Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Siasat Jual Beli
5 November 2024. Pukul 07.30 WIB.
Menara Pantau, Museum Sejarah Jakarta.
"Mbak Alina yakin mau naik sendiri? Tangganya curam lho, banyak sarang laba-laba," kata Pak Jono, memegang tangga kayu yang menuju ke menara.
"Yakin, Pak. Saya harus cek struktur atapnya sebelum musim hujan makin parah. Bapak tunggu di bawah saja, jaga pintu biar nggak ada pengunjung yang naik," perintah Alina dengan nada otoriter yang dibuat-buat.
"Siap, Mbak."
Alina memanjat tangga itu dengan jantung berdebar kencang. Tas ranselnya berisi linggis, senter, dan kamera dokumentasi.
Dia sampai di ruang menara. Udara di sini pengap dan panas. Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi kayu, menciptakan garis-garis cahaya yang dramatis.
Alina langsung menuju pojok utara.
Lantai kayunya terlihat tua, kelabu, dan berdebu. Tapi Alina, dengan mata terlatih seorang kurator, bisa melihat sesuatu yang ganjil.
Ada satu papan yang warnanya sedikit berbeda dengan sekitarnya. Dan paku di papan itu... paku itu bukan paku modern. Itu paku besi tempa tua dengan kepala kotak, jenis yang dipakai di awal abad 20.
"Arya..." bisik Alina.
Dia berlutut. Tangannya gemetar saat menyentuh kayu itu. Kayu yang sama yang disentuh Arya 94 tahun lalu.
Alina mengeluarkan linggisnya.
"Maaf ya, Gedung Tua. Sakit dikit," gumamnya.
Dia mencongkel papan itu. Kayu tua itu mengerang, melawan, seolah enggan melepaskan rahasianya. Tapi akhirnya, paku-paku itu menyerah karena karat.
Papan terbuka.
Debu tebal beterbangan, membuat Alina terbatuk. Dia menyalakan senter, menyorot ke dalam rongga gelap itu.
Di sana, di tengah sarang laba-laba dan debu sejarah... tergeletak sebuah benda kotak.
Kaleng biskuit.
Warnanya sudah tidak lagi merah menyala seperti aslinya. Kaleng itu sekarang berwarna cokelat karat, permukaannya kasar dan mengelupas. Tapi bentuknya masih utuh. Lilin pelapis yang dipasang Arya berhasil melindunginya dari kelembapan ekstrem.
Alina mengangkat kaleng itu dengan hati-hati, seolah sedang mengangkat bayi yang baru lahir. Berat. Ada isinya.
Air mata Alina menetes tanpa permisi. Dia duduk bersila di lantai menara yang kotor itu.
Dengan tangan gemetar, dia mencoba membuka tutup kaleng. Karat membuatnya macet. Alina harus menggunakan ujung linggis untuk mencongkelnya pelan-pelan.
KLAK.
Tutupnya terbuka. Aroma udara tahun 1930 keluar—aroma kertas tua, lilin, dan sedikit bau tembakau cengkeh yang samar.
Alina melihat isinya.
Di paling atas, ada selembar kertas yang sudah menguning tapi tulisannya masih terbaca jelas.
SURAT PERDJANDJIAN DJOEAL-BELI
Passer Senen, 12 Augustus 1928
Pihak Penjoeal: Babah Liong
Pihak Pembeli: Raden Mas Arya
Barang: 1 (satoe) mesin toelis merk Remington, No. Seri NK-40992...
Alina tertawa sambil menangis. "Kamu berhasil, Arya. Kamu benar-benar berhasil."
Dengan surat ini, klaim Profesor Hendrik bahwa mesin tik itu "dicuri dari PID pada tahun 1930" akan patah. Arya membelinya tahun 1928 secara sah. Alina menang.
Alina hendak menutup kaleng itu, tapi matanya menangkap sesuatu yang lain. Sebuah bungkusan kain beledu merah yang warnanya sudah memudar menjadi merah bata.
Alina mengerutkan kening. Arya tidak bilang soal ini.
Dia mengambil bungkusan kecil itu. Membukanya.
Sebuah cincin perak jatuh ke telapak tangannya.
Cincin itu dingin, tapi seolah membakar kulit Alina. Desainnya klasik, ukiran Jawa kuno dengan mata batu giok hijau yang redup. Cincin itu terlihat kecil, mungil, dan sangat indah.
Di bawah bungkusan itu, ada secarik kertas kecil. Tulisan tangan Arya yang tegak dan rapi.
Alina membacanya dengan pandangan kabur oleh air mata.
> Untuk Alina,
> Bukti hukum saja tidak cukup untuk membayar keberanianmu melindungiku.
> Ini cincin Ibu saya. Dia pernah bilang, berikan ini pada wanita yang membuatmu merasa 'pulang'.
> Saya tidak bisa melamarmu di depan ayahmu. Saya tidak bisa memakaikan cincin ini di jari manismu.
> Jadi, anggaplah ini kenang-kenangan untuk pertunangan kita yang tak mungkin terjadi.
> Pakailah jika kau mau. Simpanlah jika kau ragu.
> Tertanda,
> Tunangan Imajiner-mu.
>
Tangis Alina pecah. Suaranya menggema di dalam menara kosong itu, bersahutan dengan bunyi klakson kota Jakarta di bawah sana.
Dia tidak pernah merasa sesakit sekaligus sebahagia ini. Dicintai sedemikian rupa oleh seseorang yang tidak bisa dia miliki.
Alina mengambil cincin itu. Jari-jarinya kotor oleh debu dan karat, tapi dia tidak peduli. Dia menyelipkan cincin perak itu ke jari manis tangan kirinya.
Pas. Sempurna. Seolah cincin itu memang dibuat untuknya sejak satu abad yang lalu.
Alina mengangkat tangannya, melihat kilau perak itu di bawah sinar matahari pagi tahun 2024.
"Aku terima, Arya," isaknya. "Aku terima lamaranmu."
Dia mencium cincin itu.
Alina membereskan semuanya. Dia memasukkan surat perjanjian itu ke dalam map plastik aman. Dia memakai cincin itu dengan bangga.
Dia turun dari menara dengan langkah yang berbeda.
Dia bukan lagi Alina si kurator kesepian yang takut pada ancaman profesor tua.
Dia adalah Alina, tunangan seorang pejuang kemerdekaan. Dan dia akan bertarung layaknya seorang istri pejuang.
Alina mengeluarkan ponselnya. Dia menelepon nomor firma hukum yang tertera di surat somasi.
"Halo. Selamat pagi. Sambungkan saya dengan tim kuasa hukum Prof. Hendrik de Vries," suara Alina dingin dan tajam. "Katakan pada mereka, saya siap bertemu. Dan katakan pada Profesor, dia sebaiknya menyiapkan pengacara terbaiknya, karena saya punya bukti yang akan mempermalukan nama kakeknya."
Perang telah dimulai. Dan Alina baru saja mendapatkan amunisi terkuatnya.
Satu Jam Kemudian. Apartemen Alina.
Alina duduk di depan mesin tik.
> Arya...
> Kalengnya sudah kutemukan.
> Suratnya aman.
> Dan cincinnya...
> Cincinnya pas sekali di jariku.
> Terima kasih, Sayang. Terima kasih.
>
Di tahun 1930, Arya baru saja bangun tidur. Badannya pegal-pegal sisa memanjat semalam. Dia membaca balasan itu sambil tersenyum lebar, senyum paling bahagia yang pernah dia miliki seumur hidup.
> Syukurlah.
> Sekarang, hajar mereka, Nona Alina. Jangan kasih ampun.
>
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan