Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Fitnah kejam
Davin duduk termangu di depan tenda, ditemani cahaya rembulan yang malam itu bersinar terang. Pikirannya melayang pada kejadian sore tadi di puskesmas.
"Kasihan Alvian hanya bisa duduk dan berbaring di atas tempat tidur. Nggak ada mainan, anak itu pasti bosan," pikirnya.
"Kira-kira bekerja seharian sebagai buruh nyuci gosok berapa upahnya?"
Davin meraup mukanya, lantas menyangga wajahnya menggunakan tangannya yang tertumpu pada paha kanannya. Pemuda tampan itu menarik napasnya kasar.
Seorang rekan yang sejak tadi memperhatikan Davin, datang menghampiri. Pria itu meletakkan kursi plastik di samping Davin.
"Kenalkan saya, Leo dari Tangerang." Pria itu mengulurkan tangannya, sambil tersenyum.
Davin menoleh, menyambut uluran tangan pria itu dan mereka berjabatan tangan. "Saya Davin, dari Jakarta," ucap Davin, bibirnya menyunggingkan senyuman manis.
Keduanya pun kemudian terlibat obrolan seru dari profesi masing-masing, hingga bahasan mereka tentang bencana yang menimpa desa itu. Dari yang tadinya cuma dua orang sampai akhirnya yang lain ikut nimbrung.
.
Seperti biasa, yang merupakan rutinitasnya sehari-hari, pagi itu Melodi mengayuh sepedanya menuju rumah Pak Lurah. Di tengah jalan ia bertemu Davin yang tengah jogging. Melodi menghentikan sepedanya dan menyapa Davin.
"Selamat pagi, Pak Dokter." Ia mengangguk sopan sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Mbak Mel," sahut Davin. Dia menghentikan langkahnya. "Mau berangkat bekerja?"
"Iya, Pak Dokter. Seperti biasa, nguli," jawab Melodi tanpa rasa malu. Lagian kenapa harus malu, toh pekerjaannya halal.
"Oh, iya. Maaf, saya lupa. Terima kasih sudah dibantu memperbaiki sepeda saya." Sesaat kemudian ia merogoh saku celananya, mengeluarkan satu lembar uang berwarna hijau.
"Ini saya ganti ongkosnya." Melodi menyodorkan uang itu pada Davin, tetapi pemuda itu malah bengong seraya menatap Melodi dengan takjub.
Melodi meraih tangan Davin, lalu dengan cepat menyelipkan uang itu dalam genggaman tangan pemuda itu.
"Sekali lagi terima kasih, Pak Dokter. Mari..." Melodi kembali ke sepedanya, dan segera mengayuhnya meninggalkan Davin yang masih terbengong di tempatnya berdiri.
Namun, belum jauh ia kembali berhenti dan menoleh. "Pak Dokter, hati-hati! Jangan sampai dihampiri Mbak Kun, ya. Biasanya dia suka bergelantungan di dahan pohon itu," serunya sambil menunjuk pohon trembesi di belakang Davin.
Selesai berkata, Melodi bergegas mengayuh sepedanya kembali sambil tersenyum geli.
Sementara Davin, langsung menoleh ke belakang melihat pohon besar yang berdiri kokoh dengan dahan yang bercabang-cabang. Davin terkekeh pelan sembari menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan jogging-nya.
.
Sesampai di rumah Pak Lurah, Melodi masuk lewat pintu belakang. Namun, langkahnya dihadang oleh Dahlia yang ternyata telah menunggu kedatangannya.
"Eh, Melodi!" tegur gadis itu, wajahnya terlihat datar, menatap sinis ke arah Melodi.
"Eh, iya, Bu Bidan. Ada yang bisa saya bantu?" kata Melodi sopan.
"Sejak kapan kamu akrab sama dokter relawan yang dari kota itu?" tanya Dahlia ketus.
"Maksudnya apa ya, Bu Bidan?" balas Melodi. "Saya nggak paham."
"Halah...! Nggak usah sok ngeles deh, kamu!" sentak Dahlia cepat. "Kamu pasti memanfaatkan kondisi Alvian yang lumpuh, supaya dokter kota itu merasa kasihan dan mendekati kalian. Benar-benar licik kamu, Mel!" tuduhnya tanpa alasan.
Deg
"Astaghfirullah, Bu Bidan. Anda ini orang berpendidikan tapi mulut Anda tak mencerminkan sama sekali," ujar Melodi.
Matanya berkaca-kaca, hatinya merasa sakit mendapatkan tuduhan seperti itu.
