bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
adu kebucinan dan keroyalan
Mall yang tadi hanya jadi tempat belanja biasa… sekarang berubah jadi arena kompetisi tidak resmi:
“Siapa cowok paling bucin dan paling royal?”
Empat orang itu berjalan berdampingan—tapi suasana mulai terasa… berbahaya.
Rafi melirik Yoga dengan senyum menantang.
“Gimana kalau sekalian kita double date?”
Yoga menyipitkan mata. “Boleh… tapi jangan nangis ya nanti.”
Bella langsung curiga. “Kenapa aku merasa ini bakal jadi ide buruk?”
Althea mengangguk pelan. “Aku juga…”
Rafi tiba-tiba berhenti di depan toko branded. “Oke, mulai sekarang—challenge.”
Yoga melipat tangan. “Challenge apaan?”
Rafi menyeringai.
“Siapa yang paling bucin… dia yang paling royal buat pacarnya.”
Hening 2 detik.
Bella & Althea:
“HAH?!”
Yoga langsung tersenyum tipis. “Lo nantang gue?”
Rafi: “Berani nggak?”
Yoga: “Gas.”
Bella langsung narik lengan Yoga. “EH! Kamu serius?!”
Yoga santai. “Santai aja.”
Althea juga panik. “Rafi, jangan aneh-aneh!”
Rafi: “Ini demi cinta.”
Bella: “INI DEMI DOMPET KALIAN JEBOL!”
Yoga:tenang sayang pacar kamu CEO perusahaan besar
Rafi : aku juga asisten kepercayaan bos besar
Yoga :itu gue
ROUND 1: BAJU
Mereka masuk ke toko pakaian.
Yoga langsung ambil beberapa dress tanpa mikir panjang.
“Ini, ini, sama ini. Coba semua.”
Bella: “WOI AKU BUKAN MANEKIN?!”
Rafi nggak mau kalah, langsung ambil lebih banyak.
“Mbak, yang ini, ini, ini… semua size dia.”
Althea: “RAFIII???”
Yoga melirik sinis. “Baru segitu?”
Rafi: “Pemanasan, bro.”
30 MENIT KEMUDIAN…
Bella keluar fitting room kelelahan.
“Aku udah coba 10 baju…”
Althea: “Aku 12…”
Yoga santai: “Ambil semua.”
Bella langsung diam. “...HAH?”
Rafi langsung teriak, “WAIT! Tambahin yang ini juga!”
Althea langsung pegangan kepala. “Aku nggak kuat…”
ROUND 2: TAS
Masuk ke toko tas mewah.
Bella mulai curiga. “Yoga… jangan macam-macam ya…”
Yoga: “Kamu suka yang mana?”
Bella pelan: “Yang itu sih…”
Yoga: “Ambil.”
Bella: “AKU CUMA LIAT DOANG!”
Rafi langsung nyeletuk, “Thea, kamu?”
Althea ragu: “Aku nggak enak…”
Rafi: “Nggak boleh nggak enak. Pilih.”
Althea: “Yaudah… yang ini…”
Rafi: “Ambil dua.”
Yoga langsung melirik.
“Copy-an.”
Rafi: “Strategi.”
ROUND 3: SEPATU
Bella: “Aku capek…”
Yoga: “Dikit lagi.”
Bella: “DARI TADI DIKIT TERUS!”
Rafi: “Sepatu itu penting.”
Althea: “Penting buat apa? Lari dari kalian?”
Yoga langsung ambil 3 pasang.
“Ini cocok.”
Rafi ambil 4.
“Upgrade.”
Yoga: “Serius lo?”
Rafi: “All in.”
ROUND 4: PERHIASAN (FINAL BOSS 💀)
Bella langsung mundur. “STOP. Ini udah kelewatan.”
Althea mengangguk cepat. “IYA! Kita bukan mau nikah hari ini!”
Yoga mendekat sedikit ke Bella.
“Tenang… ini bukan soal harga.”
