NovelToon NovelToon
ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Cinta Seiring Waktu / Romansa pedesaan
Popularitas:115k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.

Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.

Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.

Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi konseling : 05

Anggara enggan menjawab, dia memasuki lift sambil memanggul jaket kulit, menekan tombol yang akan membawanya menuju lantai dua, kamarnya.

“Pa, tadi Anggara bilang apa?” Bunda Selina berbalik, meminta penjelasan suaminya, sebab tidak paham kalimat barusan. “Calon istri dijemput tunangan, maksudnya apa?”

Papa Kafka mengedikkan kedua bahu, mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana selutut, menghubungi asisten Anggara Pangestu. Kala panggilan tersambung, dia langsung mengajukan pertanyaan. “Di mana bos tengil mu itu, Anto?”

Sarwanto yang tiba-tiba mendapatkan panggilan dari bos besar, wajahnya langsung memerah. Dia sedang berkumpul dengan kedua satpam, mencari informasi tentang alamat dukun. “Katanya cari angin, Tuan besar.”

“Kau tahu, jarak dari kota ke perkebunan kelapa sawit seberapa jauh?”

"Kurang lebih empat jam jarak tempuh menggunakan kendaraan roda empat, Tuan,” jawabnya tidak mengerti arah pembicaraan.

“Jika orang cari angin sejauh itu, menurutmu apa yang terjadi?”

Sarwanto menjawab cepat tanpa berpikir keras. “Bisa-bisa hamil angin, Tuan.”

“Pantas saja tuan mu lesu sampai di hunian Pangestu, ternyata dia sedang ngidam. Terima kasih masukannya, Anto _”

Brak!

Terdengar suara orang mengerang, Sarwanto jatuh, kursi kayu panjang terbalik. Sang asisten sangat terkejut mendapati pria yang katanya mau cari angin, tapi mengapa bisa sampai hunian utama keluarga Pangestu?

Papa Kafka memutuskan panggilan secara sepihak. Dia angkat tangan bila menyangkut si bungsu. Jalan pikiran Anggara Pangestu seperti perkiraan cuaca di musim pancaroba. Tak ada mendung langsung hujan, tanpa peringatan, tiba-tiba datang angin topan.

“Sayang, biarkan saja dulu. Mungkin obatnya habis,” candanya yang langsung ditanggapi pukulan pada lengan.

“Tega papa ngatain anak sendiri. Walaupun Angga rada-rada, tapi dia baik dan penyayang keluarga,” protes bunda Selina, tidak jadi naik ke lantai atas.

***

Anggara menjatuhkan badannya diatas kasur empuk. “Rubah, bukain sepatuku.”

Sahira Maheswari Pangestu, sepupu Anggara Pangestu yang sedang melihat-lihat hasil rancangan kakak kembarnya Anggara, mendengus. Melemparkan buah apel masih digigit separuh, langsung ditangkap empunya dan dikunyah.

“Aku mau melepaskan, asal setelahnya kakimu ku gergaji mesin, mau?!”

Pria gondrong menghentakan kaki, lalu duduk ditepi ranjang, memandang malas kakak kembarannya. “Adisty Pangestu, kapan kau dapat jodoh kalau hari-hari jahit baju?”

“Bukan urusanmu!” balas gadis berwajah cantik tapi minim ekspresi.

“Rubah … sinilah!” Tangan Anggara melambai seperti memanggil anak kecil. “Aku butuh ilmu yang kau terapkan kala dulu menjebak Tor monitor.”

"Namanya Thariq Alamsyah,” ia tidak terima nama sang suami diubah sesuka hati.

“Cih … sekarang saja dibela, dulu dijebak, diabaikan sampai dia nyaris gila. Dasar betina tak jelas.”

Sahira mencebik, dapat dilihat olehnya kalau sang sepupu memiliki masalah serius, ia pun beranjak dari sofa di dalam kamar Adisty.

“Apa masalahmu?” Sahira duduk di tepi ujung ranjang.

"Aku mau jadi perebut tunangan orang.” Angga megusak rambutnya. “Bingung jalan mana yang hendak ku pilih – antara berdukun, dan main keras, atau lemah gemulai.”

“Berapa ukuran bra nya?” celetuk Adisty, melangkah ke meja kerja, menarik sebuah kursi sampai di dekat adik kembarnya.

“Apa hubungannya size kutang dengan menaklukkan hati wanita?” Kening Anggara mengerut.

“Kau akan menggila jika seorang perempuan memiliki buah dada besar, kencang, dan bokong sintal, makanya aku tanya tentang ukuran beha.” Adisty menyilangkan kedua tangan didepan dada.

“Dia beda, sungguh ku menggila dibuatnya.” Angga menghempaskan tubuh sampai memantul.

Sahira dan Adisty sama-sama berdecak, hal biasa melihat saudara mereka sering galau perihal wanita.

Anggara Pangestu terkenal pecinta wanita cantik, body gitar spanyol, dan bibir seksi. Sering dia mendapatkan julukan playboy karena sering gonta-ganti pasangan dalam hitungan hari.

“Kau betulan suka dia, atau cuma penasaran karena sulit didekati?” tanya Sahira.

“Lebih dari suka, sampai rasanya aku berkeinginan memasukkan dia ke dalam saku biar bisa dibawa kemana-mana, supaya tak dipandangi oleh pria lain. Aku tak ikhlas berbagi!” Tangannya menyanggah kepala.

“Terus masalahmu di mana?” Adisty tampak sedikit tertarik.

