NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : MASA DEPAN YANG TERANG

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut kota ketika Lia menyelesaikan pekerjaan paginya di rumah sakit. Udara yang hangat membawa aroma bunga melati dari taman belakang kantin, sedikit mengurangi bau deterjen yang selalu melekat pada bajunya setelah menghabiskan waktu tiga jam menyortir dan mencuci pakaian pasien anak-anak. Dia menyimpan sisa deterjen ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu ada di mejanya – di dalamnya ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan foto tiga bayi yang tertidur berdampingan di bak mandi plastik.

“Lia, kamu sudah selesai kerja pagi ya?” ucap Pak Joko dengan suara khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Hari ini ada kunjungan dari dinas sosial lho – mereka mau bicara tentang cara terbaik buat anak-anak yang membutuhkan dukungan keluarga.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, mulai menyusun cucian yang sudah bersih ke dalam rak khusus. Dia melihat foto kecil itu dengan mata penuh cinta – Mal dengan lekukan di bibirnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya akan pulang sebentar ya, Pak Joko,” ucap Lia sambil mengambil tasnya yang sudah siap. “Anak-anak pasti sudah menunggu saya di kontrakan Bu Warsih.”

Saat berjalan pulang, Lia menyapa setiap orang yang kenal dengannya di jalanan. Pedagang sayur yang baru membuka kiosnya memberikan senyum hangat: “Hai Lia, mau sayur segar tidak? Untuk anak-anak kamu ya.”

“Terima kasih banyak, Bu,” jawab Lia dengan senang hati. Dia membeli beberapa ikat kangkung dan bayam segar, lalu melanjutkan perjalanan. Udara pagi mulai terasa hangat dengan suara burung yang berkicau di atas pepohonan.

Ketika sampai di kontrakan, Lia melihat Mal dan Rini sudah berdiri di depan pintu dengan wajah ceria. “Bu sudah datang!” teriak Mal dengan suara penuh semangat.

“Kamu berdua sudah mandi dan siap sekolah ya?” tanya Lia dengan suara hangat sambil memeluk mereka berdua. “Mari kita sarapan dulu sebelum berangkat.”

Setelah sarapan bubur ayam yang disediakan Bu Warsih, Lia mengantar anak-anak ke sekolah dasar dekat kontrakan. Di jalan, mereka menyapa tukang parkir yang memberikan senyum hangat, pedagang kecil yang memberi makanan tambahan. Di sekolah, Lia menyapa guru kelas mereka: “Anak-anak saya sudah siap belajar ya, Bu Guru.”

Guru tersebut mengangguk dengan senyum: “Mereka anak yang cerdas dan rajin, Lia. Pasti akan sukses kelak.”

Setelah mengantar anak-anak, Lia kembali ke rumah sakit. Di jalan, dia melihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang bermain dengan tanah liat. Ketika anak itu berbalik, terlihat bintik merah kecil berbentuk hati di punggung kanannya – sama persis dengan yang ada di ingatan Lia tentang Adit.

Anak itu melihat Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu: “Hai Bu, mau lihat bentuk hati yang saya buat?” tanya dia dengan suara lembut.

Lia meraih tanah liat yang dibentuk jadi hati dengan hati-hati. “Cantik sekali, nak. Kamu bisa membuatnya dengan baik ya.”

“Iya Bu, karena saya selalu ingat bentuk hati kecil di punggung saya,” jawab anak itu dengan suara lembut.

Lia merasa air mata hampir keluar. Dia mengambil foto kecil dari tasnya dan menunjukkan pada anak itu: “Kamu tahu ini siapa, nak?”

Anak itu melihat dengan mata kagum: “Itu saya kan, Bu! Bareng sama dua kakak saya yang lain.”

“Ya sayang, itu kamu sama kakak kamu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara penuh emosi. “Saya adalah ibumu yang selalu mencari kamu.”

Anak itu melihatnya dengan mata penuh keheranan dan kehangatan: “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”

“Kita semua adalah keluarga, nak,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat.

Di kejauhan, matahari mulai menyinari kota yang sibuk. Suara anak-anak yang bermain memenuhi udara, membawa harapan bahwa cinta keluarga tidak akan pernah padam – walau harus berbagi dengan orang lain yang juga mencintainya dengan sepenuh hati.

Setelah itu, Lia membawa anak laki-laki itu untuk bertemu dengan Mal dan Rini di sekolah. Ketika mereka bertemu, wajah Mal dan Rini langsung bersinar ceria. “Kakak Adit!” teriak mereka berdua dengan suara penuh kegembiraan.

Rio melihat mereka dengan mata penuh rasa ingin tahu: “Ini kakak saya kan?” tanya dia dengan suara lembut.

“Ya sayang, ini kakak kamu Mal dan Rini,” ucap Lia dengan suara hangat. “Kita semua sudah bersama lagi ya.”

Mereka semua berpelukan erat di bawah sinar matahari yang semakin tinggi. Udara di sekitar mereka terasa hangat dengan cinta yang mengalir antar mereka. Lia merasakan bahwa setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya dia menemukan apa yang selalu dicarinya – cinta keluarga yang tidak akan pernah hilang walau bentuknya berbeda dari yang diharapkan.

Mereka berjalan pulang bersama, menyapa setiap orang yang kenal dengan senyum hangat. Ketika sampai di kontrakan, Bu Warsih sudah menunggu dengan makanan hangat. “Selamat datang kembali, Lia. Dan ini siapa ya?” tanya Bu Warsih dengan suara ramah.

“Ini Adit, Bu. Akhirnya kita ketemu lagi,” jawab Lia dengan senyum penuh kebahagiaan.

Bu Warsih tersenyum hangat: “Selamat ya, Lia. Semoga kalian selalu bahagia bersama-sama.”

Malam itu, mereka makan bersama di kontrakan dengan suasana yang hangat dan penuh cinta. Mal bercerita tentang teman baru di sekolah, Rini menunjukkan gambar yang digambarkannya, dan Rio menceritakan tentang bermain bersama teman-temannya di desa. Mereka semua makan dengan lahap, suara tawa dan candaan memenuhi ruangan kecil yang penuh dengan kehangatan.

Di langit yang sudah mulai gelap dengan bintang-bintang yang bersinar, mereka berdoa bersama-sama. “Semoga cinta kita selalu ada dan tidak pernah hilang,” ucap mereka serempak.

Lia memeluk ketiga anaknya dengan erat. “Kita akan selalu bersama, sayang. Cinta keluarga tidak akan pernah padam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!