NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Suara deru motor Ninja hitam itu perlahan menjauh setelah mengantar Mika tepat di depan pintu posko. Mika melangkah masuk dengan kaki yang terasa seperti jeli—lemas dan tak bertenaga. Jaket denim milik Alvaro masih tersampir di bahunya, berat dan lembap, namun ia seolah tak punya kekuatan untuk melepaskannya.

Begitu sampai di ruang tengah yang beralaskan kasur lantai, Mika langsung menjatuhkan tubuhnya. "Brak!" Ia meringkuk, memeluk bantal lusuhnya dengan tubuh yang menggigil hebat di balik jaket besar itu.

Siti dan Asia yang baru saja selesai mengeringkan rambut mereka langsung berlari mendekat dengan wajah panik.

"Aduh, Mik! Badan lo panas banget!" seru Siti saat telapak tangannya menyentuh dahi Mika. "Ganti baju dulu, Mik, jangan pake baju basah begini tidurnya. Nanti paru-paru basah loh!"

"Lemes banget, Siti..." gumam Mika lirih. Suaranya nyaris hilang, tenggelam di antara bantal dan selimut. Matanya terasa sangat berat, dan setiap kali ia mencoba bernapas, dadanya terasa sesak oleh hawa dingin yang terperangkap.

"Kayaknya gue punya Paracetamol di tas obat, bentar gue ambilin dulu ya, Mik!" seru Asia sambil tergesa-gesa membongkar tas gunungnya.

Mika hanya bisa memejamkan mata. Pusing di kepalanya terasa seperti dihantam palu besar secara berulang. Di tengah kesadarannya yang mulai kabur, ia masih bisa mencium aroma kayu cendana dan bensin yang samar dari jaket denim Alvaro. Aroma itu anehnya membuatnya merasa sedikit lebih tenang di tengah rasa sakitnya.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar tegas. Siti yang sedang mengompres dahi Mika dengan air hangat menoleh bingung.

"Siapa malam-malam begini? Arga bukan ya?" tanya Siti.

Saat Siti membuka pintu, ia hampir saja berteriak. Di sana berdiri Alvaro, masih dengan kaos singlet hitamnya yang kini sudah dilapisi kemeja bersih yang tidak dikancingkan. Di tangannya, ia membawa sebuah kantong plastik hitam dan seruas jahe besar yang masih segar.

"Pak Kades?" Siti melongo.

"Mana Mikayla?" tanya Alvaro tanpa basa-basi. Ia langsung melangkah masuk setelah Siti mempersilakan, seolah-olah posko itu adalah wilayah kekuasaannya sendiri.

Alvaro melihat Mika yang terbaring lemah. Ia mengerutkan kening, raut wajahnya tampak sangat tidak puas melihat kondisi koordinatorknya itu. Ia berjalan menuju dapur kecil di sudut posko yang hanya berisi kompor satu tungku dan beberapa peralatan masak seadanya.

"Pak, mau ngapain?" tanya Asia yang baru saja kembali membawa obat.

"Kalian urus bajunya, pastikan dia pakai baju tebal. Saya akan buatkan wedang jahe. Paracetamol saja tidak cukup untuk mengusir hawa dingin sungai Asih," ucap Alvaro dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.

Sepuluh menit kemudian, aroma pedas dan manis dari jahe yang dibakar lalu digeprek mulai memenuhi ruangan posko yang sempit. Alvaro muncul dari dapur membawa sebuah cangkir seng kuno berisi cairan berwarna cokelat keruh yang mengepulkan uap panas.

Mika sudah berganti pakaian dengan sweater rajut paling tebal miliknya dan celana training, namun ia masih menggigil. Siti membantu Mika duduk bersandar di dinding.

"Bangun, Mikayla. Minum ini dulu," suara Alvaro melunak, meskipun tetap terdengar tegas.

