NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Bima Luka Lama

...GAMON...

...Bab 14: Bima Luka Lama...

...POV Bima...

---

Malam Itu – Kost Bima

Dua Jam Setelah Baca Surat Keana

Surat itu masih di atas meja.

Bima udah baca ulang tiga kali. Setiap kali baca, rasanya beda. Pertama, kaget. Kedua, haru. Ketiga... bingung.

Bukan bingung mau milih siapa. Tapi bingung sama diri sendiri. Karena setelah sekian lama, setelah semua yang udah dia lewatin, ternyata masih ada bagian kecil di dalam dirinya yang merasa—bukan cinta, tapi sesuatu. Sesuatu yang nggak bisa dia jelaskan.

Mungkin itu luka lama. Mungkin itu kenangan. Mungkin itu manusiawi.

Tapi yang pasti: itu bikin dia nggak bisa tidur.

---

Dia berdiri. Jalan ke jendela. Buka sedikit. Angin malam masuk—dingin, tapi nggak cukup buat tenangin kepala.

Ponsel di tangan. Layar gelap. Rina udah kirim pesan setengah jam lalu.

Rina (22.47): "Sayang, udah mau tidur? Jangan lupa minum air putih. Love you."

Love you.

Dua kata itu. Dari Rina. Yang selama ini bikin dia tenang. Tapi malam ini, rasanya beda. Bukan kurang. Tapi berat. Karena dia nggak mau Rina ngerasa jadi pilihan kedua. Padahal Rina nggak pernah minta jadi pertama. Rina cuma minta jadi satu-satunya.

Bima tarik napas. Mau balas. Tapi jari berhenti.

Dia letakkan ponsel. Balik ke meja. Tatap surat itu lagi.

---

Surat itu masih terbuka. Kata-kata Keana nggak bisa lepas dari kepala.

"Lo bilang lo cuma 'biasa'. Tapi sekarang aku tahu: biasa yang lo maksud itu adalah setia. Tulus. Nggak banyak maunya. Nggak neko-neko. Dan itu... itu langka, Bim. Itu yang paling berharga."

Dulu, dia mati-matian pengen denger kata-kata itu dari Keana. Dia pengen Keana lihat dia. Hargai dia. Terima dia apa adanya.

Sekarang, pas denger, rasanya... aneh. Kayak makan makanan kesukaan pas lagi nggak enak badan. Rasanya masih sama, tapi seleranya udah berubah.

Kenapa?

Karena dia udah berubah. Atau karena yang ngomong sekarang adalah Keana—yang dulu nyakitin dia?

Atau karena hatinya udah nggak di sana lagi?

---

Pintu kost diketuk. Pelan. Tapi jelas.

Bima kaget. Jam 11 malam. Siapa?

Dia buka pintu.

Rina.

Dia berdiri di luar, pake jaket tebal, rambut sedikit berantakan kena angin. Di tangan, bawa plastik—isi makanan.

"Rin? Lo... lo ke sini jam segini?"

Rina senyum tipis. "Lo nggak bales chat. Gue khawatir."

Bima diem. Hatinya hangus.

"Masuk."

---

Rina duduk di kursi—satu-satunya kursi di kost itu. Matanya langsung jatuh ke meja. Ke surat itu. Masih terbuka.

Dia nggak ngomong. Cuma lihat. Lalu alihkan pandangan ke Bima.

"Udah baca?"

Bima angguk.

"Dan?"

Bima duduk di tepi kasur. Tatap lantai.

"Gue nggak tahu, Rin."

Rina diem. Nggak ngegas. Nggak marah. Nggak nangis. Cuma duduk, tangan di pangkuan, napas pelan.

"Cerita."

Bima angkat muka. Matanya mulai basah.

"Gue nggak tahu harus ngerasa apa. Gue udah maafin dia. Gue udah move on. Gue sayang lo. Tapi pas baca surat itu... ada yang aneh. Bukan pengen balik. Tapi... kayak ada yang kebuka lagi. Luka lama yang selama ini udah gue tutup rapat."

Rina dengerin. Nggak potong.

"Gue takut, Rin."

"Takut kenapa?"

"Takut kalau ini berarti gue belum selesai sama masa lalu. Takut kalau lo ngerasa gue masih nyimpen rasa. Takut... lo pergi."

Rina berdiri. Jalan mendekat. Duduk di samping Bima—di kasur. Ambil tangannya. Genggam.

"Bim, gue nggak akan pergi."

Bima tatap dia. Matanya merah.

"Tapi—"

"Nggak ada tapi." Rina potong. Lembut, tapi tegas. "Gue tahu lo lagi berantem sama diri lo sendiri. Gue tahu surat ini bikin lo inget hal-hal yang udah lo pendam. Tapi dengerin gue: lo berhak ngerasa bingung. Lo berhak ngerasa sakit. Lo berhak ngerasa apa pun."

Dia jeda. Tarik napas.

"Tapi lo nggak berhak nyalahin diri lo sendiri."

Bima diem.

"Lo takut gue pergi? Lihat gue, Bim. Gue di sini. Jam 11 malam. Naik ojek. Demenin lo. Bukan buat nanya 'lo masih sayang dia?' tapi buat bilang: lo nggak sendirian."

Air mata Bima jatuh.

