Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Remuknya hati seorang ibu
Dari kejauhan para warga desa yang berkumpul sudah terlihat. Namun, semakin dekat dengan kerumunan orang, semakin tak enak perasaan Bu Darsia, pikirannya pun semakin tak karuan.
Apakah benar apa yang di sampaikan oleh anak-anak muda tadi? Apakah benar Aning, anaknya sudah tak bernyawa? Ah, tidak. Tidak mungkin. Anaknya Aning masih hidup. Demikianlah Bu Darsia meyakinkan dirinya.
Terlihat, di kerumunan orang-orang sudah ada polisi yang lebih dulu tiba daripada Bu Darsia.
"Itu Bu Darsia sudah datang." Ucap salah satu ibu yang ada disana yang berdiri sudah agak jauh dari mayat Aning. Karena, sudah ada garis polisi yang menghalangi warga desa untuk mendekat.
Semakin dekat, semakin pula detak jantung Bu Darsia tak karuan.
Para warga yang ada disana melihat Bu Darsia dengan hibah. Mereka tak menyangka, Bu Darsia mendapatkan kemalangan itu. Anak semata wayang yang selama ini membantu perekonomian dan penjaga ibunya itu meregang nyawa dengan sangat mengenaskan.
Tampak Pak Warsito selaku ketua RT sedang berbicara dengan polisi. Lalu salah satu polisi menghampiri Bu Darsia dan membantu Bu Darsia untuk mendekat ke arah mayat yang masih tertutup kain sarung milik Pak RT.
"Ibu yang kuat jika nanti melihatnya." Ucap Polisi pada Bu Darsia.
Bu Darsia tak mengangguk. Dia hanya berjalan dengan pandangan ke arah mayat yang tertutup kain sarung itu tanpa berkedip sambil berdoa dan memohon dalam hati jika itu bukan anaknya, bukan Aning kesayangannya.
Perlahan kain sarung yang menutupi wajah Aning di buka oleh polisi, memperlihatkan keadaan mayat Aning yang begitu tragis. Wajahnya dengan bekas sayatan mulai pucat menghitam.
"A.....A.... Aning...." Bu Darsia menjerit dengan suara bergetar terbata. Benar, mayat yang terbaring di depannya yang tergeletak di tanah itu adalah Aning anaknya.
"A... Aning... Nak...." Jeritan pilu seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya begitu mengiris. Para warga yang menyaksikan ikut menangis merasakan sakit kehilangan itu.
Bu Darsia terduduk lemas menatap wajah Aning dengan ruangan tangisannya. Hatinya hancur-sehancurnya melihat keadaan anaknya yang hampir tidak di kenali itu.
"Aning... Bangun, Nak. Ini Ibu..." Suara Bu Darsia kini berubah menjadi bisikan parau yang lebih menyayat hati daripada jeritan sebelumnya. Tangan tuanya yang gemetar berusaha menggapai pipi Aning yang dingin, namun tertahan oleh rasa ngeri dan pedih melihat luka sayatan yang dalam di wajah cantik putri kesayangannya itu.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Bu Darsia.
Aning bukan sekadar anak baginya, ia adalah napas, ia adalah tulang punggung yang menyangga gubuk reot mereka, dan ia adalah alasan satu-satunya bagi Bu Darsia untuk tetap tersenyum di tengah kerasnya hidup. Kini, alasan itu terbaring kaku,
Pak Warsito mendekat. Ia meletakkan tangan di bahu Bu Darsia yang masih terguncang hebat.
"Sabar, Bu Darsia. Istighfar... Kita serahkan semuanya pada petugas," ucapnya lirih, meski suaranya sendiri terdengar pecah. Hati siapa yang tidak tersayat pilu melihat kondisi mayat Aning saat ini. Kejam sungguh manusia yang melakukan hal terkutuk itu. Entah, dimana hati nurani mereka sebagai manusia.
Bisik-bisik warga yang berkumpul mulai merayap di antara kerumunan warga. Mereka berbisik tentang siapa pelakunya, tentang kejamnya manusia yang tega menghabisi nyawa gadis sebaik Aning.
"Bu... Bu Darsia..." Panggil Pak Warsito karena Bu Darsia jatuh pingsan.
