Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Pepaya dan Es Teh
Aku datang lagi ke rumah Bu Santi bareng Rara siang itu, masih pakai seragam pramuka setengah rapi. Keringat belum kering, bau matahari masih nempel di baju. Sejujurnya aku pengin langsung pulang. Kepalaku sudah penuh sejak pagi. Tapi Rara bilang, “Sebentar aja, Nay. Nggak lama.”
Aku ikut. Seperti biasa. Bu Santi nyambut kami di teras. Senyumnya ramah, tapi matanya kelihatan capek. Mungkin karena sering ngurus banyak anak tanpa pernah benar-benar istirahat. “Masuk, masuk,” katanya.
Kami duduk di ruang tamu. Kursi kayu panjang, meja kecil di tengah. Kipas angin muter pelan, bunyinya lebih kencang dari anginnya. Bu Santi ke dapur, lalu balik bawa piring berisi pepaya potong dan dua gelas es teh. “Dimakan dulu,” katanya.
Aku bilang terima kasih, Rara juga. Kami mulai makan. Pepayanya manis, tapi entah kenapa rasanya biasa aja di mulutku. Es tehnya dingin, tapi nggak nyegerin. Awalnya obrolan ringan. Bu Santi nanya persiapan diklat. Rara jawab dengan lancar, runtut. Aku sesekali nambahin kalau ditanya. Semua kelihatan normal. Terlalu normal, malah.
“Naya yang pegang teknis ya?” tanya Bu Santi.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Rara bagian koordinasi?”
“Iya,” Rara nyaut cepat.
Bu Santi mengangguk-angguk. “Bagus. Kalian berdua ini pasangan yang pas. Saling melengkapi.”
Aku senyum. Rara juga. Tapi senyumku tipis. Aku nggak tahu kenapa kalimat itu bikin dadaku agak sesak. Bukan karena salah, tapi karena ada sesuatu yang nggak seimbang, dan aku belum bisa nunjuk dengan jelas di mana.
Kami lanjut makan. Sunyi sebentar. Cuma ada suara sendok nyentuh piring.
“Naya,” kata Bu Santi tiba-tiba, “kamu jangan sungkan ngomong kalau capek.”
Aku kaget sedikit. “Nggak apa-apa, Bu.”
“Sering anak kayak kamu yang paling capek tapi paling jarang ngomel.”
Aku ketawa kecil. Refleks. “Saya biasa aja, Bu.”
Rara nengok ke aku. Tatapannya sekilas, lalu balik lagi ke Bu Santi. “Kalau Naya capek, bilang aja,” kata Rara. Nadanya ringan. Terlalu ringan. Aku cuma angguk.
Bu Santi masuk ke pembahasan teknis lagi. Tentang konsumsi, tentang izin orang tua, tentang transport. Rara nyatet di HP. Aku nyimak sambil mikir ulang jadwal di kepalaku. Semua sudah kuatur. Tapi mendengar lagi dari orang lain bikin rasanya kayak dicek satu-satu, dan itu melelahkan.
“Untuk konsumsi, kamu yang urus ya, Naya?” tanya Bu Santi.
“Iya, Bu. Sudah ada list-nya.”
“Pastikan jumlahnya pas. Jangan kurang.”
“Iya.”
Rara nyeletuk, “Kemarin kita sempat bahas, tapi nanti aku cek lagi, Bu.” Aku diam. Padahal yang ngerjain list itu aku. Yang ngitung jumlah itu aku. Tapi aku nggak bilang apa-apa. Aku sudah terlalu sering ada di posisi ini. Kalau aku koreksi, kesannya ribet. Kalau aku diam, dianggap setuju.
Pepaya di piringku habis. Es tehku tinggal setengah. Waktu jalan pelan. Obrolan terus lanjut, tapi rasanya makin kosong. Setelah hampir satu jam, Bu Santi pamit ke dapur lagi. Tinggal aku dan Rara di ruang tamu. Sunyi. Kipas masih muter.
Rara mainin sedotan es tehnya. Aku lihat ke luar jendela. Gang masih sepi.
“Nay,” Rara manggil.
“Iya?”
“Kamu kenapa dari tadi diem?” Aku mikir sebentar. “Nggak kenapa-kenapa.”
“Capek?”
“Biasa.” Rara menghela napas. “Kamu tuh kalau ada apa-apa bilang.” Aku pengin jawab: aku capek tapi juga bingung, dan aku nggak yakin kamu mau denger versi aku. Tapi yang keluar cuma, “Iya.”
Rara kelihatan mau bilang sesuatu, tapi urung. Dia berdiri, bilang mau ke toilet. Aku tinggal sendiri sebentar. Duduk. Ngelamun. Aku ngerasa aneh. Sejak kapan duduk bareng Rara jadi bikin canggung? Padahal dulu kami bisa duduk berjam-jam tanpa ngerasa berat. Sekarang, satu jam aja rasanya panjang. Bu Santi balik. Rara juga. Kami pamit pulang. Di luar, matahari masih terik. Di jalan, kami jalan berdampingan. Langkah kami nggak sinkron. Aku pengin cepat sampai rumah. Rara kelihatan santai. “Tadi Bu Santi banyak nitip ya,” kata Rara.
“Iya.”
“Nanti kamu kirim list ke aku ya.”
Aku berhenti sebentar. “List yang mana?”
“Yang konsumsi.”
“Itu sudah aku kirim kemarin.”
“Oh.” Rara ngerut. “Oke, nanti aku cek lagi.”
Nada “cek lagi” itu bikin aku pengin bilang sesuatu. Tapi aku tahan. Aku capek jelasin. Kami lanjut jalan. Sampai pertigaan, kami pisah arah. “Besok jangan lupa rapat jam empat,” kata Rara.
“Iya.” Aku belok, jalan ke rumah. Begitu sampai kamar, aku duduk di kasur tanpa ganti baju. Badanku capek, tapi pikiranku lebih capek. Aku ngulang-ngulang kejadian tadi. Kalimat-kalimat kecil. Tatapan. Nada suara. Nggak ada yang salah besar. Nggak ada konflik jelas. Tapi ada rasa nggak enak yang pelan-pelan numpuk. Kayak kerikil kecil di sepatu. Nggak bikin jatuh, tapi bikin langkah nggak nyaman.
Aku ambil HP, buka chat. Pesan dari Rara ada. “Nay, list konsumsi yang kemarin kamu simpan di mana?” Aku jawab singkat. “Di folder drive. Link sama kayak kemarin.”
“Oke.” Selesai. Sesingkat itu. Aku taruh HP. Rebahan. Nutup mata. Tapi kepalaku nggak ikut istirahat. Aku ngerasa ada jarak yang mulai kebentuk, pelan-pelan. Bukan karena satu kejadian besar, tapi karena banyak hal kecil yang dibiarkan lewat.
Aku nggak tahu ini bakal ke mana. Yang aku tahu, hari ini aku capek. Dan rasa capek itu bukan cuma soal fisik. Pepaya dan es teh siang tadi manis. Tapi yang tersisa di mulutku sekarang cuma rasa hambar.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