Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Dua hari setelah badai yang menghancurkan ketenangan di kediaman Julian, London kembali ke rutinitasnya yang kelabu. Kabut pagi masih setia menyelimuti gedung SMA Arcandale, memberikan kesan misterius yang seolah-olah menyembunyikan rahasia-rahasia kuno di balik dinding betonnya.
Bagi Kenzie, dua hari terakhir adalah masa transisi yang berat. Ia masih mengenakan plester baru di keningnya, sebuah formalitas penyamaran yang kini terasa seperti lelucon pahit setelah Julian mengetahui identitas aslinya. Kenzie berjalan menyusuri koridor, merasakan beratnya informasi yang diberikan Julian tentang silsilah keluarganya yang kelam, tentang istrinya Elena dan tentang putri cacatnya yang haus darah, Lyana.
Namun, Kenzie adalah seorang penyintas selama empat ratus tahun. Ia telah belajar bahwa senjata terbaik melawan predator bukanlah serangan, melainkan ketenangan yang menyesatkan.
Di ujung koridor dekat loker, Hallen berdiri dengan gaya khasnya, bersandar pada dinding dengan satu kaki terlipat, mencoba terlihat acuh tak acuh namun matanya terus memindai kerumunan siswa. Begitu sosok Kenzie muncul, wajahnya langsung cerah.
Hallen tidak menyadari bahwa ia sedang berada di tengah-tengah perang antara entitas abadi. Baginya, Kenzie tetaplah gadis misterius yang paling menantang untuk ditaklukkan, meskipun belakangan ini ada siswi baru yang memiliki kecantikan luar biasa dan aura yang lebih berani.
"Kenzie! Akhirnya kau muncul." Hallen melangkah menghadang jalan Kenzie, senyum lebarnya terkembang.
Dari balik bayang-bayang, Lyana melangkah keluar dengan mengenakan cardigan merah muda yang lembut, rambut pirangnya diikat ekor kuda yang tinggi dan wajahnya dipoles dengan riasan tipis yang membuatnya tampak seperti remaja paling manis dan ramah di sekolah. Tidak ada jejak haus darah atau aura predator yang Kenzie rasakan di tengah hujan malam itu.
"Hai, Kenzie." ucap Lyana, suaranya terdengar merdu dan penuh keramahan yang dibuat-buat. "Hallen bercerita banyak tentangmu. Katanya kau sangat pintar di kelas sejarah. Aku benar-benar butuh bantuan untuk mengejar ketertinggalanku."
Kenzie menatap mata Lyana. Di sana, di balik iris biru yang cerah itu, Kenzie melihat pantulan kebencian yang mendalam dan rasa takut yang ditekan sekuat tenaga. Lyana sepertinya sedang menjalankan misi pertamanya dari Stefanny.
Mereka berakhir di kantin sekolah saat jam istirahat tiba. Hallen yang merasa bangga bisa mengumpulkan dua gadis yang belakangan ini menjadi paling populer di sekolah dalam satu meja, terus berceloteh tanpa henti.
"Jadi, Lyana bilang dia ingin kita bertiga belajar kelompok." ujar Hallen sambil membuka kaleng sodanya. "Aku pikir itu ide bagus. Kenzie bisa jadi tutor dan aku bisa jadi penyedia camilan."
Lyana tertawa kecil, menyentuh lengan Kenzie dengan gerakan yang tampak sangat natural namun sebenarnya adalah upaya untuk merasakan denyut energi di bawah kulit Kenzie. "Tentu saja. Aku benar-benar ingin berteman baik dengamu, Kenzie. Rasanya sulit menjadi murid baru tanpa teman yang bisa diandalkan."
Kenzie merasakan sentuhan dingin Lyana. Ia tahu bahwa putri Julian ini sedang mencoba mencicipi auranya. Berdasarkan penjelasan Julian dua hari lalu, Lyana adalah Aethern yang cacat, yang membutuhkan esensi murni untuk menambal keretakan jiwanya.
"Aku tidak keberatan." jawab Kenzie pendek, menyesap air mineralnya. Ia bersikap seolah-olah ia tidak tahu bahwa gadis di depannya ini adalah putri dari pria yang mengeringkan rambutnya dua hari lalu. "Tapi aku punya jadwal yang cukup padat."
"Oh, ayolah Kenzie." potong Hallen, matanya berbinar menatap Kenzie. Meski Lyana duduk tepat di sampingnya dengan pesona yang lebih meledak, perhatian Hallen tetap tertambat pada Kenzie. Baginya, Lyana terlalu mudah didekati, sementara Kenzie adalah teka-teki yang belum terpecahkan. "Hanya beberapa jam setelah sekolah. Lagipula, sepertinya kau tipe orang yang langsung pulang ke rumah setelah bel pulang berbunyi. Membosankan sekali, Kenzie. Sekali-sekali kau butuh udara luar untuk menetralkan pikiranmu."
