Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Magnet Jakarta,pesona sang penjemput
Udara Jakarta yang panas dan lembap langsung menyambut Laura begitu ia melangkah keluar dari garbarata Bandara Soekarno-Hatta. Suasana bandara siang itu sangat padat; hiruk-pikuk ratusan suara pengumuman yang bersahutan, dan deretan koper yang beradu dengan lantai menciptakan kebisingan yang kontras dengan ketenangan pesawat yang baru saja ia tinggalkan.
Laura berdiri di area penjemputan,bersandar pada pilar marmer yang dingin. Ia sudah menunggu hampir satu jam. Kacamata hitamnya masih bertengger di hidung, menyembunyikan tatapan matanya yang mulai menajam karena tidak terbiasa menunggu.
Setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan baginya. Laura berulang kali melirik jam tangannya. Ia mulai gelisah; jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan koper. Pikirannya melayang pada peringatan Marco tentang licinnya orang-orang di Jakarta.
"Apakah ini sebuah tes? Atau pria bernama Steven ini sengaja ingin menunjukkan dominasinya sejak awal?"
Batin Laura.
Ia hampir saja beranjak dari tempat itu.namun, Aroma parfum maskulin yang elegan dan kuat mendahului kehadiran sosok tersebut.
Seorang pria melangkah mendekat dengan langkah yang penuh percaya diri. Ia sangat tinggi, berkulit putih bersih dengan fitur wajah Indo yang tegas namun menawan—perpaduan rahang yang maskulin dan mata yang menyimpan kecerdasan manipulatif. Ia mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan jam tangan mewah di pergelangan tangannya.
Pria itu berhenti tepat di depan Laura. Ia tidak langsung berbicara, melainkan tertegun sejenak. Matanya menyisir penampilan Laura dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan: sebuah kekaguman yang dalam dengan penampilan sederhana gadis itu.
Steven mengulas senyum tipis yang mematikan, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh.
"Maaf membuatmu menunggu di tengah kekacauan ini. Jakarta tidak pernah ramah pada jadwal yang tepat waktu."
Suaranya berat dan halus, memiliki nada karisma yang berbeda dengan suara serak Marco yang kaku.
"Aku Steven. Pimpinan di sini sudah banyak bercerita tentang kau yang luar biasa dari kota di ujung Sulawesi, tapi mereka lupa menyebutkan bahwa kau jauh lebih memukau daripada semua laporan tertulis yang kubaca."
Laura menerima uluran tangan itu. Kulit Steven terasa hangat, sangat berbeda dengan hawa dingin yang biasanya menyelimuti orang-orang di tempatnya tinggal. Namun, Laura tetap waspada. Ia bisa merasakan energi yang kuat dari pria ini—energi yang bukan berasal dari kekuatan otot, melainkan dari posisi dan pengaruh.
"Pujian tidak akan mengembalikan waktu satu jam yang terbuang, Steven. Aku di sini untuk misi, bukan untuk terkesima dengan wajah penjemputku."
Steven terkekeh pelan, matanya tetap terpaku pada wajah Laura seolah ia baru saja menemukan berlian hitam yang paling langka.
"Tegas dan manis. Kombinasi yang berbahaya. Mari, mobil sudah menunggu di depan. Aku berjanji perjalanan menuju rumahku akan membayar rasa kesalmu."
Steven mempersilakan Laura jalan terlebih dahulu, tangannya sedikit menyentuh punggung bawah Laura—sebuah gerakan protektif sekaligus posesif yang jika dilihat oleh Marco dari jauh, pasti akan memicu pertumpahan darah.
Mobil sedan mewah berwarna hitam metalik itu melaju membelah kemacetan Jakarta yang ikonik. Di dalam kabin yang kedap suara, aroma kulit jok yang mahal bercampur dengan parfum maskulin Steven yang elegan. Steven mengemudi dengan santai, namun fokusnya terbagi
Sesekali, Steven melirik ke arah kursi penumpang melalui spion tengah atau sekadar menoleh kecil saat lampu merah menyala. Ia mencuri pandang pada profil samping wajah Laura yang tampak sempurna—garis rahang yang tegas namun feminin, dan tatapan mata yang masih menyimpan misteri meski tertutup kacamata hitam.
"Gadis manis ini... dia bukan hanya aset organisasi. Ada api yang tenang di balik ketenangannya. Benar-benar langka."
Keheningan itu tiba-tiba dipecah oleh suara rendah yang berasal dari perut Laura. Kruyuukk...
Laura sedikit tersentak, wajahnya yang dingin mendadak bersemu merah karena malu. Ia berusaha memperbaiki posisi duduknya, berpura-pura melihat ke luar jendela seolah tidak terjadi apa-apa.
Steven tidak tertawa. Sebaliknya, ia tersenyum tipis yang terasa tulus—sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan pada bawahannya.
"Jakarta punya cara unik untuk menguras tenaga, bukan? Sepertinya kita butuh asupan energi sebelum menghadapi pertemuan malam nanti."
