Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34: Kepulangan yang Tidak Diinginkan dan Kabar yang Mengagetkan
Perjalanan dari desa Oakhaven ke istana terasa sangat panjang bagi Alexandria dan Darius. Darius masih dalam kondisi yang sangat lemah, dia sering tertidur dan hanya bisa sedikit bicara, namun setiap kali dia sadar, dia selalu menyebut nama ayahnya dengan suara yang penuh dengan rasa rindu.
"Kita akan segera sampai, sayangku," bisik Alexandria dengan penuh cinta saat merapikan rambut putranya yang kusut. "Ayah akan senang melihatmu kembali."
Ketika kereta mereka akhirnya memasuki gerbang istana, suasana yang mereka temui sangat berbeda dari yang mereka inginkan. Beberapa rakyat yang sedang berada di luar istana melihat mereka dengan pandangan yang bercampur aduk, beberapa merasa senang melihat mereka kembali, namun sebagian lain masih merasa ragu dan tidak yakin.
Setelah turun dari kereta, Alexandria langsung membawa Darius ke kamar perawatan istana. Dokter istana segera memeriksanya dengan cermat, wajahnya penuh dengan keprihatinan saat melihat kondisi sang putra.
"Kondisi Putra Darius sangat lemah, Yang Mulia Ratu," ucap dokter dengan suara yang serius setelah pemeriksaan selesai. "Selain rasa rindu yang sangat dalam terhadap Raja Leonard, dia juga menderita infeksi ringan yang diperparah oleh ketegangan emosional. Dia membutuhkan perawatan intensif dan dukungan emosional dari kedua orang tuanya."
Alexandria merasa hatinya semakin tertekan mendengarnya. Dia segera meminta agar Leonard diberitahu tentang kedatangannya dan kondisi Darius. Namun pelayan yang dikirimkannya kembali dengan kabar yang membuatnya merasa sangat terkejut.
"Maafkan aku, Yang Mulia Ratu," ucap pelayan dengan suara yang lemah.
"Raja Leonard menyatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan Anda saat ini. Dia sedang berada di ruang kerja dan tidak ingin diganggu."
Alexandria merasa seperti mendapatkan pukulan besar di dadanya. Meskipun dia sudah bersiap menghadapi kemarahan atau rasa sakit dari Leonard, dia tidak menyangka bahwa dia akan begitu dingin dan tidak mau melihatnya sama sekali.
Namun dia tidak bisa menyerah begitu saja, Darius membutuhkan ayahnya. Dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerja Leonard sendiri, tanpa menghiraukan larangan pelayan. Ketika dia sampai di depan pintu ruang kerja, dia bisa mendengar suara Leonard yang sedang membahas rencana penangkapan Seraphina dengan Marcus.
"...kami akan menyerbu benteng tua itu dalam dua hari lagi," suara Leonard terdengar jelas dari dalam ruangan.
"Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Seraphina sudah mulai mengumpulkan pasukan dan bisa saja menyerang kapan saja."
Alexandria mengambil napas dalam-dalam, kemudian membuka pintu dengan perlahan. Leonard dan Marcus yang sedang berbicara langsung menoleh ke arahnya, wajah Leonard langsung berubah menjadi dingin dan tidak ramah.
"Alexandria," ucap Leonard dengan suara yang sangat dingin.
"Aku tidak menyangka kamu akan kembali ke istana. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku membutuhkan waktu sendiri."
Alexandria merasa mata nya berkaca-kaca, namun dia tetap menjaga diri dengan tenang.
"Aku tidak datang ke sini untukmu, Leo. Aku datang karena Darius sakit parah dan dia membutuhkanmu. Dia selalu menyebut namamu dan kondisinya semakin memburuk."
Leonard merasa hati nya sedikit tergerak mendengarnya, namun dia tetap menjaga wajahnya yang dingin. "Aku sudah tahu tentang kondisi dia. Dokter sudah memberitahuku. Tapi aku tidak bisa pergi melihatnya sekarang, aku sedang sibuk dengan urusan kerajaan yang sangat penting."
Marcus yang melihat situasi yang semakin tegang segera mengucapkan maaf dan keluar dari ruangan, menyisakan mereka berdua sendirian. Ruangan menjadi sangat sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar jelas.
"Kenapa kamu begitu dingin padaku, Leo?" tanya Alexandria dengan suara yang merengek. "Aku tahu bahwa aku telah menyakitimu dengan meminta cerai, tapi Darius adalah anak kita berdua. Dia membutuhkan kita berdua untuk bisa pulih."
Leonard melihatnya dengan mata yang penuh dengan rasa sakit dan kemarahan.
"Kamu datang ke sini hanya karena Darius sakit, bukan karena kamu benar-benar ingin melihatku atau ingin memperbaiki hubungan kita. Kamu masih ingin bercerai dengan ku, bukan? Maka apa gunanya aku melihatmu atau Darius sekarang?"
