NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WOKWOK SI ELISE DI TOLAK NJIR!

Raphael tidak langsung menjawab. Ia terus menatap Catharina yang tertawa bahagia bersama Lucian. Wanita itu terlihat bersinar, seperti matahari yang akhirnya keluar setelah hujan badai. Lebih bersinar daripada saat ia bersamanya. Jauh lebih bersinar.

Dan itu membuat dada Raphael terasa sesak.

"Tidak sedih," jawabnya akhirnya dengan suara datar, tapi tangannya yang menggenggam gelas anggur terlalu erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Hanya... menyesal. Sangat menyesal. Menyesal karena baru sekarang aku menyadari betapa berharganya dia. Baru sekarang aku menyadari bahwa aku sudah melepaskan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kudapatkan lagi."

Elise menggigit bibirnya, wajahnya berubah. Ia tidak suka jawaban itu. Ia berharap Raphael akan terpuruk dan membutuhkannya untuk bangkit. Tapi pria ini malah masih memikirkan Catharina, bahkan setelah semuanya berakhir.

"Tapi Yang Mulia punya hamba sekarang," ujar Elise sambil mencoba meraih tangan Raphael dengan gerakan yang dibuat senatural mungkin. "Hamba akan selalu ada untuk Yang Mulia..."

Raphael menarik tangannya dengan cepat, hampir refleks. Wajahnya berubah dingin, lebih dingin dari biasanya. "Elise, aku sudah bilang. Aku tidak punya perasaan apa pun padamu. Berhenti berharap hal yang tidak mungkin."

Wajah Elise berubah drastis. Topeng lembutnya retak. Mata hijaunya menyipit dengan kemarahan yang ditahan, rahangnya mengeras.

"Tapi... tapi hamba sudah..."

"Sudah apa? Mencoba memanipulasiku dengan akting lugumu yang murahan itu?" Raphael menatap Elise dengan tajam, suaranya rendah tapi menusuk. "Kau pikir aku tidak sadar? Semua kebetulan itu. Kebetulan kau selalu ada di tempat yang aku kunjungi. Kebetulan kau selalu muncul saat aku sendirian. Kebetulan kau selalu 'tidak sengaja' menabrakku atau menjatuhkan sesuatu di depanku. Itu semua rencana, kan? Permainanmu sudah sangat jelas, Elise."

Elise tersentak, wajahnya memucat. Ia tidak menyangka Raphael menyadari semuanya. "Hamba... hamba tidak..."

"Cukup, Elise. Aku bosan dengan permainanmu. Aku bosan dengan acting-mu." Raphael meletakkan gelasnya dengan kasar sampai menimbulkan bunyi keras. Beberapa orang menoleh, tapi Raphael tidak peduli. "Mulai besok, kau dipindahkan ke dapur. Kau tidak boleh melayani secara langsung lagi. Dan kalau aku masih melihatmu mencoba mendekat, aku tidak akan segan-segan memecatmu. Mengerti?"

"Tidak!" Elise hampir berteriak, tapi ia sadar banyak orang di sekitar. Ia menahan amarahnya sampai tubuhnya gemetar. Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya, tapi kali ini bukan air mata yang ia paksakan keluar. Ini air mata kemarahan, frustrasi, dan penghinaan. "Yang Mulia tidak adil... hamba sudah--"

"Tidak adil adalah kau yang mencoba merebut sesuatu yang bukan hakmu dengan cara yang kotor dan penuh manipulasi." Raphael menatap Elise dengan tatapan dingin yang membuat gadis itu mundur selangkah. "Catharina membatalkan pertunangannya denganku bukan karena kau, Elise. Dia membatalkannya karena aku yang tidak layak untuknya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau punya peran dalam hal ini. Kau hanya gangguan kecil yang bahkan tidak berarti apa-apa."

Dengan itu, Raphael berbalik dan pergi meninggalkan Elise yang berdiri sendirian dengan tangan terkepal erat di samping tubuhnya.

Elise menatap punggung Raphael yang menjauh dengan mata menyala penuh kebencian. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang sudah pucat.

"Catharina..." bisiknya dengan suara bergetar, penuh dendam yang sangat mendalam. "Ini semua gara-gara kau. Semua rencana yang sudah susah payah kubangun... hancur gara-gara kau. Akan kubalas. Aku bersumpah akan membuatmu menyesal."

Tapi tidak ada yang mendengar bisikan berbahaya itu. Semua orang sedang sibuk dengan jamuan dan gosip baru yang jauh lebih menarik.

***

Di balkon kediaman yang menghadap ke taman dengan air mancur besar, Catharina berdiri sendiri, menikmati udara malam yang sejuk dan menenangkan. Acara sudah hampir selesai, dan ia merasa lega luar biasa, seperti melepaskan beban yang sudah lama ia pikul.

Langkah kaki terdengar di belakangnya. Catharina tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma kayu cendana dan mint yang khas sudah menjadi penanda.

"Bersembunyi?" tanya Lucian sambil berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di pagar balkon.

"Hanya butuh udara segar. Terlalu banyak orang di dalam. Terlalu banyak tatapan, terlalu banyak bisikan." Catharina menarik napas panjang, membiarkan udara malam mengisi paru-parunya. "Aku butuh sejenak untuk menenangkan diri."

