NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: BADAI DI LOBI KEKUASAAN

BAB 9: BADAI DI LOBI KEKUASAAN

Pagi itu, gedung pencakar langit yang dulunya bernama Ardiansyah Group tampak seperti sarang lebah yang terusik. Di depan pintu masuk kaca yang megah, puluhan wartawan dengan kamera berlensa panjang dan mikrofon yang sudah siap menyala telah berkumpul. Mereka semua memiliki satu tujuan yang sama: mendapatkan pernyataan dari Alana Adiwangsa mengenai skandal "Putri Pencuri" yang viral sejak fajar menyingsing.

Di dalam lobi, para karyawan berdiri berkelompok. Bisikan-bisikan sinis terdengar di setiap sudut.

"Sudah kuduga, mana mungkin ada wanita sebaik itu? Ternyata dia punya bakat mencuri sejak di panti asuhan," cibir seorang staf pemasaran yang dulu merupakan kaki tangan Raka.

"Lihat saja nanti, paling-paling dia tidak berani muncul. Siapa yang tahan dihujat seluruh negeri?" sahut yang lain dengan tawa meremehkan.

Namun, spekulasi mereka terhenti saat sebuah iring-iringan mobil mewah memasuki area drop-off depan lobi. Di barisan depan, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap berhenti dengan anggun. Di belakangnya, dua SUV hitam berisi pengawal berseragam rapi segera keluar dan membentuk barikade manusia, menghalangi para wartawan yang mulai merangsek maju.

Pintu Rolls-Royce terbuka. Kenzo Dirgantara turun lebih dulu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna, memberikan kesan otoritas yang tak terbantahkan. Ia tidak langsung berjalan masuk; ia berbalik dan mengulurkan tangannya ke dalam mobil.

Alana keluar dengan anggun. Ia mengenakan blazer putih tulang dengan aksen emas di kancingnya, dipadukan dengan celana kain senada. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan tergerai dengan gelombang yang rapi. Matanya, yang biasanya tampak lembut dan penuh keraguan, kini dilapisi oleh ketegasan yang dingin. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Kenzo, dan seketika itu juga, ribuan lampu flash kamera menyambar ke arah mereka seperti petir.

"Nona Alana! Benarkah Anda pernah mencuri di panti asuhan?!"

"Apakah Keluarga Adiwangsa tahu tentang masa lalu kriminal Anda?!"

"Tuan Kenzo, apa hubungan Anda dengan wanita bermasalah ini?!"

Pertanyaan-pertanyaan itu dilemparkan seperti belati, namun Alana tidak menundukkan kepalanya sedikit pun. Ia berjalan dengan langkah yang stabil, dagunya terangkat, matanya menatap lurus ke depan. Di sampingnya, Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Alana secara posesif, seolah-olah ia sedang menantang siapa pun untuk berani menyentuh wanita itu.

Begitu mereka melewati pintu kaca dan masuk ke dalam lobi yang luas, suasana mendadak sunyi. Para karyawan yang tadinya bergosip kini mematung. Tekanan yang dibawa oleh kehadiran Kenzo dan Alana begitu besar hingga oksigen di ruangan itu seolah menipis.

Alana berhenti tepat di tengah lobi. Ia melepaskan kacamata hitamnya, lalu menatap sekeliling. Ia melihat wajah-wajah yang dulu meremehkannya saat ia datang membawa bekal untuk Raka. Ia melihat wajah-wajah yang kini penuh dengan rasa jijik karena berita fitnah tersebut.

"Selamat pagi semuanya," suara Alana menggema, tenang namun memiliki kekuatan yang sanggup menggetarkan lantai marmer tempat mereka berdiri.

Seorang manajer senior, yang dikenal sebagai orang kepercayaan Raka bernama Pak Hendra, memberanikan diri maju satu langkah. Ia berdehem, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Nona Alana... maksud saya, Ibu Direktur. Berita di luar sana sangat mengganggu stabilitas perusahaan. Apakah Anda tidak merasa bahwa kehadiran Anda di sini hanya akan memperburuk citra kami?"

