Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.
Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)
Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Halte bus Distrik Xiaoshan siang hari ini lebih padat dari hari-hariku yang biasanya. Laga Zhejiang Professional FC adalah kebanggaan semua warga dari provinsi klub kota Hangzhou, begitu juga denganku, sebagai orang yang lahir di kota ini.
Green Giants, sebutan bagi supporter Zhejiang, klub wilayah China Timur.
Aku dan Shen Yuexi akan menonton laga yang akan dilakoni Zhejiang, menjamu klub raksasa dari China Selatan dalam laga putaran musim kedua Chinese Super League, Ghuangzhou FC.
Evergrande adalah mereka, klub yang dijuluki sebagai South Chinese Tiger, atau akrab dengan sebutan Harimau dari Cina Selatan.
Lu Gacheng. Ia akan debut hari ini. Itulah alasanku tertarik dengan pertandingannya selain misi dari sistem.
Dan di antara euforia sepak bola di tanah Tiongkok ini, aku mengenakan kemeja hitam berdalaman jersey warna hijau Zhejiang PFC, sebagai identitas diriku akan darah sepak bola kota kelahiran. Sama seperti yang dikenakan remaja bernama [ Wei Ying ] itu.
Data statistik anak itu sangat menakjubkan.
Dia, aset berharga sepak bola.
Shen Yuexi lantas dari diam ke menghela napas panjang.
“Bus sedikit lebih telat,” kata Shen Yuexi. “Mungkin karena pertandingan nanti di pusat kota Hangzhou, lalu lintas jadi macet.”
Aku memandang pipinya yang mengembang. “Benar ... untungnya kau bilang ke ibu ingin ke perpustakaan Hangzhou.” Terik matahari terasa di kulit, walau sinarnya terhalang atap halte bus tempatku menunggu.
“Tenang saja, Han.” Shen Yuexi menyilangkan tangan di depan dada, senyumnya menyapaku. “Lagi pula, kita harus transit di SMA Hangzhou no. 9. Jarak 15 KM itu lumayan tahu, apa kakimu aman, Han?”
“Tentu saja,” kataku. “Jangan khawatirkan kaki yang patah ini, setidaknya masih bisa berjalan, bukan?”
Sementara mataku, tanpa sadar menatap lagi Wei Ying di saat aku mengobrol dengan Shen Yuexi.
Gadis itu tiba-tiba saja berkata, “Han, aku ingin ke toilet sebentar, kebelet pipis.” Dan irisku kembali di wajahnya yang tak lagi masam.
“Ehh, kalau busnya datang bagaimana?”
“Tenang saja, rute busway mungkin tersendat lalu lintas, bus tidak akan datang di waktu dekat ini.”
Aku mengangguk. “Baiklah.”
Shen Yuexi, melangkah ke minimarket dekat halte, derapnya santai, seperti orang yang ingin berbelanja dibandingkan langkah gadis yang ingin membuang hadas kecilnya.
“Aneh, jalannya bukan seperti orang pengen kencing,” kataku meragu, tangan berada di dagu.
Lupakan saja tentang Shen Yuexi, mungkin memang benar ia ingin ke toilet sebentar. Remaja itu lebih membuatku tertarik, Wei Ying. Sistem bilang begitu.
Aku menatapnya, dia di hadapanku.
Apa anak seusianya memang bisa seberbakat itu?
Ding!
[ Statistik yang diperlihatkan sesuai dengan kategori anak-anak seusianya ]
[ Data statistik akan diperbarui di usia berikutnya ]
Ahh ... jadi begitu, tandanya, potensi besarnya berada di umurnya sekarang? Dan akan terus berkembang seiring ketekunannya, ya?
Akan sia-sia bakatnya jika dia bukan seorang yang menapaki jalan si kulit bundar.
“Hei,” panggilku akhirnya.
Apa dia sendirian?
Aku memanggilmu adik kecil, tapi dia hanya diam.
“Hei,” kataku sekali lagi. “Kau yang pakai jersey Zhejiang.”
Wei Ying akhirnya menoleh, wajahnya tampak jelas, sangat belia. “Kau memanggilku?” Dia menunjuk wajahnya sendiri.
“Tentu saja, siapa lagi yang memakai jersey sepak bola di sini?”
