NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Gelap Tak Berujung

Bukan tanah empuk atau tumpukan jerami yang menyambut jatuhnya Arlan dan Maya. Tubuh mereka menghantam lantai logam yang dingin dan keras dengan bunyi dentang yang memekakkan telinga. Arlan merintih, bahunya menghantam sudut meja besi, sementara Maya jatuh tepat di atas tumpukan karpet tua yang setidaknya sedikit meredam benturan.

"May... lo nggak apa-apa?" bisik Arlan parau. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya terasa berputar.

"Aku... aku oke," jawab Maya tersengal. Ia meraba-raba kegelapan, tangannya gemetar. "Lan, gelap banget. Aku nggak bisa liat apa-apa."

Arlan segera meraba saku jaket denim hijaunya. Ia mengeluarkan pemantik api Zippo peninggalan kakeknya. Dengan sekali hentakan, api kecil berwarna biru kemerahan menyala, memberikan secercah cahaya di tengah kegelapan yang pekat.

Begitu cahaya muncul, Arlan dan Maya terkesiap. Mereka tidak berada di ruang bawah tanah biasa. Mereka berada di dalam sebuah silinder raksasa yang dindingnya dilapisi oleh ribuan lembar foto yang ditempel rapat. Foto-foto itu tampak sudah sangat tua, menguning, dan menampilkan wajah-wajah orang yang tidak mereka kenali dalam berbagai ekspresi penderitaan.

"Ini bukan jalan keluar, May," Arlan mengangkat pemantiknya tinggi-tinggi. "Ini... ini ruang isolasi."

Tiba-tiba, suara mekanis berat terdengar dari atas kepala mereka. Pintu rahasia di balik pohon kamboja yang tadi mereka lewati tertutup rapat dengan bunyi dentum yang final. Seketika itu juga, lampu safelight berwarna merah remang-remang di langit-langit menyala otomatis.

Suasana berubah menjadi mengerikan. Ruangan itu kini tampak seperti isi dari sebuah kamera raksasa yang sedang memproses film manusia.

"Selamat datang di 'Filter Terakhir'," sebuah suara mesin yang terdistorsi bergema dari pengeras suara tersembunyi. Suara itu bukan milik Tito atau Kurator. Itu adalah rekaman suara kakek Arlan yang sudah dimodifikasi. "Hanya mereka yang memiliki 'Fokus Sejati' yang bisa keluar. Waktu pengembangan dimulai sekarang: sepuluh menit sebelum cairan pencuci memenuhi ruang hampa."

Arlan membelalak. Di sudut ruangan, ia melihat katup raksasa terbuka. Cairan bening berbau tajam mulai mengucur deras. Bau itu... Arlan sangat mengenalnya. Itu adalah Fixer (cairan penetap) dalam konsentrasi tinggi. Jika ruangan ini penuh, cairan itu tidak hanya akan menenggelamkan mereka, tapi uap asamnya akan membakar paru-paru mereka dalam hitungan menit.

"Lan! Liat itu!" Maya menunjuk ke dinding.

Di tengah ribuan foto wajah, terdapat sebuah layar proyektor kuno yang mulai menampilkan gambar-gambar yang berganti cepat. Gambar-gambar itu adalah teknik Double Exposure yang sangat rumit. Foto peta yang tumpang tindih dengan wajah nenek Arlan, koordinat yang tersembunyi di balik bayangan pohon, dan angka-angka yang disamarkan dalam motif batik.

"Ini perangkapnya," Arlan mendekati layar, mengabaikan rasa perih di matanya akibat uap kimia. "Kakek gue nggak mau rahasia ini jatuh ke tangan siapapun, termasuk keturunannya sendiri, kalau mereka nggak punya insting fotografer yang bener."

"Maksud kamu kita harus memecahkan kode dari gambar itu?" Maya mulai batuk-batuk. Cairan di lantai sudah mencapai mata kaki mereka. Dingin dan menyengat kulit.

"Bukan cuma memecahkan kode, May. Kita harus 'mencuci' gambar ini secara mental. Liat... gambar itu bergerak terlalu cepat. Mata manusia biasa nggak akan bisa nangkep detailnya."

Arlan teringat kamera analognya. Ia segera mengangkat kameranya. "Gue butuh bantuan lo, May! Lo punya mata pelukis. Lo bisa liat komposisi warna. Gue bakal pake teknik long exposure di kamera gue buat nangkep aliran gambar di layar itu. Tapi gue butuh lo buat kasih tahu gue kapan 'warna' itu berubah jadi 'makna'!"

Maya mengangguk, ia mencoba menahan napas agar uap asam tidak terlalu banyak masuk ke paru-parunya. Arlan mengatur kameranya, membuka rana (shutter) dalam waktu lama sambil mengikuti pergerakan proyektor.

