NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XVIII—MEMBAWA TEMAN PULANG

Hujan telah turun dengan deras, air dan angin saling bertabrakan menerpa seluruh benda di bumi. Selokan di mulut jalan terlihat tumpah-tumpah oleh air. Pohon di pinggiran jalan bergoyang seakan ada alunan irama yang mengiringi. Tak lupa dengan suara gemuruh petir yang entah menyambar kemana.

Karena derasnya hujan, jalanan terlihat putih dari dalam mobil. Pak Cipto mulai menyalakan wiper, untuk membersihkan kaca mocil depan oleh air hujan yang menutupi.

“Mas Chandra, ini jalannya bener kesini kan?”

Chandra menoleh memastikan “Eh iya Pak….Bener, bapak lurus saja sampe mentok lalu nanti sampean belok kekiri ada rumah cat putih dengan pagar warna hitam di depan rumahnya ada travo itu rumah saya pak, bentar lagi sampek kog pak” Ucap Chandra menjelaskan dengan tangan menunjuk-nunjuk arah.

“Oh siap mas”

Beberapa menit, mobil yang di kemudikan oleh Pak Cipto berhenti di depan halaman rumah Chandra “Sini mas?.”

“Iya pak, Aku pamit dulu, makasih Ka”

“Ga nyuruh aku mampir ini?” Tanya Arka

Chandra menggelengkan kepala menandakan ia tak menawarkan Arka mampir.

Arka tersenyum sinis “Oke keluar sana, lihat tuh sudah di sambut ibumu di teras.”

Chandra segera keluar dari dalam mobil dan berlari kearah rumahnya karena hujan masih deras, sesampai di teras rumah ia mengacapkan salam ke ibunya “Assalamualaikum” dengan meraih tangan ibunya.

“Waalaikumsalam nak….kog baru pulang to, dari mana saja? Mas Baskara sudah pulang dari tadi jadi ibu khawatir mana hujannya deres banget” Ungkap Mandira dengan perasaan yang gelisah

“Tadi ada urusan sebentar bu” Jawabnya sambil melepaskan kedua sepatunya.

“Oh yaudah lain kali bilang sama ibu kalau ada urusan sepulang sekolah biar ibu ini ga khawatir” Ujar Mandira yang tak sempat di jawab oleh Chandra, ia bertanya lagi “Dan ini siapa le?.”

Sontak Chandra menoleh kebelakang “Loh….Kog kamu malah kesini ga pulang?”

Arka hanya menarik kedua ujung bibirnya “Hehe”

Kedua kalinya Madira bertanya “Siapa le?”

Tak membiarkan pertanyaan itu terjawab oleh Chandra, Arka menyerobot meraih tangan Mandira untuk menyalami lalu menjawab “Saya temannya Chandra tante, saya kepingin mampir kesini habisnya anak tante sudah di anter malah gak di tawari mampir, yaudah saya langsung buntuti dia saja dari belakang hehe maaf ya tante”

Mandira merasa dadanya hangat karena perkataan Arka, ia merasa senang sekali terdapat kata teman dari mulut Arka, karena selama ini tak ada kata teman sekalipun dari hidup Chandra “Ya ampun le, kenapa kog temennya sudah nganter kamu malah ga di ajak mampir lagian ini hujan loh, Ibu kira kamu itu turun dari mobil itu dari ojek mobil, ternyata kamu dianter temenmu” Tutur Mandira pelan.

“Ayo masuk nak, biarin Chandra ga mengajakmu mampir tapi aku ibunya mengajakmu kog jadi ayo masuk, kamu kesini sama siapa ayo ajak masuk sekalian?” Lanjut Mandira

Arka merasa kurang enak dan ia menjawab “Sama sopir saya tan, gapapa aku suruh masuk juga?”

“Gak papa to, kasian hujannya deras kalau kamu suruh tunggu di dalam mobil, ayo panggil ajak masuk” suruh Mandira.

Arka melambaikan tangannya kearah Pak Cipto yang ada di dalam mobil. Pak Cipto pun segera menghampiri lambaian tuan mudanya lalu menyalami Mandira.

