NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Untuk Dirga

Amira dan Celine dibawa masuk ke sebuah ruangan konsultasi. Di dalam, seorang dokter jantung sudah menunggu.

Di meja, ada beberapa berkas, hasil pemeriksaan, dan layar monitor yang menampilkan data.

“Silakan duduk!"

Amira duduk pelan, tangannya dingin, matanya masih merah. Sedangkan Celine duduk di sebelahnya. Dokter tersebut kemudian membuka map.

“Saya akan bicara langsung ya, Mbak Amira. Ibu Mbak mengalami gagal jantung yang sudah cukup berat.”

Amira menelan ludah.

“Kalau tidak ada tindakan lanjutan, risikonya tinggi.”

Amira mengangguk pelan, seperti orang yang sudah tahu, tapi tetap tidak siap mendengar. Dokter itu pun menarik napas.

“Tadi kami mendapat kabar ada donor yang tersedia. Ini jarang, dan kebetulan, dari hasil awal, ada kemungkinan cocok.”

Amira menatap dokter itu dengan mata kosong.

“Kalau saya setuju, prosedurnya gimana, Dok?”

Dokter mulai menjelaskan runtut. Tentang persetujuan, pemeriksaan kecocokan, proses tim transplantasi, sampai risiko yang tidak bisa dipungkiri. Celine mendengarkan, tapi pikirannya terpecah. Karena ponselnya di atas paha, bergetar lagi.

Celine melirik, ada nama Dirga. Panggilan masuk. Celine menelan ludah, lalu mematikan layar cepat.

“Tapi saya harus jujur, tindakan ini biayanya cukup mahal. Ada biaya operasi, ICU, obat imunosupresan jangka panjang, kontrol rutin, dan tidak semua bisa ditanggung jaminan kesehatan dari pemerintah.”

Amira menunduk. Celine bisa melihat tangan Amira bergetar, dan ponsel Celine, bergetar lagi.

Celine menahan napas, Dirga lagi. Kali ini bukan panggilan, tapi sebuah pesan. Celine sempat melirik.

Dirga: Kamu di mana?

Dirga: Dari tadi aku telpon.

Dirga: Jawab, Cel.

Celine menutup ponselnya pelan, berusaha tetap fokus. Dokter itu kemudian menatap mereka beberapa detik, lalu berkata pelan, “Saya tidak ingin Mbak merasa terpojok. Tapi saya juga harus jujur, waktunya sangat terbatas.”

Dalam hening itu, ponsel Celine kembali bergetar. Kali ini, sebuah panggilan, dari Dirga.

Celine menahan napas. Dadanya naik turun, dan di detik itu, Celine sadar, Kalau dia tidak mengangkatnya, Dirga akan semakin curiga.

“Permisi, saya ijin keluar sebentar, mau angkat telepon," kata Celine sopan.

Dokter mengangguk. “Silakan.”

Celine melangkah keluar ruangan, berdiri di lorong, lalu baru menempelkan ponsel ke telinga.

“Dirga?”

Suara Dirga langsung terdengar, berat dan menahan marah.

“Kamu di mana, Celine?”

Celine memejamkan mata.

Di belakangnya, pintu ruangan konsultasi tertutup rapat. Di depannya, lorong rumah sakit terasa dingin.

“Aku lagi di rumah sakit, nemenin temenku. Ibunya sakit jantung, kasihan. Kalo kamu nggak percaya, ganti panggilan video call aja, aku lagi di depan ruang dokter spesialis jantung. Temenku di dalem, lagi konsultasi.”

Celine mengubah panggilan tersebut menjadi video call, dan memperlihatkan kepada rumah sakit.

Nada suara Dirga pun menurun. "Ya udah, kamu temenin temen kamu aja dulu, tapi jangan pulang kemalaman ya."

"Oke."

Panggilan berakhir, Celine menghembuskan napas lega. Namun, setelah itu beberapa pesan kembali masuk, dari Dirga.

Seketika, Celine kembali merasa kesal. Padahal, dia sudah memberikan alasan yang logis. Namun, baginya Dirga seolah tidak pernah bisa memberi ruang.

Celine kesal karena hidupnya seperti ditarik dari dua arah, rumah tangga yang menuntut, dan karier yang akhirnya baru sekarang membuka pintu selebar itu.

Celine akhirnya kembali masuk ke ruangan konsultasi. Dokter masih menjelaskan opsi-opsi, sementara Amira duduk seperti orang yang kehilangan pijakan.

Celine mencoba fokus, tapi kepalanya justru penuh, pada Cambridge, deadline, dan Dirga. Semua menumpuk jadi satu. Celine memijat pelipisnya pelan. Lalu, entah dari mana, muncul sebuah ide.

Ide yang bahkan membuat Celine sendiri ingin menertawakan dirinya.

"Kalau Dirga butuh perhatian terus, kenapa nggak kasih dia orang lain aja? Seorang istri baru misalnya, yang bisa menemani, melayani, dan selalu ada waktu untuknya?" gumam Celine lirih.

Di saat itulah, Celine mengangkat wajah, dan Amira ada di depan mata. Gadis itu masih muda, lembut, rapuh, cantik, dan jelas, Amira tipe yang kalau disayang, dia akan merespon dengan total.

Celine menatap Amira beberapa detik. Namun, Amira tidak sadar. Matanya masih merah, bibirnya bergetar, tangannya meremas ujung baju.

Celine menarik napas, lalu membatin dalam hati, "Ini ide bodoh, bodoh banget, tapi justru terasa seperti jalan keluar yang kuinginkan."

“Dok, kalau soal biaya, ada jalur bantuan sosial di rumah sakit? Atau program donasi?”

Dokter mengangguk. “Ada, tapi saya tidak bisa menjanjikan cepat. Untuk donor organ, semua serba berpacu dengan waktu.”

Amira menunduk, air matanya jatuh lagi. Celine menghela napas panjang, dan di saat itu, ide bodoh itu muncul lagi, lebih kuat.

Celine menelan ludah. Dia menatap Amira lagi. Kali ini lebih lama, dan dia membenci dirinya sendiri karena memikirkan itu. Namun, benaknya sudah terlanjur terpaku pada dua hal, Amira butuh uang, dan Celine butuh ruang.

Hening beberapa detik. Dokter menutup mapnya pelan.

“Mbak Amira, saya minta keputusan. Kalau Mbak setuju, kita lanjutkan proses pemeriksaan kecocokan. Kalau tidak, kesempatan ini akan diberikan ke pasien lain.”

Amira menatap dokter itu. Matanya berkaca-kaca, napasnya putus-putus.

“Aku .…” Amira menggigit bibir.

“Aku mau, tapi aku nggak ada biaya .…”

Celine tiba-tiba mencondongkan tubuh.

“Amira,” panggilnya pelan.

Amira menoleh.

“Kamu mau ibumu hidup, kan?” tanya Celine.

Amira mengangguk cepat, menangis. “Mau .…”

Celine menghela napas.

“Kalau gitu, kamu harus ambil kesempatan ini,” kata Celine.

Amira menatapnya, ragu. “Tapi aku nggak punya ....”

Celine memotong, “Masalah biaya, biar jadi urusanku."

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!