Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membunuh Lingga
Di sisi lain, Jaka menatap tajam ke arah Lingga. Darah di nadinya seolah mendidih. Bayangan kejadian masa lalu, saat mereka di hadang oleh Lingga bersama anak buahnya
"Lingga... akhirnya kita bertemu juga," ucap Jaka pelan namun terdengar jelas.
Lingga yang namanya di panggil Jaka, mengernyitkan dahi karena tak mengenal Jaka
" Siapa kau!" bentak Lingga
" Aku anak Mahesa, adipati Tanjung! Hari ini aku akan membalaskan dendam orang tuaku! Mati kau!"
Hiaaaaat
Jaka tak mau buang waktu. Ia langsung menyerang dengan kecepatan maksimal.
wush
Sreeeeet!
Pedang Elang Hitam menyambar ke arah leher Lingga. Lingga mengayunkan golok besarnya dengan tangkas, menangkis serangan Jaka
Wuuut
wuuut
Traaang!!!
Benturan keras menghasilkan percikan api.
Pertarungan Jaka melawan Lingga pun meletup. Keduanya saling serang, gerakan mereka begitu cepat hingga meninggalkan bayangan di udara.
" Ciaaaaat"
Namun, tiba-tiba dari samping, Retno ikut menyerang! Wanita itu menggunakan cambuk besi yang panjang dan mematikan.
Bugh!
karena tak menyangka akan di serang Retno , Jaka terkena pukulan Retno, tendangan Retno di bahunya, membuatnya terhuyung mundur.
Srett!
wush
Golok Lingga nyaris membelah perutnya jika ia tidak menunduk secepat kilat.
Situasi Jaka semakin kritis. Keringat dingin mulai menetes. Ilmu mereka berdua sangat tinggi, ditambah lagi kerja sama yang sudah terlatih bertahun-tahun membuat Jaka benar-benar keteteran dan terus terdorong mundur hingga punggungnya menempel pada dinding benteng.
"Ha ha ha! Mana janjimu mau membalas dendam, bocah? Mati saja kau di sini!" ejek Lingga sambil mengayunkan goloknya dengan tenaga penuh.
"Macan Pencabut Nyawa!"
Saat itu juga, nyawa Jaka seolah sudah di ujung tanduk.
Kwaaaaaak!!!
dari angkasa elang hitam ikut menerjang, ia menyambar dari langit dengan kecepatan luar biasa. Elang Hitam! Burung itu tidak tinggal diam melihat tuannya kesulitan.
Wusssh!
Dengan kepakan sayapnya yang sangat kuat dan lebar, Elang Hitam mengibaskan angin topan tepat ke wajah Lingga dan Retno.
Bugh!
Belum sempat mereka bereaksi, paruh dan cakar tajam Elang Hitam langsung menyambar.
"Aaaah! Binatang sialan!" teriak Lingga kaget dan harus menangkis serangan burung itu.
Kesempatan itu tidak disia-sikan Jaka.
"Terima kematianmu Lingga!" Raung Jaka sambil mengempos tenaganya dan bergerak menyerang Lingga
Jaka mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa, mengalirkannya ke ujung pedang hingga pedang itu bersinar hitam pekat menyilaukan mata.
wuuut
" Blaaaar"!!!
Sebuah tebasan raksasa berbentuk sayap elang melesat memisahkan udara.
"Ti... tidak mungkin!" teriak Lingga panik mencoba menahan, namun terlambat.
Sraaaaat!
Tubuh Lingga terpenggal oleh serangan itu. Darah memuncrat membasahi tanah. Sang pembunuh itu akhirnya tewas seketika.
Retno yang melihat suaminya tewas menjerit histeris. "Suamikuuuu!!!"
Ia mencoba menyerang Jaka dengan putus asa, namun Elang Hitam kembali mengepakkan sayapnya dengan dahsyat.
ciaaaat
Wuuut
Duar!
Hembusan angin itu begitu kuat hingga tubuh Retno yang sudah kelelahan tak mampu bertahan. Ia terpental ke belakang, tepat menuju tepi tebing yang curam.
"Tidak... aaaaaaaaahhhhh!!!"
Retno menjerit panjang saat tubuhnya terguling jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap, menghilang dari pandangan.
Segala sesuatunya menjadi hening sejenak.
Jaka berdiri gemetar, pedangnya terkulai lemas di tangan. Air matanya tiba-tiba meluncur membasahi pipi. Tangis haru bercampur pilu. Setelah bertahun-tahun berlari, bertapa, dan berlatih keras, hari ini dendam itu terbalas sudah. Ayah... Ibu... kalian sudah dibalaskan...
Di sisi lain pertarungan, Eyang Surya berhasil melumpuhkan Adiyana dengan satu serangan terakhir. Pemimpin Macan Hitam itu ambruk tak berdaya, akhirnya kalah juga oleh kebijaksanaan dan kekuatan Eyang Surya.
Pertempuran besar itu usai sudah. Kemenangan mutlak berada di pihak Pendekar golongan putih
Namun, di tempat yang gelap dan tersembunyi, di sebuah lorong rahasia di bawah tanah yang hanya diketahui oleh Lingga dan Retno, seorang anak kecil bersembunyi ketakutan. Mata bulat itu menyaksikan melalui celah kecil bagaimana ayah dan ibunya tewas dan jatuh. Api dendam mulai menyala kecil di hati anak itu, meski saat ini ia hanya bisa menangis dalam diam.
Sore harinya, suasana di puncak Bukit Macan sudah mulai kondusif. Para tawanan ditahan, dan markas kejahatan itu berhasil dikuasai.
Senopati Wira Pati mendekati Jaka yang sedang duduk termenung memandang ke kejauhan.
"Pangeran Jaka, tugas kita selesai dengan sangat baik. Kini dunia persilatan dan rakyat bisa tidur tenang kembali. Ayo, kita kembali ke Kerajaan. Raja pasti ingin memberikan penghormatan tertinggi atas jasa-jasamu," ajak Senopati itu dengan ramah.
Jaka menoleh, lalu menggeleng pelan.
"Terima kasih, paman Senopati. Namun, hamba belum bisa kembali sekarang."
"Lho? Kenapa? Bukankah dendam dan tugasmu sudah selesai?" tanya Wira Geni yang ikut mendekat.
"Benar, paman dendam kedua orang tuaku memang telah terbalaskan. Tapi hati ini masih merasa belum puas. Masih banyak jalan yang harus aku tapaki, masih banyak orang yang mungkin membutuhkan pertolongan. aku ingin melanjutkan pengembaraan ini dulu, mengelana melihat keadaan negeri ini, sebelum akhirnya kembali ke istana untuk selama-lamanya," jawab Jaka tulus.
Para Senopati dan Eyang Surya saling pandang, lalu tersenyum mengerti.
"Baiklah, kalau itu keinginanmu. Kami tidak akan memaksamu. Hiduplah sebagai pendekar yang bebas dan membawa kebaikan," ucap Eyang Surya sambil menepuk bahu jaka
Keesokan paginya, saat pasukan kerajaan berbaris untuk kembali pulang, Jaka memilih jalan yang berbeda. Senopati Wira bumi memberikan kudanya, ia menyusuri jalan setapak, menuju arah yang tak pasti, namun penuh dengan harapan dan semangat baru.