untuk Dena sudah ia sentuh tapi belum sempat diambilnya.

"Lamarannya udah selesai," lanjut Alvaro sembari menatap sang adik dengan wajah picik—seperti ingin mengejeknya.

Mika spontan menelan ludah sambil tetap mengambil buket itu, lalu memeluknya erat-erat dengan wajah terbelalak.

"Hah? Acaranya udah selesai?"

"Udah."

Mika melotot, "Jadi gue beneran udah ketinggalan acaranya?"

"Iya."

"Hih! Lo tega banget sih Kak! Gue kan tuan rumah juga, masak ketinggalan acaranya. Gue jadi nggak enak nih sama Dena!" gerutu Mika manyun-manyun.

"Salah siapa nggak bangun." Alvaro tertawa seperti tanpa dosa, seketika itu juga Mika jadi pengen nendang wajahnya.

"Hih! Ulang dong, Kak ... kan gue belum liat!" pintanya.

"Lo pikir ini sinetron, ada tayangan ulangnya!" dengus Alvaro yang sudah jelas tidak berminat untuk menuruti permintaan adiknya.

"Kalau pasang cincinnya? Pasti belum dong, ya kan?" tanya Mika naik-naikin alis sambil berharap. Siapa tau momen puncak acara lamaran itu masih belum terjadi.

Tapi?

Alvaro tertawa kecil seraya mengarahkan dagunya ke arah Dena.

"Udah juga, lo liat aja di tangan Dena tuh," kata Alvaro.

Dan Mika lalu fokus menatap ke arah cincin di jari manis Dena.

Mika melotot, "Anjir! Udah juga?!"

Dena tersenyum canggung sambil mengangkat sebelah tangannya yang sudah tersemat cincin berlian.

"Iyaa, Lo telat Mik. Gue udah dilamar, lo baru nongol," katanya.

Seketika Mika melemaskan kedua bahu, lalu melirik ke arah buket bunga yang berada di pelukannya. "Terus ini gimana dong?"

"Buang aja! Udah nggak ada gunanya juga," saran Alvaro seperti tanpa beban.

Mika lantas menghela napas kecewa, tapi meskipun kecewa ia tetap menuruti perkataan sang kakak yang ia pikir, benar juga.

Buat apa juga ngasih bunga kalau acaranya sudah tamat.

Mika lalu berniat untuk membuang buket bunga itu ke tempat sampah. Namun, belum sempat tutup tempat sampahnya Mika buka, Dena reflek menahannya.

"Eh, jangan dibuang! Sayang, Mik!" katanya.

Mika berhenti, "Kenapa? Emang lo masih mau buketnya?"

Dena mengangguk-angguk, "Iyaa, itu bagus. Gue mau."

"Tapi kan udah telat, Den. Momennya juga udah lewat," sahut Mika.

"Udah nggak apa-apa. Daripada lo buang, kan sayang," pinta Dena sambil berdiri untuk mengambilnya dari tangan Mika.

Ya, walaupun Dena sih yakin, buket bunga itu pasti Mika dapat dari beli dan bukan dari hasil karyanya sendiri, tapi meskipun ia tau Mika hanya membelinya.

Di lain sisi Dena jadi berpikir ... ternyata di balik sifat Mika yang terkadang suka ngeselin, dia masih memiliki sisi baik juga ya, sampai-sampai punya niat buat ngasih buket bunga.

Atau jangan-jangan, ada udang di balik gorengan? Tapi, kalau dilihat-lihat dari wajahnya yang selayaknya seperti orang yang benar-benar mengukir kecewa. Dena jadi yakin, sepertinya Mika memang tidak punya niat terselubung di balik itu.

"Makasih ya, Mik. Lo baik banget deh. Seumur-umur baru lo doang loh yang ngasih gue bunga," ucap Dena senyum-senyum sambil mencium buket bunga pemberian Mika. Bunganya ternyata asli, dan aromanya sudah pasti harum sekali.

Dena jadi suka.

"Ya udah pasti gue kasih lah, lamaran ini kan salah satu momen penting di hidup lo. Cuma, calon laki lo aja yang kebangetan."

"Masak ngelamar anak orang tapi nggak sambil ngasih bunga. Nggak romantis banget ya!" sindir Mika, menatap julid kepada sang kakak.

Dan ternyata alasan Mika sampai repot-repot membeli bunga memang hanya untuk itu—mengejek kakaknya yang terkenal tidak romantis.

Alvaro yang tidak sengaja mendengar itu akhirnya terpancing juga. Spontan laki-laki itu melirik tajam ke arah Mika.

"Gue emang nggak ngasih Dena bunga," dengusnya. "Tapi gue bakal ngasih Dena apa pun yang dia mau!"

Mika mencebikan bibirnya, "Iya deh, kalau soal itu gue ngalah. Lo emang the best dah. Selamat yaa," sahutnya yang daripada makin kena semprot kakaknya sendiri, lebih baik mengiyakan perkataannya saja.

"Ya, meskipun setelah Dena udah jadi istri lo ... pasti bakal kena setruk ringan," sambungnya lirih sambil terkikik, sehingga Alvaro lantas kembali melirik tajam ke arahnya.