“Ayo masuk nak, pak, monggo” Mandira mempersilahkan keduanya untuk masuk kedalam rumah dengan tangan yang mengarahkan dan mereka masuk kedalam rumah bersama-sama.

Chandra hanya berdiri diam dengan kedipan mata yang entah sudah berapa kali berkedip dalam hatinya ia berkata “Loh aku dilupakan, anaknya saja ga di suruh masuk malah orang lain di suruh masuk duluan”

Kesekian kali dalam kedipan matanya, Chandra memutuskan untuk mengikuti mereka masuk kedalam rumah. Ia melihat Arka dan Pak Cipto duduk di ruang tamu dan ibunya yang sedang menyiapkan cemilan dan minuman hangat untuk mereka.

Ia berjalan ke arah pintu kamarnya, Arka menegurnya untuk keruang tamu “Chand mau apa sini lah” Ucap Arka seolah berada dirumahnya sendiri.

“Mau ganti baju dulu bentar” Jawab Chandra lirih menghadap ke arah Arka di ruang tamu.

Chandra pun memasuki kamarnya untuk berganti baju, lama kemudian dia keluar kembali dari kamarnya dan segera membantu ibunya yang sedang menyajikan cemilan dan minuman. Kemudian keduanya duduk berhadapan dengan Arka dan Pak Cipto.

“Nak….Pak…. Silahkan di makan dan diminum” Ujar Mandira mempersilahkan.

“Iya buk terima kasih, gausah repot-repot buk” Tolak Arka malu-malu yang di dalam hatinya ia berbicara kelihatannya enak banget nih

Chandra melirik kearah Arka “Gausah malu-malu makan ya makan saja kali pakai bilang repot-repot juga” Ucap sinis Chandra.

“Le…..Ga sopan” Tutur Mandira sambil mencubit paha kanan anaknya.

Chandra tercuat oleh cubitan itu, hingga membuatnya heran setengah mati. Ia heran karena kenapa ibunya sampai seperti itu reaksinya. Ia berpikir apa kah sespecial itu kedua orang ini baginya hingga rela mencubit-cubit anaknya di depan mereka.

Tak menunggu lama Mandira melontarkan pertanyaan klasik. “Mas nama sampean siapa dan rumahnya mana kalo boleh tahu?” Tanya dengan nada halus seperti seorang dewi.

Arka membusungkan dada lalu memperkenalkan diri dengan kobaran api di matanya “Izin mengenalkan diri ya tan, Saya Arka Mahendra, rumah saya berada di komplek Indah Asri tak jauh dari sini. Dan ini Pak Cipto, Sopir keluarga saya.” Ucap Arka memperkenalkan diri dengan menunjuk-nujuk dirinya kemudian ke arah Pak Cipto.

Mendengar kata Komplek Indah Asri, Alis Mandira terangkat. “Adik ini tinggal di Kompleks Indah Asri yang terkenal itu?”.

“Iya tante kenapa ya?” tanya Arka dengan nada penasaran.

Chandra menyela dengan muka dan nada datar “ Dia itu orang kaya buk, ayah dia punya perusahaan dimana-mana, bahkan pembantunya saja berpuluh-puluh dirumahnya, jadi gausah kaget kalo dia tinggal di sana.” Sela Chandra.

“Apa sih le….” Tegur Mandira kepada Chandra pelan

Arka meringis puas pada teguran Mandira ke Chandra dan berucap “Gak papa buk”

“Maaf ya nak Arka, anak tante ini ga punya sopannya sama sekali”

Arka hanya mengangguk pelan sambil melirik ke arah Chandra dengan senyuman mengejek karena merasa di unggulkan dirumah temannya.

Sedemikian rupa pertanyaan telah lontarkan oleh Mandira, tentunya dengan perasaan yang menggebu-gebu seakan terlalu penasaran dengan hidup Arka. Walaupun itu alasan yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah di lontarkan akan tetapi alasan yang sebenarnya ialah karena Arka tamu pertama yang telah di bawa Chandra selama seumur hidupnya.