“Apa kita saling mengenal? Aku tidak ingat pernah bertemu kakak.”
Aku terkekeh. “Tentu saja, belum pernah.” Kemudian tanganku terulur kepadanya. “Namaku Xiao Han, We—”
Sial, hampir saja aku memanggil namanya.
“Siapa namamu?”
“A-Apa kakak orang jahat?” Alisnya terangkat satu. “Aku anak orang miskin, kau takkan dapat apa-apa jika menculikku,” ucapnya dengan wajah datar.
Anak ini, punya mentalitas, dia tak memiliki keraguan apapun untuk berbicara pada yang lebih tua, terutama aku ini orang asing.
Dia mengabaikanku, memalingkan pandangannya ke lain arah.
Ding!
[ Event Time : Cari tahu siapa Wei Ying ]
[ Hadiah : 100 Exp — 13 Komunikasi ]
Sistem itu ... tiba-tiba saja memberiku hal ini, bukankah statistik sudah memberi tahu siapa Wei Ying?
“Hey, bisakah kau menghormati orang yang lebih tua darimu?” Tanganku yang mengulur padanya, turun dengan keluhan. “Ngomong-ngomong, hari ini sedikit panas.” Aku membuka kemejaku, menampilkan Jersey yang aku kenakan, isyarat bahwa aku juga seorang Green Giant.
Dia melirikku, lalu menolehkan kepalanya cepat. “Kakak Green Giant juga?” Matanya berbinar, senyumnya bangkit.
“Benar, aku si supporter nomor satu Zhejiang PFC.”
“Benarkah? Aku juga sama.”
“Hahahaha, kau memang Green Giant sejati, ya.”
Tak ada keraguan, anak ini benar-benar seorang penggemar, matanya yang sipit itu sama seperti mataku. Hanya saja, ada kepolosan yang tak bisa aku untaikan katanya.
“Namamu siapa?” tanyaku lagi.
“A-Aku Wei Ying, orang yang akan mengantarkan Tim Nasional China ke sepak bola.”
“Ohh ... Jadi kau seorang pemain bola juga, ya?”
“Ya benar, tapi ...” senyumnya memudar.
“Kenapa?”
Raut wajah Wei Ying ... seperti bukan ekspresi yang seharusnya ia buat untuk anak seusianya.
“Aku takkan bertanya lebih ... maukah kau ke Huanglong bersama? Aku punya teman yang bersamaku juga, sih.”
“Boleh saja, sih. Kalau kakak bukan orang jahat.” Dia tersenyum hingga tampak jelas, dua gigi gingsul yang ia miliki. “Aku juga punya saudara sepupu yang menungguku di sana.”
“Panggil saja, Han. Aku tidak setua itu untuk disebut kakak, aku baru lulus SMA.”
“E-Ehh ... J-jadi ... Om?”
Wajahku melemas, mendengar seorang anak di bawah generasiku memanggil diriku dengan sebutan layaknya pria paruh baya.
“Xiao Han, panggil Han.”
“Ba-Baiklah Ha—”
“Halo ...” satu suara memotong ucapan Wei Ying, bukan dari bibirku. “Aku Shen Yuexi, siapa anak kecil yang imut ini?” Dia bungkuk setengah badan, menyapa remaja dari belakang tubuhnya, tepat di samping wajah.
“Ahhh Yue.” Aku menunjuk Wei Ying. “Yue ... dia Wei Ying.” lalu berganti tuju jari telunjuk. “Wei Ying, ini temanku Shen Yuexi.”
Pertemuan ini, tak disangka.
Aku bertemu seorang yang berbakat di Distrik perumahan Xiaoshan, ternyata ada yang seperti dia.
***
—PoV 3rd—
Tooootttt!
Klakson mobil menggelegar panjang. Xiao Han, Shen Yuexi, dan satu orang yang baru mereka temui, Wei Ying.
Akhirnya mereka kedatangan bus menuju pusat kota, ke Huanglong Sport Center Stadium.
“Akhirnya datang juga.”
Xiao Han tak sabar dengan match yang menanti, dia lupa memberi kabar Ye Chen jika datang menonton. Dan Wei Ying, membuatnya lebih bersemangat untuk segera sampai ke Huanglong.
Sementara Shen Yuexi, masih seperti dirinya yang seharusnya.