Beberapa warga dengan sigap membopong tubuh ringkih Bu Darsia yang sudah tak sadarkan diri. Suasana desa yang biasanya tenang kini berubah menjadi riuh oleh isak tangis dan bisik-bisik penuh kemarahan. Pak RT Warsito menginstruksikan para pemuda untuk mengantar Bu Darsia pulang ke gubuknya, sementara petugas kepolisian mulai mengevakuasi jasad Aning ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah sakit demi keperluan autopsi.
Sesampainya di rumah, Bu Darsia dibaringkan di balai-balai bambu yang biasa menjadi tempat Aning memijat kakinya sepulang bekerja. Bau minyak kayu putih menyeruak, mencoba memanggil kembali kesadaran sang ibu yang jiwanya seolah ikut pergi bersama putrinya. Namun, ketika mata Bu Darsia perlahan terbuka, kenyataan pahit langsung menghantamnya lebih keras dari sebelumnya. Ia tidak menjerit, ia hanya menatap langit-langit atap rumbia dengan pandangan kosong.
"Aning belum pulang, Pak RT? Sebentar lagi gelap, dia harus masak..." gumamnya lirih, membuat para tetangga yang menjaganya kembali bercucuran air mata. Trauma yang teramat dalam membuat ingatan Bu Darsia sejenak menolak kenyataan bahwa putri semata wayangnya kini susah tidak ada di dunia yang sama dengannya.
Beberapa ibu-ibu mendekat, berusaha memijat kaki dan memberikan air hangat. "Ikhlaskan, Bu Darsia. Aning sudah tenang di sisi-Nya," bisik salah seorang ibu dengan suara serak. Kata-kata itu, yang niatnya menguatkan, justru menjadi pemicu ledakan emosi yang lebih dahsyat. Kesadaran Bu Darsia yang sempat kabur tiba-tiba tersentak kembali oleh kenyataan pahit yang tak tertahankan.
"Tidak! Aning tidak ke mana-mana!" jerit Bu Darsia histeris.
Ia bangkit dari balai-balai dengan tenaga yang entah datang dari mana, matanya liar mencari sosok putrinya di sudut-sudut gubuk yang remang. Bayangan wajah Aning yang rusak dan dingin kembali terproyeksi jelas di benaknya, menghancurkan sisa-sisa ketenangannya.
Ia mulai memukul-mukul dadanya sendiri, meraung meratapi ketidakadilan hidup. "Kenapa bukan aku saja? Kenapa harus anakku yang baik itu?" Suaranya melengking membelah kesunyian.
Para ibu yang mendampinginya hanya bisa memeluk tubuh ringkih itu erat-erat, ikut terisak dalam duka yang mendalam.
Kamar yang biasanya hangat dengan tawa kecil Aning kini terasa seperti lubang hitam yang menyedot seluruh napas Bu Darsia. Setiap sudut rumah mengingatkannya pada pengabdian putri semata wayangnya. Ia tidak sanggup membayangkan hari esok tanpa langkah kaki Aning atau puncatan tangannya yang hangat.
Kehilangan ini terlalu besar, terlalu mendadak, dan terlalu kejam. Bu Darsia kembali terkulai dalam pelukan para tetangga, napasnya tersengal di antara isak tangis yang tak kunjung usai. Jiwanya seolah telah hancur berkeping-keping, menyisakan luka menganga yang mungkin tak akan pernah bisa sembuh selamanya.
"Kenapa nasib sekejam ini? Kenapa harus Aning?" raung Bu Darsia.
"Yang sabar Bu. Ini takdir Gusti Allah Bu." ucap Rati tetangga Bu Darsia mengingatkan jika tak ada yang bisa lari dari takdir yang sudah di tentukan oleh sang Kuasa.
Mendengar ucapan Rati, Bu Darsia terdiam sejenak, namun dadanya masih naik turun menahan sesak yang teramat sangat.
"Takdir?" bisik Bu Darsia dengan suara yang nyaris hilang.
"Takdir macam apa yang membiarkan anak sebaik dia pulang dalam keadaan hancur?"
Ia kembali tersedu, namun kali ini tanpa teriakan. Air matanya mengalir deras membasahi daster lusuhnya. Para warga hanya bisa tertunduk, tak berani lagi mengucap kata-kata penghiburan yang terasa hambar di hadapan duka sedalam itu.