seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Diplomasi Akar dan Langit
Pagi itu, aroma rumah sakit yang biasanya terasa hambar mendadak berubah bagi Dave. Ia tidak datang dengan iring-iringan ajudan atau bunga impor mahal yang biasa dikirimkan sekretariat kantor. Di tangannya hanya ada sebuah pot kecil berisi bibit tanaman Jasmine bukan mawar merah yang dramatis, karena ia tahu Shafira lebih menyukai ketulusan yang tumbuh perlahan daripada kemewahan yang cepat layu.
Dave berdiri di depan pintu kamar Pak Rahman, merapikan kemeja linen polosnya. Ia melepaskan jam tangan seharga satu unit apartemennya dan menyimpannya di saku. Ia ingin masuk sebagai Dave, pria yang sedang belajar cara bersujud, bukan sebagai pewaris takhta Mahesa Group yang angkuh.
"Pak Dave?" suara Shafira membuyarkan lamunannya. Shafira baru saja keluar membawa botol air kosong. Ia terpaku melihat penampilan Dave yang begitu bersahaja. "Bapak benar-benar datang?"
"Aku tidak pernah main-main dengan janjiku, Shafira," jawab Dave, suaranya rendah namun mantap. "Apakah Ayahmu sudah siap menerima tamu yang... sedikit berantakan ini?"
Shafira tersenyum tipis, senyum yang bagi Dave lebih berharga daripada kenaikan harga saham di bursa efek. Ia mempersilakan Dave masuk.
Pak Rahman duduk bersandar di ranjangnya. Meskipun wajahnya masih pucat, matanya tetap tajam, penuh dengan kearifan seorang pria yang telah menghabiskan puluhan tahun merawat akar agar bunga bisa mekar. Ia menatap Dave yang kini duduk di kursi plastik di samping ranjangnya, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi sebulan lalu.
"Tuan Muda Dave," sapa Pak Rahman dengan suara parau namun berwibawa.
"Panggil saya Dave saja, Pak. Di ruangan ini, tidak ada Tuan Muda," Dave meletakkan pot melati itu di meja samping tempat tidur. "Saya datang untuk berterima kasih karena Bapak telah menjaga rahasia keluarga kami begitu lama... dan untuk meminta sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar maaf."
Shafira berdiri di sudut ruangan, jemarinya memutar butiran tasbih, hatinya berdegup kencang. Ia menyaksikan transformasi luar biasa dari pria yang dulu ia anggap sebagai tiran tanpa perasaan.
"Apa yang kau inginkan, Dave?" tanya Pak Rahman tenang.
Dave menarik napas panjang. Ia merasa seolah sedang melakukan presentasi bisnis paling krusial dalam hidupnya. Namun kali ini, audiensnya bukan dewan komisaris, melainkan nurani seorang ayah.
"Saya ingin meminta izin Bapak untuk mengenal Shafira lebih dekat. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai pria yang ingin memperbaiki diri di sampingnya. Saya tahu saya memiliki banyak cela. Saya tahu dunia saya penuh dengan duri. Tapi saya berjanji, jika Bapak mengizinkan saya melangkah di jalur ini, saya akan menjaga kehormatan Shafira lebih dari saya menjaga nyawa saya sendiri."
Pak Rahman terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa seperti keabadian bagi Dave. Pak Rahman kemudian menoleh ke arah Shafira, lalu kembali ke Dave.
"Dulu, ayahmu memintaku menjaga rahasia demi harta. Sekarang, kau memintaku menjaga anakku demi rasa," ujar Pak Rahman pelan.
"Dave, seorang pekebun tahu bahwa bunga yang indah tidak bisa dipaksa mekar dengan disiram uang. Dia butuh kesabaran, cahaya, dan perlindungan dari hama. Apakah kau sanggup menjadi cahaya itu, atau kau justru akan menjadi badai yang mematahkan batangnya?"
"Saya akan belajar menjadi akarnya, Pak. Agar dia bisa tetap tegak meskipun badai datang," jawab Dave dengan keyakinan yang menggetarkan ruangan itu.
Sementara kehangatan menyelimuti kamar rumah sakit, di balik dinginnya jeruji besi, Bu Sarah menerima laporan dari pria misterius itu. Foto-foto Dave yang sedang bersimpuh di rumah sakit membuatnya muak. Baginya, cinta adalah kelemahan, dan Dave sedang menggali kuburannya sendiri.
"Aktifkan rencana 'Pembersihan'," perintah Bu Sarah dingin melalui telepon selundupan.
"Jika Dave ingin menjadi orang suci, biarkan dia mati sebagai martir. Hancurkan reputasi rumah sakit itu. Buat seolah-olah terjadi malapraktik massal yang melibatkan dana hibah Mahesa Group. Aku ingin Dave kehilangan kepercayaan dari Shafira dan publik sekaligus."
Setelah pertemuan yang menguras emosi itu, Dave dan Shafira berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit. Mereka tidak bersentuhan, namun ada energi yang saling terpaut di antara mereka.
"Ayah tidak pernah selembut itu pada pria mana pun," bisik Shafira saat mereka melewati taman kecil di tengah rumah sakit.
"Mungkin karena dia melihat betapa menyedihkannya aku jika kau tolak," canda Dave, mencoba mencairkan suasana.
"Tapi serius, Shafira. Aku merasa lebih lega sekarang daripada saat aku memenangkan tender pertama triliunanku."
"Karena Bapak tidak sedang memenangkan tender, Pak Dave. Bapak sedang memenangkan keberkahan," sahut Shafira.
Dave berhenti melangkah. Ia menatap Shafira, matanya memancarkan perjuangan yang begitu gigih.
"Beri aku waktu, Shafira. Aku akan menyelesaikan semua kekacauan di kantor. Aku akan memastikan ibuku tidak bisa lagi menyentuh kalian. Setelah itu... aku ingin kita memulai semuanya dengan benar."
Shafira menatap mata Dave, mencari kejujuran di sana. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan bayangan CEO yang angkuh, melainkan seorang pria yang sedang berjuang keras melawan egonya sendiri demi sebuah cinta yang elegan.
"Saya akan menunggu di pukul 13:30, Pak Dave. Di mana pun Bapak berada," jawab Shafira lembut.
Namun, kedamaian itu pecah seketika. Suara sirene ambulans terdengar bertubi-tubi memasuki area rumah sakit. Beberapa orang berlarian keluar dengan wajah panik. Rio muncul dari kerumunan dengan napas tersengal.
"Pak Dave! Ada sabotase di sistem oksigen sentral rumah sakit! Beberapa pasien di lantai VVIP mengalami gagal napas, termasuk..." Rio tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Wajah Shafira mendadak pucat. "Ayah!"
Dave merasakan darahnya mendidih. Ia tahu ini adalah kartu terakhir ibunya. Tanpa membuang waktu, Dave menggenggam lengan baju kemeja Shafira—bukan kulitnya—dan menariknya untuk segera berlari.
Perjuangan Dave untuk cinta kini kembali berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa masa lalunya belum benar-benar selesai. Di tengah kekacauan itu, Dave harus memilih: mengejar pelaku sabotase atau tetap di samping Shafira untuk menyelamatkan harapan terakhir mereka.
.