Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Retak Dalam Kedisiplinan
Lantai semen hangus yang ku pijak terasa bergetar saat kendaraan taktis Humvee yang membawa sisa-sisa tim kami berhenti di depan gerbang utama Markas Omega. Sinar lampu sorot dari menara penjaga menyapu wajahku, menyilaukan mata yang baru saja terbiasa dengan kegelapan gua yang pekat. Aku bisa merasakan sisa adrenalin masih mengalir di nadiku, membuat ujung jariku sedikit kesemutan. Di sampingku, Letnan Aris duduk mematung, pandangannya kosong menembus kaca depan yang retak. Dia adalah gambaran dari seorang pria yang dunianya baru saja runtuh—bukan karena bom, tapi karena kenyataan bahwa keberanian militer tidak berarti apa-apa di hadapan evolusi predator.
"Turun," kataku dingin, tanpa menoleh padanya.
Aris tidak bergerak. Dia seolah-olah kehilangan kemampuan untuk menggerakkan ototnya sendiri. Logikaku berkata bahwa pria ini sudah rusak secara mental. Dalam situasi survival, orang seperti dia adalah beban. Aku tidak akan membuang waktu untuk menghiburnya. Aku membuka pintu mobil, melompat turun, dan segera menyampirkan shotgun pompa kesayanganku di bahu.
Prajurit penjaga gerbang segera berlari menghampiri kami. Mereka melihat ke arah kursi belakang yang kosong, di mana seharusnya empat rekan mereka duduk. Wajah-wajah mereka memucat saat menyadari bahwa tim elit pembersihan subuh ini kembali dengan jumlah yang berkurang separuh.
"Di mana yang lain?" tanya salah satu penjaga dengan suara bergetar.
"Mati. Jadi pupuk di dalam gua itu," jawabku datar sambil terus berjalan menuju gedung operasional. Aku tidak peduli dengan tatapan ngeri mereka. Kebenaran yang pahit jauh lebih berguna daripada kebohongan yang menenangkan.
Aku berjalan menyusuri koridor Markas Omega yang kini terasa semakin menyesakkan. Bau disinfektan yang tajam mencoba menutupi bau busuk kegagalan yang kubawa dari luar. Aku harus segera menemui Mayor David. Bukan karena aku setia pada rantai komandonya, tapi karena aku butuh sumber daya mereka sebelum tempat ini benar-benar meledak dari dalam.
Saat aku sampai di depan ruang operasional, dua penjaga mencoba menghalangiku.
"Mayor sedang dalam rapat darurat, Zidan. Kamu harus menunggu di barak," kata salah satu dari mereka.
Aku tidak berhenti. Aku terus melangkah maju sampai ujung laras shotgun-ku hampir menyentuh dada salah satu penjaga itu. "Rapat itu tidak akan berguna kalau mereka tidak tahu apa yang sedang merayap menuju tembok ini sekarang. Minggir, atau aku akan membuat pintu baru di ruangan itu."
Melihat sorot mataku yang tidak memiliki keraguan, mereka perlahan menurunkan senjata dan membiarkanku lewat. Aku menendang pintu ruang operasional hingga terbuka lebar.
Di dalam, Mayor David sedang berdiri di depan peta digital bersama beberapa perwira tinggi lainnya. Suasana ruangan itu sangat tegang, dipenuhi kepulan asap rokok dan aroma kopi pahit yang menyengat. Mereka semua menoleh ke arahku dengan ekspresi marah yang bercampur dengan kebingungan.
"Zidan! Apa-apaan ini?!" teriak Mayor David, wajahnya memerah. "Di mana Letnan Aris?"
"Letnanmu sedang sibuk merenungi kegagalannya di dalam mobil," kataku, berjalan menuju meja tengah dan meletakkan kotak peluru kosong di atasnya dengan bunyi brak! yang keras. "Dan sisa timmu? Mereka sudah tidak ada. Gua itu bukan sarang biasa, Mayor. Itu adalah pabrik. Aku melihat inkubator virus yang tumbuh di dinding-dindingnya. Dan ada sesuatu yang jauh lebih besar dari Crawler di sana."
Aku menceritakan detail tentang si raksasa—yang kusebut sebagai Tanker—dan bagaimana dia menghancurkan formasi militer terlatih hanya dalam hitungan detik. Aku menjelaskan bahwa virus ini tidak lagi sekadar menular, tapi mulai membangun ekosistemnya sendiri.
Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Mayor David tampak lebih tua sepuluh tahun dalam sekejap. Dia bersandar pada meja, kedua tangannya gemetar sedikit.
"Inkubator... jadi mereka bereproduksi secara biologis di sana?" tanya seorang perwira intelijen dengan suara lirih.