Bella melotot. “INI JELAS SOAL HARGA!”
Rafi: “Santai aja… kita cuma mau buktiin.”
Althea: “BUKTIIN APA? KALIAN GILA?!”
Yoga menunjuk etalase.
“Yang itu.”
Bella: “JANGAN!”
Rafi: “Yang itu juga.”
Althea: “RAFIIII!”
HASIL AKHIR
Mereka keluar toko dengan…
10+ kantong belanja
Dompet hampir “menjerit”
Bella & Althea: campur antara shock, senang, dan nggak percaya
Bella menatap semua barang.
“Aku… harusnya marah… tapi…”
Althea melanjutkan,
“…ini menyenangkan.”
Mereka saling pandang… lalu ketawa.
Yoga mendekat ke Bella.
“Senang?”
Bella menahan senyum. “Sedikit…”
Rafi ke Althea:
“Kamu?”
Althea: “Banyak.”
PENUTUP CHAOS 😆
Bella tiba-tiba menoleh ke Yoga.
“Tapi ini terakhir ya!”
Althea langsung: “IYA! Nggak boleh diulang!”
Yoga & Rafi saling pandang…
“Next time?” – Rafi
“Next time.” – Yoga
Bella & Althea barengan:
“JANGANNN!!!”
Empat orang itu akhirnya tertawa bersama.
Dan satu hal yang pasti—
hari itu bukan cuma double date,
tapi juga hari di mana Bella & Althea jadi pihak paling diuntungkan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore mulai berganti malam.
Empat orang itu akhirnya duduk di sebuah café setelah “perang belanja” yang… tidak masuk akal.
Di meja—
bertumpuk kantong belanja.
Bella awalnya masih santai, bahkan sempat tersenyum kecil sambil memegang salah satu tas barunya.
“Tasnya bagus sih…” gumamnya.
Althea mengangguk. “Sepatunya juga nyaman banget…”
Rafi menyender santai. “Ya jelas dong.”
Yoga cuma minum kopi, tenang… terlalu tenang.
Beberapa menit kemudian…
Bella melihat struk belanja yang tadi diselipkan di kantong.
Awalnya biasa saja.
Lalu… matanya berhenti.
Alisnya mengerut.
Dibaca lagi.
Didekatkan ke mata.
Dibaca ulang untuk ketiga kalinya.
“…Yoga.”
Nada suaranya berubah.
Yoga masih santai. “Hmm?”
Bella pelan, tapi berbahaya:
“Ini… angka apa?”
Yoga melirik sekilas. “Oh, itu total tadi.”
Hening.
Althea ikut mendekat.
“Eh… bentar…”
Rafi mulai merasa tidak enak.
“Kenapa?”
Bella langsung meledak:
“INI MAHAL BANGET GILA?!!!”
Orang-orang di café langsung menoleh.
Rafi refleks nutup wajah. “Ya Allah, mulai…”
Bella berdiri dari kursinya.
“Yoga! Ini satu hari belanja bisa buat hidup berapa bulan tau?!”
Yoga masih duduk santai.
“Lebay.”
“LEBAY KATA KAMU?!” Bella menunjuk struk itu.
“INI BISA BUAT BELI MOTOR!”
Althea ikut panik.
“Iya Rafi, ini kebanyakan banget…”
Rafi mulai defensif.
“Eh tadi kalian yang milih!”
Bella: “KAMI CUMA MILIH SATU, KALIAN BELI SEMUA!”
Yoga akhirnya menaruh cangkir kopinya.
Pelan. Tenang.
Lalu berdiri.
Aura berubah.
Ia mendekat ke Bella sedikit.
“Udah selesai marahnya?”
Bella melotot. “BELUM!”
Yoga memasukkan tangan ke saku celana.
Dengan santai, dia berkata—
“Bella… aku ini CEO perusahaan besar.”
Hening.
Rafi langsung menoleh, senyum mulai muncul.
