Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Di tahun 2000, meski mayoritas saham merangkak naik dengan stabil, tetap saja ada ranjau di lantai bursa. Beberapa saham justru terjun bebas dan melenyapkan modal para investornya dalam sekejap.
Di antara semua saham yang ada, yang paling menipu adalah Miras Jati Luhur.
Arga mengingatnya dengan sangat tajam. Tepat hari ini, sebuah skandal besar akan meledak—produk minuman keras Jati Luhur diketahui mengandung alkohol industri berbahaya. Para petingginya pun terseret kasus penggelapan dana. Harga sahamnya diprediksi akan anjlok drastis, terkena suspensi, hingga akhirnya perusahaan itu dinyatakan pailit.
"Kenapa lihat-lihat? Ada masalah?"
Melihat Arga menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, Tiara menyalak dengan nada jijik.
"Aku cuma mau mengingatkan, jangan beli saham Miras Jati Luhur," ujar Arga dengan tenang.
Bagaimanapun, mereka pernah menjalin hubungan. Arga tidak ingin melihat Tiara jatuh miskin hingga kehilangan segalanya karena kebodohannya sendiri.
"Mbak petugas! Saham Miras Jati Luhur, beli full position!"
Begitu mendengar peringatan Arga, Tiara justru sengaja menantang dan langsung menguras seluruh saldonya untuk saham tersebut. Setelah transaksi berhasil, ia menatap Arga dengan sorot mata penuh kemenangan.
Arga hanya menggeleng pelan. Ini yang dinamakan—mencari penyakit, tak bisa diobati.
Dalam hati, Yuda Perdana mencibir. Salah satu kerabatnya adalah orang dalam di perusahaan Jati Luhur. Ia mendapat bocoran bahwa hari ini perusahaan akan menerima suntikan dana segar senilai miliaran rupiah. Dengan berita sebesar itu, saham Jati Luhur pasti akan terbang ke langit!
"Begitu saham ini menyentuh batas atas, aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya jago main saham," pikir Yuda sambil melirik Sherly Gunawan dengan tatapan penuh nafsu.
Sementara itu, Arga dengan tenang mengeksekusi pembelian saham Semarang Properti senilai 100 juta rupiah.
Namun, hal yang tak terduga terjadi.
Begitu Arga masuk, sebuah garis merah panjang langsung menghantam grafik! Harga saham Semarang Properti merosot tajam hingga hampir menyentuh batas bawah (auto reject bawah).
Semua orang—termasuk Sherly—terpaku kaget. Pasar sedang tenang, hampir tidak ada saham yang anjlok separah itu. Kejatuhan mendadak ini benar-benar di luar nalar.
Saham yang dengan penuh keyakinan direkomendasikan Arga… justru hampir nyungsep?
"Hahaha!" Tiara tertawa terpingkal-pingkal. "Arga, ini saham jagoanmu? Kamu pikir Non Sherly itu ATM berjalan yang bisa kamu kuras uangnya buat beli sampah begini?"
Yuda Perdana ikut menghela napas pura-pura prihatin. "Non Sherly, apa boleh buat. Kenapa Anda bisa percaya sama orang halu seperti ini?"
"Lihat saham Miras Jati Luhur! Sebentar lagi auto reject atas! Hahaha!"
Para investor lain yang ikut-ikutan Tiara membeli Jati Luhur pun tertawa puas. Harga saham Miras Jati Luhur melonjak tajam, naik tiga persen hanya dalam hitungan menit!
"Cek berita! Pengumumannya sudah keluar!" "Investasi 5 miliar rupiah? Ekspansi nasional?" "Gila... ini luar biasa!" "Aduh, aku belum sempat beli tadi!" "Ini saham bakal naik dua kali lipat!"
Banyak investor yang terlambat masuk merasa menyesal setengah mati. Dengan berita sebesar ini, mengunci kenaikan maksimal selama beberapa hari bukan hal mustahil.
"Heh... saham kita untung gede. Sementara ada yang sebentar lagi modalnya ludes," ejek Tiara sinis. "Sama-sama main saham, tapi nasibnya beda jauh ya?"
Melihat grafik Semarang Properti yang terus memerah, Sherly tak kuasa bertanya, "Kak Arga… apa saham ini benar-benar akan naik?"