"Ngomong apa lo?!" dengus Alvaro.

"Enggak ngomong apa-apa kok, Kak." Mika langsung nyengir-nyengir sambil mengangkat kedua tangannya tanda damai, lalu mengikat rambutnya yang berantakan dan berniat untuk mandi sebentar biar lebih enak dilihat.

Sedangkan di sofa. Mama Nita menatap dua gadis remaja itu dengan sorot mata agak berbeda, atau lebih tepatnya mungkin sedang menganalisa.

"Kalian kok keliatannya udah akrab banget," sela Mama Nita sembari meneguk secangkir teh. "Memangnya sudah saling kenal?"

Mika mengangguk, sebelum ia benar-benar pergi untuk segera mandi.

"Gimana kita nggak saling kenal, Ma. Orang di hari pertama Mika pindah sekolah, Mika langsung dikasih sambutan meriah sama Dena," jawabnya santai.

"Oh, gitu? Ya ampun, kalian lucu banget deh. Memangnya sambutannya semeriah apa sih, sampai bisa bikin kalian langsung akrab?" Mama Nita jadi makin penasaran, lalu melirik ke arah Dena sambil tersenyum manis seperti biasanya.

Namun, tidak dengan Dena yang bukannya tersenyum, di detik itu juga ia justru tertegun. Kayaknya sambutan meriah yang Mika maksud adalah saat Mika diceburin ke bak mandi deh.

Dena langsung tercekat. Wajahnya pun mendadak pucat. Wah, ini sih bisa gawat kalau Mika sampai cerita tentang hal itu ke mamanya. Citranya sebagai menantu idaman sudah pasti akan hilang.

Untungnya Mika tidak sejahat itu, ya meskipun tuh anak emang ngeselin karena nggak tau kenapa sikapnya kadang-kadang suka aneh, tapi Mika tidak sampai hati untuk mengadukan kejahatan Dena terhadap dirinya tempo hari.

"Ya pokoknya meriah banget lah, Ma. Kalau Mama pengen tau ceritanya, tanyain langsung aja ke Dena," kikik Mika sembari mendorong Dena pelan agar mendekat ke arah mamanya. Lalu Mika buru-buru ngacir menaiki tangga rumah, untuk segera melangsungkan ritual mandinya.

Sementara Alvaro jadi menahan tawa, ketika kali ini wajah cantik calon istrinya itu benar-benar terlihat sangat canggung.

Alvaro jadi gemas kalau tidak menambah kepanikan Dena. Kesempatan bagus terkadang memang suka datang tanpa diundang.

"Mau lo yang cerita, apa gue yang cerita?" goda Alvaro yang langsung mendapat lirikan tajam dari Dena.

"Jangan, Om! Kan malu," desis Dena dengan wajahnya yang kontan memerah.

"Kenapa malu, kan lo sendiri yang bikin sambutan meriah itu. Mama pengen denger tuh, gimana anak gadisnya disambut di sekolah barunya," tambah Alvaro yang semakin memperkeruh kepanikan Dena.

Dena refleks memutar otak, mencari-cari cara agar fakta sebenarnya jangan sampai terungkap. "Ya malu aja! Masak hal kayak gitu harus diumbar-umbar sih? Nggak boleh, itu namanya pamrih," sahutnya.

"Kalau cuma cerita bukan pamrih namanya!"

Dena menggeleng manja. "Tetep pamrih, kan yang cerita diri sendiri," sahutnya tersenyum miring.

Alvaro jadi mendadak gondok. Sial! Rupanya Dena cerdik juga. Padahal kan dia sendiri yang salah?

"Tapi, Dena bener kok. Kebaikan memang nggak selalu perlu diumbar-umbar, apalagi karena pengen diakui," sela Mama Nita.

"Itu ya pamrih namanya. Lagipula Mama udah bisa ngebayangin sendiri kok. Mama kan pernah muda juga, pernah ngalamin keseruan di masa sekolah," lanjut Mama Nita yang langsung membuat Dena menghela napas lega.

Sisanya, Alvaro langsung menepuk dahi saat ia baru teringat, mamanya adalah satu-satunya manusia yang ia kenal, dan satu-satunya pula yang selalu berpikir positif di bagaimanapun keadaannya.

Alvaro jadi jengkel lalu mendekatkan wajahnya ke arah Dena.

"Jangan diulangi dan jangan sentuh Mika lagi! Hari ini lo masih selamat," bisik Alvaro, pelan. "Besok-besok, nasib lo nggak ada yang tau!" tegasnya.

Dena langsung ngangguk-ngangguk kayak burung pelatuk.

"Oh iya. Lamarannya kan udah selesai nih," kata Mama Nita tiba-tiba sambil naik-naikin alis.

"Terus, akad nikahnya mau dilaksanakan kapan tuh? Kalau bisa jangan lama-lama ya, Varo," tanya Mama Nita.

Alvaro mengangguk sekali, lalu melirik Dena sebagai calon mempelai wanita yang akan ia beri pertanyaan yang sama.

Dena jadi deg-degan.

"Lo maunya kapan ... besok ... atau lusa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!