"Hari yang panjang."

"Tapi hari yang baik." Catharina bersandar di pagar balkon, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. "Akhirnya selesai. Aku resmi bebas. Tidak ada lagi ikatan yang mengikat. Tidak ada lagi beban."

Lucian menatap Catharina dengan senyum lembut, matanya menyiratkan kekaguman dan sesuatu yang lebih dalam. "Dan sekarang, apa rencanamu?"

"Fokus ke bisnis. Tambang emas kita akan mulai beroperasi bulan depan. Lalu aku mau buka beberapa usaha lain. Salon kecantikan mungkin, atau restoran dengan konsep baru..." Catharina mulai menghitung dengan jari, matanya berbinar ketika berbicara tentang rencana masa depannya.

"Ambisius. Aku suka itu." Lucian tertawa kecil. "Aku suka wanita yang tahu apa yang dia inginkan dan tidak takut untuk mengejarnya."

"Dan..." Catharina menoleh, menatap Lucian dengan mata yang berbinar di bawah cahaya bulan. "Aku mau mencoba... membuka hatiku lagi. Untuk seseorang yang layak. Seseorang yang benar-benar menghargaiku."

Lucian melangkah lebih dekat sampai jarak mereka hanya beberapa senti. Catharina bisa merasakan kehangatan tubuh Lucian, mendengar detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya. "Dan apakah aku layak, Lady Catharina?"

"Kau lebih dari layak, Marquess Lucian." Suara Catharina pelan, tapi penuh keyakinan. "Kau yang paling layak."

Jarak mereka semakin dekat. Lucian mengangkat tangannya, menyentuh pipi Catharina dengan lembut, ibu jarinya mengusap tulang pipinya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Bolehkah aku... menciummu?"

Catharina tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupannya, ada laki-laki yang meminta izin dulu sebelum mencium. Bukan memaksa, bukan tiba-tiba menyerang seperti di novel-novel beracun yang pernah ia baca. Ini adalah consent yang sebenarnya. Ini adalah respek yang sebenarnya.

"Boleh."

Lucian mencium Catharina dengan lembut. Bukan ciuman yang bergairah atau dramatis seperti di novel-novel roman. Tapi ciuman yang penuh kelembutan, respek, dan janji untuk masa depan. Ciuman yang mengatakan "aku menghargaimu" bukan "aku memilikimu".

Bibir Lucian hangat dan lembut, bergerak dengan hati-hati seperti sedang menyentuh sesuatu yang sangat berharga. Tangannya memeluk pinggang Catharina dengan lembut, tidak posesif, hanya melindungi.

Catharina membalas ciuman itu dengan mata tertutup, merasakan kehangatan yang menjalar dari bibir mereka ke seluruh tubuhnya. Ini bukan ciuman pertamanya, di kehidupan lamanya ia pernah mencium beberapa orang. Tapi ini adalah ciuman pertama yang benar-benar membuatnya merasa dihargai. Dicintai.

Saat mereka melepaskan ciuman, Catharina tertawa pelan, napasnya sedikit tersengal.

"Apa yang lucu?" tanya Lucian, dahinya masih menempel di dahi Catharina, enggan untuk menjauh.

"Aku hanya berpikir..." Catharina masih tertawa, matanya berkaca-kaca, entah karena terharu atau karena masih sedikit tertawa. "Kalau aku tidak mati tersedak biji salak, aku tidak akan pernah ada di sini. Tidak akan pernah bertemu kau. Tidak akan pernah punya kehidupan yang seperti ini. Lucu, kan? Bagaimana takdir bekerja?"

Lucian terlihat bingung, keningnya berkerut. "Mati tersedak biji salak? Apa maksudmu?"

Catharina tersenyum misterius, jarinya menyentuh bibir Lucian sekilas, gerakan yang membuat pria itu menegang. "Ceritanya panjang. Cerita yang sangat panjang dan tidak akan kau percaya. Suatu hari nanti aku akan cerita padamu. Tapi tidak sekarang. Sekarang aku hanya ingin menikmati momen ini."

"Baiklah." Lucian mengecup kening Catharina dengan lembut. "Aku akan menunggu. Aku punya banyak waktu. Dan aku akan selalu punya waktu untukmu."

Mereka berdiri di balkon, diterangi cahaya bulan dan bintang, dengan hati yang penuh harapan. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga dan janji masa depan yang cerah.

Bab baru dalam hidup Catharina sudah dimulai.

Dan kali ini, ia yang memegang pena untuk menulis ceritanya sendiri.

Tidak ada lagi naskah yang dipaksakan padanya. Tidak ada lagi peran yang harus ia mainkan. Yang ada hanya Catharina. Seorang wanita yang tahu nilainya, yang berani mengejar kebahagiaannya, dan yang tidak takut untuk mengatakan "tidak" pada hal-hal yang tidak membuatnya bahagia.

Di suatu tempat di dalam ballroom, Raphael menatap balkon dengan pandangan kosong. Ia bisa melihat siluet dua orang yang berpelukan di sana.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raphael merasakan penyesalan yang benar-benar menyakitkan.

Tapi sudah terlalu terlambat.

Beberapa hal dalam hidup tidak bisa dikembalikan. Dan Catharina adalah salah satunya.

***

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!