NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 kabut darah di lembah merah dan panji yang lapar

Angin pegunungan yang biasanya membawa aroma pinus segar kini tercemar. Bau amis logam berkarat dan daging hangus terbawa hingga ke celah-celah batu tempat dua sosok berjubah hitam berdiri mengamati dunia di bawah mereka.

Xing Shenyuan dan Lin Xiaoyue telah meninggalkan Puncak Pedang Patah tiga hari yang lalu. Mereka tidak terbang melintasi langit seperti dewa, melainkan berjalan kaki menuruni lereng curam, menyusup melalui jalur-jalur tikus yang hanya diketahui oleh pemburu tua dan binatang buas.

Di bawah mereka, terbentang Lembah Merah.

Dulunya, lembah ini dinamai demikian karena hamparan bunga poppy liar yang mekar setiap musim semi. Namun hari ini, nama itu memiliki makna yang jauh lebih harfiah. Sungai kecil yang membelah lembah itu kini berwarna merah pekat. Asap hitam membumbung tinggi dari desa-desa kecil yang terbakar di kejauhan.

"Ini... neraka," bisik Xiaoyue. Matanya yang jernih memantulkan nyala api dari desa yang terbakar. Tangannya mencengkeram busur kayunya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Guru, apakah ini yang dinamakan 'perebutan kekuasaan'? Mereka membakar rakyat mereka sendiri hanya untuk sebidang tanah?"

Shenyuan berdiri diam. Tudung jubahnya menutupi sebagian besar wajahnya, hanya memperlihatkan dagunya yang tegas. Di punggungnya, terikat sebuah benda panjang yang dibungkus kain goni kasar—Panji Sepuluh Ribu Jiwa. Benda itu bergetar pelan, seolah bisa mencium aroma kematian yang melimpah di bawah sana.

"Rakyat hanyalah rumput bagi para gajah yang bertarung, Xiaoyue," suara Shenyuan terdengar dingin, tanpa emosi yang berlebihan. "Pangeran Pertama menguasai dataran tinggi di utara lembah. Pangeran Ketiga bertahan di hutan selatan. Lembah ini adalah leher botol yang harus dikuasai jika salah satu ingin mengirim logistik."

Shenyuan menunjuk ke arah formasi pasukan yang bergerak seperti semut di dasar lembah.

"Lihat bendera itu. Emas dengan matahari terbit—pasukan elit Macan Emas milik Pangeran Pertama. Dan di sana, bendera biru yang compang-camping—pasukan bayaran dan milisi yang dikumpulkan Pangeran Ketiga. Perbedaan kualitasnya sangat mencolok."

Login: Medan Perang Pembantaian

Shenyuan melangkah maju, kakinya mendarat di atas sebuah batu nisan tua di pinggir tebing. Tempat ini adalah bekas medan perang kuno, dan energi kebencian di sini sudah terakumulasi selama berabad-abad, kini diperparah oleh pertempuran baru.

> [Sistem Login Harian Makam Bintang]

> [Lokasi: Lembah Merah (Zona Konflik Aktif)]

> [Status: Siap untuk Check-in.]

> [Kondisi Khusus: Energi Kematian melimpah. Bonus Login +50%.]

>

"Login," perintah Shenyuan dalam hati.

> [Ding! Check-in berhasil!]

> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Pil Regenerasi Darah Iblis" (x3) dan "Teknik Langkah Hantu: Seribu Bayangan".]

> [Deskripsi Item:]

> * Pil Regenerasi Darah Iblis: Memulihkan luka fisik parah dalam hitungan detik dengan membakar sedikit vitalitas pengguna. Efek samping: Rasa sakit yang luar biasa saat penyembuhan.

> * Langkah Hantu: Teknik gerakan tingkat tinggi. Memungkinkan pengguna menciptakan ilusi optik saat bergerak dengan kecepatan tinggi, membingungkan persepsi musuh.

>

Shenyuan tersenyum tipis. "Langkah Hantu... sangat cocok untuk situasi kacau seperti ini."

Ia menoleh pada Xiaoyue. "Xiaoyue, pelajaran hari ini bukan tentang meditasi atau menahan napas. Pelajaran hari ini adalah tentang Memanen."

"Memanen?"

"Energi di medan perang ini sia-sia jika hanya menguap ke langit. Panji di punggungku lapar. Dan kau... kau perlu melihat warna darah musuhmu dari jarak dekat agar jiwamu tidak goyah saat menghadapi pembunuh sungguhan nanti."

Terjun ke Dalam Kekacauan

Di dasar lembah, pertempuran sedang mencapai puncaknya. Pasukan Macan Emas yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Fang—seorang kultivator Inti Emas Tahap Awal—sedang membantai barisan pertahanan Pangeran Ketiga.