"Lebih tepatnya, mereka mengubah jaringan organik menjadi sesuatu yang baru," koreksiku. "Dan logikanya, mereka tidak akan tinggal diam di dalam gua setelah inkubasi selesai. Mereka butuh asupan protein. Dan di sini, di lembah ini, ada ratusan penyintas yang siap menjadi santapan mereka."
"Kita harus meningkatkan patroli perimeter," kata Mayor David, mencoba mengembalikan otoritasnya. "Kita akan menggunakan ranjau darat di sekitar lereng gunung."
Aku tertawa pendek, sebuah tawa yang kering dan tanpa rasa humor. "Ranjau? Kau pikir makhluk yang bisa merayap di langit-langit gua akan takut pada ranjau di tanah? Mayor, kau sedang memimpin domba-domba menuju penjagalan jika kau tetap menggunakan taktik konvensional ini."
"Lalu apa saranmu, Nak?!" bentak seorang kolonel tua di sudut ruangan. "Kau hanyalah warga sipil yang kebetulan beruntung bisa bertahan hidup!"
Aku menatap kolonel itu dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Keberuntungan adalah nama yang diberikan orang lemah untuk sebuah strategi yang berhasil. Saranku? Tinggalkan tempat ini. Sekarang juga. Gunakan sisa bahan bakar helikopter dan kendaraan taktis untuk mengevakuasi personel kunci dan sumber daya yang masih bisa diselamatkan. Markas Omega sudah jatuh, hanya saja kau belum menyadarinya."
"Meninggalkan markas ini berarti mengakui kekalahan total!" Mayor David menghantam meja. "Kami punya tanggung jawab pada para penyintas di barak!"
"Tanggung jawab atau ego?" tanyaku dingin. "Logika paling efisien saat ini adalah melarikan diri ke wilayah utara yang lebih dingin. Virus ini butuh panas untuk proses inkubasi di gua tadi. Di suhu ekstrem, metabolisme mereka akan melambat. Itu satu-satunya peluang kita."
Debat itu berlangsung panas, tapi aku bisa melihat ketakutan di mata mereka. Mereka tahu aku benar, tapi mereka terlalu terikat pada seragam dan jabatan mereka untuk mengambil keputusan yang radikal. Bagi mereka, meninggalkan tembok beton ini adalah hal yang mustahil. Bagiku, tembok ini adalah peti mati.
Aku keluar dari ruangan itu tanpa menunggu keputusan akhir mereka. Aku sudah memberikan peringatan. Jika mereka memilih untuk mati di sini, aku tidak akan ikut bersama mereka.
Prioritasku sekarang adalah Kurumi.
Aku berjalan cepat menuju sektor medis. Di sepanjang jalan, aku melihat para penyintas di barak mulai berkumpul di area terbuka. Suara-suara ketidakpuasan mulai terdengar. Gosip tentang kegagalan misi subuh tadi sudah menyebar seperti api di padang rumput kering. Orang-orang mulai menyadari bahwa "benteng terakhir" mereka tidak sekuat yang dijanjikan.
"Zidan!"
Aku menoleh dan melihat Kurumi berlari ke arahku. Dia masih memakai seragam perawat medis yang kebesaran, wajahnya tampak sangat cemas. Begitu dia sampai di depanku, dia hampir menabrak dadaku.
"Zidan, aku dengar... aku dengar misinya kacau. Apa kamu terluka?" tangannya gemetar saat mencoba memeriksa lengan dan pundakku.
Aku menepis tangannya pelan, bukan karena aku marah, tapi karena aku butuh dia untuk tetap tenang. "Aku tidak apa-apa, Kurumi. Tapi tempat ini sudah tidak aman. Kita harus pergi."
"Pergi? Ke mana? Mayor bilang kita akan dilindungi di sini!"
"Mayor sedang menipu dirinya sendiri, Kurumi. Logika militer mereka sudah usang. Makhluk di luar sana sudah berevolusi, sementara orang-orang di sini masih sibuk menghitung jumlah kaleng sarden di gudang." Aku menatap matanya dalam-dalam. "Kemasi barang-barangmu. Apa pun yang bisa dibawa. Obat-obatan, antibiotik, dan makanan kaleng dari sektor medis. Aku akan mencuri kendaraan di hanggar belakang."
"Tapi Zidan... kalau kita tertangkap mencuri kendaraan militer, mereka akan menembak kita!" bisik Kurumi dengan horor.
"Mereka terlalu sibuk mengurus perimeter luar untuk menyadari dua orang penyintas yang menghilang di hanggar belakang," jawabku tenang. "Pilihannya adalah ditembak oleh prajurit yang bingung atau dicabik oleh monster yang lapar. Aku lebih suka mengambil risiko yang pertama."