"Turunnya dalam sekali… sebentar lagi limit bawah!" "Neng, kamu itu terlalu polos, jangan mau dibohongi cowok model begini!" "Sudah telanjur nyangkut, mau jual pun rugi besar!"
Cemoohan orang-orang tertuju pada Arga. Banyak yang bahkan merasa puas melihat Arga dipermalukan.
Sherly segera menenangkan Arga. "Kak Arga, tidak apa-apa. Manusia bisa salah. Aku ikhlas kalau rugi, jangan dipikirkan ya."
"Aku bilang naik, ya pasti naik," ucap Arga tegas.
"Masih berani sombong—"
Yuda Perdana belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat sebuah teriakan meledak dari kerumunan.
"Lihat Semarang Properti!"
Sebuah garis hijau raksasa muncul di layar, bagaikan naga yang meluncur dari dasar laut. Di hadapan mata para investor yang melongo, saham Semarang Properti melonjak ke angkasa!
"Memantul! Sudah balik ke harga awal!" "Mulai hijau!" "Ya Tuhan, naik satu persen tiap menit!" "Delapan persen! Ini menuju batas atas!" "Naik… auto reject atas!"
Garis hijau itu hampir lurus sempurna. Dari titik terendah, saham tersebut melesat tajam dan langsung mengunci kenaikan maksimal!
Benar-benar… meroket! Dari hampir mati di batas bawah, berbalik mengunci batas atas hanya dalam tiga menit!
Sambil tetap bersikap tenang, saldo akun Arga bertambah 100 juta rupiah!
"Ini..." Orang-orang yang tadi mengejek Arga terdiam kaku.
"Kak Arga! Naik tinggi! Benar-benar untung! Kak Arga hebat banget!" Sherly melonjak kegirangan dengan wajah merona. Hari ini saja, ia sudah menghasilkan keuntungan jutaan rupiah hanya karena satu perintah dari Arga.
Kecepatan mencetak uang ini benar-benar gila! Sherly akhirnya paham kenapa ayahnya begitu ambisius di dunia finansial.
"Bagaimana bisa begini?" Tiara menggertakkan gigi, wajahnya muram.
"Hanya kebetulan," kata Yuda Perdana kesal. "Pasti cuma trik bandar! Saham gorengan begitu tak akan lama. Yang stabil itu tetap saham perusahaan besar seperti Jati Luhur!"
Tiara mengangguk setuju. "Tunggu—lihat Miras Jati Luhur!"
Teriakan panik kembali terdengar.
"Sudah naik maksimal akhirnya?" tanya Yuda lega.
Namun—
"Mas Yuda..." Dengan wajah pucat, Tiara menunjuk layar. Jarinya gemetar hebat.
Yuda segera menoleh. Sebuah garis merah raksasa muncul di grafik, jatuh tajam seperti terjun bebas dari tebing! Dalam lima menit saja, saham Miras Jati Luhur langsung menghantam batas bawah!
Pandangan Tiara menggelap. Kakinya lemas menatap grafik itu. Tabungan keluarga dan jaminan rumah yang ia pertaruhkan... lenyap 100 persen hanya dalam lima menit!
"Bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal! Kenapa bisa langsung hancur begini?" Yuda Perdana menatap layar dengan wajah tak percaya.
Namun tepat saat itu, sebuah berita yang jauh lebih mengerikan menghantam bursa... seperti petir di siang bolong.
Sebuah pengumuman mendadak muncul di layar bursa:
“Produk Miras Jati Luhur diduga dicampur dengan alkohol industri berbahaya, dan jajaran direksi dicurigai melakukan penipuan laporan keuangan…”
Begitu pengumuman itu dirilis, saham Miras Jati Luhur langsung terkena suspensi (penghentian perdagangan sementara). Tidak ada yang tahu kapan perdagangan akan dibuka kembali.
Bahkan jika perusahaan itu berhasil melewati krisis ini, dampak dari skandal kesehatan dan hukum semacam ini pasti akan membuat harga sahamnya terjun bebas saat dibuka nanti. Anjlok 80% pun bukan hal mustahil. Saham itu kini tak lebih dari sekadar kertas sampah.
Wajah Tiara seketika pucat pasi, nyaris kehijauan. Ia semula mengira jika saham itu jatuh 10% saja, ia masih bisa menahannya. Namun siapa sangka, seluruh tabungan keluarganya kini justru terjebak dan membeku di dalamnya! Jika ibunya sampai tahu, ia bisa diusir dari rumah!