Di luar, terdengar suara hantaman keras di pintu atas. Tito dan Kurator sedang mencoba mendobrak masuk, namun sistem keamanan sumur perak itu terlalu canggih. Mereka terjebak di atas, sementara Arlan dan Maya terjebak di dalam "kematian" yang estetis.

"Sekarang, Lan! Warnanya berubah jadi ungu gelap!" teriak Maya.

Arlan menekan tombol rana. Klik.

Ia melihat hasil pratinjau di layar digital kecil kameranya (yang untungnya masih memiliki sedikit daya). Di sana, hasil long exposure tersebut menyatukan semua gambar yang berantakan menjadi satu titik fokus yang tajam. Sebuah angka: 1-9-5-2.

"Itu tahun kelahiran kakek gue!" Arlan segera berlari menuju sebuah panel angka di dekat katup cairan. Ia menekan angka tersebut.

Klek.

Cairan berhenti mengalir. Namun, bahaya belum berakhir. Ruangan itu tiba-tiba berputar. Dinding-dinding foto itu bergeser, memperlihatkan sebuah lorong baru yang lebih sempit, yang dipenuhi dengan ribuan cermin kecil yang saling berhadapan.

"Teknik Infinite Reflection," gumam Arlan. "Ini perangkap yang lebih mematikan. Kalau kita masuk ke sana tanpa tahu sudut pantulan yang bener, kita bakal terjebak selamanya dalam ilusi ruang."

Maya menggenggam tangan Arlan erat. "Lan, aku takut. Bau kimianya makin kuat."

Arlan melihat ke sekeliling. Ia menyadari bahwa tutup lensa A.R. yang tadi ia lempar ke sumur sebenarnya adalah umpan balik yang jenius. Kakeknya tahu bahwa orang jahat akan mengejar simbol itu, sementara kunci yang sebenarnya adalah pemantik Zippo yang sekarang ia pegang.

Ia memperhatikan bagian bawah pemantik Zippo itu. Ada sebuah lensa kecil mungil di sana—sebuah viewfinder mikro.

"May, liat lewat sini!" Arlan mengarahkan cahaya Zippo melalui lensa mikro di pemantik itu ke arah lorong cermin.

Cahaya itu memantul secara presisi, membentuk satu garis lurus yang menunjuk ke sebuah pintu kecil di ujung labirin cermin yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Itulah jalan keluar yang sesungguhnya.

"Ayo, lari!"

Mereka berlari menembus pantulan bayangan mereka sendiri yang ribuan jumlahnya. Di belakang mereka, terdengar suara ledakan besar. Tito dan Kurator berhasil meledakkan pintu atas, namun hal itu justru memicu sistem penghancur otomatis ruangan tersebut. Langit-langit mulai runtuh, menjatuhkan puing-puing batu besar.

"CEPAT, MAY!"

Arlan mendorong Maya masuk ke dalam pintu kecil itu tepat saat seluruh ruangan "Kamar Gelap" itu ambruk dan tertutup tanah. Mereka berguling jatuh ke sebuah ruangan yang sangat kontras: sebuah taman dalam ruangan yang asri, tersembunyi jauh di bawah tanah Kota Gede, dengan gemericik air jernih dan ribuan bunga melati yang harumnya menetralkan bau kimia tadi.

Di tengah taman itu, duduk seorang pria tua dengan rambut putih panjang, sedang asyik mencuci selembar foto di sebuah baki kayu. Pria itu menoleh perlahan, matanya yang tajam menatap Arlan dengan kehangatan yang asing.

"Akhirnya," ucap pria itu dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Selamat datang di tempat pencucian yang sesungguhnya, Arlan. Saya adalah orang yang kakekmu sebut sebagai 'Sang Pencuci Perasaan'."

Arlan terengah-engah, masih mendekap kameranya. Maya merosot di sampingnya, menghirup udara segar melati dengan rakus.

"Siapa sebenarnya... kakek gue?" tanya Arlan dengan suara bergetar.

Pria tua itu berdiri, menunjukkan foto yang baru saja ia cuci. Foto itu bukan tentang perang, melainkan foto Arlan saat masih bayi, digendong oleh kakeknya yang sedang menangis.

"Kakekmu bukan hanya fotografer, Arlan. Dia adalah penjaga kebenaran yang terlalu berat untuk dipikul oleh cahaya matahari. Dan sekarang, musuhmu bukan lagi Tito atau Kurator... tapi apa yang ada di dalam foto ini."

Pria tua itu membalik foto tersebut, dan di baliknya terdapat daftar nama tokoh-tokoh paling berpengaruh di negeri ini, lengkap dengan sidik jari berdarah.

Arlan menyadari bahwa pelariannya di labirin Kota Gede baru saja membawanya ke depan pintu gerbang sebuah konspirasi yang bisa menghancurkan seluruh tatanan hidupnya. Ia tidak lagi sekadar mencari fokus; ia baru saja menemukan sebuah Paparan Maksimal (Overexposure) yang bisa membutakan siapa saja yang berani melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!