Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Kecurigaan Kakak Ipar
"Jadi Ogi beneran sudah menikah?" Heru tampak kaget. Hal serupa juga dirasakan oleh Mega.
"Dengan wanita ini?" tanya Mega sambil menunjuk ke arah Arisa.
"Wanita ini kau bilang?" Arisa terperangah.
"Terus kenapa kami nggak di kasih tahu atuh, Eyang? Undangan juga nggak ada?" protes Heru.
Eyang Imas sudah mengangakan mulut untuk menjawab. Namun Arisa lebih dulu angkat suara darinya.
"Ngapain kami ngundang kalian? Bakalan hancurin suasana kalau kalian datang!" timpal Arisa.
Eyang Imas menatap Arisa. Dia tersenyum tipis. Melihat sikap tangguh gadis itu, dirinya merasa semakin menyukai Arisa.
"A-apa?" Mega tercengang.
"Harusnya kalian tahu diri! Mikir dulu kalau mau datang ke sini!" omel Arisa. Dia jadi terbawa suasana.
"Kenapa jadi marah-marah begitu atuh, Neng? Aku ini kakak iparmu loh. Neng Mega juga. Sepantasnya kau bersikap sopan pada kami," ujar Heru berusaha bicara baik-baik.
"Aku nggak akan bicara sopan pada orang yang pernah menyakiti hati suamiku!" balas Arisa.
"Sudah atuh, Neng. Kau sebaiknya masuk ke kamar saja. Biar Eyang saja yang ngurus mereka ya," saran Eyang Imas.
Amarah Arisa seketika mereda. Dia langsung menurut saat disuruh Eyang Imas masuk ke kamar.
"Kalau begitu kami sebaiknya langsung pulang saja, Eyang. Lagian kedatangan kami nggak disambut baik juga," ujar Mega sembari berjalan ke pintu. Namun langkahnya terhenti karena Heru masih diam di tempat sambil menatap ke arah kamar Arisa berada.
"Kang! Ayo kita pulang! Kok malah bengong," tegur Mega kesal.
"Nggak mau nunggu Ogi dulu, Neng? Kayaknya sebentar lagi pulang. Lagian ini kan masih magrib," sahut Heru.
"Akang masih mau tetap di sini walau sudah dicaci maki?" balas Mega. Ia memasang wajah marahnya sambil berkacak pinggang.
"Ya sudah kalau begitu atuh, Neng. Ayo kita pulang!" Heru terpaksa menuruti keinginan sang istri. Dia dan Mega segera beranjak pergi dengan motornya walau keadaan saat itu masih magrib.
Motor melaju menembus hari yang semakin gelap. Di jok belakang, Mega masih tampak cemberut karena kesal. Tidak hanya kesal karena perkataan Arisa, tapi juga karena fakta bahwa Ogi sudah menikah. Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa tak rela. Apalagi setelah menikah dengan Heru beberapa tahun, Mega semakin tak suka dengan kepribadian sebenarnya kakaknya Ogi tersebut. Menurutnya Heru itu lelaki mata keranjang. Tak peduli kalau dia sudah menikah dengan Mega, matanya tetap jelalatan kalau melihat wanita cantik.
"Istrinya Ogi geulis pisan ya, Neng... Wah... Entah gadis mana yang Ogi nikahi itu," celetuk Heru. Sejak melihat Arisa, dia masih terbayang-bayang kecantikan gadis tersebut. Heru yang sejak kecil tinggal di desa, tak pernah menemui gadis secantik itu.
Mega langsung mendelik. Sebuah pukulan keras dia daratkan ke pundak suaminya. "Bisa-bisanya kamu muji wanita lain di depan istrimu sendiri, Kang! Malam ini kau tidur di luar!" geramnya.
"Astaga, Neng... Bukan begitu atuh. Akang hanya heran saja sama wanita itu. Jangan-jangan itu wanita nggak benar, apalagi kan Ogi kayaknya menikah sama dia secara diam-diam. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang mencurigakan," ungkap Heru panjang lebar.
Mega seketika membisu. Memikirkan ucapan suaminya tersebut. Dia merasa Heru ada benarnya. Memang aneh kalau pernikahan yang dilakukan Ogi dilakukan secara diam-diam.
"Mungkinkah wanita itu hamil duluan? Terus Ogi terpaksa menikahinya?" imbuh Mega menduga.
"Hmmm... Kayaknya..."
"Nggak mungkin! Aku tahu Kang Ogi bukan tipe lelaki seperti itu. Bahkan saat kami pacaran dulu dia nggak pernah gandeng tanganku," potong Mega. Membantah dugaannya sendiri.
"Kau sepertinya juga penasaran ya, Neng? Bagaimana kalau kita cari tahu saja? Sekalian kita cari tahu tempat dimana Eyang Imas menyimpan surat tanah," sahut Heru.