NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur di Sisimu

"Kata Anteng, ada beberapa lukisan dan guci berharga yang hilang. Peralatan makan dari silver juga raib. Entah siapa yang mengambilnya?" tanya Edward dengan nada santai seperti tidak merasa kalau rumah megah peninggalan ayahnya baru saja kerampokan.

Lyodra celingukan ke kanan dan ke kiri. Memandangi dinding rumah megah yang sekarang sudah polos putih bersih.

Ucapan Anteng benar.

Lukisan pemandangan sawah yang menguning, ikan koi di kolam, kuda liar yang berlarian di padang rumput hilang.

Guci besar yang ada di sudut ruangan raib. Begitu pula guci-guci kecil yang ada di atas meja dan benda dari silver.

Rupanya rampok yang beraksi tidak mau rugi, sekali merampok semua barang berharga disikat bersih.

Nilai total kehilangan yang diderita Edward mungkin mencapai puluhan juta rupiah. Tapi kenapa putra ke dua tuan tanah tidak panik?

Dasar orang kaya! Puluhan juta rupiah tidak ada artinya bagi mereka. Daripada repot membuat laporan ke pihak berwajib.

"Aku sudah menelpon pengurus rumah yang ada di kota. Besok kita ke kota untuk tes DNA sekaligus belanja isi rumah yang baru. Aku juga tidak suka hiasan kuno seperti itu. Daripada bingung harus dijual kemana, ya sudah direlakan saja hilang."

Lyodra cemberut.

"Keenakan yang merampok lah. Mereka tidak jera kalau tidak ditangkap dan dihukum."

Edward menjulurkan tangannya dan mengacak-acak rambut Lyodra.

"Tuhan tidak diam saja melihat pendosa berkeliaran, Lily. Di saat yang tepat, Tuhan akan menghukumnya. Mungkin bukan melalui tangan kita tapi tangan orang lain."

Lyodra manggut-manggut sangat setuju dengan ucapan Edward.

"Kak Edward berencana tinggal di sini?" tanya Lyodra karena tadi Edward ingin belanja isi rumah.

Edward mengangguk.

Jika tes DNA membuktikan bahwa mereka bukan saudara kembar, Edward berniat tinggal di desa ini dan mengenal Lyodra lebih dekat. Pacaran dulu baru nikah dan bikin anak.

Lyodra tersenyum senang mendengar niat Edward untuk tinggal di desa ini.

"Sudah kenyang?"

"Iya." Perut Lyodra kenyang. Sup ayam jahe buatan Anteng sangat lezat. Ia tak menyangka ternyata Anteng punya bakat tersembunyi. Pandai memasak.

"Malam ini kamu tidur di sini kan?" tanya Edward padahal ia sudah tahu jawabannya.

"Iya. Anteng sudah pulang. Aku takut kalau harus jalan kaki pulang ke rumah. Sudah terlalu malam." Lyodra bangkit berdiri dan merapikan meja makan.

Edward memperhatikan Lyodra yang sedang mencuci peralatan makan yang kotor dari belakang.

Mantel biru yang dipakai Lyodra mengingatkannya pada foto seorang gadis belia di kamar tidur ayahnya.

Gadis itu sangat cantik. Wajahnya mirip dengan Lyodra. Mata bulat, hidung mancung, rambut hitam panjang. Hanya saja Lyodra tidak punya lesung pipi seperti gadis itu.

Kata sekertaris ayah, gadis itu adalah Aster. Ibu kandungnya.

Edward mendengus sedih. Hatinya berharap tes DNA yang akan dilakukannya tidak membuktikan bahwa mereka saudara sedarah.

"Kalau begitu aku akan merapikan kamar di samping kamarku." Edward berdiri, namun karena terburu-buru, tubuhnya yang tinggi oleng menimpa Lyodra yang tangannya masih berlumur gelembung sabun cuci piring.

"Eh ... Eh ..." Lyodra mengangkat kedua belah tangannya ke atas lalu membalikkan badannya.

Bertepatan ketika Edward menengadahkan kepalanya. Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi mulus Lyodra.

Mata bulat Lyodra terbelalak kaget. Jantungnya hampir meledak, pipinya baru pertama kali dicium manusia berbeda gender. Bertampang rupawan pula.

"Maaf, maaf, gak sengaja." Edward berusaha bangkit berdiri, memperbaiki posisinya. Lengan tangannya terulur ke samping tubuh mungil Lyodra untuk berpegangan pada pantry.

Lyodra seperti terjepit di dalam pelukan hangat tubuh Edward. Sampai ia memejamkan mata bulatnya dan menahan nafas saking takutnya.