Mika membuka matanya perlahan. Pandangannya agak kabur, tapi ia bisa melihat sosok Alvaro yang sedang berjongkok di samping kasurnya. Ia merasa sangat malu dilihat dalam kondisi serapuh ini oleh pria yang selalu ia ajak berdebat.

"Nggak mau, Pak... pahit," tolak Mika dengan suara serak, khas orang sakit yang sedang manja.

Alvaro mendengus pelan, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya. "Jangan seperti anak kecil. Ini jahe merah pilihan Mbah Darmo, dicampur gula aren. Tidak pahit. Minum, atau saya paksa?"

Siti dan Asia saling lirik, mereka sengaja mundur perlahan ke arah dapur, memberikan ruang bagi "drama" yang sedang berlangsung di depan mata mereka.

Mika akhirnya pasrah. Ia menerima cangkir itu dengan tangan yang gemetar. Melihat itu, Alvaro menghela napas, lalu mengambil alih cangkir tersebut. "Sini, biar saya pegang."

Alvaro membantu Mika meminum wedang jahe itu sesendok demi sesendok. Rasa hangat yang pedas seketika menjalar dari kerongkongan Mika menuju dadanya, memberikan rasa nyaman yang luar biasa.

"Enak?" tanya Alvaro singkat saat cangkir itu sudah setengah kosong.

"Layanannya lumayan, Pak Kades," balas Mika lemah, masih sempat-sempatnya mencoba menyindir meskipun kepalanya sedang berdenyut.

Alvaro tertawa kecil—suara tawa yang rendah dan sangat maskulin. "Masih bisa menghina, artinya nyawamu sudah terkumpul kembali."

Setelah memastikan Mika meminum obatnya, Alvaro berdiri. Ia mengambil jaket denimnya yang tadi diletakkan Siti di kursi.

"Saya balik dulu. Besok pagi jangan berani-berani keluar posko kalau suhu tubuhmu belum turun," ucap Alvaro sambil menatap Mika intens.

"Pak..." panggil Mika saat Alvaro sudah sampai di ambang pintu.

Alvaro menoleh. "Ya?"

"Makasih... jahenya. Dan makasih udah anterin saya tadi," ucap Mika dengan tulus, matanya menatap Alvaro dengan lembut tanpa ada kilat kemarahan seperti biasanya.

Alvaro terdiam sejenak. Cahaya lampu neon posko yang remang-remang membuat bayangannya jatuh panjang di lantai. Ia mengangguk pelan. "Cepat sembuh, Mahasiswi Perairan. Desa ini terasa sepi kalau tidak ada yang meneriaki saya 'Dajjal' di pinggir jalan."

Begitu Alvaro pergi, Siti dan Asia langsung menghambur ke arah Mika.

"MIKAYLA! GILA YA!" pekik Siti tertahan. "Lo liat nggak tadi? Pak Kades yang kaku kayak kanebo kering itu bikin jahe buat lo! Di dapur posko kita yang berantakan itu!"

"Iya, Mik! Terus cara dia liatin lo pas minum tadi... aduh, gue yang nonton aja baper parah," timpal Asia sambil memeluk gulingnya gemas.

Mika tidak menjawab. Ia kembali merebahkan tubuhnya, menarik selimut sampai ke hidung. Rasa hangat dari jahe buatan Alvaro masih terasa di perutnya, dan rasa hangat yang lain—yang lebih sulit dijelaskan—mulai memenuhi hatinya.

"Udah, ah. Gue mau tidur. Pusing tau," ucap Mika mencoba mengelak, meski senyuman tipis tak bisa ia sembunyikan dari balik selimut.

Malam itu, di bawah atap posko KKN yang sederhana, Mika menyadari bahwa sakitnya kali ini membawa berkah tersembunyi. Ia baru saja menemukan bahwa di balik sikap otoriter dan dinginnya sang Kepala Desa, tersimpan perhatian yang begitu tulus. Dan baginya, itu jauh lebih menyembuhkan daripada Paracetamol mana pun.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!