Kurumi ragu sejenak, tapi kemudian dia melihat keyakinan di mataku. Dia mengangguk pelan. Dia sudah belajar bahwa di dunia ini, logikaku adalah satu-satunya kompas yang selalu menunjuk ke arah kelangsungan hidup.
"Beri aku waktu tiga puluh menit," katanya dengan tekad yang baru.
"Bagus. Temui aku di belakang gudang perlengkapan pukul tujuh malam tepat. Jangan terlambat sedetik pun," kataku.
Aku berjalan menjauh darinya, menuju area belakang markas yang lebih gelap. Pikiranku mulai menyusun rencana pelarian. Aku butuh kendaraan yang tangguh, bahan bakar ekstra, dan senjata yang lebih banyak. Aku tahu di mana mereka menyimpan persediaan senjata baru hasil sitaan dari penyintas lain.
Namun, saat aku melewati area barak pelatihan, aku melihat sesuatu yang menghentikan langkahku. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang-remang, aku melihat Letnan Aris. Dia sedang duduk di tanah, bersandar pada ban kendaraan yang rusak. Di tangannya, dia memegang sebotol minuman keras yang entah didapatnya dari mana.
"Zidan..." suaranya serak saat dia melihatku. "Kau benar. Kami semua adalah domba."
Aku tidak membalas. Aku berniat terus berjalan, tapi Aris melanjutkan bicaranya.
"Mereka sudah tahu, Zidan. Para atasan itu... mereka sudah tahu bahwa sektor utara adalah harapan terakhir. Tapi mereka tidak punya cukup bahan bakar untuk membawa semua orang. Mereka berencana pergi malam ini dengan pesawat kargo terakhir, meninggalkan kita semua di sini sebagai umpan untuk mengalihkan perhatian monster-monster itu."
Langkahku terhenti sepenuhnya. Logikaku berputar cepat. Jadi, Mayor David tidak sedang berdebat soal moralitas denganku; dia sedang mengulur waktu agar rencananya untuk kabur bersama para perwira tinggi bisa terlaksana.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku dingin.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di ruang radio sebelum aku keluar tadi," Aris tertawa pahit. "Aku sudah memberikan segalanya untuk seragam ini, dan sekarang mereka akan menjadikanku makanan zombi agar mereka bisa tidur nyenyak di utara."
"Terima kasih atas informasinya, Aris," kataku. Aku merogoh kantongku dan melemparkan sebatang cokelat terakhir yang kupunya padanya. "Makanlah. Setidaknya kau mati dengan perut tidak kosong."
"Kau mau ke mana, Zidan?"
"Aku mau mengubah rencana," jawabku singkat.
Jika militer berencana kabur malam ini, maka kekacauan akan terjadi lebih cepat dari dugaanku. Aku tidak bisa menunggu sampai jam tujuh malam. Aku harus bergerak sekarang.
Aku segera berbalik dan berlari menuju hanggar helikopter, bukan hanggar kendaraan darat. Jika para perwira itu mau kabur dengan pesawat kargo, maka helikopter penyelamat di landasan pasti akan ditinggalkan atau dijaga dengan ketat. Tapi aku tidak butuh helikopter raksasa. Aku melihat sebuah helikopter pengintai kecil (Little Bird) yang terparkir di pojok hanggar. Itu cukup untuk dua orang.
Aku menyelinap di antara bayangan, menghindari patroli yang kini terlihat lebih sibuk dari biasanya. Aku mencapai gudang persenjataan. Penjaganya hanya satu orang, dan dia tampak sedang asyik merokok sambil menatap layar ponselnya—mungkin melihat foto keluarganya yang sudah tidak ada.
Aku tidak ingin membunuhnya jika tidak perlu. Aku memutar ke belakang, menemukan ventilasi udara, dan menyelinap masuk. Di dalam, aku menemukan apa yang kucari.
Dua pucuk senapan serbu HK416, beberapa magazen penuh, granat tangan, dan yang paling penting: koper berisi peralatan medis darurat. Aku juga menemukan kembali shotgun pompa Kurumi yang sebelumnya disita—ternyata mereka menyimpannya di sini.
Aku membungkus semua senjata itu dalam kain kanvas besar. Saat aku hendak keluar melalui jalur semula, aku mendengar suara langkah kaki berat mendekat.
"Cek gudang senjata. Mayor ingin memastikan semua amunisi kaliber besar sudah dimuat ke kargo," suara itu milik salah satu ajudan Mayor David.
Sial. Waktuku menipis.