Di dalam hatinya terasa sangat bahagia, tak peduli hujan selebat apa di luar sana tak akan menggangu suasana hatinya yang sekarang. Mandira hanya seorang ibu yang ingin anaknya memiliki teman seperti halnya anak-anak lain di luaran sana. Selama ini Mandira hanya berharap suatu saat ada seseorang yang datang kerumahnya untuk menyakan anaknya ada di rumah atau tidak. Kedengarannya sepele namun itu harapan yang selalu di nantinya sebagai seorang ibu selama ini.

Akan tetapi dengan kehadiran Arka sore ini, harapan itu telah terkabul dan sekarang isi fikirannya bertanya-tanya apa Arka itu teman anaknya atau memang sekedar mampir, mulutnya tak terkontrol untuk memastikannya dengan caranya sendiri.

“Eh nak tolong ambilkan semangka di kulkas buat Nak Arka dan Pa Cipto!.” Suruh Mandira pada Chandra

Chandra tanpa menjawab langsung melakukan perintah dari ibunya. Setelahnya Mandira tersenyum kearah Arka.

“Nak Arka, ini…. em…. Betulan temannya Chandra?”

Arka terdiam oleh pertanyaan Mandira di dalam hati ia berkata Eh kenapa ibunyaa Chandra bertanya seperti itu?

“Maaf ya nak……Tante cuma mau memastikan apa sampean temannya atau gak, itu saja kog ga ada maksud lain.” Ungkap Mandira dengan pelan “Karena selama ini dia gak pernah bawa satupun orang luar ke rumah dan ini pertama kalinya, apalagi seorang teman dia gak pernah sekalipun memilikinya” Lanjutnya menurunkan bahu dengan nada yang semakin pelan

Arka mengerti apa yang di maksud dari ibu Chandra dan ia segera menjawab pertanyaan itu dengan tenang dan menyakinkan “Saya betulan teman anak tante, jika dari dulu dia sama sekali tak memiliki teman, jadi sayalah temannya sekarang, jadi tante bisa tenang dia sekarang tak sendiri lagi dia sudah memiliki teman bahkan ada lagi satu gadis menjadi temannya namanya Alera sepupu saya sendiri.”

Mendengar hal itu dada Mandira terasa sangat sejuk seakan telah di terjang oleh angin pantai di pagi hari. Tak sadar matanya telah deras oleh air-air bahagia seakan hujan yang sedang turun di luar sana kalah dengan derasnya air mata bahagianya.

“Syukurlah….syukurlah Tuhan, engkau telah mengabulkan salah satu doaku….syukurlah.” Ucap Mandira dengan senyuman gemetar dan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.

Arka tersentak melihat reaksi Ibu temannya tak mengucapkan sepatah kata pun apalagi pak Cipto yang tengah asyik menikmati cemilan.

Dari dalam dapur terdengar suara Chandra “BUK INI AKU POTONG SEKALIAN”

Mendengar suara Chandra dari dapur mandira segera mengusap air matanya dan menjawab “IYA LE.”

Mandira kembali menatap hangat ke arah Arka dan meminta maaf atas kejadian yang begitu mendadak, Arka hanya mengangguk dan kini ia dapat memastikan bahwa wajah lega nan bahagia terlihat di raut wajah ibu temannya. Rasa lega nan bahagia dengan mudahnya menjalar ke hati Arka.

Tak lama setelah itu, Chandra datang dengan tangan yang membawa loyang terisi oleh semangka yang telah ia belah rapi. Ia meletakan loyang tersebut di hadapan kedua tamu yang tak di undang tersebut.

Dengan muka meledek Arka berkata “Duh nak, jangan repot-repot”

“BASI” Umpatnya membalas ledekan Arka

Sekian detik setelah umpatan tersebut keluar dari ujung mulutnya bahkan sebelum ia meletakan pinggulnya ke permukaan sofa ibunya mencubit kecil di paha kanannya, semakin kecil cubitan akan lebih terasa sakitnya tak hanya sakit namun rasa kaget juga akan tearsa jika tak tahu arah cubitan itu dari mana. Ia melompat kecil oleh cubitan itu, sialnya ia hanya dapat menerima tanpa protes malah kedua mulutnya seakan telah tersetel untuk mengucapkan kata maaf.