Kenzie menatap Hallen dengan tatapan yang sulit diartikan. Kalimat Hallen tentang udara luar adalah sebuah ironi besar. Jika laki-laki itu tahu apa yang sebenarnya mengintai di udara London saat ini, ia mungkin akan menjadi orang pertama yang mengunci diri di gudang bawah tanah.
"Mungkin kau benar, Hallen. Terlalu banyak di dalam ruangan memang tidak baik." jawab Kenzie pelan, sambil melirik Lyana yang masih mempertahankan senyum manisnya.
Lyana tampak puas. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Kenzie dengan binar mata yang tampak kagum, namun Kenzie bisa merasakan frekuensi gelombang energinya yang mulai bergetar tidak sabar. Lyana tampak lapar dan aroma keabadian Kenzie seperti perjamuan yang tak terbayangkan baginya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau besok sepulang sekolah?" Lyana menyarankan dengan antusiasme yang dipaksakan. "Kita bisa belajar di ruang belajar sekolah. Atau mungkin di laboratorium sepertinya akan lebih seru."
Hallen bertepuk tangan sekali. "Setuju. Aku akan memesan pizza paling enak di kota ini. Kau tidak keberatan kan, Kenzie?"
"Selama kau tidak mengharapkanku untuk memakan seluruh pizzanya." balas Kenzie datar.
Di meja seberang, Julian duduk sendirian dengan buku teks terbuka di depannya. Namun, telinganya yang tajam menangkap setiap kata yang diucapkan di meja Kenzie. Rahangnya mengeras saat melihat Lyana menyentuh Kenzie. Julian ingin sekali melompat dan menarik Kenzie menjauh, namun ia tahu itu akan membongkar penyamarannya dan membahayakan keluarganya di rumah.
Julian menatap putrinya dengan rasa pedih yang amat sangat. Lyana terlihat sangat cantik dalam peran manusianya, namun ia tahu di balik kulit itu, ada pengaruh seseorang yang sedang menggerakkan benang-benang manipulasi. Julian harus segera menyelidikinya lebih dalam.
Jangan lakukan ini, Lyana. Jangan biarkan dia mengubahmu menjadi monster yang lebih buruk lagi. bisik Julian dalam hati.
Saat jam istirahat makan siang berakhir, Hallen dipanggil oleh pelatih basket, menyisakan Kenzie dan Lyana di koridor yang mulai sepi.
Lyana mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih intim. "Kenzie, sejujurnya aku merasa ada sesuatu yang berbeda darimu. Sesuatu yang sangat menenangkan. Aku merasa kita memiliki banyak kesamaan."
Kenzie berhenti di depan pintu lokernya, berbalik menghadap Lyana. "Kesamaan apa, Lyana?"
Lyana melangkah mendekat, hingga aroma mawar hitam yang samar tercium oleh Kenzie. "Kita berdua adalah orang asing di kota ini. Kita berdua menyimpan rahasia di balik senyuman. Benar kan?"
Kenzie tidak mundur. Ia justru menatap dalam ke mata Lyana, menggunakan wibawa seorang entitas berusia empat ratus tahun yang pernah berhadapan dengan raja dan tiran.
"Rahasia hanya akan menjadi beban jika kau membaginya dengan orang yang salah, Lyana." ucap Kenzie dingin. "Aku harap kau ingat itu."
Lyana tertegun sejenak. Ada kilatan ketakutan di matanya, rasa takut bahwa ia telah bertemu dengan lawan yang jauh lebih kuat dari yang digambarkan Stefanny. Namun, ia segera menutupi itu dengan tawa renyah.
"Kau sangat misterius, Kenzie. Pantas saja Hallen sangat terobsesi padamu."
Lyana berbalik dan melangkah pergi dengan anggun, namun begitu punggungnya membelakangi Kenzie, senyumnya langsung lenyap dalam sekejap.
Kenzie memperhatikan punggung Lyana yang menjauh. Ia menyentuh plester di keningnya, lalu melirik ke arah Julian yang sedang memperhatikannya dari ujung koridor. Kenzie memberikan anggukan kecil, sebuah tanda bahwa ia sudah memulai permainannya sendiri.
Lyana mengira dia sedang memancing ikan ke dalam jaring. Padahal, dia sedang mengundang seekor naga masuk ke dalam sangkarnya.
...•••...