"Aku baik-baik saja, Steven. Kita bisa langsung ke rumahmu"
jawab Laura,dengan wajah tenang.
Steven Memutar kemudi dengan lincah. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan tamu istimewaku pingsan sebelum misinya dimulai. Aku tahu satu tempat yang tidak 'mewah', tapi makanannya akan membuatmu lupa pada kemacetan ini."
Steven tidak membawanya ke restoran hotel berbintang. Ia justru memarkir mobilnya di depan sebuah rumah makan sederhana yang bersih di sudut Jakarta Selatan. Tempat itu harum dengan aroma bumbu tradisional yang menggugah selera.
Di dalam rumah makan, Steven menunjukkan sisi yang sangat berbeda dari citra petinggi Satanisme yang angkuh. Ia menarikkan kursi untuk Laura, memastikan meja kayu itu benar-benar bersih sebelum Laura meletakkan tas kecilnya.
Perhatian Steven Saat makanan datang—nasi hangat, ayam goreng bumbu kuning, dan sambal terasi segar—Steven secara alami mengambilkan piring untuk Laura. Ia menyendokkan nasi, memilihkan potongan ayam terbaik, dan meletakkannya di depan Laura.
"Makanlah. Di Jakarta, kita butuh perut kenyang untuk bisa berpikir jernih. Jangan khawatir soal protokol organisasi di sini. Di meja makan ini, kau hanya Laura."
Ia bahkan memesankan es jeruk kelapa muda spesial dan memastikan sedotannya sudah terpasang dengan benar menghadap ke arah Laura. Steven sendiri tidak banyak makan; ia justru lebih banyak memperhatikan cara Laura menyuap makanan, seolah dengan merasa kenyang memberinya kepuasan tersendiri.
"Pelan-pelan saja. Kita punya banyak waktu. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu hari ini." kata pemuda berdarah indo itu.
Ada sesuatu dalam perhatian Steven yang terasa "ringan" dan manis, sangat berbeda dengan perhatian Marco yang selalu terasa berat, protektif, dan penuh beban rahasia. Steven memberikan kenyamanan yang manipulatif namun terasa sangat menyenangkan bagi Laura yang sudah lama hidup dalam tekanan.
Namun, di sela-sela suapannya, Laura teringat Marco. Di bandara tadi, Marco pasti sedang mencemaskannya, sementara di sini, seorang pria asing sedang memperlakukannya seperti seorang ratu di sebuah rumah makan sederhana
Rumah makan itu terasa sepi di sela-sela denting sendok dan deru kendaraan Jakarta yang lamat-lamat. Aroma bumbu rempah yang hangat seolah mengisolasi mereka dalam ruang kecil yang eksklusif.
Laura baru saja meletakkan sendoknya, merasa kenyang untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kediaman Bu Sisil dua tahun lalu. Tanpa ia sadari, sedikit bumbu sambal tertinggal di sudut bibirnya.
Steven tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak menyodorkan tisu, juga tidak menegur. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, ia memajukan tubuhnya ke arah Laura. Tangan kanannya terangkat, jempolnya yang hangat dan bersih menyentuh lembut sudut bibir Laura, menyeka sisa makanan itu dengan satu gerakan perlahan.
Tatapan mata Steven tidak lepas dari mata Laura. Ada keheningan yang mendalam selama beberapa detik. Ibu jari Steven tidak segera menjauh; ia sempat mengusap lembut bibir bawah Laura sejenak sebelum akhirnya menarik tangannya kembali.
"Sudah bersih," bisik Steven, suaranya kini lebih rendah, lebih dalam, menyerupai getaran yang halus. "Aku tidak suka melihat ada noda pada sesuatu yang sesempurna dirimu.
Laura terpaku. Jantungnya berdegup dengan ritme yang asing. Sentuhan Steven terasa berbeda—bukan cengkeraman protektif Marco yang kasar, bukan pula sentuhan ritual Elena yang dingin dan tak berjiwa. Sentuhan Steven terasa... manusiawi, namun tetap memiliki otoritas yang menjerat.
"Dia bukan ular yang licin seperti yang dikatakan Marco. Dia bukan predator haus darah yang diceritakan di mansion pusat. Steven... dia memiliki kehangatan yang manipulatif, atau mungkin, dia memang benar-benar peduli?"
Laura mulai meragukan semua peringatan yang ia terima sebelumnya. Ia menatap Steven yang kini sedang meminum es jeruknya dengan tenang, seolah adegan intim tadi adalah hal paling alami di dunia.
"Mungkin Jakarta memang berbeda. Mungkin Steven adalah orang pertama yang memperlakukanku sebagai wanita, bukan sekadar 'Pusaka' atau 'Pengantin' yang harus dijaga," pikir Laura.
Rasa waspada yang selama ini ia bangun setinggi tembok besar, perlahan mulai retak oleh perhatian-perhatian kecil pria di hadapannya. Laura merasa, untuk pertama kalinya, ia ingin mengenal sisi lain dari kegelapan yang dibawa oleh Steven—sisi yang terasa lebih manis dan penuh pesona.