Suasana sore dengan hujan kala itu membuat rumah yang tak pernah hidup dari 17 tahun terakhir menjadi hidup kembali, yang diisi kedua tuan rumah dan kedua tamu yang tak di undang. Rumah yang terasa ramai oleh suara yang tak ada habisnya, Mandira yang menasehati anaknya sesekali mencubit, Chandra yang ketus pada Arka namun lembut pada Ibunya dan sesekali mengeluh oleh cubitan, Arka yang mulutnya tak bisa diam untuk mengompori Mandira untuk memarahi anaknya dan Pak Cipto yang mulutnya penuh oleh camilan.

Tak terasa hujan telah reda hari semakin gelap jam dinding di ruang tamu telah membentuk garis lurus atas ke bawah menandakan telah pukul 6 petang. Yang menyadari hari telah petang hanyalah Pak Cipto entah karena memang kesadaran murni atau karena camilan dan mimumannya telah bersih didepan oleh dirinya sendiri.

“Den sudah jam segini, mari pulang nanti tuan khawatir” Ujar Pak Cipto

“Ah ga mungkin dia khawatir, paling-paling seperti biasa nanti dia pulang jam 11 malam ” Balas Arka sambil mengibas-ibas tangan kanannya.

Pak Cipto menghela nafas sejanak tak dapat membantah namun ia tetap kekeh “Ga sopan den bertamu jam segini, sampean bisa kesini besok lagi” Berucap sambil memandang Mandira “Iya kan Bu?”

Mandira mengangguk satu kali lalu menggeleng satu kali juga “Iya Nak Arka besok boleh kesini lagi, tapi gak perlu pulang sekarang juga to Pak” Balas Mandira lalu memandang kearah Arka “Nak Arka boleh kog kalau kepingin menginap, biar Pak Cipto pulang sendiri minta izin ke Ayah Nak Arka.”

“Duh ide bagus itu kalo aku nginap malam ini”

“Ck….Iya kau tidur di sini saja, di sofa ruang tamu ini” sanggah Chandra dengan Ketus.

Arka hanya tertawa terbahak-bahak lalu membalas perkataan Chandra sama ketusnya dan akhirnya adu mulut mereka kembali lagi yang di tengahi oleh Mandira dengan senyuman hangat

“Loh loh loh, den kalau mau nginap ya nginap saja tapi kalau saya yang di suruh izin ke tuan ya ga berani to”

Tak banyak bicara Arka berdiri dan menuju keluar untuk menelfon “Oke bentar aku telfon bang toyib itu dulu”

Tak selang lama, hanya 15 detik waktu yang ia butuh untuk menelfon bang toyib lalu ia masuk kedalam lagi dan memerintah Pak Cipto untuk pulang kerumah mengabari istri Pak Cipto yang bekerja sebagai pembantu di rumah Arka, karena malam ini ia sendiri tak pulang kerumah.

“Tapi den, tuan kan nanti pulang.”

Arka mengeraskan rahangnya sejenak lalu berkata “Sudah lah Pak, Bang Toyib sendiri yang bilang ke aku tadi kalo dia sedang di luar kota dalam seminggu kedepan.”

Tanpa menjawab sedikitpun, Pak Cipto segera berpamitan untuk pulang dan berkata bahwa besok pagi ia akan ke rumah Mandira kembali untuk mengantar tuan mudanya kesekolah.

Mandira mengantar Pak Cipto sampai ke depan teras sedangkan kedua remaja masih di ruang tamu berbincang sedikit lalu di hampiri kembali oleh Mandira.

“Toyib itu ayahmu?”

“Ya….Ia ayah yang buruk”

Chandra diam sejenak seolah berpikir dia dan Arka memiliki kemiripan dan ia mulai bertanya kembali “ Tapi kenapa kamu tak mengabari ibumu juga kalo kamu mau nginap disini atau sudah kamu suruh Bang Toyib atau Pak Cipto itu mengabarinya?”

“Ah…dia sudah pergi” Jawab pendek tak berekspresi dari Arka.

Chandra tersentak oleh jawaban Arka, seakan kecewa telah menanyakannya. Sunyi menerpa kembali di rumah itu sekarang.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!