"Jangan beri ampun! Pangeran Jian memerintahkan agar tidak ada tawanan hari ini! Kepala setiap pemberontak berharga sepuluh keping emas!" teriak Jenderal Fang sambil mengayunkan pedang besarnya, membelah dua seorang prajurit milisi yang mencoba lari.

Darah muncrat membasahi zirah emasnya. Pasukan Pangeran Ketiga, yang sebagian besar hanya kultivator tingkat rendah (Fondasi Awal) atau manusia biasa, mulai pecah barisannya. Ketakutan menyebar seperti wabah.

Tiba-tiba, suhu di lembah itu turun drastis.

Kabut hitam tebal mulai bergulung turun dari tebing utara, bergerak melawan arah angin. Kabut itu tidak alami. Ia bergerak seperti air bah, menelan cahaya matahari dan meredam suara teriakan.

"Kabut apa ini? Penyihir musuh?" teriak seorang kapten pasukan Macan Emas.

Dari dalam kabut, terdengar suara gemerincing rantai yang berat. Kring... Kring...

Jenderal Fang menyipitkan mata, mencoba menembus kegelapan dengan indra spiritualnya. Namun, yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang dingin.

"Siapa di sana?! Tunjukkan dirimu!"

Dua sosok muncul dari balik kabut. Yang satu tinggi menjulang dengan jubah hitam yang berkibar, yang satu lagi kecil namun memegang busur yang menyala biru terang.

Shenyuan berhenti sepuluh meter di depan barisan depan pasukan Macan Emas. Ia melepaskan ikatan kain goni di punggungnya.

Benda itu jatuh ke tanah dengan bunyi dengung yang berat. Sebuah tongkat tulang putih dengan kain hitam robek yang berkibar-kibar meski tidak ada angin.

Panji Sepuluh Ribu Jiwa.

"Kalian terlalu berisik," ucap Shenyuan pelan. Suaranya tidak keras, namun berkat manipulasi Qi, setiap prajurit di lembah itu mendengarnya tepat di telinga mereka. "Kalian mengganggu tidur para leluhur di tanah ini."

"Siapa kau? Jangan bicara omong kosong!" Jenderal Fang meraung, mencoba menutupi ketakutannya. "Serang dia! Panah!"

Ratusan anak panah meluncur ke arah Shenyuan.

Shenyuan tidak bergerak. Ia hanya menyentuh panji itu.

"Bangkitlah, Tie Zha."

WOOOOOSH!

Asap hijau meledak dari panji. Ratusan anak panah itu berhenti di udara, tertahan oleh dinding energi hijau, lalu membusuk menjadi debu kayu dalam sekejap.

Dari dalam asap, sesosok raksasa zirah hantu muncul. Tie Zha, mantan jenderal legendaris yang kini menjadi roh penjaga panji, meraung. Raungannya bukan suara fisik, melainkan gelombang kejut mental.

GRAAAARRHHH!

Ratusan kuda perang pasukan Macan Emas seketika berbusa mulutnya dan jatuh mati karena jantung mereka pecah akibat ketakutan. Para prajurit manusia jatuh berlutut, memegangi kepala mereka yang terasa ingin meledak.

"Itu... itu Hantu!" teriak seseorang.

Shenyuan mengangkat tangannya. "Panji ini butuh makan. Jenderal Fang, karena kau yang paling berisik, kau yang akan menjadi hidangan pembuka."

Tarian Kematian: Langkah Hantu dan Panah Biru

Jenderal Fang, menyadari bahwa ia berhadapan dengan monster, segera membakar esensi darahnya untuk melarikan diri. Ia melompat mundur, mencoba terbang dengan pedangnya.

"Kau pikir kau bisa lari?"

Shenyuan mengaktifkan Langkah Hantu. Tubuhnya bergetar dan pecah menjadi sepuluh bayangan. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di udara, tepat di belakang Jenderal Fang.

Jenderal Fang berbalik, matanya terbelalak. "Tunggu! Aku adalah bawahan Pangeran Perta—"

Tangan Shenyuan, yang diselimuti cahaya ungu gelap Tangan Penghancur Bintang, mencengkeram kepala Jenderal Fang.

"Pangeranmu tidak ada di sini."

Krak.

Tanpa drama berlebih, Shenyuan meremukkan helm dan tengkorak jenderal itu. Tubuh tanpa nyawa itu jatuh ke tanah. Namun, sebelum menyentuh tanah, roh Jenderal Fang—sebuah bola cahaya putih kecil—mencoba kabur.

Panji di bawah sana bereaksi. Mulut tengkorak pada kain panji itu terbuka lebar, menghisap roh Jenderal Fang seperti penyedot debu.

"Makanan... Ahli Inti Emas..." suara Tie Zha terdengar puas dari dalam panji.

Sementara itu, di darat, kekacauan total terjadi. Pasukan Macan Emas kehilangan pemimpin mereka.

