NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adipati Danurwenda

Setelah mengirim Adipati Surapati dengan elang hitamnya ia berbalik pada warga yang sedang berkumpul

" Paman kenapa pada bengong?" ucap Jaka karena mereka yang tadi membantunya melawan para prajurit malah menatapnya dengan mulut ternganga

" kami tak menyangka, Den jaka ternyata Pendekar Elang Hitam yang sedang naik daun" Pak Atmo mendekat dan menepuk bahu Jaka dengan Bangga

" ah paman Atmo, itu hanya julukan kosong" ucap Jaka Malu

" Saudara sekalian, ayo kita datangi kediaman Adipati" Ajak Jaka

warga mengangguk, dengan di pimpin oleh Jaka dan Pak Atmo mereka berjalan ke rumah Adipati Sura

saat sampai beberapa warga sedang mengepung sebuah kereta kuda

" Ada apa ini?" tanya Jaka

" Den Jaka, ini istri dan anak adipati hndak melarikan diri" seorang warga menjawab

Jaka membuka tirai yang menutup kereta, di dalam kereta empat wanita dan dua anak kecil meringkuk ketakutan saat melihat Jaka

" Paman, apa mereka sama jahatnya dengan adipati?" tanya Jaka

" Tidak den Jaka, malah sering membantu warga diam diam" jawab pak Atmo

jaka mengangguk, lalu menengok pada wanita di dalam kereta

" Kalian membawa harta adipati ?" tanya Jaka

" Tidak, kami tidak membawa harta milik adipati, ini milik kami sebelum kami di culik olh adipati Surapati

Jaka terdiam rupanya mereka juga korban dari Adipati Surapati

" Kalian akan kemana, apa tidak sebaiknya menunggu prajurit kerajaaan biar kalian ada yang mengawal" saran Jaka

" Tidak apa, kami mampu berjaga diri" sahut wanita yang paling muda

" baiklah, kalian boleh pergi" ucap Jaka, jaka menyuuh para warga memberi jalan, setelah kereta kuda itu pergi jaka mengajak bebrapa warga masuk

Sesampainya di dalam, Jaka langsung memerintahkan warga untuk membuka pintu gudang dan ruang penyimpanan yang terkunci rapat. Benar saja, seperti yang ia duga, di sana menumpuk berbagai hasil rampasan dan pajak yang selama ini dipaksa Adipati Surapati ambil dari rakyatnya. Beras, jagung, dan bahan pangan lainnya menumpuk di sana hingga nyaris memenuhi ruangan. Belum lagi tumpukan kain, pakaian bagus, hingga barang-barang kerajinan tangan yang seharusnya menjadi milik warga.

"Wahai saudara-saudara sekalian! Lihatlah ini! Bahan makanan yang selama ini kami rindukan ternyata menumpuk di sini, membusuk bahkan, sementara kami di rumah kelaparan!" seru salah satu warga dengan nada marah namun bercampur rasa lega.

Jaka mengangkat tangannya untuk menenangkan suasana. "Tenanglah, kawan-kawan. Mulai hari ini, semua ini adalah milik rakyat Jagabaya. Kami akan membagikannya secara adil kepada yang membutuhkan. Namun, untuk barang berharga seperti emas, perhiasan, permata, dan uang simpanan Adipati Surapati, kita harus menyimpannya terlebih dahulu."

"Kenapa tidak kita bagi saja sekarang, Den Jaka? Bukankah itu juga hasil keringat kita?" tanya seorang warga dengan wajah bingung.

"Betul itu, saudara. Tapi perhiasan dan uang itu adalah aset resmi milik Kadipaten dan Kerajaan Wijaya Kesuma. Kita harus menunggu utusan resmi dari pusat datang untuk menyerahkannya secara hukum. Jangan sampai kita dituduh merampok sama seperti mantan Adipati itu. Biarkan pejabat baru yang nanti mengaturnya agar menjadi modal pembangunan daerah ini," jelas Jaka dengan sabar.

Warga pun mengangguk paham. Mereka sadar bahwa tindakan yang terburu-buru hanya akan menimbulkan masalah baru.

"Untuk bahan makanan dan kebutuhan pokok, kita akan bagikan hari ini juga. Pastikan setiap rumah tangga mendapatkan jatah yang sama, terutama bagi mereka yang selama ini sangat kekurangan," perintah Jaka.

Para warga pun bergerak sigap. Dengan semangat gotong royong yang tinggi, mereka membawa karung-karung beras, jagung, dan bahan makanan lainnya ke alun-alun untuk dibagikan. Suasana yang tadinya suram kini berubah menjadi riuh rendah penuh kegembiraan. Ibu-ibu antre dengan wajah berseri-seri, anak-anak berlari-larian membawa bekal makanan, dan para lelaki saling bercanda tawa seolah beban di pundak mereka telah hilang.

Di tengah kesibukan itu, Jaka melihat Pak Atmo yang sedang membantu mengangkut karung beras meski usianya sudah tua. Jaka segera menghampirinya.

"Paman Atmo, biarkan yang muda-muda saja yang mengangkat, Paman sebaiknya mengatur pembagiannya saja," ucap Jaka menahan tangan lelaki tua itu.

Pak Atmo tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, Nak Jaka. Tubuh tua ini masih kuat untuk bekerja. Lagipula, melihat wajah-wajah bahagia ini, rasa lelahku hilang seketika. Terima kasih, Nak. Kau sudah membantu kami"

Jaka tersenyum tipis. "Ini berkat keberanian warga sendiri, Paman. Aku hanya sedikit membantu."

Saat pembagian bahan makanan hampir selesai, Jaka mengumpulkan para tokoh masyarakat di beranda kediaman Adipati untuk berdiskusi. Suasana di sana lebih tenang namun tetap hangat.

" saudara saudara, untuk sementara waktu Kadipaten Jagabaya belum memiliki pemimpin. Kita harus menunggu surat balasan atau utusan dari Kerajaan Wijaya Kesuma menyusul surat dan tahanan yang aku kirimkan kemarin malam," ucap Jaka membuka pembicaraan.

"Kalau begitu, siapa yang akan memimpin kita sementara waktu, Den Jaka? Kami tidak mau ada orang asing atau antek-antek Surapati yang memimpin lagi," sahut salah satu tetua desa.

Jaka memandang wajah-wajah yang menatapnya penuh harap. Ia pun menunjuk ke arah Pak Atmo yang duduk tenang di pojok ruangan.

"Menurutku, orang yang paling tepat untuk memimpin Kadipaten ini, baik sementara maupun selanjutnya, adalah Pak Atmo," ucap Jaka tegas.

Suasana hening sejenak, lalu terdengar bisikan-bisikan setuju dari para tokoh masyarakat.

"Betul itu! Pak Atmo adalah orang yang bijaksana dan sudah lama tinggal di sini. Beliau tidak punya kepentingan pribadi," ujar seorang warga mendukung.

Namun, mendengar usulan itu, wajah Pak Atmo langsung pucat. Ia segera berdiri dengan tangan gemetar.

"Ah, jangan, Nak Jaka, jangan bercanda. Aku ini cuma rakyat biasa, orang tua yang sudah renta. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi Adipati? Itu jabatan berat, Nak. Aku tidak sanggup, aku tidak mengerti cara mengurus pemerintahan," tolak Pak Atmo dengan wajah panik.

"Tapi Paman, semua warga menghormati Paman. Paman jujur dan bijaksana. Itu modal utama seorang pemimpin," bujuk Jaka.

"Maafkan aku, Nak Jaka. Maafkan aku, warga sekalian. Aku memang ingin melihat Jagabaya maju, tapi aku tahu batas kemampuanku. Tubuhku sudah tua, tenagaku sudah tidak sekuat dulu. Aku khawatir nanti malah merepotkan orang banyak," tolak Pak Atmo lagi dengan tegas namun sopan.

Melihat ketegasan Pak Atmo, Jaka menghela napas panjang. Ia tidak ingin memaksakan kehendak dan membuat lelaki tua itu tertekan.

