NovelToon NovelToon
Cinta Ribuan Duri

Cinta Ribuan Duri

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / CEO
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”

Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.

— Cinta Ribuan Duri —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Pertemuan yang Tidak Terduga

Halaman kantor polisi pagi itu cukup ramai. Beberapa mobil keluar masuk, sementara orang-orang berlalu-lalang dengan urusan mereka masing-masing. Ardila berdiri di depan gedung itu dengan langkah yang sedikit ragu.

Tangannya menggenggam tangan kecil Resa.Anak lelaki itu terlihat lebih ceria dibandingkan kemarin. Matanya terus melihat ke sekeliling dengan rasa penasaran.

“Mama… tempat apa ini?” tanya Resa dengan suara kecil.

Ardila menatapnya sebentar sebelum menjawab lembut. “Tempat orang mencari bantuan.”

Resa hanya mengangguk, walaupun jelas ia tidak benar-benar mengerti. Ardila menarik napas pelan lalu berjalan masuk ke dalam kantor polisi.

Di dalam ruangan, seorang petugas menyambut mereka. “Ada yang bisa kami bantu?”

Ardila sedikit menunduk sopan. “Saya ingin melaporkan tentang seorang anak.”

Petugas itu melihat Resa yang berdiri di samping Ardila. “Anak ini?”

Ardila mengangguk. “Saya menemukannya kemarin di pom bensin. Dia sendirian dan menangis.”

Petugas itu langsung mengangguk mengerti.“Silakan duduk dulu, kami akan mencatat laporannya.”

Ardila duduk di kursi yang disediakan. Resa duduk di pangkuannya sambil memainkan jari-jarinya sendiri. Beberapa menit kemudian seorang petugas lain datang membawa berkas.

Namun sebelum percakapan mereka dimulai lebih jauh, tiba-tiba suasana di dalam kantor polisi berubah sedikit ramai. Beberapa orang masuk dengan langkah cepat.

Di antara mereka ada seorang pria tinggi dengan wajah tegang. Begitu Ardila melihat wajah itu, tubuhnya langsung membeku.

Areksa.

Pria itu berhenti tepat beberapa meter dari mereka. Matanya langsung tertuju pada anak kecil yang duduk di pangkuan Ardila.

“Resa.”

Suara Areksa terdengar sangat pelan, tetapi penuh emosi. Resa langsung mengangkat kepalanya. Begitu melihat wajah pria itu, matanya langsung berbinar.

“Papa!”

Resa langsung turun dari pangkuan Ardila dan berlari kecil ke arah Areksa. Areksa langsung berjongkok dan memeluk anak itu erat.

Tangannya memegang tubuh kecil Resa seolah takut anak itu akan hilang lagi.

“Kamu kemana saja…” Suara Areksa terdengar serak.

Resa memeluk lehernya dengan polos. “Resa sama Mama.”

Areksa langsung menoleh ke arah Ardila.Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak pertemuan terakhir di kafe.Namun kali ini suasananya sangat berbeda.

Tidak ada kata-kata.

Hanya keheningan yang canggung.

Beberapa detik kemudian seorang wanita paruh baya berjalan mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Wanita itu adalah Mama Areksa.

Bu Veni. Begitu melihat Resa di pelukan Areksa, matanya langsung berkaca-kaca.

“Resa…” Ia langsung memeluk anak kecil itu dari samping.

“Ya Tuhan… kamu membuat Nenek sangat khawatir.”Resa hanya tertawa kecil karena dipeluk dua orang sekaligus.

Bu Veni kemudian menoleh ke arah Ardila.Wanita itu memperhatikannya beberapa detik sebelum wajahnya berubah sedikit terkejut.

“Ardila?”

Ardila sedikit menunduk.

“Iya, Bu.”

Bu Veni tampak sangat terkejut. Ia tidak menyangka orang yang menemukan Resa adalah gadis itu.

Wanita itu langsung berjalan mendekat dengan wajah penuh rasa terima kasih.

“Kamu yang menemukan Resa?”

Ardila mengangguk pelan.

“Iya, Bu.” Bu Veni langsung menggenggam kedua tangan Ardila dengan hangat.

“Terima kasih.” Ardila sedikit terkejut dengan reaksi itu.

Bu Veni mengulanginya lagi. “Terima kasih banyak.”

Air mata masih terlihat di sudut mata wanita itu. “Kami mencarinya sejak semalam.”

Ardila tersenyum kecil. “Sama-sama bu.”

Bu Veni mengangguk cepat. “ Untung,kamu yang menemukannya. Kalau tidak… saya tidak tahu apa yang akan terjadi.” Beberapa detik kemudian Bu Veni menatap Ardila lebih lama.Seolah baru benar-benar mengingat sesuatu.

“Kamu…”

Wanita itu menoleh sebentar ke arah Areksa.

Lalu kembali menatap Ardila. “Kamu dulu pacarnya Areksa, bukan?”

Ardila sedikit terdiam. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. Namun ia akhirnya mengangguk pelan.

“Iya, Bu.”

Bu Veni menghela napas kecil. “Dunia ini ternyata sempit sekali.” ia tersenyum lalu memerintah dengan nada yang tidak bisa di bantah. " Panggil tante!, jangan bu! "

Areksa yang sejak tadi diam akhirnya berdiri sambil menggendong Resa. Tatapannya kembali bertemu dengan Ardila.

Beberapa kenangan lama terasa seperti muncul kembali di antara mereka. Namun tidak ada yang mengatakan apa pun.

Resa tiba-tiba menunjuk Ardila. “Papa, itu Mama.”

Areksa langsung mengerutkan kening.

“Resa…”

Namun Bu Veni justru tertawa kecil.

“Sepertinya anak ini sangat menyukaimu.”

Ardila hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bu Veni kembali berkata dengan tulus,

“Sekali lagi… terima kasih.”

Ardila mengangguk pelan. "Sama-sama, Tan.”

Beberapa menit kemudian urusan laporan di kantor polisi selesai dengan cepat. Karena keluarga Resa sudah ditemukan. Sebelum pergi, Bu Veni menatap Ardila sekali lagi.

“Kapan-kapan datang ke rumah.”

Ardila sedikit terkejut. Namun ia hanya menjawab sopan, “Iya, Tan.”

Sementara itu Areksa masih berdiri beberapa langkah di belakang ibunya. Tatapannya tetap tenang. Namun di balik ketenangan itu… ada banyak hal yang tidak terucap.

Resa melambaikan tangan kecilnya ke arah Ardila.

“Dadah Mama!”

Ardila tersenyum kecil dan melambaikan tangan kembali. Namun di dalam hatinya… ada sesuatu yang terasa aneh.

Ia tidak pernah menyangka bahwa anak kecil yang ia temukan di pom bensin… adalah anak dari pria yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Ia menerka apakah benar Areksa sudah memiliki istri?, ia langsung menggeleng kan kepalanya " 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶. 𝘙𝘦𝘴𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯! " Batin Ardila sedikit berkaca-kaca.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!