Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dalam Pertolongan
Naya tertidur satu malam dengan foto Damar ada di dadanya. Tidurnya lebih nyenyak dari malam sebelumnya.
Dia terbangun dengan tangan yang masih memeluk foto Damar.
"Selamat pagi, Dam." sapanya. "Kali ini aku yang duluan mengucapkannya." tersenyum melihat foto Damar.
Ia meletakkannya kembali di meja kamarnya.
_
Pagi itu dimulai seperti hari- hari sebelumnya di rumah sederhana keluarga Naya. Udara masih sejuk ketika Naya keluar dari kamarnya dengan pakaian kerja sederhana. Rambutnya diikat rapi, wajahnya masih menyimpan kelelahan, tetapi ada usaha untuk terlihat baik-baik saja.
Di ruang makan, ayahnya sudah duduk sambil menyeruput kopi hitam.
“Ayah berangkat lebih cepat hari ini?” kata Naya pelan.
Ayah Naya mengangguk. “Ada pergantian shift di kantor ayah. Kamu juga jangan terlambat ya, Nak.”
Naya tersenyum tipis.
Ibu Naya keluar dari dapur membawa tas belanja yang biasa digunakan ke pasar.
Naya duduk, melihat ibunya memegang tas belanja, "Ibu mau ke pasar?"
“Iyah, Nak. Ibu mau ke pasar dulu. Persediaan sayur sudah habis,” katanya sambil duduk di kursi dekat Naya.
Ayah Naya berdiri mengambil topi kerjanya. Seragam satpam berwarna biru tua sudah melekat rapi di tubuhnya.
“Jangan pulang terlalu siang, Bu,” pesan ayah Naya.
“Iya Pak. Ibu cuman sebentar kok. Hati-hati di jalan ya, Pak,” jawab Ibu Naya sambil menyalim suaminya.
Naya memperhatikan kedua orangtuanya. Pemandangan sederhana yang terasa menyenangkan.
Naya juga ikut menyalim ayahnya sambil tersenyum.
“Ayah jangan terlalu capek ya….”
“Kamu yang jangan terlalu capek,” jawab ayah Naya tersenyum.
Ayah Naya akhirnya berangkat lebih awal pagi itu.
“Naya juga berangkat dulu ya, Bu. Ibu Hati-hati”
“Semangat kerjanya ya, sayang,” ucap ibunya sambil mengelus rambut Naya.
Naya mengangguk lalu keluar rumah.
Rumah sudah kembali sepi. Ibu Naya memastikan pintu terkunci dan segera pergi ke pasar.
Jalanan mulai ramai. Naya naik angkot menuju kantor, sementara ayahnya berangkat dengan sepeda motor menuju kantor pegadaian tempatnya bekerja sebagi satpam.
Di sisi lain ibu Naya berjalan kaki menuju pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.
Dari seberang, pasar pagi itu terlihat cukup ramai. Orang-orang berlalu lalang membawa kantong belanja. Ibu Naya segera ingin menyebrang.
Tiba-tiba ada seseorang mendekatinya dengan gerakan cepat.
“Sini, tasnya! Lepaskan!” teriak orang itu sambil menarik tas kecil Ibu Naya.
Ibu Naya terkejut dan refleks mempertahankan tasnya.
“Jangan, ini tas saya!” katanya panik.
Situasi itu terjadi begitu cepat. Beberapa orang di sekitar hanya terdiam, bingung harus berbuat apa.
Di saat yang sama, sebuah mobil yang baru saja berhenti di pinggir jalan membuka pintunya.
Seorang pria gagah dengan langkah cepat.
“Hei! Lepaskan!” tegas pria itu.
Perampok itu terkejut, lalu melepaskan tas ibu Naya dan segera melarikan diri ke arah gang kecil.
Pria itu sempat ingin mengejar perampoknya tapi langkahnya terhenti.Memilih memastikan ibu itu baik-baik saja.
“Ibu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir.
Ibu Naya masih gemetar.
“I- Iya….iya…terima kasih….saya hanya kaget.”
Pria itu memandang Ibu Naya.
“Seperti pernah bertemu, tapi dimana?” gumamnya dalam hati.
Dia mengambil tas ibu Naya yang terjatuh ke tanah dan menyerahkannya kembali.
“Silahkan duduk dulu, Bu,” katanya sambil menunjuk bangku kecil di pinggir jalan.
Ibu Naya duduk pelan, mencoba menenangkan diri.
“Terimakasih, Nak…. Kalau tidak ada kamu…..”Suara ibu Naya masih bergetar.
“Tidak apa-apa, Bu. Kebetulan saya lewat.”
Setelah beberapa saat, napas ibu Naya mulai teratur.
“Nama saya, Adrian, Bu” kata pria itu ramah.
Ibu Naya menoleh, “Ibu Marlina,” jawabnya.
“Rumah ibu jauh dari sini?”
“Tidak terlalu, Nak. Dekat dari pasar.”
Adrian mengangguk.
“Maaf Bu, kalo boleh tahu, ibu tinggal dengan siapa?”
“Dengan suami dan anak perempuan saya.”Jawab Ibu Naya. “Anak saya kerja di kantor.” Lanjutnya menjelaskan.
“Oh ya? Kantor apa, Bu?”
Ibu Naya berkata pelan berusaha mengingat nama kantor Naya “PT Aruna Pratama,” jawabnya akhirnya.
Adrian terlihat sedikit terkejut. Namun segera mengembalikan wajahnya yang tegas.
Dia mengingat kembali saat dia menjenguk Naya dari kejauhan kemaren. Wajah Ibu itu sama dengan wajah ibu Naya yang keluar memberikan selimut pada Naya sore itu.
Adrian tersenyum tipis.
“Saya juga bekerja disana, Bu,” ucapnya.
Ibu Naya mengernyit bingung.
“Bagian apa?” tanya ibu penasaran.
Adrian menjawab santai, “Biasalah, Bu,”
Ibu Naya tidak melanjutkan pertanyaannya lagi. Wajahnya menunjukkan rasa penasaran tapi memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
“Bu, mari saya antar pulang.” tawar Adrian. “Jalan lurus ini langsung belok kiri kan, Bu?” tanya Adrian penuh semangat.
Ibu Naya terheran mendengar itu.
Melihat ekspresi ibu Naya, Adrian terdiam.
Ibu Naya langsung menjawab,
“Tidak usah, Nak. Ibu pulang sendiri saja. Ibu sudah tidak apa-apa. Lagian ini sudah jam berapa, nanti jadi terlambat ke kantor.”
Adrian mengangguk sopan.
"Kalo begitu, saya pamit ya, Bu." Adrian kembali ke mobilnya dan pergi.
_
Di kantor, Naya sudah duduk di mejanya. Seperti biasa, ia bekerja dengan tenang dan tidak banyak bicara.
Pintu terbuka dan Adrian masuk. Beberapa karyawan langsung menyapanya sambil menunduk.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi,” jawab Adrian singkat.
Saat berjalan melewati deretan meja karyawan, pandangannya berhenti pada Naya yang tetap fokus.
Adrian tidak mengatakan apa-apa, melihat Naya pagi itu, membuat ia kembali mengingat wajah ibunya yang ditemuinya di dekat pasar.
Adrian melanjutkan langkahnya menuju ruangannya sambil tersenyum tipis.