Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Jika Kehilangan Datang Lebih Dulu
Perjalanan ke rumah sakit terasa lebih panjang dari biasanya.
Lampu-lampu jalan berkelebat cepat. Angin malam menampar wajah Alya yang duduk di belakang motor Arka, tangannya mencengkeram jaket pria itu lebih erat dari sebelumnya.
Ia tidak menangis.
Belum.
Tapi napasnya pendek-pendek, seperti setiap detik adalah perlombaan melawan sesuatu yang tak terlihat.
“Lya,” suara Arka terdengar di tengah deru angin, “aku di sini.”
Kalimat sederhana itu menjadi jangkar.
Sesampainya di rumah sakit, aroma antiseptik langsung menyambut. Lampu putih terang terasa menyilaukan. Seorang perawat mengenali Alya dan mengarahkannya ke ruang observasi.
Ibunya terbaring dengan selang oksigen terpasang. Wajahnya pucat, tapi matanya terbuka.
“Ibu…” suara Alya pecah.
Ibunya tersenyum tipis. “Kamu panik ya?”
Alya menggeleng cepat, padahal jelas ia panik.
Dokter menjelaskan bahwa itu hanya sesak sementara karena kelelahan. Kondisinya stabil, tapi harus dirawat semalam untuk observasi.
“Hanya semalam.”
Dua kata itu seperti udara segar.
Alya mengangguk berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Setelah semuanya sedikit lebih tenang, Arka mendekat. Ia tidak banyak bicara. Hanya berdiri cukup dekat, cukup untuk terasa.
“Kamu udah makan?” tanyanya pelan.
Alya menggeleng.
“Tunggu di sini. Aku beli sesuatu.”
“Aku nggak lapar.”
“Kamu tetap harus makan.”
Nada suaranya lembut tapi tegas.
Dan kali ini, Alya tidak membantah.
Malam semakin larut. Ruang rawat menjadi lebih sunyi. Suara monitor berdetak pelan, ritmis.
Alya duduk di kursi samping ranjang ibunya. Arka kembali dengan dua gelas teh hangat dan roti sederhana dari kantin.
Ia menyerahkan satu pada Alya tanpa banyak kata.
Tangan mereka bersentuhan lagi.
Hangat.
Nyata.
Alya akhirnya menunduk, dan air mata yang sejak tadi ditahan jatuh juga.
“Kalau tadi aku nggak angkat teleponnya…” bisiknya.
Arka langsung berlutut di samping kursinya, sejajar dengannya.
“Jangan cari salah di hal yang nggak kamu kontrol.”
“Aku lima tahun jarang pulang, Ka…”
“Alya.” Arka mengangkat wajahnya perlahan, membuatnya menatap langsung. “Kamu pulang sekarang. Kamu ada di sini. Itu yang penting.”
Tangis Alya semakin pelan, bukan karena berhenti, tapi karena mulai reda.
“Aku takut kehilangan Ibu sebelum sempat nebus semua waktu yang hilang,” katanya lirih.
Arka menghela napas, lalu tanpa ragu menarik Alya ke dalam pelukan.
Bukan pelukan romantis seperti di teras rumah kemarin.
Ini pelukan perlindungan.
Pelukan yang menahan dunia agar tidak runtuh.
“Kita nggak tahu berapa lama waktu yang dikasih,” katanya pelan di atas rambut Alya. “Tapi selama masih ada, kita pakai sebaik mungkin.”
Alya memejamkan mata, membiarkan dirinya bersandar penuh.
Tidak kuat sendiri itu bukan berarti lemah.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus kuat sendirian.
Menjelang dini hari, ibunya tertidur lebih nyenyak. Dokter bilang kondisinya stabil.
Alya keluar sebentar ke lorong untuk menghirup udara.
Arka menyusul.
Lorong rumah sakit hampir kosong. Lampu redup. Suara langkah mereka pelan.
“Kamu capek,” kata Arka.
“Kamu juga.”
Arka tersenyum tipis. “Aku nggak keberatan.”
Hening beberapa detik.
Lalu Alya berkata pelan, “Kalau Ibu kenapa-kenapa… aku mungkin harus pindah balik ke sini.”
Arka menatapnya, mencoba menangkap maksud di balik kalimat itu.
“Aku belum tahu pasti,” lanjut Alya. “Kerjaanku di kota besar masih jalan. Tapi aku nggak bisa jauh kalau Ibu butuh aku.”
Arka mengangguk. Tidak terlihat kecewa. Tidak juga terlalu berharap.
“Kamu nggak perlu milih antara keluarga dan aku,” katanya tenang. “Kalau kamu di sini, aku ada. Kalau kamu harus balik, aku juga ada.”
Jawaban itu membuat dada Alya menghangat.
“Kenapa kamu nggak pernah nuntut?” tanyanya.
“Karena cinta itu bukan soal nahan orang biar tetap di samping kita.”
Alya menatapnya lama.
“Terus soal apa?”
Arka mendekat sedikit. Tidak menyentuh, tapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa tipis.
“Soal jadi tempat pulang. Mau sejauh apa pun perginya.”
Kata itu lagi.
Pulang.
Alya tersenyum kecil, matanya masih sembab.
“Kalau suatu hari aku benar-benar pindah ke sini…” ia berhenti sejenak, menelan ragu. “Kamu yakin nggak akan nyesel milih aku lagi?”
Arka tidak menjawab dengan kata.
Ia mengangkat tangan, menyentuh ujung jari Alya dengan lembut, lalu menggenggamnya perlahan.
“Yang aku sesali cuma satu,” katanya pelan.
“Apa?”
“Ngelepas kamu dulu.”
Keheningan mengisi lorong itu.
Bukan keheningan canggung.
Tapi keheningan yang penuh pengakuan.
Alya merasakan sesuatu dalam dirinya bergeser. Bukan lagi rasa takut. Bukan lagi bayangan kegagalan.
Tapi keyakinan kecil.
Mungkin kali ini berbeda.
Mungkin kali ini mereka tidak hanya saling mencintai.
Tapi juga saling memilih.
Alya melangkah lebih dekat.
Tanpa banyak kata, ia menyandarkan dahinya ke dada Arka. Pria itu langsung merengkuhnya dengan hati-hati.
Tidak terburu-buru.
Tidak berlebihan.
Hanya dua orang yang berdiri di tengah ketidakpastian, tapi memilih untuk tetap bersama.
Beberapa menit kemudian, ponsel Arka bergetar.
Ia melihat layar, lalu sedikit mengernyit.
“Ada apa?” tanya Alya.
“Pesan dari klien luar kota. Proyek kemarin… mereka minta aku ke Jakarta minggu depan.”
Jakarta.
Kota tempat Alya bekerja.
Ironis.
Alya menatapnya. “Kamu harus pergi?”
“Kayaknya iya. Penting.”
Hening sebentar.
Lalu Arka menambahkan pelan, “Tapi mungkin ini bukan kebetulan.”
“Kenapa?”
“Kalau aku ke sana… mungkin aku nggak cuma urus kerjaan.”
Tatapan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti jurang.
Tapi seperti jalan yang perlahan terbuka.
Namun di balik harapan itu, satu pertanyaan masih menggantung—
Jika nanti Arka datang ke kota tempat Alya membangun hidup barunya,
Akankah ia benar-benar siap menggabungkan dua dunia yang selama ini terpisah?
Atau justru jarak dan ambisi akan kembali menguji mereka—
Dengan cara yang lebih kejam dari lima tahun lalu?
ahh pria solo itu lagii🤣🤣