"Baiklah, Paman Atmo. Aku mengerti kekhawatiran Paman. Tapi kalau begitu, bagaimana kalau nanti saat Adipati baru yang ditunjuk oleh Kerajaan datang, Paman bersedia menjadi penasihatnya saja? Paman bisa memberikan saran dan mengawasi jalannya pemerintahan agar tidak menyimpang. Apakah itu memberatkan?" tawar Jaka dengan nada lebih lunak.

Pak Atmo terdiam sejenak, berpikir keras. Menjadi penasihat terdengar lebih ringan dibanding harus memimpin penuh. Ia melihat wajah-wajah warga yang menatapnya penuh harap. Akhirnya, ia mengangguk perlahan.

"Kalau hanya menjadi penasihat dan itu demi kebaikan Jagabaya, aku bersedia, Nak. Asalkan tidak harus memimpin penuh. Aku akan bantu sebisa yang aku mampu," jawab Pak Atmo.

Warga pun bersorak gembira mendengar keputusan itu. Setidaknya, mereka memiliki sosok yang dipercaya untuk mengawasi jalannya pemerintahan mendatang.

Sambil menunggu Prajurit dari kerajaan jaka mengajak warga bergotong royong, memperbaiki fasilitas umum yang rusak

Untuk perhiasan dan uang hasil jarahan Adipati Surapati yang tersimpan rapi di gudang, Jaka menggunakan sebagian kecilnya untuk membeli bahan bangunan dan kebutuhan mendesak warga agar tidak mengganggu aset utama. Namun, ia tetap menyisakan bukti-bukti lengkap agar bisa dipertanggungjawabkan saat pejabat resmi datang.

Tepat seminggu setelah peristiwa itu, rombongan dari Kerajaan Wijaya Kesuma akhirnya tiba di Kadipaten Jagabaya. Tampak kereta kuda resmi dengan panji-panji kerajaan dikawal oleh pasukan pengawal istana yang rapi dan disiplin. Di dalamnya terdapat pejabat tinggi yang membawa surat keputusan dari Raja.

Mendengar kedatangan rombongan itu, Jaka dan warga menyambutnya di alun-alun. Pejabat kerajaan itu ternyata membawa kabar bahwa laporan Jaka dan penangkapan Adipati Surapati sudah diterima dan ditindaklanjuti. Saudara angkat Surapati dan pejabat pendukungnya di istana pun sudah ditangkap dan diadili.

Selain membawa kabar baik, rombongan itu juga membawa Adipati baru yang ditunjuk langsung oleh Raja, seorang bangsawan muda yang dikenal bersih dan berintegritas tinggi bernama Raden Danurwenda. Sesuai kesepakatan, Pak Atmo pun bersedia menjabat sebagai penasihat Kadipaten untuk membantu Raden Arya memahami kondisi masyarakat.

Raden Arya Danurwenda sangat berterima kasih pada Jaka dan warga. Ia kagum melihat perubahan Jagabaya yang sudah mulai tertata rapi meski belum sepenuhnya sempurna. Ia pun menerima penyerahan aset berharga dari Jaka dengan tangan terbuka dan berjanji akan menggunakannya untuk pembangunan daerah.

"Terima kasih, Pangeran . Berkat jasamu, keadilan bisa ditegakkan di sini. Aku berjanji akan memimpin Kadipaten ini dengan adil dan bijaksana," ujar Raden Arya menjabat tangan Jaka.

"Aku percaya pada pilihan Raja dan kebijaksanaan Paman Atmo. Jagabaya pasti akan makmur kembali," jawab Jaka.

Pak Atmo yang mendengar Adipati Danurwenda menyebut Pangeran pada Jaka menjadi kaget

" Pangeran ?" tanya pak Atmo, lalu hendak berlutut

" Paman jangan "  Jaka dengan cepat membangunkan Pak Atmo dan membisiki agar indentitasnya jangan sampai warga lain tahu. pak Atmo mengangguk

Setelah semua urusan selesai dan situasi di Kadipaten Jagabaya sudah benar-benar kondusif dan berada di tangan yang tepat, Jaka merasa tugasnya di sana sudah selesai. Ia pun mulai bersiap untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

1
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!