Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Menara Gading
Citadel, menara yang selama ribuan eon melayang di atas segalanya sebagai simbol keteraturan, kini tampak seperti raksasa yang sedang sekarat. Setelah Naya memasukkan "Variabel Kemanusiaan" ke dalam inti sistem, struktur geometri Citadel mulai melengkung dan hancur. Bongkahan-bongkahan kristal data raksasa jatuh dari langit Zona Luar, menghantam tanah dengan ledakan suara yang mirip dengan kaca pecah di dalam ruang hampa.
"Semuanya berakhir," gumam Darma, menatap langit yang kini dipenuhi oleh pusaran awan yang berwarna perak dan emas. "Tapi jika Citadel itu jatuh ke Bumi, ledakan energinya akan menghapus realitas kita juga!"
Kala berdiri, memapah Arumi. Ia merasakan energi di tubuhnya kini tidak lagi panas membara, melainkan hangat dan stabil. "Vera, berapa lama waktu yang kita punya sebelum menara itu menghantam tanah?"
Proyeksi Vera muncul di udara, namun kali ini ia mengenakan seragam militer kuno—manifestasi dari keberanian terakhirnya. "Satu menit, Kala. Dan bukan hanya itu. Para Pemulih yang tersisa telah kehilangan pikiran mereka. Tanpa Sang Arsitek, mereka menjadi glitch yang haus darah. Mereka akan mencoba menghancurkan apa saja sebelum mereka lenyap."
Benar saja, dari balik kepulan debu reruntuhan, ribuan Pemulih muncul. Namun, mereka tidak lagi rapi. Tubuh perak mereka cair, wajah mereka berlubang, dan mereka mengeluarkan suara pekikan statis yang menyakitkan telinga. Mereka menyerbu ke arah kamp pemberontak seperti air bah.
"Tahan garis depan!" teriak Darma kepada pasukannya. "Lindungi sang Kunci dan sang Pencipta!"
Kala menatap Arumi dan Naya. Ia tahu, ia tidak bisa membiarkan Darma dan orang-orang ini bertarung sendirian. Tapi ia juga tahu, kunci untuk menghentikan kiamat ini ada di puncak Citadel yang sedang jatuh itu.
"Arumi, jaga Naya," bisik Kala. "Aku harus naik ke sana."
"Kala, jangan! Itu bunuh diri!" Arumi mencengkeram jaket Kala yang sudah robek. "Menara itu sedang hancur!"
Kala memegang pipi Arumi, menatap matanya dalam-dalam. "Selama sepuluh tahun aku lari dari waktu. Sekarang, aku harus menjemputnya. Jika aku tidak mengunci inti Citadel itu, dunia ini tidak akan memiliki hari esok. Aku janji, aku akan kembali sebelum detik terakhir."
Naya menggenggam tangan Kala. Anak itu tidak menangis. Ia menyerahkan sebuah jam saku kecil yang tadi ia perbaiki. "Ayah, bawa ini. Ini bukan jam saku biasa. Ini adalah detak jantungku. Selama jam ini berdetak, Ayah akan selalu punya jalan pulang."
Kala mengambil jam itu, mencium kening putrinya, lalu melesat.
Ia tidak berlari; ia melompat melewati dimensi. Setiap langkah Kala meninggalkan jejak cahaya yang membeku di udara, menjadi tangga menuju langit. Ia melewati barisan Pemulih yang hanya bisa melongo saat Kala melintasi mereka secepat kilat.
Kala mendarat di teras Citadel yang miring. Di sana, gravitasi bekerja secara gila. Air mengalir ke atas, dan suara-suara dari masa lalu terdengar seperti teriakan di dalam badai.
Ia berlari menuju Ruang Jantung. Di tengah ruangan itu, terdapat sebuah bola energi raksasa yang merupakan "Mesin Penggerak Semesta". Bola itu kini berwarna hitam pekat, berdenyut liar karena kehilangan kendali.
"Kala Danuarta..." sebuah suara parau terdengar.
Kurator Utama ada di sana, terduduk di sudut ruangan. Tubuh peraknya sudah separuh hilang, menampakkan sirkuit dan kabel yang berasap. "Kamu menang... tapi lihatlah... tidak akan ada pemenang di dalam kehampaan ini."
"Kamu salah, Kurator," Kala mendekati bola energi itu. "Kemenangan kami bukan tentang mengalahkanmu, tapi tentang membiarkan hidup berjalan apa adanya."
Kala mengeluarkan jam saku pemberian Naya. Ia menyadari bahwa jantung Citadel ini membutuhkan sebuah "Jangkar" agar tidak meledak. Jangkar itu haruslah sesuatu yang memiliki ritme kehidupan murni, bukan hitungan mesin.
Kala menempelkan jam saku Naya ke pusat bola energi.
Seketika, denyut liar bola itu melambat. Warna hitamnya mulai luntur, digantikan oleh warna emas yang hangat—warna yang sama dengan mata Naya. Jam saku itu mulai berdetak di dalam inti mesin. Tik. Tok. Tik. Tok.
"Vera! Lakukan sinkronisasi sekarang!" teriak Kala.
"Menerima sinyal! Kala, ini akan memakan seluruh sisa energiku untuk menstabilkan jatuhnya menara ini! Aku harus menjadi sistem baru untuk menggantikan Sang Arsitek!" suara Vera terdengar tenang, namun penuh pengorbanan.
"Vera, jangan katakan kamu akan..."
"Ini adalah tujuanku diciptakan, Kala," Vera tersenyum di dalam layar monitor yang mengelilingi ruangan. "Terima kasih sudah memberiku nama. Terima kasih sudah menganggapku teman."
Cahaya biru Vera menyatu dengan bola energi emas. Sebuah ledakan cahaya yang sangat lembut menyapu seluruh Citadel.
Keajaiban terjadi. Citadel yang tadinya jatuh seperti meteor, kini melambat. Menara raksasa itu mulai menguap menjadi jutaan partikel cahaya, jatuh ke bumi bukan sebagai kehancuran, melainkan sebagai Hujan Memori.
Di bawah, Arumi dan ribuan pemberontak menengadah ke langit. Cahaya yang jatuh ke kulit mereka memberikan rasa hangat dan ketenangan. Ingatan-ingatan indah yang dulu dicuri oleh Dewan kini kembali ke pemiliknya masing-masing.
Kala berdiri di tengah reruntuhan yang mulai menghilang. Ia merasa tubuhnya menjadi sangat ringan. Ia melihat Vera menghilang ke dalam sistem, menjadi "Ibu Alam" yang baru, penjaga waktu yang tidak terlihat namun adil.
"Vera... selamat tinggal," bisik Kala.
Namun, menara itu kini hampir habis menguap. Kala berada ribuan meter di atas tanah tanpa pegangan. Ia mulai terjatuh.
"Ayah!" suara Naya bergema di dalam kepalanya.
Kala tersenyum. Ia tidak takut jatuh. Karena ia tahu, di dunia baru ini, jatuh hanyalah awal dari sebuah pelarian menuju pelukan yang nyata.