"Xiaoyue, sekarang giliranmu," perintah Shenyuan dari udara. "Jangan biarkan para perwira menengah itu lolos. Mereka akan melapor kembali dan membawa masalah."

Xiaoyue menarik napas dalam-dalam. Ia melihat lima kapten musuh yang mencoba melarikan diri ke arah hutan. Rasa mual melihat darah masih ada, namun ia ingat kata-kata gurunya: Ragu-ragu di medan perang adalah bunuh diri.

Ia menarik tali busurnya. Tiga anak panah terpasang sekaligus. Api biru menyelimuti ujung panah, mendesis saat membakar oksigen di sekitarnya.

"Teknik Panah Feniks: Hujan Biru!"

Siuuu! Siuuu! Siuuu!

Panah-panah itu melesat, bukan lurus, melainkan melengkung mencari targetnya. Panah itu menembus zirah baja para kapten seolah menembus kertas. Api biru tidak membakar kulit mereka menjadi gosong, melainkan membekukan darah dan membakar organ dalam secara bersamaan.

Lima kapten jatuh, tubuh mereka membiru kaku.

"Bagus," puji Shenyuan yang mendarat kembali di samping panji.

Pesta Pora Sang Panji

Pasukan Pangeran Ketiga yang tadinya terdesak kini bengong melihat pemandangan itu. Mereka melihat musuh mereka yang perkasa dihancurkan oleh dua orang asing dalam hitungan menit.

Komandan pasukan Pangeran Ketiga, seorang pria tua dengan satu mata bernama Han, memberanikan diri mendekat. Ia gemetar, tidak yakin apakah orang berjubah hitam ini kawan atau lawan yang lebih mengerikan.

"Tuan... Pendekar..." Han tergagap, berlutut dengan satu kaki. "Terima kasih atas bantuan Anda. Bolehkah kami tahu nama penyelamat kami?"

Shenyuan tidak menoleh. Ia sedang sibuk mengendalikan Panji Sepuluh Ribu Jiwa yang kini melayang liar, menyedot sisa-sisa jiwa dari ribuan mayat yang berserakan di lembah. Asap hitam dan hijau berputar seperti tornado kecil, masuk ke dalam kain panji.

Warna kain panji yang tadinya kusam kini mulai berubah menjadi hitam mengkilat. Aura Tie Zha di dalamnya semakin padat.

[Sistem: Panji Sepuluh Ribu Jiwa telah menyerap 1.200 Jiwa Tingkat Fana dan 1 Jiwa Inti Emas.]

[Status Perbaikan: 15%.]

[Bonus: Energi Kematian +600 Unit.]

Shenyuan menyentuh panji itu, memaksanya berhenti makan. Tie Zha meraung protes, tapi segera diam saat Shenyuan menyalurkan sedikit Qi ungunya.

Shenyuan berbalik menatap Komandan Han. Tatapan matanya yang dingin di balik tudung membuat Han merasa seperti ditelanjangi jiwanya.

"Aku bukan penyelamatmu," ucap Shenyuan datar. "Kalian hanya beruntung berada di sisi yang tidak aku targetkan hari ini."

Shenyuan melemparkan sebuah lencana giok hitam ke kaki Han. Lencana itu tidak memiliki nama, hanya ukiran sebuah Lentera.

"Bawa pesan ini ke Pangeranmu, Xing Feng. Katakan padanya: 'Hutang nyawa di Lembah Merah telah lunas. Namun, jika dia ingin memenangkan perang ini, dia harus berhenti bermain sebagai korban dan mulai bermain sebagai raja.'"

Han mengambil lencana itu dengan tangan gemetar. "Hutang... lunas? Siapa Tuan sebenarnya?"

"Seseorang yang mengawasi dari kegelapan," jawab Shenyuan.

Tanpa peringatan, Shenyuan menghentakkan kakinya. Debu beterbangan. Saat debu itu hilang, Shenyuan dan Xiaoyue telah lenyap, hanya menyisakan jejak kaki yang terbakar di tanah.

Rehat di Gua Tersembunyi

Malam harinya, Shenyuan dan Xiaoyue beristirahat di sebuah gua kecil di tebing yang menghadap lembah.

Xiaoyue duduk memeluk lututnya di depan api unggun. Wajahnya pucat. Ini adalah pertama kalinya ia membunuh manusia secara langsung, bukan monster atau binatang buas.

Shenyuan duduk di seberangnya, sedang membersihkan Panji Sepuluh Ribu Jiwa dengan kain sutra. Ia tidak menegur Xiaoyue, membiarkan gadis itu memproses perasaannya.

"Apakah mereka punya keluarga, Guru?" tanya Xiaoyue tiba-tiba.

