Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
...****************...
Sore itu langit ibu kota mulai berubah jingga.
Di sebuah jalan yang cukup sepi, sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari sebuah mansion besar bergaya klasik dengan pagar besi tinggi.
Mansion itu berdiri megah.
Halaman luas, taman rapi, dan air mancur di tengah halaman depan.
Tempat itu terlihat seperti rumah keluarga bangsawan.
Namun bagi Alicia semuanya terlihat sangat traumatis.
tempat itu adalah simbol pengkhianatan.
Di dalam mobil, Alicia Roses duduk diam di kursi kemudi.
Tatapannya lurus ke arah mansion itu.
Tangannya mencengkeram setir mobil begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Ia bergumam pelan.
"Rumahku.., hak ku..."
Matanya menyipit.
"Rumah ayah dan ibuku."
Namun sekarang rumah itu dihuni oleh orang yang membunuh kedua orangtuanya.
Bibi yang seharusnya melindunginya.
Miranda Stone.
Alicia memejamkan mata sebentar.
Kenangan masa kecilnya kembali muncul.
Tertawa bersama ibunya di taman itu.
Berlari kecil di halaman.
Pelukan hangat ayahnya.
Namun semua kenangan itu sekarang terasa seperti milik orang lain.
Alicia membuka matanya kembali.
Tatapannya berubah dingin.
"Tunggu saja penghianat"
"Aku akan mengambil semuanya kembali."
Beberapa menit kemudian.
Gerbang besar mansion mulai terbuka perlahan.
Sebuah mobil sport mewah berwarna putih keluar dari halaman.
Alicia langsung mengenali mobil itu.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Devne Stone."
Putri Miranda.
Sepupu yang bahkan hampir tidak ia ingat wajahnya.
Mobil itu melaju perlahan melewati gerbang.
Di dalamnya terlihat seorang gadis muda dengan rambut panjang pirang, mengenakan kacamata hitam besar.
Devne terlihat sangat percaya diri.
Ia sedang berbicara di telepon sambil tersenyum.
Alicia menatap mobil itu tanpa berkedip.
Ia tahu siapa Devne sekarang.
Calon model yang sedang naik daun.
Putri sosialita.
Kehidupan yang penuh sorotan kamera.
Kehidupan yang seharusnya dimiliki Alicia.
Alicia bersandar di kursinya sambil menatap mobil itu yang semakin menjauh.
Di kepalanya mulai muncul sebuah pikiran gila.
Alicia bergumam pelan.
"Jika sesuatu terjadi pada putrimu,"
"Bagaimana reaksimu, Miranda?"
Ia membayangkan wajah Miranda yang panik, menangis dan putus asa.
Alicia tersenyum tipis, senyuman yang dingin penuh niat misterius.
Ia menyalakan mobilnya perlahan.
Mesin mobil berdengung halus.
Alicia mulai mengikuti mobil Devne dari jarak jauh.
Mobil putih itu melaju menuju pusat kota.
Alicia menjaga jarak dengan sangat hati-hati.
Pengalamannya sebagai hacker membuatnya juga ahli dalam pengawasan.
Beberapa menit kemudian mobil Devne berhenti di lampu merah.
Alicia berhenti beberapa mobil di belakangnya.
Ia memperhatikan Devne lewat kaca spion.
Devne masih berbicara di telepon sambil tertawa kecil.
Seolah dunia ini sempurna untuknya.
Padahal semuanya adalah hasil rampasan.
Alicia menggenggam setir lebih kuat.
...****************...
Senja hampir berubah menjadi malam ketika jalan pegunungan di luar kota mulai sepi.
Mobil sport putih milik Devne Stone melaju cukup cepat di jalan berliku yang mengarah ke area pemotretan pribadi milik sebuah agensi model.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mengikuti dari jarak jauh.
Di dalam mobil itu, Alicia Roses memegang setir dengan erat, tatapannya dingin.
Tidak ada lagi keraguan di wajahnya.
Suara mesin mobil terdengar pelan di dalam kabin.
Alicia berbisik pada dirinya sendiri.
"Belasan tahun, telah berlalu namun semuanya masih terasa sakit."