“Nya sudah berpunya, ya walaupun belum menikah, masih tunangan _”

“Ya sudah rebut saja! Bukankah kau pintar merayu, menghujani wanita yang membuatmu terpaku dengan hadiah-hadiah mahal?” sela Sahira.

“Masalahnya, dia tak tertarik denganku. Sudah kucoba cara halus sampai konyol demi menarik perhatiannya, malah diabaikan dan dibilang gila _”

“Kan memang kau gila. Baguslah kalau ada wanita waras menyadari sikapmu itu,” sambar Adisty cepat.

“Aku jadi penasaran tentang wanita malang itu sampai bisa dilirik sepupuku ini.” Sahira terkikik, menarik tangan Anggara dan dijadikan bantalan kepalanya.

Sorot mata kesal pemuda yang baru saja melakukan sesi konseling perihal perasaannya, langsung melembut. Ia tulus menyayangi kedua wanita kesayangannya.

Adisty ikut rebahan disisi lainnya, sehingga Anggara berada ditengah-tengah. “Siapa namanya? Berapa umur, dan bagaimana parasnya? Nggak biasanya kau dilema sampai sedalam ini?”

"Intan. Umur 25 tahun, seorang bidan di perkebunan kita. Cantik, mulutnya lumayan lantam, anti dirayu. Penampilannya sederhana, tertutup sempurna terbungkus busana muslimah.”

“Oh, karena dia kau betah di pedalaman sana. Pantas saja sulit betul disuruh pulang,” ujar wanita memiliki kecantikan bak boneka barbie. Sahira.

“Sebelum dirimu melangkah terlalu jauh, terlanjur menaruh hati padanya – sebaiknya kenali dulu jenis perasaanmu itu. Betulan cinta atau sekadar penasaran.” Adisty menarik helaian rambut keriting adiknya.

“Belum pernah aku berdebar kala berdekatan dengan wanita. Senyumnya mampu mengalihkan duniaku, dengannya diri ini merasakan hal lain – bukan nafsu, tapi keinginan melindungi, memberikan kenyamanan,” ia jujur tentang apa yang dirasakannya.

“Apa kau sudah menyelidiki tentang tunangannya?”

Anggara menjawab pertanyaan sang kakak. “Belum sampai sana. Setelah melihat interaksi Intan dan tunangannya, aku seperti melihat ada sesuatu mengganjal.”

Dia pun menceritakan penilaiannya dari apa yang dilihat – saat Intan belum masuk ke dalam mobil, dan gesture pria misterius bertopi hitam.

Ya, Anggara lah sang penguntit. Walaupun tidak terlalu jelas dikarenakan terhalang kaca depan mobil, ada sesuatu terasa tak pas tertangkap mata awasnya.

***

Kepulangan Intan Rasyid disambut gembira sanak saudaranya. Mereka pun mengadakan makan malam besar dihalaman samping hunian Rasyid yang bersebelahan dengan rumah Nugraha, berjarak lima belas meter.

Bara api memanggang ikan di kipasi oleh salah satu sepupu Intan, ada juga yang menusuk jagung untuk dibakar, lalu para ibu-ibu cuma kebagian bercengkrama seraya menatap bangga buah hati mereka.

“Assalammualaikum,” sapa sepasang suami istri.

“Asalamualaikum,” dua insan beda jenis pun ikut menyapa, mereka baru saja tiba.

Intan yang sedang mengolesi bumbu diatas daging paha Ayam, memalingkan wajah ke arah lain guna mengatur ekspresi. Tidak sengaja dia melihat sang tunangan terpaku memandang sosok sholehah berhijab abu-abu.

‘Ternyata ….’

.

.

Bersambung.

1
Widia Ningsih
aku gereget banget tor sumpah
misna wati
ya Allah sedih ya, intan si tegar. putuskan pertunangan. sehingga anggora ada ruang ya thor
Sumìni Manju Maja
sakit banget,
Tri Lestari
bagus intan sabiya , biar semuaa keluarga tau , ku mendukung mu
Aprisya
wesssss geger peperangan bratayuda🔥🔥🔥🔥🔥
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
muthia
semoga persaudaraan dan persahabatan orang tua mereka tdk bermasalah dg adanya masalah inii🙏🙏
Aprisya
yeeeesssss akhirnya ayah tua dan ibu nirma tau kebejatan kamaludin
putri
menunggu jam 23 😄🤭🤭🤭
hasatsk
makanya Nuha, kalau bertindak itu dipikir dulu jangan di butakan oleh cinta pertama.. kalau kelakuanmu sudah di ketahui 2 keluarga besar bagaimana sikap kamu..... apalagi kamu menyembunyikan istri orang....
neni nuraeni
udah tan kamu ma si Angga aja biar happy,,, lnjut lah pnsrn ini thor😁😁
Wanita Aries
wahhhh bakal meledakk nihhhh..

aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
Wanita Aries
ihhh gemasnyaaa akuu
★·ᴄᴀsᴘᴇʀ·★
kak cublik ku kirim 30 kopi semangat nulis si gendeng Kamal /Panic//Panic//Panic//Scream//Scream/
Wanita Aries
hikksss nyesekkkk bgt 😭
Wanita Aries
eng ing eng bener2 ka si kamal gak bs dipegang janjinya
Wanita Aries
hilihh gk prcaya aku ma nuha
Lia Sakking
sabar sabar ..tunggu besok kita lanjut 🤣
Nathania Eryn
bagus sih semua keluarga tahu biar Kamal SM lanira sekalian dinikahkan🤭panas hatiku intan diperlakukan bgitu
Nuryanto Yanto
duh deg deg kan gimana ya kelanjutannya
Cublik: /Heart/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!