Yoga lanjut, dengan nada super tenang…
“Uang segitu… nggak ada apa-apanya buat aku.”
BOOM.
Bella langsung membeku.
Althea ikut diam.
Rafi hampir ketawa.
Bella menyipitkan mata.
“Kamu… lagi sombong?”
Yoga: “Realistis.”
Bella: “ITU SOMBONG!”
Yoga mendekat sedikit lagi, suaranya lebih pelan tapi jelas.
“Kalau itu bisa bikin kamu senyum, ya udah cukup.”
Bella langsung kehabisan kata-kata 2 detik.
“…itu bukan poinnya!”
Rafi langsung tepuk tangan pelan.
“Anjay… bucin tapi versi sultan.”
Althea ikut nyeletuk,
“Ini bukan bucin… ini investasi perasaan.”
Bella menutup wajahnya.
“Pusing… aku pusing…”
Yoga dengan santai menarik kursi, duduk lagi.
“Udah, duduk.”
Bella masih berdiri.
“Enggak! Aku harus balikin ini semua!”
Yoga: “Coba aja.”
Bella: “YA AKU BALIKIN!”
Yoga: “Struknya atas nama aku.”
Bella: “…”
Rafi langsung ngakak.
“Checkmate.”
Althea mulai ketawa pelan.
“Bella… yaudah nikmatin aja…”
Bella menoleh cepat.
“KAMU KOK IKUT-IKUTAN?!”
Althea: “Soalnya… aku juga senang…” 😭
Bella langsung duduk lagi dengan kesal.
“Ini nggak bener… ini nggak mendidik…”
Yoga santai:
“Besok kita belanja lagi.”
Bella langsung berdiri lagi.
“JANGAN!!!”
Rafi: “Gue setuju.”
Althea: “Aku juga—eh… maksudnya nggak!”
Yoga tersenyum tipis melihat reaksi Bella.
“Udah. Anggap aja… itu hadiah.”
Bella menatapnya lama.
“Hadiah apaan segitu banyak?”
Yoga tanpa ragu:
“Hadiah karena kamu ada.”
Hening.
Rafi: “…”
Althea: “…”
Bella: “…”
Lalu—
“YAAMPUN GOMBAL BANGET!” Bella langsung melempar tisu ke arah Yoga.
Yoga cuma ketawa kecil.
Akhirnya mereka berempat kembali duduk, suasana mulai santai lagi.
Bella masih menggerutu kecil, tapi tangannya… tetap memegang tas barunya.
Althea tersenyum sambil berbisik,
“Untung ya…”
Bella balas pelan,
“Banget…”
Di sisi lain—
Yoga dan Rafi saling pandang.
Rafi: “Round berikutnya kapan?”
Yoga: “Kapan aja.”
Bella & Althea langsung:
“JANGAN LAGI!!!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil Yoga berhenti mulus di halaman kos Bella. Mesin dimatikan, tapi suasana di dalam mobil masih panas—bukan karena AC rusak, tapi karena Bella masih setengah ngamuk sejak lihat total belanjaan tadi. 😤
Bella langsung buka seatbelt dengan gerakan cepat.
“Udah, aku turun.”
Yoga menoleh santai, satu tangan masih di setir.
“Belum selesai.”
Bella melotot. “SELESAI. Dari tadi aku udah ceramah panjang!”
Yoga menyandarkan punggungnya, menatap Bella dengan ekspresi tenang yang justru bikin emosi.
“Ceramah kamu masuk… tapi nggak mengubah apa-apa.”
Bella langsung putar badan penuh ke arah Yoga.
“YA IYALAH! KAMU MAH SULTAN!”
Yoga mengangkat alis.
“Bukan sultan. CEO.”
“ITU SAMA AJA DI TELINGA AKU!”
Yoga hampir ketawa, tapi ditahan.
Bella membuka pintu mobil agak keras.
“Aku pulang!”
Baru mau turun—
“Tunggu.”
Suara Yoga bikin Bella berhenti.
“Apalagi? Mau bilang besok belanja lagi?”
Yoga menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada yang… terlalu santai.
“Masuk kos, langsung sikat gigi, cuci tangan, cuci kaki, terus tidur.”
Hening.
Bella pelan menoleh.
“…Apa?”
Yoga tetap tenang.
“Kamu capek. Dari tadi jalan terus.”
Bella berkedip.
Lalu—
“AKU BUKAN ANAK KECIL!”
Yoga: “Kelakuan kamu dari tadi kayak anak kecil.”
“ENAK AJA!”
Bella keluar dari mobil, lalu menutup pintunya sedikit lebih keras dari normal.
Yoga ikut turun, menyender di samping mobil, masih dengan aura santainya.
Bella menatapnya kesal.
“Kamu tuh ya… habis bikin aku pusing, sekarang nyuruh-nyuruh lagi!”
Yoga mendekat satu langkah.
“Kalau kamu nggak capek, kenapa dari tadi ngeluh?”
Bella langsung diam sebentar.
“…itu beda!”
Yoga: “Bedanya?”
Bella: “Ya… beda aja!”
Yoga menggeleng kecil, senyum tipis muncul.
Bella melipat tangan.
“Pokoknya ya, aku masih kesel.”
Yoga mengangguk.
“Silakan.”
Bella: “Kamu nggak mau minta maaf?”
Yoga: “Buat apa?”
Bella makin melotot.
“KARENA KAMU BOROS!”
Yoga santai:
“Itu uang aku.”
Bella: “TAPI BUAT AKU!”
Yoga sedikit mendekat lagi, suaranya lebih pelan.
“Dan aku nggak masalah.”
Bella langsung kehabisan kata-kata lagi beberapa detik.
Angin malam berhembus pelan.
Suasana tiba-tiba jadi lebih tenang.
Bella menghela napas panjang.
“Aku tuh… nggak biasa diperlakukan kayak gini…”
Yoga menatapnya. Kali ini lebih serius.
“Makanya biasain.”
Bella: “…”
“YA KAGAK GITU JUGA!”
Yoga akhirnya ketawa kecil.
Bella memalingkan wajah, masih cemberut tapi tidak sekeras tadi.
Yoga melihatnya sebentar, lalu berkata lagi—
“Udah. Masuk.”
Bella tidak bergerak.
Yoga:
“Cuci tangan.”
Bella: “…”
“Cuci kaki.”
Bella: “…”
“Sikat gigi.”
Bella akhirnya menoleh cepat.
“YA IYA AKU TAU!”
Yoga menahan senyum.
Bella berjalan menuju pintu kos, tapi tiba-tiba berhenti.
Menoleh ke belakang.
Yoga masih berdiri di sana, bersandar di mobilnya.
Bella sedikit ragu, lalu berkata pelan—
“…makasih.”
Yoga tidak langsung jawab.
Bella cepat-cepat menambahkan,
“TAPI AKU MASIH KESEL!”
Yoga tersenyum tipis.
“Noted.”
Bella masuk ke dalam kos.
Pintu tertutup.
Yoga masih berdiri beberapa detik, lalu menggeleng kecil sambil tersenyum.
“Anak kecil…” gumamnya pelan.
Di dalam kamar—
Bella meletakkan semua barang di kasur.
Melihat tas, sepatu, dan semua yang tadi dibeli.
Dia duduk pelan.
Menghela napas.
“…gila sih.”
Tapi tanpa sadar—
senyum kecil muncul di wajahnya.
Sementara di luar—
Yoga masuk kembali ke mobilnya.
Menatap ke arah kos Bella sebentar.
Lalu berkata pelan, hampir tidak terdengar—
“Asal kamu senang…”
Mesin mobil menyala.
Dan yoga pulang menuju apartemen nya
Mau pulang kerumah juga dia sama sama sendiri orang tua dan adik nya ada di Belanda