Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: latihan di Pagi hari
Alarm di ponsel Liana sebenarnya sudah berteriak sejak pukul lima pagi, namun rasa lelah yang luar biasa setelah latihan berat kemarin membuat tangannya secara otomatis menekan tombol snooze berkali-kali. Hingga akhirnya, matanya terbuka lebar saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 05:40.
"Mati gue! Kak Justin bakal bunuh gue!" pekik Liana sambil melompat dari tempat tidur.
Ia mandi dengan kecepatan kilat, hanya membasuh tubuhnya agar terasa segar. Di lantai bawah, Ibunya sudah menyiapkan nasi goreng hangat dan telur mata sapi di atas meja makan. Aroma gurihnya sempat menggoda indra penciuman Liana, namun ketakutan akan wajah dingin Justin jauh lebih mendominasi pikirannya.
"Liana, makan dulu, Sayang. Ini Ibu sudah masakin," seru Ibunya lembut.
"Nggak sempat, Bu! Liana sudah telat banget!" sahut Liana sambil menyambar sepotong roti tawar tanpa selai dari piring. "Liana berangkat ya, Bu!"
Liana berlari menuju halte bus sambil mengunyah roti tawarnya dengan terburu-buru. Udara pagi yang masih sangat dingin menusuk kulitnya yang hanya dilapisi kaus latihan tipis. Ia terus melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 06:10. Ia sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal yang ditentukan Justin.
Di lapangan basket terbuka, suasana masih sangat sepi. Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di udara. Justin sudah berdiri di sana, mengenakan jaket tracksuit hitam dan celana pendek. Ia sedang melakukan pemanasan sendiri, mendribel bola dengan irama yang konstan. Suara pantulan bola bergema di seluruh area fakultas yang masih sunyi.
Liana sampai di pinggir lapangan dengan napas yang hampir putus. Wajahnya memerah karena berlari dari gerbang kampus.
"Maaf... Kak... saya telat," ucap Liana terengah-engah, tangannya memegang lutut untuk menopang tubuhnya yang lemas.
Justin menghentikan bolanya. Ia menatap Liana dengan ekspresi datar, namun matanya sempat melirik ke arah jam tangannya. "Sepuluh menit tiga puluh detik. Lari keliling lapangan lima kali sebagai hukuman, baru mulai latihan teknik."
Liana tidak berani membantah. Meski perutnya mulai terasa kosong dan bergejolak, ia segera melakukan instruksi Justin. Ia berlari mengelilingi lapangan yang masih basah oleh embun. Justin terus memperhatikan setiap langkah Liana dari tengah lapangan, memastikan maba-nya itu tidak curang.
Setelah hukuman selesai, latihan inti dimulai. Karena hanya ada mereka berdua, suasana terasa sangat intim. Tidak ada suara teriakan maba lain, tidak ada bisik-bisik gosip, hanya ada suara instruksi Justin dan bunyi bola yang masuk ke dalam ring.
"Posisi kaki lo saat shooting masih belum stabil. Sini," ucap Justin.
Justin melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Liana. Ia memegang kedua lengan Liana untuk membetulkan posisi sikunya, lalu sedikit mendorong punggung Liana agar posisinya lebih tegak. Jarak yang begitu dekat ini membuat Liana bisa merasakan napas hangat Justin di dekat telinganya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena lelah berlari, tapi karena kehadiran Justin yang begitu nyata di sisinya.
"Fokus, Liana. Jangan melamun," bisik Justin pelan.
Liana mengangguk gugup, lalu mencoba melempar bola. Swish! Bola masuk dengan sempurna. Justin tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Nah, gitu. Ulangi lagi."
Namun, di balik rimbunnya pohon kersen yang berada di pinggir lapangan, seseorang sedang mengawasi mereka. Alena berdiri di sana dengan wajah yang gelap. Ia sudah sengaja datang pagi-pagi untuk membuktikan apakah benar Justin memberikan latihan khusus pada Liana. Melihat bagaimana Justin menyentuh lengan Liana dan menatapnya dengan lembut, tangan Alena mengepal kuat hingga kukunya memutih.
"Jadi bener, lo kasih perlakuan spesial buat dia, Justin?" gumam Alena penuh kebencian sebelum akhirnya berbalik pergi dengan hati yang terbakar api cemburu.
Pukul 07:45, latihan subuh itu berakhir tepat saat matahari mulai naik. Mahasiswa lain mulai berdatangan ke area kampus.
"Sudah cukup untuk pagi ini. Kelas lo jam berapa?" tanya Justin sambil menyodorkan botol minum ke arah Liana.
"Jam delapan, Kak. Di gedung B," jawab Liana sambil meneguk airnya. Ia merasa sedikit pusing saat berdiri tegak secara mendadak.
"Ya sudah, sana ganti baju. Jangan sampai telat masuk kelas," ucap Justin.
Liana pamit dan segera menuju toilet untuk berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja kuliahnya, namun saat bercermin, ia menyadari wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Perutnya mulai terasa melilit—perih yang sangat tajam di bagian lambung. Roti sepotong yang ia makan tadi pagi seolah sudah menguap habis terbakar saat latihan.
Liana memaksakan diri masuk ke ruang kelas. Beruntung, ia masih sempat duduk di samping Dhea sebelum dosen masuk.
"Woi, Li! Muka lo kenapa? Kok pucat banget kayak mayat?" tanya Dhea kaget saat melihat sahabatnya lemas di atas meja.
Liana hanya menggeleng lemah, memegang perut kirinya yang terasa seperti ditusuk-tusuk. "Lambung gue... sakit banget, Dhe."
"Lo nggak makan pagi, Li?" Dhea meraba dahi Liana yang terasa dingin dan berkeringat.
"Tadi... cuma makan roti sepotong doang di jalan. Terus tadi langsung latihan berat sama Kak Justin," bisik Liana parau.
"Gila lo ya! Kak Justin itu latihan kayak militer, lo malah nggak sarapan. Gue ambilin air anget dulu ya?" Dhea tampak sangat khawatir.
Selama penjelasan dosen di depan kelas, Liana sama sekali tidak bisa fokus. Pandangannya mulai kabur, dan rasa perih di perutnya semakin menjadi-jadi. Ia mencoba bertahan, namun keringat dingin terus mengucur deras di pelipisnya. Keringat yang bukan berasal dari lelah olahraga, melainkan dari rasa sakit yang menahan kesadarannya agar tidak tumbang.
Di sisi lain kampus, Justin yang sedang berada di perpustakaan mendadak merasa tidak tenang. Ia teringat wajah Liana yang tadi tampak sedikit letih di akhir latihan. Ia merogoh ponselnya, berniat mengirim pesan singkat hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja di kelas.