"Semua orang punya keluarga, Xiaoyue," jawab Shenyuan tenang. "Lima kapten yang kau bunuh... mereka mungkin punya anak yang menunggu di rumah. Tapi ingat ini: jika kau tidak membunuh mereka, mereka akan membunuh orang-orang di desa belakang sana. Mereka akan membunuhmu. Di dunia kultivasi, kebaikan tanpa kekuatan adalah kejahatan terbesar."

Xiaoyue menatap api. "Aku mengerti. Tapi rasanya... dingin."

"Rasa dingin itu bagus. Itu artinya kau masih manusia," Shenyuan melemparkan sebotol air padanya. "Minumlah. Besok kita bergerak lagi. Panji ini masih lapar, dan Jenderal Fang hanyalah permulaan."

Tiba-tiba, Cermin Pemantau Dunia di saku Shenyuan bergetar. Sebuah bayangan samar muncul di permukaannya. Wajah Su Yan terlihat cemas.

"Tuan," suara Su Yan terdengar lirih.

"Lapor," perintah Shenyuan.

"Ibu Kota sedang gempar. Berita tentang pembantaian di Lembah Merah oleh 'Pasukan Hantu' sudah sampai ke telinga Kaisar. Tapi yang lebih penting... Pangeran Pertama, Xing Jian, menuduh bahwa ini adalah ulah kultivator iblis yang disewa oleh Pangeran Ketiga. Dia menggunakan alasan ini untuk memanggil bantuan dari Sekte Pedang Langit."

Mata Shenyuan menyipit. "Sekte Pedang Langit? Lu Chen yang aku lempar dari gunung itu pasti sudah mengadu."

"Benar, Tuan. Mereka mengirim tiga Tetua tingkat Jiwa Baru Lahir. Mereka sedang menuju ke lokasi Tuan sekarang. Mereka membawa artefak pelacak jiwa."

Xiaoyue tersentak. "Tiga ahli Jiwa Baru Lahir? Guru, kita harus lari!"

Shenyuan justru tersenyum. Senyum yang membuat gua itu terasa lebih dingin daripada badai salju di luar.

"Lari? Tidak, Xiaoyue. Justru ini yang aku tunggu."

Shenyuan menatap Panji Sepuluh Ribu Jiwa yang bersandar di dinding gua. Kain hitamnya berkibar pelan seolah merespons.

"Tie Zha baru saja mendapatkan tubuh fisik sementaranya di dalam panji, tapi dia masih lemah. Tiga jiwa dari Tetua Sekte Pedang Langit... itu adalah pupuk terbaik untuk menyempurnakan panji ini."

"Su Yan," ucap Shenyuan ke cermin. "Tetaplah di bayangan. Biarkan mereka datang. Dan kirimkan koordinat pergerakan mereka. Aku akan menyiapkan 'sambutaan' yang pantas untuk tamu-tamu terhormat itu."

"Baik, Tuan. Hati-hati." Bayangan di cermin memudar.

Shenyuan berdiri, memadamkan api unggun dengan satu jentikan jari. Kegelapan total menyelimuti gua.

"Tidur, Xiaoyue. Simpan tenagamu. Besok, kita tidak akan berburu kelinci lagi. Kita akan berburu serigala."

Interlude: Pertemuan Para Tetua

Di langit malam, seratus mil dari posisi Shenyuan, sebuah perahu terbang raksasa meluncur membelah awan. Bendera Sekte Pedang Langit berkibar gagah.

Tiga orang tua duduk di geladak, minum teh di bawah sinar bulan. Mereka adalah Tetua Ketiga, Keempat, dan Kelima dari sekte tersebut.

"Lu Chen bilang anak itu memiliki teknik gravitasi yang aneh," ucap Tetua Kelima, seorang pria gemuk dengan wajah merah. "Menurutmu, warisan apa yang dia dapatkan?"

"Mungkin warisan iblis kuno," sahut Tetua Ketiga, matanya tajam seperti elang. "Tapi tidak masalah. Di hadapan Formasi Pedang Tiga Elemen kita, bahkan ahli Jiwa Baru Lahir Tahap Akhir harus mundur. Kita akan menangkapnya, mencabut jiwanya, dan mengambil semua rahasianya untuk sekte."

Mereka tertawa, penuh percaya diri. Mereka tidak tahu bahwa di kejauhan, di dalam sebuah gua gelap, sepasang mata ungu sedang menatap ke arah mereka melalui kegelapan malam, menunggu dengan sabar seperti laba-laba di tengah jaringnya.

* Kultivasi: Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir.

* Kondisi Panji: Level 2 (15% Menuju Level 3). Roh Penjaga: Tie Zha (Bangkit).

* Misi Baru: Habisi Tim Pengejar Sekte Pedang Langit.

* Reputasi: "Hantu Lembah Merah" (Mulai menyebar).

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!