Alexandria menangis deras mendengar kata-katanya.
"Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, Leo. Aku masih sangat sakit hati dengan semua yang terjadi, tapi aku juga mencintaimu dan Darius lebih dari segalanya. Aku bingung dan takut akan masa depan kita."
Sebelum Leonard bisa menjawab, seorang pengawal masuk dengan wajah yang penuh dengan kejutan dan keprihatinan.
"Maafkan aku, Yang Mulia Raja dan Ratu. Namun ada kabar mengejutkan yang harus kami laporkan, wanita bernama Liana telah di eksekusi oleh para pemimpin desa di daerah asalnya."
Leonard dan Alexandria sama-sama terpana mendengarnya. Mereka tidak menyangka bahwa hal seperti itu bisa terjadi, meskipun Liana telah melakukan kesalahan, mereka tidak pernah berniat untuk membunuhnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Leonard dengan suara yang penuh dengan kemarahan. "Aku tidak pernah memberikan perintah untuk mengeksekusi dia!"
Pengawal menggeleng dengan bingung.
"Menurut kabar yang kami terima, para pemimpin desa merasa bahwa Liana telah membawa aib besar bagi desa mereka dengan melakukan kejahatan terhadap kerajaan. Mereka mengambil tindakan sendiri tanpa menunggu perintah dari istana."
Alexandria merasa tubuhnya menjadi lemah mendengarnya. Meskipun Liana telah menyakitinya dengan kebohongannya, dia tidak pernah berharap agar dia harus mati karena itu.
"Dan ada kabar lain, Yang Mulia," tambah pengawal dengan suara yang lebih rendah.
"Kami menemukan bahwa orang yang dipercayai Ratu Alexandria juga sedang mencari Seraphina, dan mereka telah menemukan informasi penting tentang rencana besarnya untuk mengambil alih kerajaan."
Leonard melihat Alexandria dengan tatapan yang penuh dengan kebingungan. Dia tidak menyangka bahwa Alexandria juga sedang mencari Seraphina diam-diam. Rasa sakit dan kemarahan yang ada di dalam hatinya mulai sedikit mereda digantikan oleh rasa kagum dan kekhawatiran.
"Aku tidak ingin hanya duduk diam dan menerima semua yang terjadi, Leo," ucap Alexandria dengan suara yang lembut. "Aku ingin membantu menemukan kebenaran dan memastikan bahwa tidak ada orang lain yang akan mengalami kesusahan seperti yang kita alami."
Leonard merasa hati nya semakin tergerak. Dia melihat wajah Alexandria yang penuh dengan kesedihan dan tekad, dan dia tahu bahwa dia masih mencintainya dengan sepenuh hati. Namun rasa sakit dan kecewa yang dia alami selama ini masih terlalu besar untuk bisa segera hilang.
"Baiklah," ucapnya dengan suara yang lebih lunak. "Mari kita bicara tentang ini nanti. Sekarang aku akan pergi melihat Darius. Dia membutuhkan ayahnya dan aku tidak bisa terus bersembunyi dari kenyataan."
Mereka berjalan bersama-sama menuju kamar perawatan istana, suasana yang dingin mulai sedikit membaik. Ketika mereka masuk ke kamar dan melihat Darius yang terbaring lemah di tempat tidur, Leonard merasa air mata mulai menggenang di matanya. Dia segera mendekat ke tempat tidur putranya dan meraih tangannya dengan lembut.
"Aku ada di sini, anakku," bisiknya dengan suara yang penuh dengan cinta dan kesedihan. "Ayah sudah datang untukmu..."
Darius yang sedang tertidur lelap sedikit membuka matanya saat merasakan sentuhan ayahnya. Suatu senyum lembut muncul di wajahnya saat melihat Leonard berdiri di sisinya.
"Ayah..." bisiknya dengan suara yang lemah. "Aku sudah merindukanmu..."
Leonard mencium dahinya dengan penuh cinta, air mata akhirnya menetes ke pipinya. Dia melihat ke arah Alexandria yang sedang berdiri di sudut kamar dengan menangis, dan dia tahu bahwa mereka harus bekerja sama untuk menyelamatkan putra mereka dan menyelesaikan semua masalah yang telah mereka hadapi selama ini.
Di luar istana, kabar tentang eksekusi Liana dan kedatangan kembali Alexandria mulai menyebar dengan cepat. Rakyat yang tadinya masih ragu mulai merasa kasihan pada keluarga kerajaan dan berdoa agar mereka bisa kembali bersama dan menyelesaikan semua masalah dengan baik.
Dan di benteng tua di daerah pedalaman, Seraphina melihat semua ini dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan puas. Dia tahu bahwa hubungan Leonard dan Alexandria masih sangat rapuh, dan sekarang saatnya untuk menjalankan rencana terakhirnya yang akan membuatnya menjadi ratu Eldoria selamanya...