"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Bab 20: Tali Kepercayaan
Sisa asap dari pertarungan semalam masih terasa menyesakkan di paru-paru Arka. Ia duduk di salah satu bangku taman lantai dasar Skyview yang setengah hancur, menatap bercak darah kering di ujung jaket birunya. Lengan kirinya terbalut perban putih tebal—sebuah "kenang-kenangan" dari belati Hendra Wijaya.
Tanpa bantuan Sistem untuk mempercepat regenerasi sel atau mematikan saraf rasa sakit, setiap denyut di lukanya terasa seperti diingatkan akan kerapuhan dirinya sebagai manusia.
"Minum ini," suara Sarah memecah keheningan. Ia menyodorkan segelas jahe hangat. Tangannya masih sedikit gemetar, sisa dari trauma semalam.
Arka menerima gelas itu, namun matanya tidak menatap Sarah. Ia menatap ke depan, ke arah kerumunan kurir yang sedang bergotong royong membersihkan puing-puing kaca. Mereka tidak mengeluh. Mereka bekerja dalam diam, seolah-olah setiap pecahan kaca yang mereka angkut adalah bagian dari memulihkan harga diri mereka sendiri.
"Hendra sudah diamankan, tapi Rian masih bebas di luar sana," Arka bergumam, suaranya parau. "Keamanan kita berlubang, Sarah. Semalam kita menang karena jumlah, bukan karena taktik. Jika mereka menyerang lagi melalui sistem digital kita..."
"Arka, berhentilah memikirkan perang sejenak," Sarah duduk di sampingnya, matanya berkaca-kaca. "Kau hampir mati. Gilang ketakutan setengah mati. Kenapa kau selalu memikul beban ini sendirian?"
Arka meremas gelas jahe itu. "Karena aku yang memulai ini, Sarah. Aku yang membawa kalian ke tengah medan perang para elit ini."
Ketenangan itu hanya bertahan beberapa jam. Bang Jago berlari menghampiri Arka dengan napas tersengal, wajahnya yang garang tampak pucat.
"Arka! Sistem pengiriman di tablet kami... semuanya kacau!"
Arka segera berdiri, mengabaikan rasa nyeri di lengannya. Ia mengambil tablet dari tangan Bang Jago. Layarnya berkedip-kedip merah. Rute pengiriman yang biasanya teratur kini berubah menjadi benang kusut. Alamat pengiriman UMKM tertukar secara acak, dan data pembayaran menunjukkan angka-angka negatif yang mustahil.
"Ini bukan serangan fisik," desis Arka. "Ini sabotase siber tingkat tinggi."
Tanpa Mode Analisis dari Sistem, Arka merasa seperti seorang jenderal yang buta di depan peta perang. Ia mencoba masuk ke dalam back-end program yang ia buat, namun jari-jarinya yang gemetar dan pikirannya yang tidak lagi dibantu AI membuatnya kesulitan. Barisan kode itu tampak seperti bahasa asing yang menari-nari mengejeknya.
[Status: Sistem Offline.]
[Bisikan Insting: Kau tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Cari bantuan dari mereka yang berjalan bersamamu.]
"Sarah, panggil Elina Clarissa. Sekarang," ucap Arka dingin.
Tiga puluh menit kemudian, Elina tiba. Ia tidak datang sendirian; ia membawa tim IT terbaik dari Clarissa Corp. Namun, saat mereka melihat kekacauan di server Sovereign, mereka menyerah.
"Ini bukan virus biasa, Arka," Elina melipat tangan di dada, matanya menatap tajam ke layar monitor. "Ini logic bomb. Seseorang menanamkan perintah rahasia yang akan meledak jika volume transaksi mencapai titik tertentu. Siapa yang memiliki akses ke kode dasar selain kau?"
Arka terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Hanya ada satu orang yang pernah membantunya memasukkan data awal saat ia masih dalam proses pemulihan panti asuhan.
Ia menoleh ke arah Sarah yang berdiri di sudut ruangan.
Sarah tampak membeku. Wajahnya memucat, tangannya meremas ujung blusnya hingga kuku-kukunya memutih. "Aku... aku tidak tahu apa-apa soal kode itu, Arka. Aku bersumpah."
"Tapi kau yang memegang laptopku saat aku di rumah sakit setelah serangan pertama Sistem," suara Arka terdengar rendah dan berbahaya. "Rian pernah menghubungimu, kan? Dia memintamu menanamkan sesuatu sebagai jaminan jika aku berkhianat pada rencana kalian?"
Keheningan di ruangan itu terasa mencekik. Elina menatap Sarah dengan tatapan menghina, sementara para kurir yang berada di luar pintu mulai berbisik-bisik.
"Aku terdesak, Arka!" Sarah akhirnya meledak, air mata tumpah membasahi pipinya. "Saat itu, Rian mengancam akan memutus biaya pengobatan ibuku jika aku tidak memberinya akses pintu belakang. Aku hanya memasang satu file kecil... dia bilang itu hanya untuk memantau, bukan menghancurkan! Aku tidak tahu dia akan menggunakannya untuk membunuh bisnis ini!"