Rina hapus air mata itu. Pelan.

"Cinta itu bukan tentang nggak pernah luka. Tapi tentang milih buat tetep ada, meskipun lukanya masih basah." Dia tatap Bima. "Dan gue milih lo. Udah dari dulu. Masih. Dan akan terus."

Bima nggak bisa nahan. Dia tarik Rina ke pelukan. Erat. Kuat. Kayak orang yang baru nemu tempat pulang setelah bertahun-tahun nyasar.

Rina balas peluk. Tangannya usap-usap punggung Bima.

Di situ, di kost sempit itu, di jam 11 malam, Bima nangis di pelukan Rina. Bukan nangis karena Keana. Tapi nangis karena lega. Lega karena dia nggak sendiri. Lega karena ada yang nerima dia apa adanya—dengan semua lukanya, semua kebingungannya, semua masa lalunya.

---

Setelah Tangis Reda

Mereka duduk di lantai. Punggung sandar ke kasur. Makanan bawaannya Rina dibuka—nasi goreng, telur ceplok, kerupuk. Sederhana.

"Makan." Rina sodorkan sendok. "Lo pasti laper. Dari tadi nggak bales chat, berarti nggak makan malem."

Bima ambil sendok. Makan dikit.

"Ini enak."

"Bohong. Ini beli di warteg dekat sini." Rina ketawa. "Gue nggak sempet masak. Buru-buru."

Bima senyum. "Tetep enak."

Mereka makan diam-diam. Di sela-sela, Rina ngomong.

"Bim."

"Hmm?"

"Lo tahu, gue baca surat itu."

Bima kaget. "Lo baca?"

"Iya. Maaf. Gue kepo. Tapi pas liat di meja, kebuka, mata gue nggak sengaja lihat." Rina tatap dia. "Dan gue seneng."

Bima bingung. "Seneng?"

"Iya. Karena di surat itu, dia ngaku. Dia nyesel. Dia ngasih lo harga diri yang dulu lo kekurang." Rina senyum. "Lo pantas dapet itu. Bukan supaya lo balik sama dia. Tapi supaya lo tahu: lo berharga. Dan selama ini, gue juga lihat itu."

Bima diem. Dadanya hangat.

"Rin..."

"Lo nggak usah ngomong apa-apa." Rina pegang tangannya. "Makan dulu. Besok kita ngomong lagi. Sekarang, lo istirahat. Pikiran lo lagi kacau. Gue tahu."

Bima tatap dia. Lama.

"Gue sayang lo, Rin."

Rina senyum. Manis.

"Gue tahu."

---

Malam Itu – Rina Pulang

Bima nganter Rina ke pangkalan ojek. Jam 12 lewat. Sepi.

"Lo pulang hati-hati." Bima pegang tangannya. "Sampai rumah kabarin."

Rina angguk. Naik ojek. Sebelum pergi, dia nengok.

"Bim."

"Hmm?"

"Surat itu... simpen. Baca lagi kalau lo butuh. Tapi inget satu hal."

"Apa?"

"Masa lalu itu boleh dikenang. Tapi jangan dijadikan tempat tinggal."

Ojek jalan. Rina pergi. Bima lihat sampai hilang.

Dia balik ke kost. Duduk di meja. Surat itu masih ada. Dia tatap lama.

Lalu dia ambil surat itu, lipat rapi, dan simpan di laci. Bukan dibuang. Tapi juga nggak ditaruh di tempat yang gampang dilihat.

Di tempat yang pas. Sebagai kenangan. Bukan sebagai pegangan.

---

Pukul 01.00 – Bima Nulis di Buku Catatan

Dia buka buku catatan lama. Hampir penuh. Tapi masih ada satu halaman kosong di belakang.

Dia nulis:

---

Malam ini Rina dateng. Jam 11 malam. Bawa nasi goreng warteg dan hati yang lebih besar dari apa pun.

Dia nggak marah. Nggak cemburu. Nggak nuntut. Dia cuma... ada.

Gue nangis di pelukannya. Nangis kayak anak kecil. Dan dia tetap di situ.

Gue tahu sekarang: cinta sejati bukan yang bikin jantung deg-degan. Tapi yang bikin hati tenang—meskipun dunia lagi kacau.

Surat Keana udah gue simpen. Bukan buat dikenang. Tapi buat jadi pengingat: dari mana gue datang, dan sejauh mana gue udah jalan.

Makasih, Rin. Lo bener-bener rumah.

---

Dia tutup buku. Matikan lampu.

Di luar, langit mulai cerah. Bintang keliatan.

Bima tidur. Nyenyak. Tanpa mimpi buruk.

---

Bersambung ke Bab 15: Keana Datang Langsung

---

...📝 Preview Bab 15:...

Keana nggak tahu kalau suratnya udah sampe. Nggak tahu kalau Bima udah baca. Nggak tahu kalau Rina tahu.

Dia cuma... nggak bisa diem. Ada yang dorong dia buat ketemu langsung. Bukan buat merebut. Tapi buat ngomong—dari mulut ke mulut. Tampa perantara. Tampa kertas.

Dia dateng ke kantor Bima.

Dan di situlah dia akan tahu: Bima udah nggak sendiri.

Bab 15: Keana Datang Langsung—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!