Edward yang melihatnya sampai tersenyum geli. Mengacak-acak bagian depan rambut Lyodra dengan gemas. 3-1 ya.

Mendengar langkah kaki menjauh, Lyodra membuka mata bulatnya perlahan. Mengintip dengan satu mata, apakah Edward sudah benar-benar pergi ke lantai dua.

"Astaga! Jantungku hampir meledak! Aku harus jaga jarak dengan pria rupawan itu, jika tidak mau mati konyol karena sakit jantung."

Lyodra segera membasuh piring-piring kotor. Mengeringkannya dengan lap, sebelum memasukkannya ke dalam lemari dapur. Lalu pergi ke lantai dua menemui Edward.

Pintu-pintu kamar terbuka. Lyodra melongok ke dalam kamar yang dekat dengannya.

Kamar itu berantakan. Seprai, bantal, guling berserakan di lantai. Isi lemari juga morat marit tidak karuan. Perampok mengacak-acak isi lemari untuk mencari barang berharga.

"Lily, sepertinya kamu harus tidur di kamarku malam ini. Kamar lain terlalu berantakan untuk dibereskan."

Edward terlihat malas bersih-bersih. Kaki dan tangannya masih sakit. Tidak boleh terlalu banyak bergerak agar jahitan tidak robek lagi.

Sore tadi, Antenglah yang lebih banyak bekerja bersih-bersih rumah. Dia sangat cekatan saat bekerja dalam diam.

"Besok cleaning servis akan datang ke sini untuk bersih-bersih rumah. Biar mereka saja yang bersihkan. Lebih baik kita beristirahat saja sambil ngobrol-ngobrol santai. Mungkin kamu bisa menceritakan ibumu dan aku bisa bercerita tentang ayahku."

Lyodra terpaksa mengangguk.

Butuh waktu sampai tengah malam untuk memilah barang-barang yang belum rusak dan masih bisa dipakai, merapikannya kembali ke tempat semula, menyapu dan mengepel.

Lebih baik dipasrahkan saja ke cleaning servis yang lebih profesional bersih-bersih. Mereka punya cara kerja yang cepat dan efisien.

"Aku tidur di sofa aja, Kak." Lyodra memilih sofa lembut berwarna abu-abu sebagai alasnya tidur malam ini.

"Kok di sofa? Bisa pegal semua badanmu, Li. Apalagi besok kita mau ke kota, nanti kamu bisa sakit karena malam ini tidak beristirahat dengan baik."

"Tapi, Kak. Kita kan ...."

"Kita saudara kembar untuk malam ini. Hanya malam ini. Jadi jangan khawatir, saudara kembarmu ini gak mungkin macam-macam. Janji!" Edward membuat tanda swear dengan jarinya.

Lyodra menganggukkan kepala. Yang dikatakan Edward benar. Besok pagi mereka harus menempuh perjalanan panjang ke kota.

"Kamu pernah ke kota, Li?" tanya Edward sambil memberikan kode dengan matanya agar Lyodra duduk di kasur.

"Pernah, Kak. Bersama ibu." Lyodra berjalan ke sisi kasur sebelah kanan. Sementara Edward sudah berbaring nyaman di sisi kasur sebelah kiri.

Lyodra nampak sedikit canggung saat duduk di kasur. Memilih membelakangi Edward, takut Edward kembali melihat rona wajahnya yang memerah.

"Liburan ya?" tanya Edward santai sambil mengmbil guling lalu memeluknya erat-erat.

Sebenarnya Edward sendiri juga takut tangannya bakal kelayapan kemana-mana kalau tidak memeluk guling erat-erat.

Pesona Lyodra bunga desa Wonosobo ini benar-benar memabukkan. Terlalu harum dan indah, membuat lebah yang berputar-putar mengelilinginya hampir hilang akal untuk mengambil madunya.

"Ibu ada urusan di kota. Tapi aku tidak tahu urusan apa yang dimaksud ibu. Ibu tidak bilang. Aku juga ditinggal di motel sederhana sampai malam hari," jawab Lyodra mengingat saat itu.

Ibu pulang ke motel dengan mata memerah dan agak bengkak. Sepertinya ibu habis menangis. Tapi ibu tidak mau cerita saat Lyodra bertanya.

Ibu memang begitu. Lebih memilih bungkam daripada menceritakan isi hatinya. Jadi Lyodra tidak memaksa. Lyodra hanya memeluk ibu dan menangis bersamanya.

Keesokan harinya, Lyodra pulang bersama ibu ke desa. Dan Ibu berkata kalau dia tidak mau kembali ke kota besar lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!