Kenzo menyipitkan matanya. Ia hendak angkat bicara, namun Alana menyentuh lengan Kenzo, memberinya isyarat bahwa ia bisa menangani ini sendiri.

Alana berjalan mendekati Pak Hendra. "Mengganggu stabilitas? Pak Hendra, stabilitas perusahaan ini sudah hancur sejak Raka Ardiansyah menggunakan dana operasional untuk membeli apartemen bagi selingkuhannya. Di mana suara Anda saat itu? Kenapa Anda tidak bicara soal citra perusahaan saat bos Anda melakukan korupsi di depan mata Anda?"

Pak Hendra tergagap, wajahnya memerah. "I-itu hal yang berbeda! Ini soal karakter pribadi Anda!"

"Karakter pribadi?" Alana tersenyum miring—sebuah senyuman yang sangat mirip dengan gaya Kenzo. "Berita yang kalian baca itu adalah sampah yang diproduksi oleh orang-orang yang ketakutan karena kursi nyaman mereka akan saya tarik hari ini. Jika kalian lebih percaya pada portal gosip daripada bukti audit yang akan saya tunjukkan di ruang rapat nanti, maka kalian tidak layak bekerja di bawah bendera Adiwangsa."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah lift. Elvan, Bastian, dan Gio muncul. Elvan berjalan dengan aura pemimpin yang mutlak, sementara Bastian sudah memegang sebuah map dokumen.

"Bagus sekali, Alana," ucap Elvan bangga. Ia menoleh ke arah kerumunan karyawan. "Mulai detik ini, siapa pun yang tertangkap menyebarkan berita bohong atau berbisik negatif tentang Direktur Utama kami di lingkungan kantor, akan langsung dipecat tanpa pesangon. Kami tidak butuh karyawan yang memiliki mentalitas penggosip pasar."

Bastian maju dan mengangkat sebuah dokumen tinggi-tinggi. "Dan untuk kalian para wartawan di luar, kami sudah mendapatkan surat pernyataan resmi dari pengurus panti asuhan yang asli. Berita itu adalah murni fitnah yang direncanakan oleh Raka Ardiansyah. Kami sudah melaporkan situs 'Lambe Elit' ke pihak berwajib atas kasus pencemaran nama baik. Siapa pun yang berani mengunggah ulang berita itu, bersiaplah berhadapan dengan tim hukum Adiwangsa."

Suasana di lobi berubah drastis. Para karyawan yang tadi merasa di atas angin kini menunduk ketakutan. Mereka baru sadar bahwa Alana bukanlah wanita sebatang kara lagi. Dia adalah pusat dari kekuatan tujuh naga.

Kenzo menarik Alana lebih dekat. "Sudah cukup bicaranya? Kita punya banyak pekerjaan di atas."

Alana mengangguk. Saat mereka berjalan menuju lift eksekutif, Alana melewati Pak Hendra dan berbisik pelan, "Pak Hendra, meja Anda sudah dibersihkan. Anda bisa mengambil barang-barang Anda di pos satpam."

Pintu lift tertutup, meninggalkan lobi yang kini dilanda kepanikan massal.

Di dalam lift yang bergerak naik, hanya ada Alana dan Kenzo. Ketegangan yang tadi Alana tunjukkan perlahan mengendur. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di dinding lift yang mengkilap.

"Kau melakukannya dengan sangat baik," puji Kenzo. Ia berdiri di depan Alana, menghalangi pandangan dari kamera CCTV di dalam lift dengan tubuhnya yang besar.

"Aku hanya... lelah, Kenzo. Kenapa mereka tidak bisa membiarkanku tenang sedikit saja?" bisik Alana. Matanya kini kembali terlihat rapuh.