"Anda menuduh saya tanpa bukti. Hari-hari saya sibuk bekerja, mana mungkin saya punya waktu untuk hal-hal seperti itu," sangkalnya dengan berani. Ia tidak merasa takut sama sekali, selama dirinya benar.
"Pakai ngelak lagi!" sergah Dahlia cepat. "Kamu pasti merayu dokter itu kan, supaya memperbaiki sepeda kamu yang kempes?"
"Atau jangan-jangan kamu menggunakan tubuhmu itu juga untuk memikat dokter itu, mengingat dia itu sangat tampan," cibirnya merendahkan Melodi serendah-rendahnya.
Melodi merasakan emosi menguasai dirinya, tangannya mengepal erat-erat, ingin sekali mencakar bahkan merobek mulut beracun milik Dahlia, andai tak ingat menjaga etika. Yang bisa ia lakukan hanyalah beristighfar.
"Astaghfirullah al'adzim." ia memejamkan mata menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk meredakan darahnya yang bergolak menahan emosi.
"Terima kasih, atas tuduhan Anda yang alhamdulillah tidak pernah saya lakukan, meskipun saya miskin. Sebaliknya kata-kata buruk biasanya akan kembali kepada yang mengucapkannya. Permisi."
Melodi lantas berniat untuk melanjutkan langkahnya, tetapi Dahlia menarik tangannya, dan...
Plak
Telapak tangan Dahlia mendarat cantik menghadirkan lukisan cap lima jari di pipi Melodi. "Lancang kamu, ya!" hardiknya, matanya melotot tajam, seakan hampir copot.
"Berani kamu menyumpahi aku, hahhh! Orang miskin sepertimu itu hanya keset bagi kami. Jadi jangan berani berbuat macam-macam sama kami. Paham!" Bukannya meminta maaf, Dahlia justru makin tak terkendali. Dengan pongah ia merendahkan Melodi.
Sementara Melodi sendiri hanya bisa memegangi pipinya yang terasa kebas dan perih. Ia menatap Dahlia dengan mata berkaca-kaca dan terluka. Bibirnya bergetar, harga dirinya terkoyak. Tanpa berkata ia berbalik dan berlari meninggalkan dapur.
Di halaman Melodi berpapasan dengan Bu Risma dan Pak Lurah, yang membawa banyak barang belanjaan. Sepertinya mereka baru saja dari pasar.
"Eh, Melodi. Kebetulan kamu datang, ayo bantu saya," pinta Bu Risma.
Namun, Melodi tak menghiraukan permintaan Bu Risma. Ia mengambil sepedanya dan menuntunnya keluar dari halaman rumah tersebut.
Bu Risma dan Pak Lurah tampak saling pandang tak mengerti. "Ada apa dengannya, Pak? Nggak biasanya dia bersikap seperti itu?"
"Mana bapak tahu, Bu," jawab Pak Lurah. "Lebih baik tanya saja sama Dahlia."
Di dalam rumah Bu Risma segera mencari anak gadisnya.
"Lia... Lia...!" serunya dan mendapati Dahlia duduk di bangku belakang, sedang bermain ponsel.
"Kamu di sini, ibu panggil diam saja," ucap Bu Risma kesal.
"Ada apa sih, Bu?" jawab Dahlia dengan malas.
"Kamu tahu, ada apa dengan Melodi? Kenapa dia pulang dengan terburu-buru?"
Dahlia terdiam mencari cara agar Melodi terlihat buruk di mata ibunya. "Dia ketahuan mencuri uang aku." Ia menjawab sekenanya tanpa rasa bersalah.
"Apa...!" Bu Risma menggeleng cepat. "Jangan nuduh sembarangan kamu, Lia! Nggak mungkin Melodi melakukan itu. Ia gadis yang baik. Sudah lama bekerja di sini dan selama itu ibu nggak pernah kehilangan apapun."
"Manusia itu bisa berubah, Bu. Apalagi orang miskin seperti dia..."
"Jaga mulutmu, Lia. Itu bisa menimbulkan fitnah kalau yang kamu tuduhkan itu nggak benar." Bu Risma memperingatkan dengan keras.
"Terlebih dia itu anak yatim piatu. Kita harus memperlakukan dia dengan baik."
"Itulah, karena Ibu selalu baik sama dia, makanya dia ngelunjak. Ingat, Bu. Kejahatan itu bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan." Dahlia mencoba mempengaruhi ibunya.
Bu Risma terdiam, mana yang harus ia percaya.