Sarah jatuh berlutut di lantai yang dingin. "Maafkan aku... aku ingin memberitahumu, tapi aku takut kau akan membuangku lagi ke jalanan."
Arka menatap Sarah. Rasa perih di hatinya jauh lebih tajam daripada sayatan belati di lengannya. Ia teringat hari kelulusan itu, saat Sarah membuang bros peraknya demi kemewahan Rian. Dan kini, ia menyadari bahwa pengkhianatan itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Elina mendekati Arka. "Buang dia, Arka. Dia adalah racun. Jika kau mempertahankannya, seluruh sistem Sovereign akan runtuh karena ketidakpercayaan."
Arka meraba saku jaketnya, menyentuh bros perak bengkok itu. Sudut tajamnya melukai telapak tangannya lagi. Ia menatap Sarah yang terisak, lalu menatap Bang Jago dan para kurir yang menunggu keputusannya.
Inilah ujian harga diri yang sesungguhnya. Apakah ia akan bertindak seperti Hendra Wijaya yang membuang siapa pun yang gagal? Ataukah ia akan menjadi Arsitek yang memperbaiki fondasi yang retak?
"Bang Jago," panggil Arka.
"Ya, Bos?"
"Apakah paket-paket itu bisa diantar tanpa tablet?"
Bang Jago tertegun sejenak, lalu ia tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang kuning. "Kita punya peta di kepala kita, Bos. Kita punya nomor telepon pedagang. Jika sistem mati, kita kembali ke cara lama: teriakan dan ingatan."
Arka mengangguk, lalu ia berjalan mendekati Sarah. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, namun ia berdiri tegak di depannya.
"Kau mengkhianatiku karena rasa takut, Sarah. Dan ketakutan itu hampir menghancurkan rumah yang kau sebut kau cintai ini," ucap Arka, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.
Sarah mendongak, matanya merah. "Aku... aku akan pergi."
"Tidak," potong Arka. "Kau tidak akan pergi. Kau akan duduk di sana, di depan komputer itu, dan kau akan menunjukkan pada tim IT Elina di mana tepatnya Rian menyuruhmu menanamkan kode itu. Kau akan memperbaiki apa yang kau rusak."
Sarah tertegun. "Kau... kau masih mempercayaiku?"
"Aku tidak mempercayaimu, Sarah," Arka berbalik, menatap ke arah lobi mal yang mulai berdenyut lagi karena para kurir mulai berangkat dengan cara manual. "Aku mempercayai proses penebusan. Di Sovereign, tidak ada yang dibuang hanya karena mereka pernah jatuh. Kita semua adalah barang rongsokan yang sedang mencoba menjadi emas."
Selama sepuluh jam berikutnya, suasana di ruang IT terasa seperti medan perang. Sarah bekerja tanpa henti, menunjukkan setiap celah yang pernah ia buka untuk Rian. Tim IT Elina bekerja keras membersihkan malware tersebut, sementara di luar, Sovereign Logistik berjalan secara manual—berdasarkan kepercayaan antara kurir dan pedagang.
Arka berdiri di tengah ruangan, memantau semuanya tanpa bantuan AI. Ia menyadari sesuatu yang besar: Sistem yang dulu ada di kepalanya adalah alat yang hebat, tapi ia menciptakan jarak antara dirinya dan orang-orangnya. Sekarang, tanpa bantuan mesin, ia harus berbicara, mendengar, dan merasakan setiap detail bisnisnya.
"Sistem bersih, Bos," lapor salah satu teknisi Elina tepat saat matahari terbit.
Data di layar kembali normal. Warna hijau menggantikan warna merah yang mengerikan.
Elina menghampiri Arka yang tampak sangat kelelahan. "Kau memberikan dia kesempatan kedua. Itu adalah langkah bisnis yang sangat berisiko, Arka."
"Bukan bisnis, Elina. Ini kepemimpinan," jawab Arka. Ia menatap Sarah yang tertidur di depan meja komputer karena kelelahan. "Hendra Wijaya kalah karena dia membangun kekaisaran di atas rasa takut. Aku ingin membangun Sovereign di atas tali kepercayaan. Dan tali yang pernah putus lalu disambung kembali... terkadang jauh lebih kuat daripada tali yang baru."
Arka berjalan keluar menuju teras mal. Ia menghirup udara pagi Tanjungbalai yang segar. Ia meraba perban di lengannya, lalu menyentuh bros perak di sakunya.
Ia bukan lagi "Avatar AI" yang sempurna. Ia adalah Arka Pramudya—pria yang terluka, yang pernah dikhianati, namun tetap berdiri. Dan di bawah sinar matahari pagi itu, ia menyadari bahwa kedaulatan yang sesungguhnya bukan terletak pada saldo bank yang tak terbatas atau sistem yang tak tertembus, melainkan pada kemampuan untuk memaafkan tanpa melupakan, dan membangun kembali dari reruntuhan.
Fase 2 telah benar-benar dimulai. Perang dingin dengan masa lalunya kini telah menjadi perang terbuka, dan Arka sudah siap. Bukan dengan algoritma, tapi dengan nyali manusia.
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.