Kenzo mengulurkan tangannya, mengusap pipi Alana dengan lembut. "Karena kau sekarang adalah matahari, Alana. Matahari akan selalu membuat orang yang terbiasa di kegelapan merasa silau dan ingin menutupinya. Tapi ingat, matahari tidak pernah padam hanya karena segenggam awan."

Alana menatap mata Kenzo, mencari kejujuran di sana. "Kau benar-benar percaya padaku, kan? Kau tidak percaya pada berita itu?"

Kenzo mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Aroma parfumnya yang menenangkan menyelimuti indra penciuman Alana. "Alana, aku mengenalmu jauh lebih baik daripada mereka mengenal diri mereka sendiri. Aku tahu setiap inci dari kebaikan hatimu. Bahkan jika dunia menghujatmu, aku akan menjadi orang terakhir yang berdiri di depanmu untuk menahan semua peluru itu."

Jantung Alana berdegup kencang. Chemistry di antara mereka meledak di ruang sempit itu. Alana merasa seolah-olah beban dunia yang ia pikul selama sepuluh tahun menghilang hanya dengan satu tatapan dari Kenzo.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Ruangan itu kini sudah didekorasi ulang. Tidak ada lagi sisa-sisa Raka di sana. Semua foto Siska sudah dibakar, semua perabotan lama sudah diganti dengan desain yang lebih modern dan minimalis.

Namun, di depan pintu ruang kerja Alana, seorang wanita paruh baya sudah menunggu dengan wajah pucat dan mata yang bengkak. Itu adalah Ibu Mira.

Kali ini, dia tidak datang dengan kemarahan. Dia datang dengan keputusasaan.

Begitu melihat Alana, Mira langsung menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai marmer, mencoba meraih ujung celana Alana.

"Alana... Alana, tolong! Tolong cabut laporannya! Raka dipukuli di dalam sel! Dia tidak tahan, Alana! Ibu mohon, kasihanilah dia! Kami tidak punya apa-apa lagi!" tangis Mira pecah, suaranya memenuhi koridor lantai eksekutif.

Alana menatap wanita yang dulu ia panggil 'Ibu' itu. Wanita yang dulu menyuruhnya mengepel lantai dengan tangan saat ia sedang sakit demam. Wanita yang dulu membuang sisa makanan ke piringnya seolah ia adalah anjing peliharaan.

Alana tidak segera menyuruhnya berdiri. Ia membiarkan Mira bersimpuh selama beberapa saat, membiarkan wanita itu merasakan betapa rendahnya posisi yang dulu sering ia berikan pada Alana.

"Ibu Mira," suara Alana terdengar hampa. "Dulu, saat aku memohon pada Ibu untuk tidak mengusirku di tengah badai karena aku tidak punya tempat tujuan, apa Ibu mengasihaniku? Saat aku menangis karena Ibu merobek foto orang tuaku, apa Ibu peduli?"

Mira tersedak oleh isaknya sendiri. "Ibu khilaf, Al... Ibu salah..."

"Ibu tidak khilaf. Ibu hanya sedang menerima akibat dari apa yang Ibu tanam," sahut Alana. Ia menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan mencabut laporan itu. Raka harus belajar bahwa setiap tindakan punya konsekuensi. Dan Ibu... Ibu lebih baik pulang sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret Ibu keluar."

Kenzo menatap Mira dengan jijik, lalu memberi kode pada pengawalnya untuk menjauhkan wanita itu dari hadapan Alana.

"Ayo masuk, Alana. Masih banyak dokumen yang harus kau tanda tangani untuk mengembalikan hak-hakmu yang dicuri," ajak Kenzo.

Alana melangkah masuk ke ruang kantornya yang baru. Begitu pintu tertutup, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung tinggi. Ia tahu, perjuangan menuju 100 bab ini masih sangat panjang. Siska masih berkeliaran, dan ada misteri tentang kecelakaan sepuluh tahun lalu yang mulai menghantui pikirannya.

Tapi untuk saat ini, Alana merasa menang. Dan kemenangan itu terasa jauh lebih manis karena ada Kenzo di sampingnya.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!