Aku segera bersembunyi di balik tumpukan kotak kayu. Pintunya terbuka, dan dua prajurit masuk dengan membawa daftar inventaris. Mereka mulai memeriksa kotak-kotak di depanku. Logikaku berbisik bahwa jika aku tetap di sini, aku akan tertangkap.
Aku mengambil sebuah granat asap dari rak di sampingku. Aku menarik pinnya, menghitung dua detik, lalu melemparkannya ke ujung ruangan yang lain.
Psssshhhhhh!
Asap putih pekat memenuhi gudang dalam sekejap.
"Apa itu?! Granat asap?!" teriak salah satu prajurit.
Dalam kekacauan dan keterbatasan pandangan itu, aku bergerak seperti bayangan. Aku melompat dari balik kotak, menggunakan bokong senapan serbu untuk menghantam tengkuk prajurit pertama yang berada di jalanku. Dia jatuh tanpa suara. Prajurit kedua mencoba mengarahkan senjatanya, tapi aku lebih cepat. Aku menendang tangannya hingga senjatanya terlempar, lalu memberinya pukulan telak di ulu hati.
Dia terkapar, terengah-engah mencari udara.
Aku menyambar bungkusan senjataku dan lari keluar dari gudang melalui pintu depan yang kini terbuka. Aku tidak berlari ke arah barak, tapi langsung menuju sektor medis. Aku tidak peduli lagi dengan janji jam tujuh malam. Situasinya sudah berubah menjadi survival murni.
Aku menemukan Kurumi di koridor medis. Dia sedang memasukkan beberapa botol alkohol ke dalam tasnya. Wajahnya pucat saat melihatku berlari dengan bungkusan senjata besar.
"Zidan! Kenapa sekarang? Belum jam tujuh!"
"Rencana berubah. Militer akan mengkhianati kita malam ini. Kita harus ke hanggar helikopter sekarang atau kita akan ditinggalkan sebagai umpan!" aku menarik tangannya. "Ikuti aku, dan jangan lepaskan tanganmu!"
Kami berlari menembus kegelapan markas. Di kejauhan, aku mulai mendengar suara mesin pesawat kargo yang mulai menyala. Lampu-lampu landasan mulai menyala terang. Para perwira mulai bergerak.
Tapi bukan hanya itu suara yang kudengar.
Dari balik tembok beton Markas Omega, terdengar raungan yang mengguncang bumi. Raungan yang kukenali. Si raksasa Tanker dan pasukannya sudah sampai di gerbang. Mereka tidak lagi mengintai. Mereka menyerang.
"Zidan! Lihat temboknya!" Kurumi menunjuk ke arah menara penjaga timur.
Di bawah sinar lampu sorot, aku melihat pemandangan yang akan menghantui mimpi buruk siapa pun. Ratusan Crawler merayap naik ke tembok beton setinggi sepuluh meter itu seolah-olah tembok itu adalah lantai datar. Mereka saling menginjak satu sama lain, membentuk tangga daging yang mengerikan.
Dan di dasar tembok, si raksasa Tanker sedang menghantamkan tubuhnya ke gerbang baja dengan kekuatan yang setara dengan palu godam raksasa.
BRAKK! BRAKK!
Setiap hantaman membuat seluruh markas bergetar.
"Logika militer telah gagal, Kurumi," kataku sambil mengokang HK416 yang baru kuambil. "Selamat datang di akhir dari Markas Omega."
Kami terus berlari menuju helikopter kecil itu. Langit malam yang tadinya sunyi kini dipenuhi dengan suara tembakan senapan mesin, jeritan penyintas yang terbangun karena serangan, dan suara geraman monster yang sudah lapar akan darah.
Di tengah kekacauan ini, aku hanya punya satu tujuan: Menghidupkan helikopter itu dan keluar dari lembah terkutuk ini sebelum bom udara kedua meratakan semuanya. Karena aku tahu, militer tidak akan membiarkan mutasi ini menyebar. Jika mereka pergi, mereka akan membakar tempat ini di belakang mereka.
Logikaku tetap dingin, meski dunia di sekitarku sedang terbakar. Karena di dunia zombi, hanya mereka yang paling dingin yang akan melihat matahari esok hari.
Catatan Penulis:
Chapter 16 menutup tensi di Markas Omega dengan pengkhianatan militer dan serangan besar-besaran dari mutan. Zidan harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Kurumi di tengah keruntuhan benteng terakhir. Apakah mereka akan berhasil terbang sebelum sektor ini dimusnahkan? Jangan lupa Like, Favorit, dan berikan komentar kalian tentang taktik Zidan! Update Chapter 17 segera!