"Belasan tahun aku hidup tanpa keluarga, dengan identitas palsu dan kehidupan palsu."
Lampu mobil di depan berbelok mengikuti tikungan tajam.
Alicia menekan pedal gas sedikit lebih dalam.
Mobilnya semakin mendekat.
Ia melihat jelas Devne melalui kaca belakang mobil putih itu.
Devne masih terlihat santai.
Seolah dunia ini selalu berpihak padanya.
Alicia menyipitkan mata.
"Miranda.."
"Rasakan sedikit saja rasa sakitku."
Jalan di depan semakin sempit.
Di sisi kanan jalan terdapat jurang dalam yang hanya dibatasi pagar pengaman besi.
Alicia mengingat sesuatu.
Flashback malam kecelakaan orang tuanya.
Lampu mobil yang menyilaukan.
Suara benturan logam.
Mobil yang terbalik di jalan gelap.
Tangannya di setir semakin mengeras.
"Tepat seperti itu"
Mobil Alicia mempercepat.
Sekarang jaraknya hanya beberapa meter dari mobil Devne.
Devne tampaknya mulai sadar ada mobil yang terlalu dekat di belakangnya.
Ia melihat melalui kaca spion.
"Kenapa mobil itu menempel terus?"
Devne sedikit menambah kecepatan.
Namun Alicia justru tersenyum tipis.
"Sudah terlambat."
Alicia menekan pedal gas dalam-dalam.
ROOOOOOOM!
Mobil hitam itu melesat maju.
Devne terkejut melihat mobil di belakangnya tiba-tiba mempercepat.
"Hei..?!"
BRAK!!
Benturan keras terjadi.
Mobil Alicia menabrak bagian belakang mobil Devne.
Mobil putih itu langsung oleng di jalan sempit.
Devne menjerit.
"AAAAAH!!"
Ia mencoba mengendalikan setir.
Namun Alicia kembali menabraknya.
BRAK!!
Benturan kedua lebih keras.
Mobil Devne kehilangan keseimbangan.
Ban depan menghantam pagar pembatas.
KRASSHHH!!
Pagar besi itu hancur.
Mobil putih itu setengah menggantung di tepi jurang.
Devne panik.
Tangannya gemetar di setir.
"To.. tolong...!!!"
Namun sebelum ia sempat keluar.
Alicia keluar dari mobilnya.
Ia berjalan perlahan menuju mobil Devne yang hampir jatuh.
Lampu mobil menerangi wajah Alicia yang dingin.
Devne melihat sosok itu.
Seorang wanita dengan tatapan tajam.
Devne panik.
"Tolong aku!"
"Mobilku.."
Namun Alicia hanya berdiri beberapa langkah dari mobil itu.
Ia menatap Devne tanpa emosi.
Devne semakin panik.
"Siapa kau?!"
Alicia tidak menjawab.
Ia hanya menatap mobil yang menggantung di tepi jurang.
Lalu dengan tenang..
Ia menendang bagian bumper mobil itu.
Dorongan kecil saja sudah cukup.
Mobil itu kehilangan keseimbangan.
Devne menjerit histeris.
"TIDAAAAAK...!!!"
Mobil putih itu jatuh ke dalam jurang.
BRRRRRAAAAKK!!
Suara benturan keras terdengar dari bawah.
Kemudian sunyi.
Hanya suara angin malam yang berhembus di pegunungan.
Alicia berdiri beberapa detik menatap ke bawah jurang.
Wajahnya tetap dingin.
Tanpa ekspresi.
Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah pekerjaan biasa.
Ia berbalik menuju mobilnya.
Masuk ke kursi kemudi.
Menyalakan laptop kecil yang selalu ia bawa.
Beberapa detik kemudian Alicia mulai mengetik sebuah email.
Penerima: Miranda Stone
Isi pesan:
"Aku akan mengambil kembali semua yang menjadi milikku. Alicia Roses."
Alicia menekan tombol SEND.
Pesan itu langsung terkirim.
Ia menutup laptopnya perlahan.
Mobil hitam itu kemudian meninggalkan jalan pegunungan yang gelap.
...****************...